
"Jangan pergi! Kumohon, jangan pergi begitu saja," ucapnya sambil memeluk Black Shadow dari belakang. "Mungkin aku hanya satu dari jutaan wanita di luar sana yang mengagumimu. Tapi, perasaan yang kumiliki untukmu lebih dari sekadar rasa kagum. Aroma tubuhmu, sentuhanmu, bahkan suaramu begitu melekat di benakku. Hanya dengan mendengar namamu disebut, sudah membuat jantungku berdenyut cepat dari biasanya. Maka dari itu, izinkan aku mengenalmu lebih jauh," lanjut Seina sambil terus menyandarkan kepalanya di punggung pria itu.
Seina dapat merasakan sentuhan jari-jari Black Shadow meski terbungkus dengan sarung tangan. Pria itu menyentuh tangan Seina dengan lembut, hanya untuk melepaskan pelukannya.
"Maaf, aku harus segera pergi. Sampai jumpa ...."
Pada akhirnya selalu seperti ini. Black Shadow pergi begitu saja dengan meninggalkan jejak kelopak bunga camelia. Sekuat apa pun gadis itu memohon, sekuat apa pun dia menahan, pria itu seperti burung yang mengepakkan sayapnya, kemudian menghilang dalam sekejap.
Dia mengucapkan "sampai jumpa", itu artinya kami masih akan bertemu kembali, kan?
Shohei terhenyak ketika menyadari komunikasi dengan Black Shadow terputus seketika. Ia sampai harus membenarkan posisi earpiece yang baru saja dihidupkan dan mencoba menyambungkan komunikasi. Apakah komunikasi mereka terganggu karena ia sedang berada di lift? Mengingat, Black Shadow sendiri tidak pernah mematikan earpiece-nya.
Pintu lift terbuka dan membawanya ke Tembo galeri. Butuh waktu sekitar sepuluh menit untuk mencapai titik tertinggi menara itu. Shohei berjalan pelan menelusuri koridor berlampu ungu itu dengan mata yang menelisik ke sana-kemari. Tak lama kemudian, earpiece-nya berdengung tanda komunikasi dengan Black Shadow kembali terhubung.
"Mr. White, aku masih berada di puncak gedung!"
Mr. White tak menjawab apa pun. Ia malah kembali mematikan earpiece, kemudian mengambil ponsel untuk mencoba menghubungi Seina.
"Seina-chan, maaf aku baru menghubungimu, ada sesuatu penting yang harus kulakukan tadi. Di mana kau sekarang?" tanyanya saat telepon tersambung.
Seina cukup lama terdiam, sebelum berkata dengan nada dingin, "Aku sudah pulang."
Setelah mengatakan kalimat pendek itu, dia langsung memutuskan telepon begitu saja sehingga membuat Shohei tersentak. Merasa kekasihnya sedang marah, Pria itu mencoba menelepon kembali. Sayangnya, tak kunjung dijawab. Tanpa ia sadari, sebenarnya Seina masih berada di tempat itu tepatnya di balik dinding yang berbentuk miring.
Gadis itu meringkuk, sembari memegang ponselnya yang senyap dengan hanya memunculkan nama Shohei di layar ponsel. Tampaknya, ia tak berniat sama sekali menjawab telepon kekasihnya. Bibirnya seakan sedang urung mengatakan sesuatu. Ia malah hanyut dalam ingatannya beberapa menit yang lalu, tepatnya ketika menahan Black Shadow agar tak pergi.
Untukmu yang datang dan pergi semaumu sendiri, aku hanya ingin mengatakan jika aku ingin sekali membencimu. Kau datang di saat aku ingin melupakan segala yang telah terjadi di antara kita. Di sisi lain, kau malah bergeming dalam persembunyianmu di saat aku berani mengungkap isi hatiku.
Terduduk di pembatas rooftop, rupanya Black Shadow pun turut memundurkan ingatan tepat saat gadis yang tak diketahui namanya itu mengungkap kata cinta padanya.
"Gomen, yang kau cintai itu adalah Black Shadow, alias aku sebagai bayangan orang lain. Bukan aku sebagai Rai Matsui, diriku yang sebenarnya," gumamnya sembari menatap bintang yang sedang mengeroyok langit malam.
"Yo! Gomen, ne. Aku terlambat."
Suara Mr. White yang terdengar tiba-tiba membuatnya berbalik.
"Dari mana saja?"
Mr. White kini duduk di samping Black Shadow sambil menyodorkan sampanye padanya.
