
Dua Minggu yang lalu, tepatnya saat Shohei berbicara empat mata dengan ayah Yuriko yang merupakan mantan anggota riset keamanan luar negeri, di mana Kazuya Toda pernah menjadi komandan pasukan.
"Hajimemashite, saya Yamazaki Shohei, penyidik divisi satu Metropolitan." Shohei memperkenalkan diri secara sopan dan formal di hadapan ayahanda Yuriko.
Ayah Yuriko terhenyak seketika. "Jadi kaukah detektif hebat dari Metropolitan?"
Shohei menggeleng seraya mengurai tawa halus. "Ah, aku tidak sehebat pemberitaan di media."
"Bukankah kau adalah putra jendral Yamazaki?"
Shohei mengangguk pelan. Ia mengambil kursi lalu duduk di sisi ranjang tuan Aizawa.
"Bagaimana bisa putriku yang biasa-biasa saja berkenalan dengan orang sepertimu?" Tuan Aizawa seakan tak percaya putrinya membawa teman anak seorang jendral yang disegani di negeri ini.
"Yuriko-san tidak kalah hebat. Di mataku dia perempuan pekerja keras, tangguh dan memiliki semangat tinggi!"
Tuan Aizawa terkekeh mendengar Shohei memuji anak gadisnya.
"Saya mendengar banyak hal tentang Anda dari Yuriko. Anda dulunya adalah seorang polisi yang ditugaskan di pasukan khusus. Saya tidak bisa membayangkan betapa hebatnya Anda lewat cerita-cerita Yuriko."
Tuan Aizawa menatap ke depan seraya menghela napas dengan raut wajah yang menggelap seketika. "Anak itu masih saja membanggakan ayahnya yang hanyalah seorang polisi terbuang," ucapnya tersenyum getir.
"Anda tidak terbuang. Anda hanya menjadi korban dari seseorang yang memanfaatkan situasi itu." Shohei mulai memancing tuan Aizawa agar ia bisa mengulik kejadian lima belas tahun lalu yang melibatkan Kazuya Toda.
Tuan Aizawa lantas menatap Shohei dengan mimik hampa. Ia bergeming sesaat, sebelum akhirnya berkata, "itu hanyalah cerita masa lalu."
"Bukankah kejahatan tetaplah kejahatan, tidak akan berubah meski disimpan selama bertahun-tahun," tandas Shohei.
"Kau benar."
"Lalu kenapa Anda tidak mencoba melaporkan kejadian yang sebenarnya?"
"Sayangnya, aku tidak punya bukti kerja sama ilegal komandanku saat itu dengan Rusia. Dia menciptakan serangan terroris palsu dan rela mengorbankan nyawa timnya sendiri hanya demi membuat namanya terangkat ke publik dan naik jabatan."
"Apakah artinya pengeboman itu telah diatur?"
"Ya, sebelum insiden itu terjadi, aku sempat melihatnya bertemu dengan pria asing berkewarganegaraan Rusia di pelabuhan. Dan detik-detik saat bom itu meledak, aku melihat dengan jelas sosok terroris yang meledakkan bom itu ternyata adalah pria yang bertemu dengannya. Insiden itu membuatku koma selama berminggu-minggu. Saat siuman, aku malah baru mengetahui kematian rekan-rekanku. Lucunya, komandanku malah naik pangkat," jelas tuan Aizawa menceritakan insiden lima belas tahun yang lalu.
"Apakah Anda tidak menceritakan apa yang Anda lihat?"
"Keadaanku saat itu telah cacat seperti ini. Dan hari pertama saat aku masuk kantor, aku malah dihentikan dari kepolisian, karena komandanku bersaksi aku dan timku tidak disiplin dengan mendengar perintahnya untuk melakukan negosiasi, sehingga bom itu akhirnya meledak."
Shohei tampak geram mendengar seluruh kesaksian ayah Yuriko tentang kasus lima belas tahun lalu. Kazuya Toda ternyata sangat pintar memutar balikkan fakta. Manusia itu lebih licik dari yang dia kira.
Sebelum Shohei meninggalkan ruangan itu, ayah Yuriko sempat mengatakan sesuatu yang selama ini tidak ia ketahui sebagai seorang polisi.
"Dulu kami mendirikan basement yang terletak di sebelah barat pelabuhan Tokyo. Di dalam basement itu terdapat sebuah ruangan rahasia yang terletak di ruang bawah tanah. Tempat itu di bangun untuk ruang darurat melarikan diri jika terjadi serangan musuh. Ah, aku tidak tahu apakah ruang itu masih difungsikan atau tidak karena saat aku melihat liputan berita, basement itu hanya dijadikan gudang yang juga telah terbengkalai.
Mendengar hal itu, mata Shohei berkilat tajam. Ia lantas tertarik dengan ruang rahasia yang dimaksud dan meminta Kei mencari tahu.
Di saat bersamaan, Rai turut mendapat info berharga dari Yuta. Ternyata yang meretas siaran Black Shadow selama ini adalah Yuta. Namun, ada yang lebih penting dari sekadar mengetahui sang peretas, yaitu siapa sosok yang memakai jasa mantan kawan lamanya itu. Meski Yuta tak memberi jawaban spesifik, tapi ia yakin pejabat yang menyuruhnya berkaitan dengan target kesepuluh Black Shadow dan Mr. White. Hal ini diperkuat dengan misi penipuan mereka yang menargetkan harta kotor dari seorang pejabat besar di negeri ini.
Awalnya ia tak lagi memedulikan apa pun yang berkaitan dengan dunia perpolitikan. Namun, saat mengetahui Kazuya toda telah naik jabatan sebagai ketua keamanan nasional, membuat sisi lain dirinya sebagai Black Shadow seakan tak terima dan tak bisa tinggal diam.
