Never Not

Never Not
Chapter 17



"Ini tuh dulu sekolahku, Nat!" Tunjuk Nada semangat ke luar jendela.


Natya tersenyum geli melihat tingkah Nada. Dari tadi gadis ini menunjuk semua sudut Jogja yang ia anggap bersejarah di hidupnya. Dari tempat makan favoritnya, tempat dia pernah tampil sebagai penari, hingga sekolahnya.


"Itu yang khusus anak pinter gitu kan?"


"Iyah!" Nada mengangguk semangat namun polos sehingga malah terlihat lucu. Natya jadi tertawa. "Tapi, aku malah jadi nggak pernah sepuluh besar sih di sana. Biasa aja," lanjut Nada.


Natya mengangguk-angguk tanda dia mendengarkan. Mereka berdua baru saja selesai menyantap sop gulai kesukaan Nada dan sekarang ingin mencari camilan. Nada ingin makan es krim favoritnya di daerah Tugu sebelum banyaknya tempat Gelato menguasai Yogyakarta.


Ketika ia sudah senang mengarahkan Natya ke sana, ternyata tempat tersebut telah tutup.


"Yah... Jadi, Nada mau ke mana sekarang?" tanya Natya lembut.


"Beli eskrim deket Indomaret Point sini aja deh, Nad. Biar kita nggak keliling lagi. Kamu juga pasti udah capek banget kaan."


"Tadi kan udah sempet tidur juga, Nad."


"Iya, tapi pasti butuh istirahat, Nat."


Natya akhirnya menurut saja dan mereka akhirnya membeli eskrim di minimarket terdekat dan makan di dalam mobil. Nada memperhatikan dirinya dan Natya lalu tiba-tiba tergelak.


"Loh kok malah ketawa, Nad?" Natya terlihat bingung.


Nada memberhentikan tawanya. Natya bisa melihat bahwa ada semburat merah mewarnai wajah gadis ini. Dia melihat Natya dengan mata berbinar campuran antara senang dan sedih.


"Mau cerita nih, tapi jangan ketawa yaa."


"Hmm... Oke?"


Nada menarik napas panjang. "Aku ngerasa tiba-tiba lucu aja sih kita kayak gini. Dulu tuh waktu tinggal di sini pengen banget ngerasain kayak gini. Nge-date simple dalam mobil tapi gagal mulu kalau deket sama orang. Taunya udah tua gini baru ngerasain meski sama temen." Nada geleng-geleng kepala dengan hidupnya yang lucu dan merasa kalimatnya tadi biasa saja.


Natya sendiri sebenarnya jadi tersentak mendengar kalimat lengkap Nada. Dia mau tidak mau mengeluarkan apa yang ada di pikirannya saat ini, "Jadi, kita nge-date atau temenan aja saat ini, Nad?" tembaknya langsung.


Nada berhenti tersenyum dan terbelalak. Dia tidak menyangka akan mendengar hal tersebut keluar dari mulut Natya. Bukannya menjawab, gadis itu malah jadi menatap Natya dengan ekspresi kaget bercampur bingung. Natya menyadari hal tersebut lalu mengacak-acak rambut Nada lembut.


"Udah nggak usah kaget. Nggak harus dijawab sekarang. Kita keliling-keliling sekali lagi trus pulang istirahat yaa. Muka kamu udah ngantuk banget tuh." Natya mencubit pelan kedua pipi Nada sambil tertawa gemas.


Sementara itu, hati Nada sudah mencelos jatuh-sejatuhnya sampai kedua kalinya lemas. Mayday mayday!!


-----


"YA AMPUN!!" Teriak Frinta kencang saat Nada meneleponnya tengah malam. Begitu sampai di rumah, Frinta menjadi satu-satunya orang yang terbersit di benak Nada untuk menceritakan malam ini.


"Tapi.. Itu nyatain perasaan atau ngegodain doang ya?"


"Ya kalau dia bilang nggak perlu jawab sekarang, ya berarti itu confession dong."


