Never Not

Never Not
Ch. 111 : Dari Balik Jendela



..."Untukmu yang datang dan pergi semaumu sendiri, aku hanya ingin mengatakan jika aku ingin sekali membencimu. Kau datang di saat aku ingin melupakan segala yang telah terjadi di antara kita. Di sisi lain, kau malah bergeming dalam persembunyianmu di saat aku berani mengungkap isi hatiku."...


...~Seina Matsumoto. ch. 61~...


...----------------...


Kurasa tanpa menyebutkan nama kau akan segera tahu siapa aku.


Rai menulis kalimat itu di awal suratnya. Secara spontan, Seina langsung melihat kembali setangkai bunga Camelia yang telah mengering dan dapat menebak sosok si pengirim surat itu. Ya, surat itu dikirimkan Rai saat Seina dirawat di Rumah Sakit, tepat sebelum kematian tuan Matsumoto.


Aku nekad menulis surat ini untukmu, meski tak tahu apakah kau akan memercayai yang akan kukatakan. Ini tentang penculikan menteri kehakiman yang mengatasnamakan Black Shadow. Ketahuilah, itu bukan diriku yang sebenarnya! Entah apa yang terjadi, aku sendiri pun tidak tahu. Saluran chanelku tiba-tiba diretas dan seseorang yang menyerupai diriku muncul secara tiba-tiba.


Aku tahu ini sulit dipercaya, tapi ini sebuah bentuk konspirasi untuk mencoreng nama Black Shadow di mata publik. Aku tidak tahu siapa yang melakukannya, tapi dugaanku ini berhubungan dengan target kesepuluh yang aku incar selama ini. Semua ini tentu di luar kuasaku. Kau menjadi satu-satunya orang yang bertemu dan berkontak langsung denganku. Kuharap kau bisa mengenali perbedaan antara aku dan sosok palsu yang mengatasnamakan diriku.


Dari hati yang terdalam, aku tulus meminta maaf padamu, karena orang yang mengatasnamakan diriku menyeret ayahmu sebagai tumbal serta memanipulasi semuanya. Jika terjadi sesuatu yang lebih buruk ke depannya, bisakah kau tetap percaya? Bukan padaku, melainkan pada kebenaran yang sesungguhnya.


Aku juga ingin meminta maaf mengenai apa yang telah terjadi antara kita. Maaf, aku telah seenaknya menanamkan perasaan di hatimu, tapi tidak bisa membalasnya. Aku tidak pantas menerima cinta yang berharga darimu. Anggaplah pertemuan kita adalah sebuah kesalahan. Maka dari itu, mari kita akhiri dengan tidak saling menemui lagi! Aku yakin, ada lelaki yang lebih hebat dan pantas untuk berdiri di sampingmu. Dan itu bukan aku.


Rai mengakhiri surat tersebut dengan menggambar ilusi bunga camelia dan tanggal ditulisnya surat. Ternyata waktu surat itu diberikan padanya sehari sebelum kematian ayahnya.


Melalui surat itu, Rai menjelaskan bahwa chanel-nya telah di retas sehingga ia tak lagi bisa melakukan siaran langsung. Dengan kata lain, aksi terakhir yang menunjukkan penyekapan ayahnya itu tak ada kaitannya dengan dirinya. Ia juga berusaha meyakinkan Seina bahwa pelaku penculikan itu bukan dilakukan oleh Black Shadow, melainkan orang lain yang mengatasnamakan dirinya.


Setelah membaca surat itu, Seina merasakan sesuatu yang membuncah di hatinya. Ada perasaan lega sekaligus sedih. Lega karena terjawab sudah prasangkanya selama ini. Selama empat hari mengurung diri di kamar, dia terus merutuki dirinya karena telah jatuh cinta pada orang yang membunuh ayahnya. Ternyata bukan Black Shadow yang membunuh ayahnya. Malahan sekarang ia tahu, justru Black Shadow yang dikambinghitamkan sebagai dalang kematian ayahnya dan membuat lelaki itu berstatuskan buronan nasional.


Di sisi lain, membaca surat itu turut membuatnya sedih. Pasalnya, pria itu juga menyampaikan salam perpisahan padanya. Yang artinya, kisah mereka berakhir hanya sampai di situ.


Matahari sebentar lagi akan tenggelam. Seharian ini, Shohei sibuk merayu pakar telematika agar mau mengamati keaslian video terakhir Black Shadow dengan video-video terdahulunya. Ya, untuk mematahkan dugaan orang-orang tentang aksi Black Shadow yang terakhir, dibutuhkan pernyataan langsung dari ahlinya. Hal ini guna untuk memperkuat artikel yang akan diterbitkan Kei. Sayangnya, pakar telematika itu enggan memenuhi permintaannya. Tim forensik kepolisian pun tidak membeberkan hasil pengamatan mereka mengenai video tersebut.


