
Butuh waktu dua tahun bagi Rai untuk meluncurkan aplikasi buatannya ke publik. Kini, aplikasi itu sedang tren dan banyak dibicarakan orang-orang. Itu karena aplikasi ciptaannya dinilai sangat bermanfaat terutama lingkungan pemerintahan dan juga perusahaan.
Aplikasi yang diberi nama Shojiki ini, membuatnya disorot media dan dikenal publik. Tepat setahun peluncurannya, ia diundang sebagai bintang tamu program talk show terkenal.
(Shojiki\=Kejujuran)
"Pemirsa, bintang tamu kita saat ini adalah sosok yang sangat menginspirasi. Dia adalah Matsui Rai, seorang founder dari aplikasi yang tengah santer dibicarakan publik."
Rai memasuki studio diiringi suara riuh tepuk tangan dari para penonton. Penampilan pria berusia tiga puluh tiga tahun itu telah berubah total. Ia lebih terlihat berwibawa dengan setelan jas yang membalut tubuh jangkungnya.
"Ada isu yang mengatakan Anda membuat aplikasi ini karena terinspirasi dengan tokoh Black Shadow yang pernah menjadi tokoh fenomenal di negeri ini. Apa itu benar?" tanya pembawa acara program tersebut.
"Ya, benar, tapi kurang tepat. Aku memang membuat aplikasi ini untuk mengenang tokoh misterius yang sempat menggemparkan Jepang. Namun, inspirasi dari aplikasi ini justru datang dari tokoh di balik pengendali Black Shadow."
"Maksud Anda?"
"Apakah Anda ingat ada desas-desus yang mengatakan ada sosok yang berdiri di belakang Black Shadow dan menggerakkannya untuk melakukan segala aksi? Kupikir, jika itu benar ... bukankah dia lebih hebat dari Black Shadow itu sendiri? publik juga harus mengapresiasi tokoh tersebut. Orang seperti itu sangat menginspirasiku. Tak mengharapkan sorotan kamera ataupun pujian dari orang-orang. Karena tujuannya hanya satu, menumpaskan orang-orang yang telah merugikan rakyat dan negara," kenang Rai.
"Lalu, apa tujuan Anda membuat aplikasi ini?"
"Aku ingin meneruskan perjuangan Black Shadow dan sang pengendalinya. Jika kalian menemukan tindakan korupsi secara diam-diam, penggelapan uang, pungutan liar, serta hal-hal yang merugikan rakyat dan negara, jangan sungkan untuk melaporkan lewat aplikasi ini dan jangan lupa sertakan bukti yang valid. Jangan takut, aplikasi ini tetap menjaga privasi kalian. Jadilah Black Shadow dalam diri kalian!"
Pembawa acara kemudian mengganti topik perbincangan. "Saya dengar, Anda akan mencalonkan diri sebagai anggota parlemen Jepang, apakah itu benar?"
"Benar. Aku akan terjun ke dunia politik dan mencalonkan diri menjadi anggota parlemen. Aku ingin mewakili generasi muda untuk membangun politik yang jujur dan transparan. Meskipun ini terdengar omong kosong."
"Apa pandangan Anda tentang politik?"
"Aku mendefinisikan politik itu kegiatan mengambil dana dari si kaya, untuk meraih suara dari si miskin. Tapi ada momen di mana aku berpikir politik itu seperti kubangan air. Kita tak akan tahu apakah air di dalamnya bersih, kotor, berlumpur atau penuh bebatuan jika tak ikut masuk ke dalamnya."
Rai membuktikan keseriusan ucapannya untuk terjun ke dunia politik. Aplikasi yang dibuatnya itu menjadi batu loncatan dirinya untuk bisa dikenal publik dan dipinang salah satu partai politik terbesar di negara ini. Aplikasi itu juga berhasil membentuknya menjadi figur yang anti korupsi. Berwajah tampan, cerdas, pandai berkomunikasi, ahli berstrategi, serta menguasai banyak bahasa asing menjadikan dirinya mudah mendapatkan dukungan dari berbagai kalangan.
Selesai menjadi bintang tamu dalam program talk show, Rai langsung dihampiri anggota parpol yang mengusungnya. Pria itu menyodorkan daftar pengusaha dan publik figur yang bisa memberikan dukungan padanya.
"Aku telah mengumpulkan beberapa pengusaha dan publik figur yang tertarik mendukung pencalonanmu. Aku akan mengatur pertemuanmu dengan mereka," ucap pria itu.
Rai membuka daftar pengusaha dan publik figur yang diberikan padanya. Matanya langsung menyoroti nama terakhir dalam daftar.
