Never Not

Never Not
Ch. 72 : Target Kesembilan



Shohei memandang uap panas yang keluar dari gelas kopi. Sudah sekitar sepuluh menit setelah Kei pergi ia masih duduk termenung di kursi kafe. Ingatannya melesat pada perkataan Rai yang menyarankan agar mereka mempercepat aksi berikutnya.


Shohei mengambil ponselnya lalu menghubungi Rai.


"Moshi-moshi." Suara Rai terdengar dari balik saluran telepon.


"Sudah saatnya untuk mulai menjalankan aksi kesembilan!" ucap Shohei sambil keluar dari kafe itu.


"Woah, kabar yang membuatku semangat!"


"Target kita kali ini adalah ...." Shohei menjeda kalimatnya sambil menatap Videotron yang menampilkan kampanye seorang politikus, "salah satu kandidat calon gubernur Tokyo."


"Siapa dia?"


"Dia yang dikenal baik, sederhana dan merakyat di mata publik."


"Ah, aku benar-benar tidak mengikuti perkembangan dunia politik. Jadi aku tidak tahu beberapa kandidat calon gubernur."


"Dia satu-satunya wanita yang mencalonkan diri sebagai calon gubernur Tokyo."


Rai tersentak hebat. Ia yang kebetulan berada di bahu jalan, lantas menengok papan iklan besar yang menampilkan figur politikus cantik yang mendapat sanjungan masyarakat akhir-akhir ini karena citranya.


"Ini benar-benar akan menggemparkan!" Rai makin bersemangat.


"Benar. Masyarakat pasti akan tidak percaya jika mengetahui politikus sanjungan mereka hanya memakai topeng belaka."


"Berarti kali ini Black Shadow akan berhadapan dengan seorang wanita," ucap Rai menunjukkan senyum mematikan.


"Kita harus berhati-hati, karena dia seorang pengacara yang berasal dari partai yang berkuasa saat ini. Apalagi sebelumnya dia merupakan kuasa hukum Perdana menteri. Kita tidak bisa langsung membeberkan kasus korupsi dan pencucian uang yang dia lakukan. Jangan sampai Black Shadow dianggap peliharaan partai oposisi yang sengaja dibentuk untuk melakukan kampanye hitam."


"Aku mengerti. Jadi, apa yang harus kulakukan?"


"Untuk beberapa hari ini, kau ikuti dia. Cari tahu celahnya dan orang-orang yang mungkin terlibat dengannya."


Shohei memutuskan sambungan telepon dan segera masuk ke mobilnya. Baru saja menjalankan mesin, terdengar bunyi pemberitahuan pesan masuk.


Seina-chan: Sebentar lagi hari Minggu dan jadwal kencan kita. Apa kau sudah memikirkan di mana kita akan bersenang-senang? Aku ingin kau yang menentukan.


Membaca pesan Seina membuat Shohei terkesiap. "Argh, aku hampir lupa dengan jadwal kencan mingguan dengan Seina. Apa maksudnya bersenang-senang? Dan kenapa dia memintaku untuk menentukannya?" gumam Shohei bertanya-tanya. Ia mengembuskan napasnya seraya kembali bergumam, "sepertinya aku harus meminta saran dari Rai lagi."


Shohei : Akan kupikirkan tempat yang bagus untuk kencan kita Minggu nanti.


Seina menghela napas setelah membaca pesan Shohei yang terlihat begitu datar. Ia langsung menjatuhkan tubuh di ranjang empuk miliknya.


Kenapa harus aku yang mengingatkannya lebih dulu? Dan kenapa aku harus selalu berpura-pura menjadi kekasih yang tak banyak menuntut dan selalu mengerti kesibukannya.


Ia memegang dadanya, lalu kembali membatin.


Hingga kini aku belum bisa menemukan rasa itu kembali pada Shohei.


