Never Not

Never Not
Ch. 113 : Dikhianati Kemudian Mengkhianati



Semua sudah berakhir tanpa penjelasan apa pun dari Rai. Seolah-olah dia membiarkan seluruh kesalahan itu tertimpa padanya. Tentu ia sangat tahu apa yang dirasakan Shohei saat ini. Sebab, dia juga pernah berada di posisi yang sama. Dikhianati oleh kekasih sekaligus sahabatnya sendiri. Bedanya, jika dulu dia di posisi korban, sekarang dia malah di posisi pelaku. Itulah yang membuatnya tak melakukan pembelaan apa pun dan juga tak mengharapkan ampunan maaf dari Shohei.


Jika ingatan itu diundur kembali, sebenarnya pertemuan antara Rai dan Seina selalu hanya kebetulan saja. Rai bahkan awalnya mengira Seina adalah penggemar fanatiknya yang sering menguntit. Shohei pun tak pernah tahu, bagaimana usaha Rai agar bisa menghindari Seina setelah mengetahui gadis itu adalah calon tunangannya. Betapa ia begitu menyalahkan dirinya sendiri akibat buah dari perilakunya yang senang mempermainkan perempuan.


Pada saat isu tentang Mr. White berembus bersamaan dengan kejadian penculikan ayah Seina, Rai bergerak cepat dengan langsung mengirimkan surat pada Seina. Tujuannya tak lain adalah demi Shohei sendiri, menjaga-jaga jikalau identitas pria itu sebagai Mr. White terbongkar sehingga mungkin bisa membuat hubungannya dan Seina menjadi hancur karena kesalahpahaman. Sama seperti Shohei yang mau bersusah-susah menyamar menjadi Black Shadow untuk menjelaskan kejadian yang sebenarnya pada kekasihnya demi melindungi partnernya. Bukankah baik Rai maupun Shohei saling melindungi satu sama lain? Sayangnya, persahabatan itu kini telah hancur. Hari ini, di tempat ini. Semua telah berakhir.


Rai membuka seragam bela diri yang ia gunakan. Ia menatap kostum Black shadow yang diletakkan Shohei begitu saja, lalu memasukkan kostum itu ke dalam ransel, dan menaruhnya di sudut ruangan. Ia tak lagi menjadi Black Shadow terhitung sejak saat ini. Maka dari itu, ia mengembalikan seluruh atribut yang Shohei berikan padanya. Termasuk juga ponsel yang sering mereka gunakan berkomunikasi.


Rai mulai berjalan meninggalkan gedung yang letaknya berada di sebelah barat menara Tokyo Sky Tree. Di gedung tua tak terpakai ini, menjadi saksi bisu bagaimana ia bertransformasi dari seseorang yang terbuang dan tak memiliki tujuan hidup, menjadi seorang pahlawan yang dielukan masyarakat. Tentunya atas bantuan Shohei.


Dari tempat latihan, Rai kembali ke apartemennya. Namun, bukan untuk beristirahat seperti biasa, melainkan mengemas seluruh barang-barangnya. Sejenak, mata redupnya melirik ke arah Yuriko yang tengah terlelap. Ia melangkah mendekat, lalu mengulurkan tangannya ke wajah gadis itu. Namun tak jadi ia lakukan.


Rai adalah tipe pria bebas yang tak ingin terikat oleh wanita manapun. Ia juga tipe pria yang sulit mendefinisikan perasaannya sendiri. Dia tak mudah jatuh cinta, apalagi mengakui mencintai seseorang. Namun, ia memiliki sifat dominasi dan tak mau kalah dari pria manapun di mata perempuan yang menarik perhatiannya. Pada titik ini, Yuriko satu-satunya perempuan pertama yang tak terjerat dengan pesonanya. Lucunya, gadis itu malah lebih tertarik pada Shohei.


Rai menenteng tasnya sambil menyapu pandangan ke seluruh ruangan yang menjadi tempat tinggalnya selama setahun. Di ruangan yang tak terlalu besar ini, tersimpan sejarah perjalanan mereka dalam mengatur strategi sejak awal misi hingga berhasil menghempaskan sembilan orang. Seluruh ide, strategi, dan siasat yang mereka gunakan lahir dari tempat ini. Kini, tak ada alasan baginya untuk tinggal di sini. Ia mundur beberapa langkah, berbalik pelan kemudian pergi tanpa meninggalkan pesan apa pun. Hanya membawa kenangan dan penyesalan.


Sebelumnya, ia memang telah bersiap untuk pergi dari kehidupan Shohei. Hanya saja, ia pikir dapat melakukan itu setelah selesai misi dan mereka melanjutkan hidup masing-masing. Siapa sangka alasan kepergiannya malah seperti ini. Setidaknya ia bersyukur, Shohei telah membentuk tim yang bisa menggantikan dirinya serta melanjutkan misi akhir mereka.