Sementara itu, Kei sibuk mencari alamat dari keluarga para polisi yang menjadi korban tragedi pengeboman tujuh belas tahun lalu. Ya, ia ingin mengulik kembali kasus yang juga menyeret ayah Yuriko dan Kazuya Toda. Baru saja tiba di sebuah daerah, ia malah mendapatkan telepon dari kepala pelayan keluarga Matsumoto.


"Moshi-moshi ...."


"Tuan Ayano, nona Matsumoto mengadakan jumpa pers sekarang!" ucap kepala pelayan itu dengan suara panik.


Mata Kei terbelalak seketika. Ia membuka aplikasi televisi dan terkejut melihat wajah Seina yang sengaja dikaburkan. Dari gawainya, ia bisa menyaksikan siaran konferensi itu tengah berlangsung.


"Untuk semuanya, melalui ini saya sebagai perwakilan keluarga Matsumoto, ingin menegaskan beberapa hal terkait kematian ayah saya, Matsumoto Hayato. Pertama, saya tidak akan meminta maaf apa pun terkait semua yang dituduhkan pada ayah saya. Apa yang dituduhkan ke ayah saya sama sekali belum terbukti!" tegas gadis itu di hadapan banyak awak media.


Pernyataan Seina yang disiarkan secara langsung oleh beberapa stasiun televisi, tentu mengundang beragam reaksi masyarakat. Sebagian besar orang-orang malah menganggapnya tidak tahu malu. Sebab, sudah menjadi budaya negara ini, jika ada seorang pejabat yang tersandung kasus, maka dia atau perwakilannya meminta maaf di hadapan publik secara langsung kemudian mengundurkan diri. Namun, yang dilakukan Seina selaku perwakilan keluarganya, justru tegas menolak melakukan itu.


"Kedua ...." Seina menyambung kembali ucapannya yang sempat membuat para wartawan gaduh dan tak sabar melempar pertanyaan. "Saya menolak segala yang dituduhkan publik terhadap ayah saya. Melalui kuasa hukum keluarga Matsumoto, saya akan menuntut setiap individu maupun kelompok yang menyebarkan informasi tidak benar atas keluarga saya," ucapnya sambil menoleh ke arah kuasa hukum keluarga Matsumoto yang berdiri di sampingnya.


Wartawan kembali bereaksi, tetapi Seina tetap tak memedulikan mereka dan terus berbicara.


"Terakhir ... atas nama keluarga yang ditinggalkan, saya meminta kepada penegak hukum untuk mengungkap kasus kematian ayah saya sejelas-jelasnya tanpa ada yang ditutupi. Termasuk mengusut tuntas siapa di balik semua ini. Saya akan memperjuangkan kasus ini!"


Seina menyapu pandangannya ke seluruh wartawan yang sibuk mengabadikan dirinya. Ia turun dari podium, lalu keluar dari ruangan konferensi pers bersama kuasa hukumnya.


Hei, kamu ... aku tidak tahu cara membantumu dari tuduhan pembunuhan ayahku. Meskipun begitu, aku meletakkan kepercayaanku padamu.


Pernyataan Seina di media, tak hanya mendapat sorotan publik. Rupanya, Kazuya Toda pun turut menyaksikan tayangan langsung itu dari ruangannya.


"Gadis itu berani juga," ucapnya tersenyum sinis.


Kazuya Toda sedikit terkejut. "Oh, begitukah?" Senyum yang membingkai bibir pejabat nomor satu di kepolisian itu berangsur-angsur lenyap.


Kei tersenyum simpul melihat aksi berani adik sepupunya yang tampil di depan publik. Tentu ia mendukung segala apa yang Seina hendak perjuangkan. Namun, berbeda dengan Kei, sepertinya Shohei memiliki pandangan lain terhadap konferensi pers tersebut. Pernyataan Seina makin membuat Shohei merasa khawatir terhadap Black Shadow. Jujur, ia tak ingin kekasihnya membenci dan menyalahkan tokoh ciptaannya atas kematian tuan Matsumoto.


"Bagaimana caranya memberitahu pada Seina bahwa Black Shadow tidak bersalah?" gumam Shohei sambil mengusap rambutnya ke belakang. Tiba-tiba, cahaya keemasan berpendar di bola matanya. Ia langsung mengambil ponsel dan menghubungi Rai.


"Aku butuh bantuanmu!"


Tak terasa waktu telah beranjak. Langit yang hitam terasa terang karena rembulan sedang menampakkan dirinya dalam wujud yang penuh. Di kamar yang gelap gulita, Seina mulai berani mencari informasi tentang kasus pembunuhan ayahnya. Ia juga sudah tak takut membuka akun sosial medianya.