"Yamada Chiba?"
"Ya, kami memasukkan dia dalam daftar pendukung Anda karena dia adalah penyanyi dan aktor papan atas. Kita bisa mengambil suara dari para penggemarnya. Jika kau setuju, aku akan mengatur pertemuanmu dengannya. Tapi ... pria ini sedikit sulit ditaklukkan," ucap pria itu cemas.
"Jangan khawatir! Aku sangat mengenal betul kepribadian pria itu," ucap Rai penuh percaya diri. Meskipun pernah bertikai dengan pria itu, tetapi ia meyakini dalam politik tak ada musuh dan sahabat yang abadi.
"Oh, iya, jurnalis Ayano juga mengundangmu untuk berdebat langsung dengannya di podcast. Dia menjadi influencer nomor satu di Jepang saat ini dan YouTube channel-nya mendapatkan subscriber-nya terbanyak.
Hati-hati, dia jurnalis yang memiliki lidah tajam. Pertanyaan-pertanyaan yang selalu diberikan, cenderung menjebak dan membuat bintang tamunya tak berkutik."
"Katakan padanya aku terima undangannya dengan senang hati."
"Oh, iya, kau juga harus memilih kuasa hukum. Kami merekomendasikan dua pengacara muda ini untukmu. Silakan baca profil mereka terlebih dahulu!"
Rai membuka dua profil pengacara yang ditawarkan padanya untuk menjadi kuasa hukum. Matanya melebar begitu mengetahui Seina menjadi salah satu pengacara yang direkomendasikan untuk mendampinginya.
"Pilihkan aku pengacara pria!" pinta Rai berjalan lurus seraya melepas kancing jasnya.
Mencalonkan diri sebagai politikus membuatnya harus menerima serangan dari lawan politiknya. Apalagi mereka sengaja mengulik latar belakang dan masa lalunya yang pernah menjadi seorang narapidana. Namun, bukan Rai namanya jika tak pandai mengantisipasi itu semua.
Ternyata acara talk show itu, ditonton oleh Shohei. Pria yang kini berusia tiga puluh lima tahun itu tersenyum simpul, lalu mengambil ponselnya dan segera mengunduh aplikasi ciptaan Rai. Sejenak, kepalanya menoleh ke arah lukisan pemberian Rai yang menjadi simbol hubungan antara Mr. White dan Black Shadow.
Di waktu yang sama, pintu apartemennya terbuka secara tiba-tiba. Rupanya, Seina baru saja pulang dari tempat kerjanya. Perempuan itu kini menjadi pengacara muda berprestasi.
"Tadaima (aku pulang)," ucap Seina sambil melepas sepatunya.
"Okaeri (selamat datang kembali)," sambut Shohei seraya mematikan televisi.
"Shohei-kun, coba lihat ini!" Seina terburu-buru memperlihatkan majalah yang memuat wajah Rai sebagai model sampul. "Bukankah dia temanmu? Aku sudah lama tak melihatnya. Tapi ini mengejutkan, setahuku dia bisu."
"Kenapa kau bisa bilang dia bisu?" tanya Shohei mengernyit.
"Aku ingat, dulu setiap bertemu dengannya, dia tak pernah mengeluarkan suaranya. Dia hanya diam dan seperti menjaga jarak denganku. Tapi ada beberapa kali dia memakai bahasa isyarat jika berkomunikasi denganku. Jadi kupikir dia bisu. Tidak kusangka ternyata dia adalah founder aplikasi Shojiki."
Shohei tertegun. Dulunya, ia berpikir Rai benar-benar mengkhianatinya. Hari ini, ia baru mengetahui jika pria yang pernah dekat dengannya itu ternyata pernah melakukan hal konyol hanya untuk menjaga jarak dengan Seina.
Keesokan harinya, Shohei memberi sambutan pada seluruh siswa baru di Keishicho Keisatsudai Gakko—Akademi polisi Metropolitan yang berada di Tokyo, Jepang. Tiga tahun setelah keluar dari kepolisian metropolitan, pria yang kini menjadi salah satu pengajar di sekolah kepolisian itu, khususnya sebagai instruktur untuk keanggotaan baru yang dipersiapkan menjadi detektif.
"Jika sepatu polisi tetap bersih saat bertugas, maka dia tidak menyelesaikan tugasnya dengan baik," ucap Shohei di hadapan para calon polisi di sela-sela pidatonya.
Usai memberi sambutan, ia bertemu dengan Ai Otaka yang memang datang ke tempat itu untuk mengunjunginya.
