Never Not

Never Not
Ch. 106 : Sepakat Bergabung



...Selagi kau tak bisa melihat punggungmu sendiri, kau tak pantas menyombongkan diri. Manusia selalu lupa jika dia bisa saja terjatuh selama masih menginjak tanah....


...~Yamazaki Shohei. Ch. 37~...


...----------------...


Rai dan Ryo kini berbicara empat mata. Rai baru saja menceritakan semuanya tanpa ada yang ditutupi lagi. Bagaimana awal dia bertemu dengan Shohei, lalu diajak menjalankan misi dengan pria itu kemudian berlatih keras untuk menguasai beladiri dan teknik pertahanan, hingga benar-benar menjadi pahlawan yang dielukan masyarakat karena aksi heroiknya dalam memberantas pejabat dan politikus hitam. Ia juga menjelaskan tentang konspirasi yang dilakukan terhadapnya, sehingga membuatnya menjadi buronan nasional.


Ryo tergemap. Penjelasan panjang lebar dari Rai, membuat matanya tak mengerjap sama sekali. Bak patung, tubuhnya pun tak bergerak sama sekali.


"Aku tidak bisa memercayai ini," ucap Ryo pelan setelah sekian lama memelihara kebisuan, "menjadi Black Shadow ... apakah kau sehebat itu?"


"Apa pun itu ... meski kau menganggap aku sedang membual, apa yang kukatakan ini adalah sebuah kenyataan."


Ryo memiringkan kepalanya dengan kaku, lalu kembali berkata, "Apa aku kurang mengenalmu? Soalnya Oniichan yang kukenal pandai merayu wanita dan melakukan tipu muslihat. Oniichan yang kukenal suka bergonta-ganti pasangan tidur dan tidak tertarik hal-hal yang tidak menguntungkan bagimu."


"Apa kau ingin aku kembali menjadi seperti dulu?"


Ryo menutup mata sambil menggeleng cepat. "Tentu saja tidak! Tapi menjadi kau yang sekarang juga tidak ada bedanya bagiku!"


Rai mengernyit, tak paham dengan maksud adiknya.


"Dulu, setiap kau dan lainnya melakukan misi penipuan, aku sangat takut jika suatu saat nanti kau tertangkap polisi atau dibunuh oleh mafia yang kau tipu. Maka dari itu, aku ikut masuk dalam kelompok penipu yang kau bentuk dan berusaha membantumu dalam memuluskan aksi penipuan. Dan sekarang, kau berada di jalan yang seperti ini, bukankah lebih berbahaya? Yang kau lawan itu adalah orang-orang berkuasa di negara ini! Mereka bukan hanya akan memenjarakanmu, tapi juga membunuhmu!"


"Untuk itu ... aku mengajakmu ke sini karena aku membutuhkanmu dalam tim ini. Aku tahu, Ryo-chan memiliki keadilan yang tinggi. Kau selalu mengasihani target yang telah kau tipu dan enggan menerima uang dari hasil penipuan meski kau sangat berkontribusi," ucap Rai tersenyum tipis sambil mengenang masa-masa mereka melancarkan aksi penipuan, "Bukankah kau memilih bergabung di kelompok penipu karena ingin memastikan agar aku selalu aman, kan? Sekarang, bantulah aku dengan tujuan yang lebih mulia. Aku butuh keahlianmu saat kita masih menjadi penipu," ucap Rai meyakinkan adiknya.


Rai dan Ryo saling bertukar pandang. "Apa yang harus kulakukan untukmu?" ucap Ryo seketika.


Rai berdiri, lalu berjalan meninggalkannya. Ryo segera menyusul kakaknya, mengekor dari belakang. Rai kembali ke ruangan yang dijadikan sebagai markas mereka. Di sana, Yuriko, Kei, dan Shohei telah menunggu mereka. Rai langsung memosisikan duduk di sebelah Yuriko. Sementara Ryo yang terlihat canggung, memilih duduk di samping Rai.


"Semuanya, selamat bergabung," ucap Shohei yang berdiri di hadapan mereka. "Kuperingatkan pada kalian semua, ini misi berbahaya! Ke depannya, kita mungkin akan dihadapkan dengan pilihan hidup atau mati," lanjutnya sambil menurunkan sedikit posisi kacamatanya.


Ryo sedikit tersentak. Ia menoleh ke arah Rai dan Yuriko yang duduk di sebelahnya, lalu Kei yang bersandar di meja komputer.


"Pikirkan matang-matang terlebih dahulu. Jika ada yang ingin mundur, kalian bisa melakukannya sekarang juga!" ucap Shohei dengan raut tegas.


Keempat orang itu bergeming. Sama sekali tak menyahut maupun mengangkat tangan.


"Di misi ini, nyawa kalian yang paling utama. Apa pun yang terjadi, kalian harus selamat. Jadi, aku ingin tahu cara kalian mempertahankan diri dalam keadaan terdesak," cetus Shohei sambil mengedarkan pandangannya pada mereka berempat.


