
Shohei dan Kei kembali bertemu di kafe biasa. Kei menginfokan jika pamannya akan memilih berhenti dari dunia perpolitikan sebelum periode jabatan perdana menteri berakhir. Itu artinya, tuan Matsumoto akan lebih dulu mundur dari jabatan menteri kehakiman.
Tentang hal itu, Shohei tidak terlalu kaget, karena saat awal pertemuannya dengan Seina, tuan Matsumoto pernah mengatakan hendak pensiun dari dunia politik dan rumor yang mengatakan bahwa Megumi Jun akan menggantikannya. Hanya saja, terasa aneh saat pria itu memutuskan pensiun lebih awal dari masa jabatannya.
"Bukankah masa jabatannya masih dua tahun lagi?"
"Ya, katanya dia ingin beristirahat dan menikmati masa tuanya. Sekarang aku mengerti mengapa dia meminta kau dan Seina cepat-cepat meresmikan hubungan kalian."
"Aku akan meresmikan hubunganku dengan Seina jika misi Black Shadow telah selesai. Maka dari itu, tolong bantu aku mencari tahu target kesepuluh melalui tuan Matsumoto," ucap Shohei dengan nada serius.
"Tentu. Aku tahu, sebenarnya kau mencurigai pamanku, kan?"
Shohei terdiam, bola matanya berputar ke tempat lain.
"Sebenarnya aku telah menyelidiki keterkaitan paman dengan beberapa pejabat yang telah disergap Black Shadow. Apa yang akan kau lakukan jika ternyata paman terlibat atau mungkin merupakan target kesepuluh?"
"Itu seharusnya menjadi kalimatku untukmu."
Kei tertawa tanpa suara. "Bukankah soal pertanyaan ini pernah kujawab? Aku adalah seorang jurnalis. Aku tidak akan menutupi apa pun meski pamanku sendiri terlibat. Tugas jurnalis adalah menyuarakan suara orang-orang yang tidak bisa bersuara di publik. Tapi bagaimana dengan kau sendiri? Dia adalah calon mertuamu. Jika pamanku terlibat, ini akan menyulitkan kau di kemudian hari. Dan lagi, bagaimana dengan hubungan antara kau dan Seina?"
"Apakah jawabanku akan memengaruhi informasi yang ingin kau sampaikan padaku?" Shohei balik bertanya.
Kei menghela napas. "Kau masih belum memercayaiku?"
Tercenung sebentar, Shohei menjawab, "Jika tuan Matsumoto terlibat atau bahkan adalah sosok pejabat kesepuluh, aku tetap mengerahkan Black Shadow seperti target-target sebelumnya. Dan itu juga tidak akan memengaruhi hubunganku dengan Seina."
Kei tersenyum miring. "Mari kembali ke topik awal. Aku telah banyak mencari tahu informasi dari jaksa kenalanku yang juga pernah satu devisi denganmu. Katanya, mereka bukannya tak ingin bergerak dengan nama-nama pejabat yang pernah kau selidiki itu. Hanya saja mereka tak bisa melawan perintah dari menteri kehakiman yang meminta pemberhentian penyelidikan."
"Menteri kehakiman?" Shohei menyipitkan sebelah mata.
Apa mungkin pemberhentian kasus perawat magang itu atas permintaan menteri kehakiman? Tapi bukankah terlalu lucu jika mereka mengurusi hal tersebut. Kecuali ....
Shohei kembali mengingat foto yang dikirimkan Rai, di mana Akabane Ayumi bertemu dengan gadis itu sehari sebelum kejadian.
"Yang kutahu menteri kehakiman tidak berani mengeluarkan perintah seperti itu jika bukan dari atasan langsung yang memintanya. Kenapa kau tak curiga pada perdana menteri dan ibu negara?"
"Mereka juga dalam daftar dugaanku. Meski begitu, menteri kehakiman bisa saja bertindak sendiri. Apalagi jika dia melakukan tindakan yang sama seperti kesembilan pejabat itu lakukan."
"Jadi benar kau juga mencurigai pamanku?"
"Dalam menjalankan misi ini aku harus lebih banyak mencurigai orang-orang dibanding percaya pada satu orang."
"Yamazaki-san, sebelumnya kau harus tahu tujuanku membantumu mencari tahu target kesepuluh bukan hanya karena imbalan wawancara Black Shadow secara eksklusif, tetapi karena aku ingin buktikan padamu jika paman bukanlah sosok target kesepuluh seperti dugaanmu. Aku mengenal baik pamanku, selain pejabat dia juga menjalankan bisnis yang ditinggalkan istrinya. Aku merasa tindakan yang dia lakukan bagian dari baktinya pada pemimpin. Buktinya, dia memilih pensiun secepatnya, kan?"
"Mari kita buktikan saja! Semoga sesuai keyakinanmu," ucap Shohei sambil menyesap kopi hangat.
Kei mencondongkan badannya ke depan, lalu berkata, "Omong-omong, berhati-hatilah dalam melangkah! Sejak tahu kau adalah penggerak Black Shadow, aku jadi khawatir padamu. Khawatir jika suatu saat mereka akan mengetahuinya."