"Senpai, kapan Anda akan kembali ke kepolisian Metropolitan lagi? Bukankah Senpai telah menerima surat panggilan untuk kembali bertugas di sana?"
Shohei malah tersenyum sembari berkata, "Selamat, ya! Kudengar kau menjadi kepala penyidik divisi 1. Aku pasti akan kembali. Tapi, untuk saat ini aku memilih bertugas di sini. Menurutku, untuk membentuk polisi yang bertanggung jawab, jujur, dan amanat harus dimulai dari tempat ini."
Saat langit telah bernuansa keemasan, Yuriko baru saja turun dari taksi yang membawanya ke distrik Ginza. Ia berjalan terburu-buru menuju jajaran pertokoan butik untuk menyewa setelan jas yang akan dipakai Rai dalam menghadiri acara malam nanti. Sebagai pendamping Rai yang juga merangkap asisten pribadi, ia selalu sigap menyiapkan keperluan pria itu. Apalagi Rai kini disibukkan dengan pencalonan anggota parlemen.
Yuriko menyeberangi jalanan utama distrik Ginza bersama puluhan pejalan kakinya. Saat sedang melintas, tiba-tiba ia berpapasan dengan sesosok pria yang memegang buket bunga Camelia. Sontak, langkah kekasih Rai itu terhenti seketika diikuti mata yang melebar.
"Bukankah dia ...." Yuriko berbalik cepat. Matanya berpendar ke seluruh arah, kembali mencari sosok pria berkameja biru dengan buket bunga yang dipegangnya.
Ia yakin pria yang baru saja dilihatnya itu adalah Shohei. Seperti dejavu, kawasan ini adalah tempat awal pertemuan mereka, di mana saat itu mencopet dompet Shohei saat sedang menyeberangi jalan ini. Sekarang, ia kembali melihatnya setelah tak mengetahui kabarnya selama tiga tahun. Sayangnya, begitu mencoba mengejar, ia malah kehilangan jejak pria itu. Padahal, ia hanya ingin menyampaikan kalau Rai tak pernah melupakannya meski hubungan persahabatan mereka telah berakhir. Bahkan Rai sangat terpukul saat baru mengetahui kalau ternyata Shohei telah keluar dari kepolisian Metropolitan.
Di sisi lain, Seina tengah berada di menara Tokyo Skytree. Perempuan yang kini berpenampilan dewasa itu, berdiri di lantai tembo galeri sembari menunggu kehadiran Shohei. Meski telah berulang kali datang ke tempat itu, ia tak pernah bosan untuk mengagumi keindahan pemandangan kota Tokyo dari ketinggian kurang lebih 450 meter.
Seina menoleh ke samping saat netranya menangkap bayangan sosok pria yang berdiri tak jauh darinya. Sempat berpikir itu kekasihnya, ternyata bukan. Pria yang memakai setelan jas biru tua dengan kacamata lebar berwarna hitam itu, juga tampak tersentak saat beradu pandang dengannya. Ia melempar senyum tipis pada Seina, lalu berbalik perlahan dan berjalan meninggalkan tempat itu sambil menyelipkan satu tangan ke dalam saku celana.
Tertegun selama beberapa detik, Seina merasa pria itu tampak tak asing baginya. Terutama senyum kecil yang baru saja dilemparkan padanya. Sayang sekali, ketika ia menoleh ke belakang, ternyata pria itu sudah tiada.
Rai tiba di puncak tertinggi menara Tokyo Skytree. Sejenak, ia seperti melihat bayangan Mr. White yang berdiri di ujung pembatas rooftop, memamerkan senyum padanya seraya menunjukkan sebotol sampanye sebagai hadiah kesuksesan misinya.
Sayangnya, ini hanya ilusinya semata!
Masih sangat kental di ingatannya bagaimana pria dengan senyum yang khas itu, tiba-tiba datang dan mengulurkan tangan padanya di saat ia tak bersemangat untuk melanjutkan hidup. Masih sangat jelas dalam benaknya setiap kata-kata penyemangat yang dilontarkan Shohei untuk membakar semangatnya. Dan masih sangat lekat setiap suka duka yang telah mereka lewati hingga berakhir dengan sebuah perpisahan.
Tiga tahun setelah petualangan Black Shadow dan Mr. White berakhir, semua tampak baik-baik saja. Rai dan Shohei tetap melanjutkan hidup dengan pasangan yang mereka cintai. Dua pria yang berbeda watak dan latar belakang itu, memilih melanjutkan hidup dengan jalan yang berbeda.
