
"Hah, apa ini? Dia menyepelekan Nakamura Aya, lalu kabur begitu saja tanpa meminta maaf?" cetus salah satu teman Seina usai siaran Black Shadow diakhiri begitu saja.
"Black Shadow pasti memiliki alasan. Kita tunggu saja aksi selanjutnya," bela teman Seina yang sangat menggilai tokoh viral itu.
"Kurasa dia kabur karena malu dengan pernyataannya sendiri. Aku juga sangat mengidolakan Black Shadow, tapi aku cukup kecewa dengan tindakannya tadi yang mencemooh Nakamura Aya. Bagaimana menurutmu?" Temannya itu kini meminta pendapat Seina.
Seina tersentak seketika. "Aku pikir ... kita tidak bisa menilai semuanya dengan buru-buru. Sebagaimana Black Shadow telah tergesa-gesa menilai Nakamura Aya, kita juga tak boleh melakukan hal yang sama terhadap pria itu juga, kan?" ucap Seina dengan nada penuh kehati-hatian.
Sejujurnya, ia pun kecewa dengan sikap Black Shadow yang mempermalukan atlet muda itu. Namun, entah kenapa hati kecilnya merasa percaya dengan apa pun yang pria itu lakukan. Yakin jika segala tindakannya pasti memiliki tujuan.
Tampaknya beberapa orang juga sependapat dengan salah satu teman Seina. Mereka tak paham dengan sepotong tayangan Black Shadow barusan. Apalagi tuduhan pria bertopeng itu pada Nakamura Aya berhasil dipatahkan langsung dengan rekor baru yang berhasil dicetak sang atlet. Bahkan, tuan Yoshuke dalam wawancaranya saat ini menuntut Black Shadow untuk meminta maaf pada Nakamura Aya.
"Tujuan Black Shadow datang ke sini hanya untuk melemahkan mental Nakamura Aya. Tapi dia salah, Nakamura Aya berhasil membuktikan kalau dia lebih unggul dari Furukawa Rika," tutur tuan Yoshuke menggebu-gebu di depan awak media.
Masih di gedung olahraga tepatnya area latihan kolam renang, Kei tengah berjalan perlahan berusaha mengintai Shohei.
"Dia berbelok ke kiri, bukan ke kanan. Artinya, dia tidak menuju ke arah pintu masuk gedung. Lalu, ke mana dia?" pikir Kei sembari berjalan keluar dari zona kolam renang untuk segera menyusul Shohei.
Tiba-tiba, Kei teringat dengan jalur kecil yang merupakan akses lain untuk memasuki gedung ini, di mana masih banyak orang yang belum mengetahuinya. Ya, tahun lalu ia sempat melewati jalur itu untuk sebuah liputan rahasia. Dan sekarang, itu menjadi arah yang Shohei lewati saat ini.
Kenapa sekelas Shohei harus melewati jalur rahasia untuk keluar dari gedung ini?
Tatapan Kei masih tak luput dari siluet Shohei yang bergerak cepat. Instingnya sebagai seorang jurnalis berkata jika ada sesuatu yang mencurigakan dari detektif terkenal di kepolisian itu. Bukannya mengejar atau membuntuti, dia malah berbalik arah dan berjalan cepat menuju lorong lain. Ia yakin, Shohei akan menuju pintu keluar yang tersembunyi di gedung ini. Jika ia terus membuntuti kekasih Seina itu, dengan ilmu kepolisian yang dipegangnya, pasti akan cepat disadari. Oleh karena itu, Kei memilih memotong jalan agar bisa lebih dulu sampai ke tempat itu.
Di waktu yang bersamaan, Black Shadow berlari cepat menghindari kejaran para wartawan. Ia bersembunyi dengan berpegangan di rangka pintu, kemudian berdiam beberapa saat seraya membiarkan belasan wartawan berlarian melewati tempat persembunyiannya. Begitu mereka sudah cukup jauh, ia keluar dari persembunyiannya dan berlari berlawanan arah.
Sialnya, ada satu wartawan yang berbalik dan melihat keberadaannya.
"Hei, dia di belakang kita!" teriak wartawan itu yang sontak membuat wartawan lainnya menengok ke belakang.
Tak ayal, para kuli tinta itu berbondong-bondong berbalik dan kembali mengejar pria bertopeng itu. Black Shadow terus berlari sambil menggelindingkan puluhan bola tenis untuk menyulitkan wartawan yang mengejarnya. Sebagian dari wartawan itu ada yang jatuh terpeleset karena ulahnya.
