
Black Shadow berbalik perlahan seraya menciptakan lengkungan bulan sabit di bibirnya. Saat ini, layar proyektor tersebut menampilkan foto-foto Akabane Ayumi di sebuah bar kecil tempat Yamamoto Sasuke bekerja sebelumnya. Terlihat, ia sedang mabuk bersama beberapa pemuda yang mengelilinginya.
Masih di bar yang sama, foto berikutnya menunjukkan Akabane Ayumi yang sedang bertransaksi uang dengan salah seorang pria. Terdapat juga rekaman berdurasi tiga menit yang merekam obrolan mereka.
"Ah, bukankah dia adalah mafia narkoba yang selama ini menjadi buronan polisi?" sahut salah satu mahasiswa sambil menunjuk pada sosok pria yang tengah bermufakat dengan Akabane dalam video.
Dari isi rekaman video amatir, diketahui ternyata pria itu memberi sumbangan dana kampanye padanya dengan imbalan Akabane Ayumi akan membantunya mengganti identitas agar bisa keluar dari Jepang. Tak hanya itu, terlihat pula wanita itu dan Kensei Abe tengah membahas pembelokan aliran dana proyek pembangunan.
"Berarti yang disebutkan jurnalis Ayano saat itu benar!" gumam orang-orang yang menonton tayangan siaran langsung Black Shadow.
"Hentikan! Hentikan videonya!" teriak Akabane Ayumi pada para petugas yang masih berada di situ.
Melihat para petugas enggan bergerak, wanita itu malah berusaha mencabut colokan layar proyektor.
"Sensei, percuma saja kau mencoba menghentikannya. Karena tayangan ini juga disaksikan seluruh warga Jepang." Black Shadow yang belum keluar dari ruangan itu, tiba-tiba bersuara dengan santai.
Benar saja, apa yang terlihat di layar proyektor saat ini, bukan hanya menjadi tontonan mahasiswa di ruangan itu, tapi juga seluruh masyarakat yang menonton tayangan streaming. Puluhan ribu hujatan pada calon gubernur itu langsung memenuhi kolom komentar tayangan tersebut.
Publik makin tercengang saat tayangan berganti dengan foto mendiang perawat magang dengan seseorang yang pernah ditunjukkan Black Shadow. Namun, kali ini potret wajah Akabane Ayumi terpampang jelas di hadapan gadis itu. Artinya, jawaban atas teka-teki Black Shadow adalah Akabane Ayumi.
"Apakah kematian perawat magang itu ada hubungannya dengan Akabane Ayumi?" Para polisi yang juga menonton siaran langsung Black Shadow turut menduga-duga.
"Sensei, bar yang sering kau kunjungi itu adalah milikmu, kan? Tapi, agar tidak ketahuan kau menggunakan nama orang lain sebagai pemiliknya. Bar itu satu-satunya tempat kau membuka topengmu. Di sana kau tidak takut untuk menunjukkan wujud aslimu. Sayangnya, kau tak menyadari aktivitas kotormu di sana telah direkam oleh seseorang yang tak lain adalah seorang pramusaji bar tersebut, Yamamoto Sasuke. Dia menggunakan bukti rekaman dan foto-foto untuk memerasmu. Tapi, agar tidak ketahuan, dia meminta adiknya yang melakukannya. Lalu, kau pun bertransaksi dengan gadis itu untuk menutup mulutnya. Sayangnya, Yamamoto Sasuke dan adiknya terus memerasmu. Uang hasil memeras, digunakan pria itu untuk membangun airsoft mewah yang akhirnya diketahui oleh pemilik bar. Karena kesal, kau menyuruh orang untuk menyelidiki latar belakang gadis itu, dan mengetahui kalau dia adalah adik dari pramusaji di bar itu. Namun, Yamamoto Sasuke berkelit kalau dia tak tahu apa-apa tentang tindakan yang dilakukan adiknya. Pemilik bar meminta pada Yamamoto Sasuke untuk mengambil data-data itu dari adiknya, tapi dia tak melakukannya dan malah berpura-pura bertengkar dengan adiknya di Rumah Sakit. Dan malam itu, kau pun menyuruh pemilik bar itu melenyapkan adik Yamamoto Sasuke," papar Black Shadow yang tengah bersandar tenang di dinding dengan tangan yang dimasukkan ke dalam sakunya.
"Narasi seperti apa itu? Apa buktinya aku melakukan semua itu?!" Akabane Ayumi masih berusaha berkelit.
"Sensei, jangan membuat topengmu semakin terbuka di hadapan publik!" Black Shadow kini bersedekap dengan kepala yang menggeleng-geleng tak berdaya.
Tayangan selanjutnya berganti ke sebuah ruangan di mana terdapat dua pria yang tengah terlilit tali di tubuh mereka. Kedua pria itu adalah Yamamoto Sasuke dan pemilik bar. Pemilik bar itu dibekuk Black Shadow sehari setelah berhasil menyekap Yamamoto Sasuke terlebih dahulu.
"Hah, itu di toilet fakultas kita!" Seru para mahasiswa melihat lokasi penyekapan keduanya.
"Dua pria ini adalah saksi kunci," ucap Black Shadow.
