
Tak terasa, cakrawala telah menampakkan nuansa oranye di mana sebentar lagi akan ada pergantian waktu menuju malam. Yuriko yang baru saja pulang dari apartemen Shohei, kini berdiri di bahu jalan sambil menunggu lampu penyeberangan menyala. Ia tercengang ketika melihat kabar berita tentang Mr. White, yaitu sosok yang diduga ada di belakang Black Shadow selama ini.
Gadis itu telah mengambil sebuah kesimpulan dari hasil penelusurannya, dan meyakini jika Black Shadow yang asli adalah Rai. Dari cara berjalan dan juga garis senyum pria itu persis dengan visual Black Shadow di video-video sebelumnya. Ia juga telah mencari tahu sejumlah peralatan seperti kalung dan jam tangan yang dimiliki Rai. Ternyata tidak diperjualkan bebas karena itu berupa hasil rakitan atau rancangan seseorang.
Namun, yang membuat ia masih menyangsikannya adalah karena ia merasa Rai tak punya alasan untuk melakukan itu semua. Kecuali, seperti yang dikatakan dalam siaran berita, jika ada sosok bernama Mr. White yang memerintahkan Black Shadow selama ini. Lalu siapa orang itu? Siapa yang memerintahkan Rai sebagai Black Shadow?
Selama ini, hanya satu sosok yang begitu dekat dengan Rai. Dia adalah Shohei!
Berpikir sejenak sembari memulangkan ingatannya, tiba-tiba ia teringat saat Rai mengatakan tentang pekerjaannya yang hanya tinggal menunggu perintah. Jika diundur kembali, Shohei selalu mendatangi apartemen Rai sebelum Black Shadow melakukan aksinya. Di beberapa kesempatan, Rai selalu melarangnya ikut bergabung jika Shohei berada di kamarnya.
Sudah sejak lama ia ingin mengetahui hubungan antara Rai dan Shohei. Pasalnya, mereka sangat dekat lebih dari sekadar teman pria biasa. Masih lekat di ingatannya, saat Shohei tertusuk dan kritis di Rumah Sakit, tetapi Rai menolak menemuinya untuk alasan yang tidak jelas.
"Kami berteman hanya karena beberapa alasan. Aku tidak bisa menemuinya, tidak bisa. Hubungan kami tidak sesederhana itu." Mendadak, suara Rai kembali menggema di otaknya.
Mengumpulkan semua kepingan puzzle itu, Yuriko pun bergegas berlari kembali menuju ke apartemen Shohei dengan tergesa-gesa.
Di apartemennya, Shohei menggigit ujung kukunya seraya menancapkan pandangan pada layar komputer. Selain berupaya menemukan tuan Matsumoto dan berusaha mendapatkan akses masuk siarannya, ia juga harus memecahkan siapa dalang di balik kekacauan semua ini yang mungkin ada kaitannya juga dengan target terakhir mereka.
Ia membaca komentar-komentar netizen tentang aksi Black Shadow kali ini. Tampaknya ada yang menggerakkan sejumlah buzzer untuk menggiring opini publik tentang Black Shadow. Hal ini dibuktikan dengan banyaknya akun robot yang berkomentar miring di media sosial tentang aksi Black Shadow yang hanya ditunggangi seseorang.
Baru saja keluar dari kamarnya, pria itu dikejutkan dengan pintu apartemen yang mendadak terbuka. Tampak Yuriko muncul dengan tubuh setengah membungkuk sambil mengatur napas yang tersengal-sengal.
"Yuriko? Kenapa kau balik lagi? Apa ada yang tertinggal?" tanya Shohei heran sambil menatap sekeliling ruangan.
Yuriko menggeleng sambil menegakkan tubuhnya. "Ada sesuatu yang ingin kutanyakan padamu!"
"Ada apa?"
Yuriko menelan kasar ludahnya, lalu berkata, "Aku ingin mengetahui segala yang kau ketahui tentang Rai!" ucapnya dengan bola mata tak menetap, "ah, tidak! Maksudku, aku ingin mengetahui tentang kalian berdua. Bagaimana kalian bisa berkenalan dan bersahabat seperti sekarang ini!" Yuriko meralat ucapannya sambil menggaruk-garuk kepala.
"Eh?" Alis Shohei nyaris menyambung.
"Maksudku, aku penasaran bagaimana bisa Rai punya kawan sepertimu. Kau seorang penyidik sementara dia bukan dan kalian tidak seumuran." Yuriko semakin merasa dirinya terjebak atas pertanyaannya sendiri.
"Oh ...." Shohei tertawa kecil, lalu berkata, "Panjang ceritanya. Lain kali akan kuceritakan padamu. Sekarang, aku harus pergi ke Rumah Sakit! Aku pergi dulu, ya!" Baru berjalan tiga langkah, Shohei berbalik kembali lalu berkata, "Oh, iya, kau boleh libur bekerja selama seminggu."
"Eh?" Mata Yuriko membeliak seketika. Ia mengangguk-angguk meski dia kecewa karena tak mendapat jawaban apa pun.