Tiba-tiba, terdengar suara ketukan jendela kamarnya. Seina mengernyit seraya melihat jendelanya. Dalam suasana ruangan yang gelap, ia berdiri lalu berjalan menuju jendela kamarnya. Saat menyingsingkan gorden kamar, ia tergemap menatap sesosok pria bertopeng yang berdiri tepat di hadapannya.


"Black Shadow!" ucapnya terkejut melihat pria bertopeng itu berdiri di balkon kamarnya.


"Ssttt ...." Pria itu meletakkan jari telunjuknya sebagai isyarat agar Seina tak bersuara.


Seina buru-buru membuka jendelanya. Tangan Black Shadow terulur ke dalam kamar, mengambil kertas dan bolpoin yang berada di atas meja yang terletak di samping jendela. Ia lalu menuliskan sebuah pesan yang langsung dibaca Seina.


"Aku tidak akan bersuara untuk berjaga-jaga jika rumah ini telah disadap."


Setelah membaca pesan itu, Seina mengangguk paham. Black Shadow kembali menuliskan sebuah pesan di atas kertas itu.


"Aku hanya ingin mengatakan bahwa aku tidak membunuh ayahmu. Aku ...."


Seina langsung memegang tangan Black Shadow, mencegatnya meneruskan kalimat yang hendak ditulis. "Kau tidak perlu jelaskannya lagi. Aku sudah membaca isi suratmu. Maaf, aku sempat salah sangka terhadapmu. Tapi sekarang, aku akan membantumu menguak siapa pembunuh yang sebenarnya," ucap Seina dengan pelan sambil menancapkan pandangannya di bola mata pria itu, "apakah aku sangat bodoh karena merasa senang dan lega saat tahu kau tidak membunuh ayahku?"


Black Shadow mematung dalam kebisuan. Tak menjawab pertanyaan Seina. Sebenarnya dia sedikit bingung dan rikuh. Apalagi, gadis itu masih terus menggenggam tangannya.


"Mengenai apa yang pernah terjadi di antara kita ... aku menghargai segala keputusanmu. Aku juga sadar, perasaanku padamu tak semestinya ada karena aku telah dimiliki seseorang. Tapi, biarkan aku mengingatmu ... menyimpan rapi setiap pertemuan manis kita di dalam benakku sebagai kenangan terindah. , Tolong, ingatlah aku sebagai gadis yang pernah tergila-gila padamu," ucap Seina dengan sepasang mata yang berkabut.


Black Shadow masih bergeming. Ia berusaha melepaskan tautan tangan mereka, tapi Seina terus menahannya. Dua pasang mata itu bersirobok dalam keheningan yang menyelimuti mereka. Hanya terdengar suara gemerisik angin malam yang membuat gorden di samping Seina menari-nari indah.


Pada saat ini, Seina berjinjit untuk menyamakan tinggi badan lelaki itu. Sedetik kemudian, ia menjatuhkan bibirnya di atas bibir dingin pria itu. Sontak, mata Black Shadow melebar diiringi keterkejutan tak terkira.


Bibir mereka resmi bersatu dalam kegelapan yang hanya bercahayakan bulan purnama. Sepertinya jendela kamar itu telah berjasa mempertemukan mereka yang terpisah oleh tembok ruang. Jendela itu juga akan menjadi saksi bisu ciuman terakhir ia dan Black Shadow.


Seina menjauhkan bibirnya dari bibir lelaki itu sambil menatapnya dengan mata yang berkaca-kaca. "Ini ciuman terakhir kita. Sayonara ...." (selamat tinggal)


Hingga detik ini, Black Shadow masih tak mengeluarkan sepatah kata pun. Wajahnya masih terlihat syok, antara percaya dan tidak apa yang baru saja Seina lakukan terhadapnya. Ia berbalik pelan kemudian melompat dari balkon kamar Seina.


Pria bertopeng itu berjalan tertatih, menyeret langkahnya dengan berat. Semua kata-kata yang meluncur dari mulut Seina kembali membanjiri saluran otak pria itu. Entah mengapa, terasa begitu menyakitkan. Tepat di bawah pohon sakura yang baru saja mekar, pria itu jatuh berlutut dengan topeng yang ikut terlepas dari wajahnya. Matanya yang berwarna hitam pekat itu secara bertahap berkabut. Laksana bunga yang berguguran di musim semi, begitulah perasaannya saat ini. Hancur di momen yang tak seharusnya.


"Seina ... Rai ... apa yang telah kalian lakukan di belakangku?" ucapnya lirih dengan pandangan yang gamang.


.


.


.


jangan lupa like dan komeng, biar gak malas gays.