Tak terasa, sinar matahari musim semi telah menutup malam kelabu dan kembali eksis menyinari kota Tokyo. Kelopak mata Yuriko terus menutup, tak memberi izin bola matanya untuk menikmati terangnya surya. Gadis itu membentangkan sebelah kaki dan tangannya ke samping, tetapi tak lama kemudian ia malah terbangun ketika menyadari tempat yang seharusnya ditiduri Rai itu kosong. Masih mengantuk, matanya berpendar ke seluruh ruangan. Sepi. Pikirnya, Rai belum pulang juga dari semalam.


Di sisi lain, Ryo mendatangi markas mereka sesuai jadwal yang telah ditetapkan Shohei saat itu. Tidak sulit baginya untuk masuk karena masing-masing dari mereka memegang kunci markas. Ia tertegun karena keadaan markas begitu sepi, belum ada satu pun yang datang. Sekitar sepuluh menit kemudian, terdengar pintu yang berderit. Rupanya itu adalah Kei yang baru saja tiba. Pria itu mengernyit karena hanya Ryo yang ada di sana.


"Mana yang lain?" tanyanya.


"Sepertinya mereka belum datang."


"Hah ... kukira sudah aku yang paling terlambat." Kei menghela napas sesaat, lalu mengambil ponsel untuk menghubungi Shohei.


Tiba-tiba Yuriko masuk dengan tergesa-gesa, kemudian menatap sekeliling ruangan yang hanya ada Kei dan Ryo.


"Mana Rai?" tanya gadis itu penuh kekhawatiran.


Kei mengangkat kedua bahunya sambil membuka kedua telapak tangannya. "Aku tidak tahu, aku juga baru datang.


"Mungkin saja sedang menuju ke sini," balas Ryo.


Yuriko kembali menelisik ruangan tersebut. "Mana Shohei?" tanyanya lagi.


Mendengar itu, Yuriko langsung teringat saat ia terbangun dan mendapati lemari Rai telah kosong dan sebagian barang pria itu juga tidak ada.


"Ini aneh! Mereka berdua malah tidak ada!" ucap Yuriko curiga.


"Mungkin dia dan kakakku sedang mencari tahu sesuatu bersama-sama. Bukannya mereka memang partner jauh sebelum kita bergabung," sahut Ryo berspekulasi sendiri.


"Ya, sudah. Kalau begitu, kita tunggu saja mereka!" ucap Kei sambil mengaktifkan laptopnya bersiap menunjukkan hasil penyelidikannya.


"Masalahnya ... pagi tadi aku mendapati lemari Rai kosong. Dia pergi membawa seluruh barang-barangnya tanpa mengatakan apa pun padaku," ucap Yuriko cemas.


Kei dan Ryo kompak terkesiap. Mereka saling menatap dalam satu pandangan.


"Mungkin memang benar yang Ryo katakan. Dia sedang menjalankan misi lain. Apalagi waktu pelantikan Kazuya Toda tinggal sehari. Kita tunggu saja sampai mereka membawa kabar terbaru."


Ryo mengangguk cepat mengiyakan. Namun, sepertinya Yuriko tak sejalan dengan dugaan mereka. Gadis itu malah bergegas pergi meninggalkan keduanya. Ternyata ia menuju ke apartemen Shohei untuk mengecek pria itu secara langsung. Padahal, masih ada waktu libur dua hari yang diberikan pria itu padanya sebelum kembali bekerja.


Saat membuka pintu, kemudian memasuki kediaman pria bernama belakang Yamazaki itu, aroma alkohol langsung menyambut dan menusuk tajam di indra penciumannya. Matanya tertuju pada sebuah botol minuman keras yang bergelinding dan tumpah di samping meja sofa. Ia berjalan cepat lalu tercengang melihat Shohei terbaring mabuk di antara meja dan kursi sofa. Sontak, ia pun langsung berjongkok di samping pria itu.


"Shohei-san, apa kau baik-baik saja? Apa yang terjadi padamu?" tanya Yuriko penuh kekhawatiran. Selama beberapa bulan bekerja dengan pria itu, ia tak pernah melihat Shohei dalam keadaan berantakan seperti ini. Apalagi sampai mabuk berat.


Shohei menoleh pelan, melihat Yuriko dengan tatapan nanar. Ia menggenggam erat tangan Yuriko yang tengah memegang lengannya.


"Kenapa kau mau bertunangan denganku jika kau menyukai orang lain?" ucapnya lirih.


Yuriko mengernyit bingung. Ia terkesiap ketika kepala pria itu langsung jatuh di pundaknya.


.


.


.


jangan lupa untuk selalu like dan komeng.