Never Not

Never Not
Ch. 149 : Menilik Aksi di Belakang Layar



...Pejabat birokrasi seharusnya bekerja untuk rakyat. Bukan untuk pemimpinnya....


...~Yamazaki Shohei~...


Memundurkan ingatan sejenak, Rai mengingat kembali rencana yang ia cetuskan setelah membaca bukti data-data kejahatan Kazuya Toda di laptop Yuta.


"Apa kau gila, Rai? Kau ingin menemui Perdana Menteri hanya untuk melakukan aksi konyol itu? Ini terlalu berbahaya!" Yuriko bereaksi kaget dengan mata membuntang.


"Kenapa tidak? Apa yang membuat politikus mendapat dukungan publik?" tanya Rai sesaat, "karena mereka pandai menarik simpatik rakyat. Masyarakat masih banyak yang buta politik, sebagiannya lagi malah masa bodoh dengan apa yang terjadi. Tapi, kita bisa menggunakan cara yang dramatis untuk menggugah hati mereka. Dengan begitu, mereka mungkin akan berpihak kepada kita."


"Ta–tapi ini terlalu berisiko! Kau sama saja menyerahkan diri untuk ditangkap!" Yuriko menggeleng-geleng kepala, menolak keras usul Rai.


"Tenang saja. Selama melakukan aksi penipuan, aku hanya gagal sekali. Itu pun karena Ryo mengkhianatiku dengan berpihak pada target," singgung Rai dengan mata yang melirik ke arah Ryo.


"Justru kurasa aksi Oniichan kali ini terinspirasi dari mantan geng Akiko yang menembakku!" balas Ryo memajukan bibir bawahnya.


"Sebaiknya kita tanyakan dulu ke Shohei-san," imbuh Kei.


"Kita tidak perlu membahas rencana ini pada Shohei," balas Rai dengan mata yang menyorot dalam.


Yuriko, Kei, dan Ryo terkesiap seketika.


"Jangan gegabah! Kita tidak boleh bertindak tanpa sepengetahuan Shohei." Yuriko kembali memperingati Rai.


"Shohei selalu percaya padaku! Sembilan misi yang berhasil kami selesaikan itu berkat dia selalu membebaskan aku menjalankan rencana. Dalam setiap aksi yang kulakukan, dia hanya selalu berpesan agar aku tidak melukai ataupun membunuh target," kenang Rai seraya tersenyum hambar, "konspirasi tuduhan pembunuhan menteri kehakiman akibat kecerobohanku sendiri. Pada saat itu, Shohei sudah menyuruhku untuk berhenti mengejar Black Shadow palsu dan segera tinggalkan gedung. Tapi ... yang kulakukan malah terus mengejar Black Shadow palsu hingga masuk ke dalam perangkapnya. Jadi, biarkan aku sendiri yang membersihkan nama baik Black Shadow. Tujuan Shohei menciptakan Black Shadow untuk menumpas pejabat kotor dengan mendapatkan dukungan penuh dari publik. Maka dari itu, aku ingin mengembalikan dukungan publik pada tokoh ciptaannya. Meski terkesan gimmick, tapi hanya ini satu-satunya cara menarik simpatik mereka," lanjutnya sambil mengingat kecerobohan yang ia lakukan.


Berbeda dengan Yuriko, Kei malah mendukung rencana Rai. "Aku setuju dengan idemu. Apa pun yang berbau drama, selalu menarik perhatian publik. Bahkan berita tentang pembunuhan pun akan menarik perhatian publik jika disertai dengan bumbu drama. Aku juga sudah sangat muak dengan semua ini. Tapi ... masalahnya, bagaimana cara kita melakukan rencana itu?"


Sudut bibir Rai terangkat sebelah. Ia langsung merangkul Ryo yang berada di sebelahnya. "Tentang aksi ini, serahkan saja pada aku dan Ryo! Kami sudah terlatih untuk melakukan aksi-aksi di luar nalar orang-orang. Itulah kenapa aku mengajaknya bergabung dengan tim ini!"


Ryo mengangguk tersenyum, memamerkan deretan giginya sambil mengangkat dagu. "Tenang, aku ini penyamar handal! Aku bisa menyamar menjadi apa pun. Aku pernah menjadi wartawan, koki, polisi, penyalur kartu di meja kasino, bahkan pernah menjadi ajudan menteri," ucapnya seraya menepuk dadanya dengan bangga.


"Kalau begitu, aku akan ke kantorku besok. Aku ingin menemui direktur, siapa tahu dia mau meliris artikel ini. Jika kita sendiri yang memblow-upnya di sosial media, tidak ada jaminan berita itu cepat viral apalagi media sosial saat ini sedang dalam pantauan orang-orang Kazuya Toda. Maka dari itu, kita butuh bantuan media besar," ungkap Kei.


"Bagaimana denganku? Aku tidak mau hanya duduk menonton. Aku juga ingin membantu kalian," tanya Yuriko setelah menyadari semua memiliki peran masing-masing.


"Jangan khawatir! Kita butuh tim medis ambulans yang cantik," ucap Rai sambil mengedipkan sebelah mata.


Untuk memuluskan ide Rai, sudah pasti membutuhkan banyak hal yang mendukung aksi gila tersebut. Dini hari, mereka meninggalkan vila lalu turun ke Tokyo. Mereka kembali mendatangi bar yang menjadi markas besar Yuta dan kelompok penipu yang pernah berada di bawah perintah Rai. Di sana, mereka mengambil pakaian penyamaran, pistol tiruan yang akan mengeluarkan darah palsu jika ditembakkan, bahkan menggunakan armada multifungsi yang disulap menjadi ambulans.