Bagi Rai, hidup itu bagaikan seekor burung elang. Terbang bebas, tinggi dan jauh. Elang yang dijuluki si penerbang hebat, tak pernah takut akan badai, malah memanfaatkan embusan angin kencang agar dapat mengepakkan sayap lebih lebar untuk menaklukkan alam. Seperti itulah dia.
Berbeda dengan Rai yang memilih kehidupan yang menantang, Shohei malah memilih hidup seperti seorang pelari maraton. Hanya perlu berlari sesuai lintasan untuk mencapai garis finis. Meski begitu, butuh persiapan, kesabaran, dan keteguhan hati agar tak menyerah di tengah jalan. Sebab, pilihan menjadi pemenang ada di tangannya sendiri.
Hingga saat ini, Black Shadow seakan menjadi cerita legenda yang tak terpecahkan. Banyak yang memercayainya telah mati, tak sedikit juga meyakini dia hidup damai di suatu tempat. Sementara, Mr. White sendiri tak begitu banyak yang meyakini sosok ini benar-benar ada sebagai pengendali Black Shadow.
Tak seperti bunga Camelia yang melambangkan keabadian, persahabatan Mr. White dan Black Shadow hanya terjalin singkat. Mereka memilih untuk menjadi asing satu sama lain. Meski begitu, keduanya tetap saling mengenang dan merindukan momen-momen yang pernah mereka lewati bersama.
Rai Matsui
Shohei Yamazaki
Yuriko Aizawa
Seina Matsumoto
Kei Ayano
Ryo matsui
Seto Tanaka
Ai Otaka
Inspektur Heiji
Detektif Shu
Yuta Inoo
Jun Megumi
.
.
.
.
...~ T A M A T~...
Haahhh ... akhirnya tamat juga. Novel ini mulai dari tanggal 30 Agustus 2021 dan tamat di tanggal ini. Setahun lebih berarti ya. Gila gays! Berbeda dengan novel-novel aku sebelumnya, ini menjadi novel dengan waktu terpanjang untuk aku selesaikan. Sebelumnya, novel dengan penyelesaian terlama jatuh pada gomen, aishiteru yang membutuhkan waktu tujuh bulan lebih. Dan ternyata ini lebih lama. Aku nulisnya di lima kota yang berbeda pula.
Segala pemikiran yang tertuang di novel ini murni pemikiran pribadi, mohon maaf jika ada statement yang bertolak belakang dengan pemikiran kalian atau mungkin menyinggung perasaan kalian. Novel ini hanya karya fiktif dari seorang penulis amatir, masih banyak kekurangan yang mungkin tidak saya sadari.
Untuk pembaca on going, terima kasih telah setia bersamaku. Sabar menunggu update'an cerita ini dari chapter awal hingga penghujung cerita. Untuk yang bergabung di pertengahan atau akhir cerita, terima kasih mau memilih bacaan ini menjadi salah satu bacaan yang ada di rak buku kalian.
Terima kasih untuk pembaca yang sering meninggalkan sepatah dua patah komentar di setiap chapter. Terima kasih juga untuk kalian yang selalu jadi tiposetter aku. Terima kasih karena telah memaklumi kesibukan RL-ku dan bersedia menunggu update-an terbaru dengan jadwal yang semrawut. Tapi jujur, aku senang kalau ada yang komen tanya update'an terbaru. Merasa karya aku ada yang nungguin. Kemarin ada yang bilang pingin baca ending novel ini sebelum ke LN, semoga masih sempat baca ya.
Terima kasih yang sebesar-besarnya untuk pembaca yang tak henti-hentinya mengalirkan dukungan berupa vote poin, voucher dan tip koin. Karena kalian, novel ini menjadi sedikit bernilai. Maaf aku gak pernah ngasih hadiah, kenang-kenangan atau apa for kalian yang udah dukung novel ini. Tapi, membuat karya ini dengan hati-hati, menciptakan alur cerita yang berbeda dan semenarik mungkin, bertanggung jawab menyelesaikannya hingga ada tulisan tamat adalah caraku membalas semua pembaca yang telah mendukung novel never not selama ini.
Selama novel ini mengudara, pernah mencapai enam besar di top ranking hadiah. Dan lima besar di top ranking vote. Merupakan pencapaian besar tentunya, mengingat novel ini satu-satunya genre minor (misteri, detektif, dan thiller) yang berada di top ranking.
Btw, karena ini sudah last chapter, silakan tinggal kesan dan pesan kalian selama membaca novel ini sebagai kenang-kenangan kalian untuk aku. Hal-hal yang ingin ditanyakan atau unek-unek yang ingin disampaikan silakan tulis, bakal aku rangkum dan jawab di pengumuman berikutnya.