Warna keemasan telah tampak di kaki langit. Angin sore mengecup lembut, serta melambai orang-orang yang sibuk beraktivitas di luar. Rai berdiri di sekitar gedung partai pemerintahan. Kebetulan, gedung itu berdekatan dengan taman ibu kota. Namun, ada yang berbeda dari pria itu, penampilannya kali ini bergaya hip-hop. Pria berusia dua puluh sembilan tahun itu tampak seperti remaja, memakai celana jeans yang dipadukan dengan jaket Hoodie hitam. Tak lupa pula topi kasual, dan kacamata hitam, serta earphone yang menggantung di lehernya menjadi aksesoris penunjang gayanya sore ini.


Ia menaiki skateboard dan mulai membuntuti mobil yang baru saja melintas. Tentu ia tak ingin membuang waktu setelah Shohei memberinya sebuah perintah.


Ya, target mereka kali ini adalah seorang politikus wanita yang bernama Akabane Ayumi. Berparas cantik dan dikenal sering memberi bantuan hukum pada wanita-wanita yang lemah, ia pun menjadi politikus idola masyarakat. Terbukti berdasarkan survey pemilihan gubernur Tokyo, dia berada di urutan teratas dengan elektabilitas yang baik. Dia juga pernah menjabat sebagai anggota dewan.


Namun, tak ada yang tahu kebaikan wanita itu dengan citranya yang merakyat hanya sebuah kedok untuk menyembunyikan kebusukannya selama ini. Dari hasil penelurusan Shohei, Akabane Ayumi terbukti melakukan korupsi pada dana proyek beberapa infrastruktur yang dibangun di Tokyo. Latar belakangnya sebagai seorang pengacara tentu memudahkannya memanipulasi hukum.


Rai terus melaju dengan skateboard, mengekor mobil sedan di depannya yang berkendara dengan kecepatan pelan. Sejenak, ia teringat dengan peringatan Shohei yang memintanya untuk berhati-hati karena target mereka pandai mengambil simpatik masyarakat.


Mobil itu berhenti di sebuah gedung yang tak diketahui Rai. Akabane Ayumi keluar dari mobilnya dan berjalan masuk ke gedung dengan langkah anggun. Rai masih terus mengikuti wanita berusia sekitar empat puluhan itu. Ia mengernyit ketika wanita itu menuruni anak tangga yang membawanya ke lantai bawah tanah.


Dari tangga, ia mengintip Akabane Ayumi tengah berhadapan dengan seorang gadis muda. Dengan penuh hati-hati, ia mengambil ponselnya dan memotret kedua orang itu lalu mengirimkannya pada Shohei.



Inspektur Heiji selaku ketua investigasi Kepolisian metropolitan beberapa polisi dari tim investigasi datang ke tempat kejadian perkara. Mereka langsung menginterogasi perawat yang menemukan korban dan dua petugas keamanan yang berjaga semalam. Beberapa wartawan tampak mengabadikan tempat ditemukannya mayat.


Tak hanya ada inspektur Heiji dan timnya, ternyata Shohei pun turut mendatangi Rumah Sakit itu untuk melihat mayat secara langsung. Pria itu memakai jas putih yang ia pinjam dari salah satu dokter kenalannya, agar kehadirannya tak ketahuan para wartawan. Ia tiba-tiba menjadi tertarik, karena ternyata korban itu ada kaitannya dengan target kesembilan. Apalagi wajah korban tersebut persis dengan wanita yang ditemui Akabane Ayami kemarin.


Memasuki ruangan yang dijadikan tempat interogasi, Shohei melihat beberapa perawat, dokter, dan mahasiswa magang yang duduk menunggu giliran di interogasi. Pria berkacamata itu turut duduk di barisan para dokter yang menjadi mentor perawat magang tersebut.


"Aku mendengar suara teriakan dari lantai atas dan segera memeriksanya. Begitu ke sana, aku tak menemukan siapapun. Tapi saat melongok ke balkon, aku terkejut melihat seseorang telah tewas di bawah sana."