"Arigatou. Aku sangat butuh bantuanmu." Shohei menundukkan kepala.
"Aku akan membujuk paman sekali lagi untuk mau menjadi narasumber acaraku. Tapi, mungkin untuk Minggu ini akan diisi oleh Akabane Ayumi. Dia calon gubernur Tokyo terkuat saat ini. Kau tahu, kan?"
Shohei terdiam dengan sudut bibir yang terangkat kecil. Tentu Kei belum tahu jika Akabane Ayumi akan menjadi target Black Shadow selanjutnya.
Keesokan harinya, Shohei mendatangi apartemen Rai. Seperti biasa, keduanya sedang menyusun strategi untuk membongkar kedok dari target mereka selanjutnya.
"Rai, tetaplah pantau Akabane Ayumi! Cari celah untuk kita bisa membongkar keburukannya. Lawan kita kali ini sulit, karena dia pandai mengambil simpatik publik. Masyarakat begitu percaya padanya, dan elektabilitasnya terus meroket. Untuk kematian gadis itu, aku sendiri yang akan mengurusnya."
"Tenang saja! Aku akan mendekatinya malam ini. Ternyata wanita itu sering mengunjungi bar kecil di daerah Okigubo." Selama dua hari ini, Rai menyamar sebagai cleaning service di gedung yang menjadi tempat berkumpulnya para pendukung Akabane Ayumi.
"Bar di daerah Okigubo?" Shohei tersentak seketika. Pasalnya, ia teringat laporan anak buahnya yang mengatakan kalau Yamamoto Sasuke adalah seorang pramutama bar yang berada di daerah tersebut.
"Malam ini dia dan pendukungnya akan mendatangi kelab malam Starlit. Kudengar mereka akan menyewa seluruh lantai dua dan tiga bar mewah itu," lanjut Rai.
Saat langit mulai menggelap, Yuriko yang baru saja pulang dari kampusnya, datang ke apartemen Shohei untuk menyiapkan makan malam. Ia meletakkan telapak tangannya di sebuah alat pendeteksi, agar akses lift menuju lantai apartemen Shohei bisa terbuka. Begitu tiba di kediaman yang berada di lantai dua puluh, ia terentak ketika mendapati Shohei telah pulang dan tengah duduk di sofa sambil memangku laptopnya.
"Konbanwa, Yuriko-san!"
"Kon–ban–wa," ucapnya tergagap. Setelah mengetahui pria yang ia kagumi itu telah memiliki kekasih, ia tidak bisa bersikap santai seperti biasa. Rasa perih tentu masih ada di hatinya.
"Yuriko-san, kau tidak perlu menyiapkan makan malam. Aku baru saja memesan makanan."
"Eh?" Mata Yuriko secara spontan mengarah ke meja makan. Ya, di sana telah tertata rapi sajian menu ala resto. Tubuh Yuriko setelah berbalik mengarah ke pintu. "Kalau begitu ...."
Shohei meletakkan laptop di atas meja, lalu berdiri. "Ayo makan bersama!"
"Eh?" Yuriko melongo seketika.
"Ah, anggap saja ini menggantikan makan malam buatanmu waktu itu yang tidak sempat kumakan."
"Tidak! Tidak! Tidak masalah! Kau mau memakannya atau tidak, sudah menjadi kewajibanku untuk memasak. Kau tidak perlu sungkan seperti itu!" tolak Yuriko sambil berjalan mundur.
"Yah, padahal aku sudah memesan makanan untuk ukuran kelompok. Tadinya aku juga ingin mengajak Rai bergabung, tapi dia ada kerjaan malam ini. Kalau begitu, bungkuslah sebagian makanan ini untuk kau bawa pulang ke rumah!"
"Tidak perlu repot-repot!"
"Tidak apa-apa! Kau bisa berbagi dengan Rai," ujar Shohei sambil mengambil kotak makanan untuk menyalin aneka sajian di atas meja.
Kali ini Yuriko memilih diam. Bagaimana dia tak tergila-gila, jika sifat dan perilaku pria itu selalu membuat hatinya meleleh.
Tiba-tiba Shohei teringat sesuatu yang harus ia cek malam ini. "Oh, iya, bagaimana kalau kau kuantar pulang? Kebetulan, aku juga ingin ke tempat yang searah dengan lokasi apartemenmu."
"Kalau begitu ... biarkan aku menunggu Shohei-san selesai makan," ucap Yuriko.
Pukul sembilan malam waktu Tokyo, Seina sedang menuju arah rumahnya bersama supir pribadi. Mendadak, ia teringat dengan lokasi kondominium Shohei yang ternyata berdekatan dengan rumahnya. Ia menoleh ke arah jendela, tepat saat mobilnya melintas di apartemen kekasihnya itu. Namun, pupil matanya melebar begitu melihat Shohei baru saja keluar dari gedung itu bersama Yuriko.
Seina lantas menengok cepat ke belakang dan terus melihat Shohei yang masih berjalan beriringan dengan Yuriko menuju basement di mana tempat mobilnya terparkir. Hal itu sontak membuat Seina memundurkan ingatannya tepat saat Shohei mengisap jari tangan Yuriko yang terluka.
.
.
.
like + komen