"Jangan khawatir padaku! Sebelum masuk ke dunia jurnalis, aku mantan pasukan bela diri Jepang," ucap Kei yang berdiri dalam posisi bersandar dengan tangan yang bersedekap dan kaki yang menyilang.


"Selain itu, aku ditugaskan bertahun-tahun meliput negara-negara konflik di Timur Tengah. Situasi perang dan hal-hal mengancam nyawa sudah biasa bagiku," lanjut Kei kembali.


"Sugoi!" Yuriko dan Ryo kompak berdecak penuh kekaguman.


"Kalau aku kau sudah tahu sendiri, kan? Aku selalu menemukan 1001 cara untuk melarikan diri dari hal-hal yang membahayakan," ujar Rai sambil duduk bersandar dan memangku sebelah kakinya. Ya, pria yang pernah memimpin kelompok penipu itu memang memiliki keahlian manipulatif yang baik. Terbukti selama menjadi penipu, tak satu pun aksinya yang disadari korban dan juga tak pernah terendus kepolisian.


"Kalau itu aku mengakuinya. Banyak kali aku hampir menemukanmu, tapi selalu saja gagal," imbuh Kei tertawa kecil.


Shohei menoleh ke arah Yuriko. Gadis itu langsung mematahkan jari jemarinya secara bersamaan hingga menimbulkan bunyi. "Aku seorang karateka. Selain itu, aku juga bisa berlari maraton tanpa henti."


"Woah, apa kau dulu seorang atlet lari?" tanya Ryo yang terkejut.


Bibir Yuriko tertarik segaris. Ia menggelengkan kepala sambil berkata, "Tidak! Dulu ibuku terlibat dengan rentenir untuk pengobatan ayahku. Jadi, aku sudah terbiasa berlari menghindari kejaran para anak buah rentenir."


Bahu Ryo merosot seketika. "Terbiasa berlari karena sering dikejar-kejar rentenir?" Ia menunjukkan wajah masam. Namun, melihat pandangan Shohei yang kini mengarah padanya, Ryo langsung berkata, "Kalau aku ... aku tidak punya keahlian bela diri apa pun seperti yang lainnya. Tapi ... dulu aku juga sudah terbiasa berhadapan dengan orang-orang berbahaya seperti Yakuza dan para pengusaha gelap. Aku bisa menjadi bunglon untuk menghindari kejaran mereka," jelas Ryo mengingat masa-masa ia bergabung menjadi penipu dan melakukan banyak penyamaran sebagai seorang wartawan, koki, pak Pos, hingga pengawal pengusaha kaya raya.


"Baiklah! Karena kalian sudah menyepakati untuk bergabung bersamaku, maka kita mulai saja!" Shohei menarik tirai lipat yang berada di belakangnya hingga memunculkan foto orang-orang yang membentuk sebuah skema. "Ini adalah sembilan orang yang telah berhasil Black Shadow jerat!" ucap Shohei sambil menunjuk skema tersebut.


Yuriko, Kei, dan Ryo membaca skema tersebut secara saksama. Setiap orang dalam foto tersebut terdapat garis panah yang menunjukkan saling keterkaitan satu sama lain. Kemudian garis panah dari sembilan tokoh publik itu berpusat ke satu orang yang foto dan namanya dikosongkan.


"Kita tinggal mencari tahu target kesepuluh, kan?" ujar Rai dengan pandangan tertuju pada gambar kotak segi empat yang masih kosong.


"Tidak, kita tinggal mencari tahu cara mengungkap kebusukannya selama ini," balas Shohei dengan mata yang berkilat tajam.


Di sisi lain, beberapa orang berseragam hitam tampak memantau dari seberang jalan. Pandangan mereka tertuju pada sebuah apartemen yang mana sekitarnya tampak sepi. Tak lama kemudian, seorang pria berjalan santai menuju apartemen itu sambil menenteng bag paper berlabel merek ternama. Ia menuju ke kediamannya yang terletak di lantai tiga apartemen, lalu berhenti tepat di depan pintu. Salah satu dari orang-orang berseragam itu mencocokkan kediaman tersebut dengan alamat yang mereka genggam.


Orang-orang berseragam hitam itu saling melirik dan menganggukkan kepala sebagai isyarat untuk memulai pergerakan. Pria yang menenteng bag paper itu tampak mengambil kunci kamar apartemennya. Baru saja merogoh tas, tiba-tiba ia terhenyak ketika kepalanya ditutupi sebuah plastik hitam yang membuat pandangannya menjadi gelap. Tak hanya itu, ia merasa tubuhnya diangkat paksa dan dimasukkan ke dalam mobil. Lelaki itu mencoba berontak dengan menendang-nendang tak tentu arah. Sayangnya, sebuah pukulan yang keras di punggung, membuatnya langsung kehilangan kesadaran.


Salah satu dari mereka langsung menelepon seseorang. "Kami telah menangkapnya!"


.


.


.


jangan lupa like dan komeng, biar semangat Bray