"Apa sebelumnya kau mendengar suara teriakan lainnya? Misalnya ... jeritan meminta tolong?" tanya inspektur Heiji.


Perawat muda itu menggeleng. "Tidak. Aku hanya mendengar suara teriakan saat terjatuh."


"Tapi kau mengatakan sebelumnya kalau mendengar suara seret kaki yang terburu-buru." Inspektur Heiji kembali menginterogasi.


Perawat itu terdiam sejenak, lalu berkata, "Aku kira itu hanya perasaanku saja."


"Berapa jarak waktu antara terdengarnya suara langkah kaki terburu-buru dengan suara teriakan korban?"


"Aku tidak bisa memastikan. Tapi teriakan itu tidak lama setelah aku mendengar langkah kaki."


Shohei memerhatikan mimik wajah perawat tersebut. Ia juga memerhatikan ekspresi salah satu petugas keamanan yang sedang diinterogasi detektif Shu.


Matanya sering berkedip-kedip, nada bicaranya tidak beraturan, dan dia menunjukkan ketidaknyamanan dengan menggigit bibirnya.


Pandangannya beralih ke petugas keamanan yang sedang diinterogasi detektif Shu.


"Apa yang kau lakukan pada pukul 00.45?" tanya detektif Shu memulai penyelidikannya.


"Aku langsung berlari ke halaman Rumah sakit saat mendengar suara teriakannya!"


"Bohong!" Shohei langsung menepuk meja tersebut sehingga membuat petugas keamanan dan perawat itu tersentak kaget.


"Kalau kau benar-benar mendengar suara teriakan korban, seharusnya kau menuju lantai gedung yang menjadi sumber suara berasal, bukan mengecek ke halaman depan Rumah Sakit," tandas Shohei pada pria itu.


Petugas keamanan itu lantas gugup seketika. Pasalnya saat kejadian semalam dia memang tak mendengar suara apa pun karena sedang tertidur pulas. Hanya saja jika memberi kesaksian seperti itu pada polisi, ia akan menerima sanksi dari atasannya.


"Dan kau ...." Shohei memutar badannya dengan mata yang mengarah tajam pada perawat. "Saat melihat perawat magang itu tewas, kenapa kau malah melaporkan ke atasanmu kalau dia bunuh diri? Kenapa bukan mengatakan ada orang yang jatuh dari atas lantai?"


"Karena dia jatuh dari lantai itu dan tak ada siapapun di sana makanya kupikir dia bunuh diri," jawab perawat tersebut.


"Jika melakukan bunuh diri, maka dia akan mengalami cedera parah pada perut, punggung dan kaki. Tapi lukanya justru terpusat pada kepala dan lengan. Bukankah itu artinya dia ingin melindungi tubuh dari hantaman?" ucap Shohei menunjukkan ketajamannya menalar hal janggal dengan cepat.


"Mana kutahu! Kau kan dokter, kau pasti lebih tahu dariku!" ketus perawat itu.


Shohei tersenyum. "Hanya karena aku memakai kacamata dan berjas putih, kau mengira aku ini dokter, kan? Maka dari itu jangan cepat mengambil kesimpulan dari apa yang kau lihat," ucapnya sambil berbalik. Saat membuka jas putih yang ia pakai, para perawat dan dokter yang berada di sana lantas terkesiap melihat tanda pengenal kepolisian serta pangkat jabatannya.


"A–apakah dia seorang detektif?" tanya perawat tadi sambil melihat Shohei yang telah keluar dari ruangan itu.


Inspektur Heiji mengangguk. "Lebih dari itu. Dia ketua penyidik Metropolitan sekaligus seorang profiler kriminal."


.


.


.


Shohei Yamazaki




Pilih Shohei/Mr. White atau Rai/Black Shadow? komen, dan berikan alasan. jangan jadi pembaca ghoib