Baru saja memalingkan tubuhnya, ia harus dihadapkan dengan lima orang berseragam petugas keamanan yang berlari ke arahnya. Petugas-petugas itu hendak mengamankannya karena dianggap telah berbuat onar di zona pelatihan tadi. Black Shadow tersenyum miring sambil mengambil papan skateboard lalu menaikinya. Para petugas keamanan tampak kelabakan, ketika Black Shadow melaju kencang ke arah mereka dengan menggunakan papan seluncur. Mereka terpaksa membiarkannya lewat karena pria itu membawa tongkat panjang yang sengaja dibentangkan. Jika tidak segera menghindar, mereka akan mendapat sapuan tongkat tersebut.
"Mr. White, kau di mana? Aku sudah akan keluar dari gedung ini," ucap black Shadow sambil terus berlari ke lorong-lorong sepi dan sempit.
"Aku juga. Mari kita keluar bersama!" jawab Mr. White.
Kei yang masih bersembunyi di balik meja tenis meja, lantas memicing seketika.
Mr. White? Siapa orang itu? Apa hubungannya dengan Black Shadow?
Mr. White mempercepat gerakan dengan langsung melompat tanpa harus memijak setiap anak tangga. Sampai di halaman belakang gedung, ia bertemu dengan Black Shadow yang juga baru tiba. Mereka berlari ke arah pagar tembok yang cukup tinggi di mana terpasang besi-besi runcing di bagian atasnya. Sama-sama saling menatap, keduanya pun mengangguk seolah paham dengan apa yang harus mereka lakukan.
Black Shadow membungkukkan sedikit badannya, membiarkan Mr. White naik ke pundaknya. Mr. White memanjat tembok dengan tumpuan badan Black Shadow, meraih teralis besi lalu menaikkan kedua kakinya secara bertahap agar bisa sampai di atas pagar tembok yang tinggi. Begitu tiba di atas, kini gantian ia yang mengulurkan tangannya untuk membantu Black Shadow naik ke atas. Tentu hal ini tidak memakan waktu yang lama, mengingat keduanya sudah sering latihan memanjat tempat-tempat tinggi.
Mr. White dan Black Shadow kompak melompat turun ke bawah dan sukses meninggalkan gedung atlet. Namun, satu hal yang tidak mereka sadari, ada sepasang mata yang sedari tadi memantau pergerakan mereka meski dari lantai atas gedung. Di mulai ketika keduanya bertemu di halaman belakang, berlari bersama hingga saling membantu saat melewati pagar tembok yang tinggi.
Ya, seseorang yang tidak mereka sadari itu adalah Kei Ayano. Seorang jurnalis muda berpengaruh dan juga menjadi influencer media sosial yang memiliki lebih dari satu juta pengikut. Tak hanya itu, dia merupakan keponakan dari menteri kehakiman dan kakak sepupu Seina.
Sepasang mata pekat Kei melebar sempurna diikuti pancaran ekspresi terperanjat. Meskipun sosok yang baru saja kabur bersama Black Shadow itu memasang masker dan menutupi kepalanya dengan Hoodie, tapi ia masih mengingat betul pakaian pria itu persis yang dipakai Yamazaki Shohei saat tak sengaja dilihatnya tadi.
Sejenak, Kei teringat saat ia tak sengaja bertemu dengan Shohei di kampus Seina. Waktu itu bertepatan dengan aksi Black Shadow dalam menguak kasus tabrak lari yang dilakukan anak dari wakil ketua parlemen. Ya, Shohei beralasan padanya jika dia hendak menjemput Seina. Padahal, pria itu baru saja keluar dari gedung Sains dan Teknologi yang bersebelahan dengan gedung ilmu politik tempat Black Shadow melakukan aksinya.
Saat Black Shadow melakukan aksinya di universitas Keio, Yamazaki-san juga ada sana. Jika benar dia ingin menjemput Seina seperti alasannya waktu itu, seharusnya dia berada di sekitar gedung fakultas hukum yang berada di arah timur. Tapi kenapa dia malah berkeliaran di lokasi tempat Black Shadow mengadakan aksinya?
Kei masih mematung meskipun otaknya sedang bekerja keras untuk menyusun kepingan puzzle yang menghubungkan antara Black Shadow dan Yamazaki Shohei. Yang ia tahu, Shohei pernah menolak ketika ia mengundang ke program acaranya untuk membahas fenomena Black Shadow.
Apakah Mr. White yang disebut Black Shadow tadi adalah Yamazaki Shohei?
.
.
.