
..."Ada kalanya mengutarakan isi hati membuatmu plong."...
...~Yuriko Aizawa~...
...----------------...
"Lalu apa yang harus kita lakukan untuk menghentikan bom? Masih cukup banyak orang-orang yang berusaha keluar dari gedung ini!" tanya Rai sambil mengusap wajahnya dengan kasar.
"Bom itu tidak bisa dijinakkan, kecuali kita memegang remote kontrolnya," balas Shohei.
"Jadi, bagaimana? Apakah kita semua akan benar-benar mati?" Seina menunjukkan wajah panik ketakutan.
Yuriko melihat keluar gedung, ada banyak orang yang baru saja berhasil keluar dari gedung yang mereka pijaki saat ini. Matanya beralih menatap Shohei, Rai, dan Kei yang telah pasrah. Kemudian ada juga Seina masih ketakutan dalam pelukan Shohei. Terakhir, ia melihat penanda waktu yang terus berjalan mundur.
"Oniichan, kalian di mana? Tinggalkan bom itu, dan melarikan dirilah bersama orang-orang!" teriak Ryo lewat sambungan earpiece.
Mata Rai langsung membulat sempurna. "Benar. Sebaiknya kita pergi dari sini sekarang juga!"
"Sudah tidak ada waktu lagi!" teriak Yuriko sambil berjalan mundur menjauhi rekan-rekannya, "kalian semua ... harus tetap hidup! Kalian harus selamat untuk meneruskan misi!"
Pada detik itu juga, Rai, Shohei dan Kei tersentak mendengar perkataan yang keluar dari mulut gadis itu.
"Yu-chan, apa maksudmu?"
Rai mencoba mendekatinya. Namun, Yuriko mengambil keputusan spontan dengan berlari keluar dari ruangan itu sambil membawa bom yang aktif.
"Yu-chan, apa yang kau lakukan? Jangan bertindak bodoh!" teriak Rai yang ikut mengejarnya, disusul Shohei dan juga Kei.
"Yuriko, kau mau ke mana?" teriak Shohei lewat saluran earphone.
"Apa yang terjadi?" tanya Ryo kebingungan.
"Yuriko pergi dan membawa bom yang aktif!" balas Kei sambil berlari.
Ryo terperanjat hebat. Ia yang tengah berada di area luar, lantas langsung berlari memasuki gedung plaza untuk bergabung bersama tim lainnya. Suasana dalam gedung mulai lengang, hanya segelintir orang yang tersisa.
"Yu-chan! Yu-chan!" Rai tak henti-henti menyebut nama perempuan yang sempat tinggal bersamanya.
"Maafkan aku, tapi sebaiknya kalian jangan mengikutiku. Larilah dan selamatkan diri kalian!" Yuriko terus berlari berlawanan arah dengan larinya orang-orang. Ia tak mau berhenti, meskipun Rai, Shohei, dan Kei terus mengejarnya dari belakang. Orang-orang yang melihatnya memeluk bom, lantas berteriak histeris sambil menjauhinya.
"Yu-chan, kumohon letakkan bom itu!" teriak Rai memelas.
Langkah Yuriko sempat terhenti ketika melihat Shohei tengah berlari bersama Seina dari depan menuju ke arahnya. Gadis itu segera berbalik dan memilih berlari belok ke kiri. Ketika Shohei hampir menggapainya, secara tiba-tiba Seina jatuh terpeleset.
"Akh!" jerit Seina.
Shohei berbalik dan menghampiri Seina dengan cepat. "Kau tidak apa-apa?"
"Kejarlah dia!" pinta Seina.
Shohei malah berjongkok sambil menghadapkan punggungnya ke arah Seina. Paham apa yang diinginkan pria itu, Seina pun langsung naik ke punggungnya. Shohei lalu kembali mengejar Yuriko sambil menggendong Seina.
Yuriko berlari menuju lift, Kei datang dari arah kanan lalu menarik bahunya. Gadis itu malah melayangkan tendangan dadakan ke perut Kei yang membuatnya terlempar satu meter. Setelah menendang, Yuriko masuk ke dalam lift.
"Gomen, Kei-san," ucap Yuriko dengan penuh rasa bersalah.
Rai berlari sekuat tenaga agar bisa menyusul Yuriko. Sayangnya, saat hanya tinggal tiga langkah, lift itu telah menutup sendirinya dan menenggelamkan tubuh Yuriko yang berada di dalam sana.