"Ada wartawan yang menahanku. Huft, sebenarnya malam ini aku akan berkencan dengan kekasihku. Aku juga berjanji kenalkan kau padanya. Tapi, aku malah datang ketika dia sudah pulang. Padahal aku ingin menyaksikan bintang bersamanya. Tapi semuanya gagal total. Dia bahkan memutuskan teleponku begitu saja," ujar Shohei yang ternyata sengaja meminta Seina menunggu di Tembo galeri untuk melihat fenomena langit malam ini. Tanpa ia tahu, kekasihnya itu malah menyaksikan bintang bersama sahabatnya sendiri.
"Eh? Dia memutuskan teleponmu begitu saja dan kau hanya duduk diam di sini tanpa melakukan apa pun?"
Melihat reaksi kaget Black Shadow, Mr. White hanya menggaruk kepalanya. "Memangnya apa yang harus kulakukan?"
"Kau harus segera pergi dan membujuknya sebelum dia benar-benar marah padamu!"
"Benarkah?"
"Astaga, kau ini! Biar aku beri tahu, ada tiga tipe wanita yang sedang marah. Tipe pertama mereka akan langsung menerkam seperti serigala. Tipe kedua mereka akan mengomel dengan laju kecepatan seperti Valentino Rossi. Dan yang ketiga, mereka akan mematung alias diam seribu bahasa. Kira-kira dia tipe yang mana?"
"Dilihat dari karakternya, sepertinya dia tipe yang ketiga."
"Itu gawat! Tipe ini sulit untuk dibujuk sekalipun dengan rayuan maut!"
"Kalau begitu aku harus segera menemuinya!"
Mr. White berdiri dan bergegas pergi sambil berusaha menghubungi Seina kembali. Sementara, Black Shadow hanya tersenyum kecil sembari menenggak sampanye hingga habis.
Malam kian larut dan Rai telah kembali ke apartemennya. Ia tertegun ketika melihat sebuah kantongan plastik yang berisi beberapa makanan pokok dan minuman favoritnya menggantung di gagang pintu kamarnya. Rai segera masuk ke kamar sambil membawa kantongan plastik itu. Ketika sedang membuka mantel panjang, matanya tertuju pada dinding yang membatasi kamarnya dengan kamar Yuriko. Dia mengetuk dinding tersebut, sebanyak tiga ketukan hanya untuk memastikan apakah gadis itu telah tidur.
Yuriko yang masih menyelesaikan tugas kampusnya, mendadak mendengar suara ketukan dari balik dinding kamarnya. Sebaliknya, Rai tersenyum masam sambil menatap dinding itu.
"Oyasumi ...." (Selamat malam/met tidur)
Rai membuka jendela kamar, sambil mengapit sebatang rokok di sela bibirnya. Ia menyalakan pemantik api untuk membakar ujung rokoknya.
Tiba-tiba terdengar suara jendela yang terbuka dari sebelah kamarnya. "Hei, kau dari mana saja? Tadi adikmu datang!" Yuriko mendadak muncul, melongok dari jendela kamarnya.
"Memangnya kau kerja di mana?"
Rai mendelikkan matanya seraya berpikir. "Aku hanya seorang buruh pabrik," jawabnya asal-asalan.
"Padahal kalau dipikir-pikir kau punya wajah yang tampan, kenapa tidak mendaftar ke manajemen artis saja. Siapa tahu bisa jadi aktor!"
Mendengar Yuriko mengatakan jika dirinya tampan, Rai lantas memamerkan wajah yang berseri-seri. "Tidak biasanya kau memujiku. Apa itu artinya kau telah terjerat pesonaku?" cetusnya seraya mengangkat sepasang alisnya.
Yuriko terdiam selama beberapa detik, memandangi wajah Rai dengan tatapan tanpa ekspresi.
"Arigatou," ucapnya secara tiba-tiba.
Rai yang tadinya tengah semringah tiba-tiba mengernyit. "Untuk apa?"
"Kau membuatku sadar kalau barusan aku telah salah bicara. Jadi, kutarik kembali kalimat pujianku yang mengatakan kau tampan. Anggap saja lidahku tadi sedang salah server!" ketus Yuriko.
"Kalimat yang diucapkan tanpa sadar biasanya berisi kejujuran. Akui saja kalau kau sebenarnya telah terpesona denganku," ucap Rai melontarkan kalimat narsistik.
"Kenapa kau selalu butuh pengakuan dari orang lain?"
"Bukankah kau juga seperti itu?" tampik Rai mengingatkan sifat Yuriko yang mirip dengan dirinya.