Tepat saat Shohei keluar dari apartemennya, raut wajah pria itu menggelap seketika. Ia menoleh sejenak ke arah pintu sambil memicingkan mata.
Rai berjalan di koridor Rumah Sakit sambil membawa setangkai bunga Camelia. Kedatangannya ke sana bermaksud menjenguk Seina kembali. Kali ini bukan karena permintaan Shohei, tetapi atas inisiatifnya sendiri. Hingga kini, gadis itu masih dalam perawatan karena kondisi fisik yang menurun.
"Rai? Kenapa kau di sini?" tegur Shohei.
Sempat terkejut dengan kehadiran Shohei, Rai menjawab, "Aku tidak bisa berdiam diri. Jadi, aku memutuskan datang menemuimu di sini."
"Kebetulan ada yang ingin kubahas denganmu. Bersiaplah untuk dua hari ke depan! Aku telah merancang aplikasi pelacak lokasi. Kita tidak bisa mendapatkan kembali siaran kita, jadi satu-satunya cara adalah menunggu siaran itu tayang lagi. Dan di saat itu kita akan menangkap Black Shadow tiruan dan menyelamatkan tuan Matsumoto!"
"Wah! Kau membawa kabar yang membuatku bersemangat!" ucapnya menggeram tak sabar, "baiklah, kalau begitu aku akan berlatih keras selama dua hari ini untuk dapat mengalahkan musuh kita!" Rai mengepalkan kedua tangannya sambil melakukan gerakan tinju.
Memasuki hari kedua, pencarian tuan Matsumoto masih dilakukan. Terhitung sejak hari pertama, Perdana Menteri telah mengumpulkan seluruh kabinetnya untuk membahas masalah ini. Pasalnya, tuan Matsumoto adalah salah satu menteri andalannya.
Dalam konferensi persnya, pejabat nomor satu di Jepang itu mengajak Black Shadow untuk melakukan negosiasi dengan pemerintahan dalam hal pembebasan tuan Matsumoto, dengan tawaran negara akan mengusut kasus dugaan keterlibatan Tuan Matsumoto dan menjatuhkan hukuman sesuai undang-undang apabila benar-benar terbukti bersalah.
Yuriko kembali ke apartemen usai dari kampusnya. Baru saja tiba, ia terkesiap mendapati Rai tengah bersiap-siap pergi sambil menenteng tas ransel.
"Ah, Yu-chan, aku ada tugas dadakan lagi di tempat kerjaku. Aku tidak bisa pulang selama dua hari ke depan, jadi tolong jaga kamar ini sampai aku pulang," ucap Rai yang tampak terburu-buru. Ya, Shohei memerintahkan ia untuk menjauh dari Yuriko sampai batas misi mereka dua hari ke depan.
Yuriko lantas terkesiap. Namun, baru saja hendak bertanya, Rai kembali berbalik sambil berkata, "Oh, iya, aku sudah mengisi kulkas dengan persediaan makanan. Jangan lupa makan tepat waktu dan jaga kesehatanmu, Yuri-Yuri!" ucap pria itu sambil menepuk lembut kepala Yuriko.
Baru saja melangkah, Rai terhentak ketika Yuriko menahan pergelangan tangannya. Ia memutar badan perlahan, menatap gadis tomboi yang juga menatapnya dengan cemas.
"Kau harus segera pulang!" pinta Yuriko.
"Hum." Rai mengangguk. "Pasti!"
"Bagaimanapun ... jangan terluka lagi! Jangan pulang dalam keadaan terluka seperti waktu itu!" pinta Yuriko kembali dengan mata yang masih menancap di manik hitam pria itu.
"Hum." Rai kembali mengangguk. "Aku akan baik-baik saja!" Ia melepaskan tangan Yuriko dari pergelangan tangannya, lalu pergi.
.
.
.
Gais, ini hari kelima om Imron (omicroon) datang bertamu sama aku dan sekeluarga. Jadi aku belum bisa nulis panjang-panjang, tapi ini ada 1000 lebih kata. Seperti biasa aku ga pernah nulis per chapter di bawah 1000 kata, dan setiap isi chapter ada inti cerita, bukan chapter kosong yang isinya percakapan ngalor ngidul. selama nulis juga ga pernah nyomot artikel atau definisi di googgle buat paste ke dalam cerita supaya chapter terlihat panjang dan banyak. Enggak ya gays, ini asli tulisan gua, asli ketikan gua.
Penjelasan tambahan atau definisi-definisi selalu gua letakin di jejak kaki biar tidak mengganggu jalan cerita. Oh, iya, btw, chapter-chapter ke depan itu kalian bakal ngerasain klimakss cerita (puncak konflik), jadi bakal lebih menegangkan lagi ya, semakin naik lagi. Perhatikan clue yang tersisip dalam cerita sejak awal chapter dimulai, sesuatu yg kalian anggap ga penting ternyata bisa jadi clue-nya nanti. Kalau ga ada halangan, novel ini tamat sebelum bulan puasa. Semoga, ya.
Oke, cara menyenangkan hatiku cukup gampang gais, cukup like + Komeng sesuai isi chapter