Rai berusaha membuka pintu lift dengan kedua tangannya. Dia menggedor-gedor sekuat tenaga sambil terus meneriaki nama Yuriko. Urat-urat di sekitar pelipisnya bermunculan, menandakan betapa tegangnya dirinya.
"Ryo-chan, tolong kejar Yuriko lewat tangga darurat! Sepertinya dia menuju rooftop," perintah Kei sambil melihat arah tujuan lantai gadis itu.
Di dalam lift, Yuriko menatap penanda waktu dalam bom yang menunjukkan tak kurang dari satu menit. Matanya terpejam seiring air mata meluncur deras dari sudut matanya.
"Untuk kalian semua, terima kasih karena telah menerimaku. Aku sungguh tak pernah membayangkan bisa berada di antara orang-orang hebat seperti kalian, dan melakukan aksi-aksi perjuangan keadilan," ucap Yuriko dengan suara serak, "untuk Ryo-san, gomen ne, aku selalu memperlakukan kau seperti teman seusiaku. Padahal jarak usia kita empat tahun. Untuk Kei-san, arigatou sudah banyak mengajariku public speaking yang baik," ucap Yuriko sambil mulai mengeluarkan tetesan air mata kesedihan.
Mendengar suara Yuriko, Rai yang tengah menggedor-gedor pintu lift langsung terdiam kaku. Shohei yang masih mencari-cari keberadaan gadis itu, lantas berhenti melangkah seraya menurunkan Seina dari punggungnya. Kei yang berada di belakang Rai, terduduk lemas seketika. Dan Ryo yang tengah menaiki tangga darurat, mendadak mematung.
"Untuk Shohei-san ...." Yuriko tertawa sebentar, lalu berkata, "kau adalah pria pertama yang membuatku tertarik sekaligus jatuh cinta. Dengan penuh harap, aku berkata meyakini diri bahwa di suatu waktu nanti kau akan berbalik dan melihat keberadaanku yang selalu menunggu di belakangmu. Tapi aku cukup sadar untuk menampar diriku agar segera menyadari kalau kau hanya bisa kukagumi tanpa bisa kumiliki. Meski begitu, terima kasih ... terima kasih ... kau tidak menjauhiku begitu tahu perasaanku yang sebenarnya."
"Yuriko ...." Shohei hanya bisa menyebut nama itu dalam kepahitan, tanpa bisa mengolah kata lainnya. Ia tampak bersusah payah menelan ludahnya, membuka sedikit mulutnya untuk mencoba bersuara tapi tak mampu. Hanya mampu menatap ke sembarang arah.
"Berhentilah untuk membuat kalimat-kalimat konyol, Yu-chan! Kau tidak diminta untuk berpuitis di sini!" teriak Rai sambil menendang dan memukul pintu lift. Wajahnya diselimuti keputusasaan.
"Dan untuk Rai-kun, apa kau tahu alasanku selalu menghindar, tak mengacuhkan, dan menolak mencari tahu banyak tentangmu? Karena ... aku takut akan menyukaimu. Apa kau tahu alasanku kenapa sering menutup mata atas seluruh kebaikan yang kau berikan padaku? Itu juga karena ... aku takut hatiku akan berpaling padamu. Aku takut kau akan menertawakanku karena jatuh cinta padamu. Maka dari itu, aku berusaha menghindari perasaan itu dan memelihara sifat pecundang." Suara Yuriko semakin kecil, sangat kecil dan hampir saja menghilang.
"Yu-chan, ceritakan padaku lebih banyak lagi! Ceritakan padaku apa saja yang kau takuti. Aku ingin mendengarnya lebih! Oleh karena itu, kau tidak boleh mati! Apa kau dengar itu? Kau tidak boleh mati!"
Keempat pria itu mendadak membisu. Air mata mulai terurai dari sudut mata mereka masing-masing. Semua dari mereka menangis. Semua tak berdaya. Kebersamaan yang telah mereka lalui, seolah kembali tersusun seperti kepingan film. Ya, meski menjadi satu-satunya anggota perempuan dalam tim, Yuriko selalu memberi mereka semangat di kala otak mereka buntu memikirkan strategi.
Shohei menatap jam tangannya dan hanya bisa memejamkan matanya dalam-dalam. Bagaimana mereka bisa menyelamatkan Yuriko dengan waktu mepet seperti ini?
Waktu bergerak menuju tiga detik terakhir dan mulai menghitung mundur. Perempuan itu sudah tak bersuara lagi, pasrah menerima takdirnya.
Tiga detik.
Dua detik.
Satu detik.