"Sekarang tidak lagi. Semenjak menjadi asisten rumah Shohei-san, aku sudah tidak bergaul dengan teman-temanku lagi. Aku tidak pernah menghabiskan waktu di kelab malam, apalagi menghambur-hamburkan uang untuk mentraktir teman-temanku. Segala waktu kugunakan untuk bekerja dan menyelesaikan tugas akhir."
"Baguslah kalau begitu! Aku senang mendengarnya."
"Ini semua berkat Shohei-san. Bekerja dengannya, kadang-kadang aku merasa diperlakukan sebagai wanita, bukan pembantu. Dia sangat baik, ramah dan juga sopan. Sifatnya itu membuatku berusaha memantaskan diri untuk menjadi lebih baik. Orang sepertinya tentu akan mendapatkan wanita yang sepadan, bukan?"
Rai mengangguk-angguk kecil. "Dia memang seperti itu. Berbeda denganku," ucapnya pelan sambil termenung. Mimik wajahnya sudah tak seceria tadi.
Berbeda dengan Rai yang telah kembali ke apartemennya usai menjalankan misi, sebaliknya Shohei masih berada di dalam mobil. Ponselnya terus menempel di telinga, karena masih berusaha menelepon Seina. Meskipun tak kunjung terjawab. Ia menduga kekasihnya itu sedang marah padanya.
"Silakan tinggalkan pesan ....." Suara operator terdengar saat ia menelepon Seina untuk yang ke sekian kalinya.
"Seina-chan, hontou ni gomennasai. Aku telah merusak rencana kencan kita. Aku tidak mengabarimu dan juga terlambat datang. Kau pasti lelah menungguku. Gomen, gomenasai," ucap Shohei dengan perasaan penuh bersalah saat meninggalkan pesan suara. (Hontouni gomennasai: permohonan maaf yang sebesar-besarnya)
Shohei menurunkan ponsel dari telinganya. Ia mendadak teringat percakapannya dengan Kei. Misi yang akan ia jalankan bersama Black Shadow tersisa dua orang lagi. Entah kenapa, setelah meminta tolong pada Kei untuk mencari tahu target kesepuluh melalui tuan Matsumoto, ia justru merasa was-was.
Shohei memejamkan matanya, sambil bergumam kecil, "Semua akan baik-baik saja. Pasti akan baik-baik saja. Tidak akan ada yang berubah. Aku tetap akan mencintai Seina dan menikahinya, apa pun yang terjadi."
Tak terasa detik demi detik yang berputar mengantarkan waktu menuju hari baru. Pagi-pagi sekali, Kei telah mendatangi kediaman tuan Matsumoto. Pilihan waktu kedatangannya sangat tepat karena kebetulan pamannya itu tengah menyantap hidangan sarapan.
"Ohayou, Paman!" Kei menghampiri tuan Matsumoto, langsung menarik kursi makan dan bergabung.
"Kei, kebetulan sekali kau datang! Tolong cek Seina di kamarnya. Dia tidak mau keluar. Semalam dia mengatakan mau pergi kencan dengan pacarnya. Pulangnya dia malah meminta padaku untuk membatalkan pertunangan mereka. Kurasa mereka sedang bertengkar. Dia masih kekanak-kanakan sementara pacarnya sangat dewasa, bukankah itu hal biasa?" papar tuan Matsumoto sambil menghela napas.
Mendengar penuturan pamannya, Kei pun bergegas ke lantai atas menuju kamar Seina.
"Seina-chan, ini aku!" ucapnya sambil mengetuk pintu.
Tak ada jawaban apa pun sehingga Kei kembali mengetuk pintu.
"Semalam aku bertemu Yamazaki-san. Kami berbicara cukup lama. Gomen, aku yang menahannya. Aku tidak tahu kalau kalian akan berkencan," ucap Kei kembali.
Tak lama kemudian, pintu pun terbuka. Wajah Seina yang murung terlihat jelas. Meski begitu, sama sekali tak mengurangi kecantikan.
"Oniichan, tolong bantu aku bicara pada papa untuk membatalkan pertunanganku dengan Shohei-kun. Aku tidak bisa melanjutkan hubunganku dengannya," desak Seina dengan mata yang berkaca-kaca.
Kei terperanjat seketika. "Seina-chan, tenanglah! Apa yang terjadi antara kalian berdua? Apa yang salah dengan Yamazaki-san?"
"Tidak ada yang terjadi antara kami. Hubungan kami baik-baik saja hingga detik ini. Tidak ada yang salah dengannya, akulah yang bersalah karena telah jatuh cinta pada orang lain," ungkap Seina secara jujur.
.
.
.