Usai mempersiapkan segalanya, mereka pun mendatangi lokasi gedung yang akan diresmikan Perdana Menteri. Sementara Kei telah lebih dulu berpisah dan pergi ke tempat kerjanya.


Setelah Rai pergi, giliran Ryo yang bergegas berganti pakaian kemudian menyelip di antara rombongan perdana menteri. Sementara Yuriko tetap berada di mobil yang telah diubah menjadi ambulans sambil menunggu perintah.


Black Shadow mulai menjalankan aksi dengan muncul di hadapan Perdana Menteri, jajaran pejabat dan juga masyarakat yang menonton. Ia benar-benar bertarung seorang diri dengan para pasukan keamanan. Hingga jarak antara dirinya dan Perdana Menteri hanya tinggal beberapa meter, ia harus kembali berhadapan langsung dengan para pengawal Perdana Menteri yang terdiri dari pasukan Bela Diri Jepang, polisi, dan militer.


Sementara, Shohei yang awalnya tak tahu apa-apa, segera menghubungi Kei bermaksud agar mereka segera menyelamatkan Black Shadow. Untungnya, Kei langsung menjelaskan padanya jika itu hanyalah strategi Rai. Shohei pun bernapas lega seraya memandang Black Shadow di kejauhan.


"Shohei-kun, Rai mempertaruhkan hidupnya demi membuat publik berempati dan kembali memberi dukungan pada Black Shadow."


"Wakatta. Aku juga akan mengunggah rekaman video pamanmu. Sisanya biarkan publik yang menilai.


Ryo dan Yuriko lalu menjemput Black Shadow dengan berpakaian ala tim medis ambulans. Sebenarnya, mereka hendak langsung membawa kabur Black Shadow. Namun, pengawalan ketat dari kepolisian yang membuntuti mobil ambulans mereka, membuat Ryo terpaksa membelokkan mobil ke Rumah Sakit terdekat.


Dengan kata lain, aksi nekad Black Shadow beberapa saat lalu bukan karena sungguh-sungguh ingin bertemu dengan Perdana Menteri. Meskipun sebenarnya ia berharap bisa menunjukkan bukti kejahatan Kazuya Toda pada perdana menteri. Sialnya, saat sedang berpura-pura tak sadarkan diri, seseorang berseragam pejabat kepolisian datang mendekat dan mengambil flashdisk itu dari tangannya. Namun, itu tak membuatnya khawatir karena bukti kejahatan Kazuya Toda yang disimpan Yuta tetap akan terbongkar lewat artikel yang dirilis Kei.



Jun Megumi dan Perdana Menteri bertemu dalam sebuah ruang VIP di restoran ternama. Steak Wagyu termahal tersaji di hadapan mereka. Keduanya mulai menyantap hidangan, seraya memulai obrolan.


"Ini restoran favoritku dan ini menu andalanku. Kau harus mencobanya," ucap perdana menteri dengan penuh antusias.


"Arigatou telah mengundang saya makan siang. Ini sebuah kehormatan besar bagi saya," ucap Jun seraya menunduk sopan.


"Ah ... jangan sungkan begitu padaku. Aku ingat, tujuh tahun lalu kau menjadi ajudan utama perdana menteri Tsuji Namiki. Dan sekarang aku senang kau telah menjadi kepala kepolisian metropolitan," ucap Perdana Menteri tertawa kecil. Semenit kemudian, dia langsung mengubah topik pembicaraan. "Omong-omong, apa tanggapan kau tentang fenomena Black Shadow selama setahun belakangan ini?"


Jun terkesiap karena Perdana Menteri tiba-tiba menanyakan pendapatnya. "Saya ... tidak terlalu mengikuti berita tersebut karena berada di USA. Tapi ... saya turut terkesima dengan aksi-aksinya menangkap basah para pejabat dan politikus yang merugikan rakyat."


Perdana Menteri mengambil serbet makan yang tersaji untuk mengelap mulutnya. "Awalnya ... aku juga tertarik padanya. Aku bahkan sempat mengundangnya makan malam. Sayang sekali, semakin ke sini terungkap fakta bahwa Black Shadow adalah bagian dari kelompok raadikal yang ingin menguasai negara. Tapi ... aku masih penasaran dengan aksinya baru-baru ini. Dia nekad ingin menemuiku, tapi dia terlihat tidak ingin menyerangku." Perdana menteri menunjukkan raut serius seraya berpikir keras.


"Saya pikir, dia ingin menunjukkan sesuatu pada Anda."


"Menunjukkan sesuatu padaku?"


Jun merogoh saku jasnya, kemudian menyerahkan sebuah kalung yang bermatakan flashdisk kecil dengan karakter superhero.


"Saya mengambil ini dari tangannya. Saya rasa dia ingin menyerahkan ini pada Anda."


.


.


.


Rai tetaplah raicun, wkwk. Karakter-karakter ciptaan gua ga pernah berubah secara ajaib. Gua suka bikin karakter bad boy, tapi gua ga pernah bikin badboy gua tiba2 insaf jadi alim terus benar-benar berubah dari karakter awalnya seperti FTV gitu. Kalian bisa lihat, bagaimana Rai tetap menjadi Rai yg penuh tipu muslihat, dan suka nemplok cewek sana-sini meski dah menjadi Black Shadow. Bagaimana Shohei berubah jadi pria dewasa yang tetap keren, meski karakter bawaannya yang gugupan ma cewek tetap ada. Karakter bawaan mereka tidak berubah, meski jalan hidup mereka telah berubah.


btw, apa yang dikatakan Rai itu relate banget, ya. Publik tuh emang gampang tersentuh dan terpengaruh oleh hal-hal yang didramatisir.


ngantuk banget gays, jangan lupa like dan komeng ya....