Nada tiba-tiba bergidik geli. "Tapi... Cheesy banget nggak sih? Gue beneran jadi kayak ditembak dengan konteks pelajaran SMA nih."


"Ribet bener lo. Ya udahlah, yang penting kan jelas maknanya apaan. Lagian lo kan mancing nggak sih pake acara bilang impian nge-date dalam mobil."


Frinta sudah bisa membayangkan mimik muka Nada saat ini. Pasti sudah beneran jadi kepiting rebus!


"Trus, lo gimana? Mau jawab apaan? Besok masih ketemuan kan?"


"Nggak tau gue.. Nggak tau deh.. Mau fokus bokap dulu aja gue... "


"Oh... Iya juga sih..."


"Iya... Kelar itu deh, Ta.. Baru mungkin gue bisa lebih waras dikit untuk berpikir."


"Tapi, besok lo janjian nggak sama dia?"


"Iya... Dia tadi udah nge-chat gue sih nanya besok mau jam berapa ke Rumah Sakit."


"Duh, emang paten banget sih si Natya ini. Semoga om cepet sembuh.. Trus abis itu temen gue satu ini akhirnya bersatu deh sama cowok baik yang mendadak muncul ini."


Nada diam saja namun mengamini dalam hati. Dia takut untuk terlalu lantang menyatakan keinginannya. Takut jika tiba-tiba semua berakhir atau berganti alur menjadi bukan yang ia inginkan.


Dia sudah jenuh untuk patah hati.


------


"Lo nanya kayak gitu? Kok jadi norak kayak anak SMA lo?"


"Refleks doang," jawab Natya datar.


Dhito sudah geleng-geleng kepala mendengar cerita temannya ini. Dia sebenarnya juga cukup kaget mendengar cerita Natya hari ini. Dia tidak menyangka juga kalau Natya akan mengungkapkan perasaannya di hari pertama menginjakkan kaki di Yogyakarta. Dia kira akan menunggu beberapa hari dulu. Atau saat kepulangan. Atau malah menunggu saat bertemu lagi di Jakarta. Gerak cepat juga sahabatnya ini.


"Tapi, dia sadar nggak kalau itu lo nyatain perasaan? Karna itu kayak blur trus ga jelas juga menurut gue," seloroh Dhito tiba-tiba.


Natya jadi mengulang kembali kejadian hari ini di benaknya.


Iya juga ya, jangan-jangan Nada memang tidak menangkap maksud dari ucapannya.


"On top of that, so you do love her ya?"


"I do like her. Nggak sampai nyusul ke sini juga sih gue, bro."


Dhito tertawa. "Iya sih, gila nekat juga lo. Trus, beruntung lagi cuti di-approve seminggu gitu."


Natya cuma bisa memberikan cengiran kemenangan dari jauh tanpa Dhito bisa melihat.


"Gue ya seneng sih akhirnya gunung es ini mencair juga. Setelah sekian lama cintanya beku cuma buat satu orang."


Natya terhenyak mendengar ucapan Dhito tersebut. Dia tidak bisa berbohong bahwa itu membuat dia teringat oleh orang lain. Yang dia terkadang masih meraba-raba apakah perasaannya memang telah benar-benar sepenuhnya hilang atau hanya bersembunyi dalam wujud yang lain.


"Semoga lancar deh lo yang kali ini."


Natya hanya bisa diam. Tidak berani untuk mengiyakan dengan lantang. Dia tidak tahu apa tindakan yang ia lakukan hari ini hanya tindakan impulsif semata. Namun, dia yakin perasaannya ke Nada memang ada dan nyata. Untuk membandingkan dengan apa yang dulu ia rasakan dan alami bersama Kay, akan terasa sangat berbeda dan tidak bisa dibandingkan. Lagipula, memang seharusnya setiap perasaan yang ada ke orang yang berbeda, tidak dapat dibandingkan. Natya berharap, kali ini dia membangun sebuah fondasi yang benar.