Suara yang menjadi kalimat perpisahan antara dirinya dan Shohei membuatnya urung untuk menghubungi pria itu. Ia pun menutup kembali telepon dan pergi. Baru saja beranjak beberapa langkah dari box telepon, pria itu malah terkenang dengan segala aksi perjuangan yang telah ia lakukan bersama Shohei. Seorang penipu yang menjadi narapidana dengan kasus berat, pasti sangat sulit untuk lolos dari hukum yang akan menjeratnya. Tapi Shohei datang membantunya. Seorang yang kelam sepertinya, pasti sangat mustahil untuk berubah menjadi sosok yang bermanfaat bagi orang lain. Tapi Shohei telah mewujudkannya. Seorang pria metroseksual seperti dirinya, yang hanya mengenal kehidupan gemerlap malam, pasti sangat tak masuk akal jika tiba-tiba pandai bela diri dan melakukan aksi-aksi heroik seperti aktor film laga. Tapi lagi-lagi Shohei telah membantunya membuktikan.
Sekarang, bukankah hanya tinggal satu target lagi? Kenapa mereka harus seperti ini ketika misi hampir selesai? Kenapa dia hanya bisa pasrah tanpa bisa melakukan apa-apa terhadap orang yang telah banyak membantunya?
Rai menatap pekatnya langit malam seraya mengembuskan napas kasar. Ternyata, Black Shadow benar-benar telah menyatu dalam dirinya. Ia berbalik, berjalan cepat dan masuk kembali ke box telepon umum.
Di tempat berbeda Shohei baru saja pulang setelah makan bersama dengan Megumi Jun. Ia segera meraih ponsel ketika membunyikan nada dering. Alisnya bergelombang, menatap nomor tak dikenal di layar ponsel.
"Moshi-moshi ...."
Tiba-tiba lidah Rai menjadi kelu untuk bersuara, tangannya pun terasa kaku hanya untuk mematikan Kembali panggilan itu. Sempat hening beberapa detik, sebelum akhirnya terdengar suara.
"Gomen ...." Pada akhirnya hanya kata itu lagi yang terucap dari bibirnya.
Shohei yang mengenali suara itu, lantas sedikit tersentak. "Ada apa?"
"Ini tentang Kazuya Toda. Aku tahu bukan urusanku lagi, tapi izinkan aku membantumu memberi informasi yang mungkin berguna untukmu dan tim barumu."
"Katakan saja!"
"Kurasa aku perlu menceritakan semuanya dari awal." Rai lalu menceritakan semuanya. Termasuk tentang dirinya yang sebenarnya seorang mantan penipu, dan kini kembali menjadi penipu.
"Dua Minggu yang akan datang, aku akan membatu rekan lamaku mengambil harta Karun Kazuya Toda yang tersimpan di safe room," jelas Rai.
"Safe room?" Shohei mendadak teringat dengan ruang bawah tanah yang sempat diungkap oleh ayah Yuriko. Sebab, menurut info yang diberikan ayah Yuriko, basement yang seharusnya menjadi tempat latihan pasukan riset luar negeri itu tidak pernah digunakan lagi.
"Ya, tempat rahasia itu terletak di ruang bawah tanah salah satu gudang bea cukai. Sayangnya, aku tidak tahu letak gudang itu karena rekan lamaku tak ingin memberitahukan sebelum waktu aksi itu datang. Jadi, mau tak mau aku harus ikut terlibat dalam aksi penipuan. Tapi tenanglah, aku akan menjadikan diriku umpan! Setelah mengetahui ruangan itu, aku akan segera memberitahu kau dan timmu."
"Arigatou," ucap Shohei setelah mendapatkan informasi dari Rai tentang gudang harta yang disinyalir milik Kazuya Toda. Sekarang, tinggal mencari tahu asal-usul harta tersebut dan letak safe room itu sendiri.
"Hum." Rai mengangguk dalam kelam. "Ganbatte, ne! Aku juga menantikan Kazuya Toda di penjara," ucapnya di penghujung obrolan mereka. Setelah permasalahan itu, cara bicara mereka terasa formal dan kaku. Seperti orang lain.
Baru saja Rai hendak menutup telepon, tiba-tiba Shohei bersuara.
"Rai-kun, mari kembali bersamaku!" ucap Shohei dengan nada suara yang serak, "tidak apa-apa. Tidak apa-apa .... Aku akan berusaha profesional. Bukankah kau juga masih ingin kerja sama denganku?" ucap Shohei pelan. Tentu saja rasa sakit itu masih ada. Tetapi, ia berusaha menelan semua itu sekaligus menurunkan egonya yang sempat meninggi. Semua itu hanya demi misi tersebut.
Rai tertegun seketika. "Gomen, tapi jalan kita telah berbeda. Dan terlebih lagi, aku tidak pantas menerima maaf darimu," ucapnya dengan suara yang nyaris menghilang. Sejujurnya, hati kecilnya hendak mengiyakan ajakan pria itu.
"Jalan kita telah berbeda, tapi bukankah tujuan kita tetap sama. Kau telah meninggalkan dirimu sebagai Black Shadow dan kembali menjadi dirimu yang lama, tapi tetap dipertemukan dengan Kazuya Toda. Bukankah ini artinya ada benang merah yang mengikat kita?"
.
.
.
catatan author:
Chapter ini menjawab pertanyaan kalian bagaimana bisa Rai dan Shohei kembali bersama. Next-next chapter akan ada adegan baku hantam, gays. Apakah kali ini target kesepuluh berhasil dieksekusi? Kawal terus novel ini sampai tamat dengan memberi dukungan yang menyemangati author.
like dan komeng