"Yuuriiikooo!" Raungan teriakan Rai memenuhi seluruh ruangan itu.
Ryo langsung terduduk di anak tangga sambil menenggelamkan wajahnya di antara lutut. Shohei berjalan lunglai beberapa langkah dengan tatapan gamang. Pada langkah keempat, pria itu berlutut sambil meremas daadanya yang terasa berat. Dia berhasil menyelamatkan Seina yang dicintainya. Tapi tak berhasil menyelamatkan Yuriko yang mencintainya.
Rai mematukkan keningnya berkali-kali di pintu lift dengan sepuluh jari yang mengatup rapat. Bahunya tampak berguncang dikepung pilu seiring air mata merembes keluar dari pelupuknya. Untuk berdiri tegak saja tak sanggup, tubuhnya limbung dan pada akhirnya ia jatuh berlutut di depan pintu lift. Hancur. Remuk. Patah.
"Untuk sebentar saja, biarkan aku mencintaimu, Yu-chan! Hanya sebentar saja, berikan waktumu untukku, aku pasti bisa mengatasi ketakutanmu!" teriak Rai dengan air mata yang bercucuran.
Kei datang mendekat, mencoba menahan Rai yang mengeluarkan seluruh amukannya sambil terus meraung. Namun, Rai justru enggan disentuh dan memilih berontak.
"Tenanglah, Rai! Tenang!"
"Aku mencintainya, meski tanpa sempat menyuarakan perasaanku," ucapnya dengan nada yang terdengar rendah. Ia tak pernah merasakan sesakit ini karena seorang perempuan.
"Apakah di antara kalian ada yang mendengar suara ledakan?" Suara Shohei terdengar secara tiba-tiba.
Hal itu membuat Rai, Kei, dan Ryo tersadar seketika. Ya, tidak ada satu pun dari mereka yang mendengar suara ledakan. Mereka langsung menoleh ke arah sekitar yang tampak baik-baik saja.
"Jika bom benar-benar meledak, maka paling tidak sebagian gedung ini akan hancur," lanjut Shohei dengan tenang.
"Apa mungkin ...." Rai kembali melihat ke arah lift.
"Aku masih hidup." Suara lemah Yuriko terdengar tiba-tiba.
"Benarkah? Benarkah ini kau, Yu-chan?" tanya Rai tak percaya.
"Ini bukan arwahnya, kan?" Ryo turut bertanya setelah matanya dipenuhi genangan air mata.
Gadis itu menatap penanda waktu bom yang tiba-tiba berhenti di satu detik terakhir. "Entah kenapa, bom ini berhenti tiba-tiba. Maafkan aku sudah membuat kalian khawatir," ucapnya lagi.
Sontak, Rai langsung memeluk Kei dari belakang dengan erat hingga leher pria itu hampir tercekik.
Seorang pria bertubuh tinggi tegap berdiri gagah di ujung rooftoop gedung plaza. Pria itu dalam balutan seragam yang sama dengan pasukan riset timur yang dibentuk Kazuya Toda. Di tangan kirinya, ada sebuah remote kontrol bom. Ia merogoh saku celana, mengambil earpiece lalu memasang ke telinganya.
"Ketua, maaf aku hampir terlambat menghentikan bomnya," ucap pria itu.
Shohei langsung bernapas lega seraya berkata, "Arigatou ... kau telah menyelamatkan Yuriko, Ai-kun!"
.
.
.
catatan author ✍️✍️
anggota keenam dari tim Shohei telah terungkap di chapter ini, ya. Nantikan kejutan-kejutan lainnya ya gays.
Jika ingin memberi vote gift pada novel ini, tolong alihkan saja ke novel yang satunya, ya, (Dosa). Agar vote poin kalian tidak sia-sia karena novel itu tengah berjuang di sepuluh besar.
"saya tetap ingin mendukung novel ini, kak yu!"
boleh banget, silahkan berikan dukungan vote voucher + like + komen setiap update, Tapi untuk vote gift berikan pada karya saya yang berjudul Dosa, sebagai bentuk dukungan pada karya-karya saya. Dukungan kalian membantu author terus berkarya di platform ini.
kalau saya rakus, saya pasti sudah meminta para pembaca setia untuk membuat dua novel on-going saya masuk sepuluh besar. Tapi kenyataannya saya meminta kalian untuk stop dukungan di novel ini, dan beralih ke novel satunya.
Arigatou semuanya, dijelaskan seperti ini agar tidak ada yang missing lagi. Jangan lupa like + komen juga.