Seina tersenyum melihat aksi Black Shadow membongkar kejahatan Akabane Ayumi. Matanya berbinar cerah, memancarkan kilauan kekaguman yang tak dapat disembunyikan. Baginya, aksi kali ini sungguh menakjubkan. Ia telah melihat bagaimana Kei menjadi bulan-bulanan netizen di sosial media akibat menyerang Akabane Ayumi di konferensi pers waktu itu, dan sekarang Black Shadow telah membuktikan kebenarannya.
Pemaparan Black Shadow tadi, tentu merupakan hasil analisis dan investigasi Shohei selama ini. Sebelumnya, mereka menduga Yamamoto Sasuke lah yang menghabisi adiknya sendiri. Namun, ketika membuka isi flash disk itu, diketahui foto-foto dan video rekaman Akabane Ayumi diambil dari kamera I-phone. Sedangkan gadis perawat itu menggunakan kamera Sony yang ditemukan di saku celananya. Ponsel i-phone itu adalah milik Yamamoto Sasuke, yang artinya semua itu diambil langsung olehnya saat sedang bekerja. Selain itu, tidak ada catatan telepon di ponsel perawat magang itu yang membuktikan kalau ia pernah berkomunikasi dengan Akabane Ayumi. Sebab, saat melakukan pemerasan, ia menghubungi Akabane Ayumi lewat ponsel kakaknya—Yamamoto Sasuke.
Sebaliknya, saat Shohei mendatangi bar tersebut, dan meminta alamat Yamamoto Sasuke pada pemilik bar, pria itu menggunakan tangan kirinya untuk menulis. Belum lagi, saat Black Shadow mendatangi kediaman perawat magang, terdapat foto Yamamoto Sasuke bersama pemilik bar dan keduanya terlihat sama-sama menggunakan baju judo. Artinya, pemilik bar itu juga memiliki keahlian bela diri yang sama dengan Yamamoto Sasuke.
Terkait CCTV kafe yang berbeda dengan CCTV luar, itu juga telah diotak-atik orang-orang Akabane Ayumi agar polisi tak menginterogasi Yamamoto Sasuke lebih jauh. Ini karena ada perawat yang melihat Yamamoto Sasuke mendatangi adiknya malam itu. Akabane Ayumi khawatir Yamamoto Sasuke akan menyeret namanya sebagai orang yang sering dihubungi adiknya.
Untuk Yamamoto sendiri, ia tidak mempermasalahkan kematian adiknya apakah karena bunuh diri atau pun dibunuh. Baginya, kematian adiknya sedikit menguntungkan karena ia tak perlu membagi dua uang hasil perasan. Lagi pula, Akabane Ayumi menawarkan uang fantastis, asalkan ia mau menyerahkan bukti-bukti itu untuk dilenyapkan langsung. Sayangnya, sebelum itu terjadi, Black Shadow lebih dulu mengambil dan mengeksposnya seperti yang terlihat saat ini.
Setelah berhasil membuka kedok Akabane Ayumi, Black Shadow memutuskan pergi dari ruangan itu.
"Aaaahh ... mimpi apa aku semalam bisa melihat Black Shadow dari jarak yang cukup dekat!" jerit salah satu teman Seina.
Melihat kepergian Black Shadow, Seina berdiri dari tempat duduknya dan segera keluar dari ruangan itu untuk menyusul Black Shadow.
"Seina-chan, kau mau ke mana?" teriak kawan-kawannya.
Seina terus berjalan cepat, melewati beberapa meja dan kursi untuk bisa mengekor pria itu. Sebenarnya ia tidak tahu apa yang sedang ia lakukan saat ini. Langkahnya seakan tidak sejalan dengan otak. Meski otak menyuruhnya berhenti melakukan, tapi kaki enggan merespon. Pada akhirnya, langkahnya lebih menuruti perasaannya.
Akabane Ayumi kini bagaikan tikus yang tersudut. Tatapan tajam para mahasiswa seakan membunuhnya. Kini terdengar bunyi sirene polisi yang baru datang yang sontak membuatnya menutup kedua telinga sambil menjerit histeris seperti orang gila. Citra yang dibangun selama ini hancur seketika. Impian untuk menduduki tahta sebagai orang nomor satu di Tokyo pun telah sirna.
Di tengah perasaan kacau yang menerjang, pandangannya terarah pada sebuah panggilan masuk di ponselnya. Berpikir akan ada yang menyelamatkan, ia pun terburu-buru menerima panggilan telepon itu.
"Akabane-san, no perfect crime. Tentu kau sering mendengar kutipan ini, kan? Dengan latar belakangmu sebagai pengacara, kau mampu memanipulasi hukum. Sayangnya, kau yang bermuka dua, malah dipertemukan dengan kakak beradik yang tamak. Kau mungkin bisa bebas saat Kensei Abe tertangkap, tapi tidak untuk kali ini. Inilah kehancuranmu!" ucap seseorang bersuara chipmunk.
"Siapa kau?! Tahu apa tentang diriku?!" teriak Akabane Ayumi.
Mr. White yang berdiri di balkon rumahnya, lantas berkata dengan mata yang mengerjap lembut. "Aku Mr. White, sang pengendali Black Shadow, dan aku tahu banyak tentangmu. Mendiamkan suatu kejahatan adalah bagian dari bentuk kejahatan itu sendiri. Maka dari itu, aku memilih membongkarnya."
.
.
.
.
like dan komen ya