Never Not

Never Not
Chapter 16



"Jadi, apa kabar Nad?"


Nada hanya bisa mengulas senyum kecil mendengar pertanyaan Natya. Wanita itu menghela napas berat kemudian bersandar ke belakang kursi sembari meregangkan kedua kakinya. "Rumit, Nat," jawabnya singkat.


Natya pelan-pelan bertanya, "Kondisi papamu sekarang gimana, Nad?"


"Mulai membaik sih... Cuma ya... Bikin kaget juga. Kata mama awalnya mau dioperasi juga, Nat. Tapi, untungnya ternyata setelah dibawa ke sini, bisa dengan tindakan pengeluaran cairan di paru-parunya. Harusnya dalam seminggu lagi bisa pulang."


"Udah bisa dijenguk?"


"Bisa.. Satu orang aja tapi. Tiap hari kita gantian ngeceknya. Tapi mama pasti masuk sih.."


Natya mengangguk pelan.


"Kamu nginep di mana, Nat?"


"Deket sini juga."


"Sampai...?"


"Ya, sampai Nada juga pulang."


Nada tidak bisa menyembunyikan semburat senang bercampur malu yang menyeruak di wajahnya. Dia harus mengalihkan pandangan, juga pikirannya, ke hal lain dulu untuk merespon pernyataan Natya tersebut.


"Kalau aku malah kalau sekarang ini udah pulang."


Natya tersenyum tipis. "Gampang deh pokoknya aku Nad kalau balik ke Jakarta."


"Iyalah. Bangkok ke Singapore aja dalam secepat kilat."


Natya jadi teringat dengan situasinya saat itu. Di saat itu juga dia rela langsung ke Singapore saat mendengar kabar ayah Kayu sakit. Bedanya, kedua orangtuanya turut juga menjenguk ke sana. Kalau saat ini, hanya ada dia dan Nada yang terduduk di ruang tunggu berdua, dengan sedikit kenangan yang mengikat mereka berdua.


"Kamu kayaknya istirahat dulu aja ke hotel nggak papa deh, Nat..." Saran Nada melihat wajah Natya yang lumayan kuyu, meski tetap terlihat tampan.


"Kamu nunggu di sini sampai malam?"


"Nggak sih... Nanti gantian sama dulu. Malam baru aku dateng lagi. Biar mama yang istirahat di rumah."


"Ya udah, aku ke hotelnya barengan pas kamu ke hotel juga aja."


Nada agak kaget mendengar hal itu. Karena, itu artinya Natya akan sempat bertemu dengan mamanya. Nada mendadak menjadi grogi untuk memperkenalkan Natya ke mamanya. Harus disebut dengan status seperti apa?


Nada merutuk kebingungannya. Ya sudah jelas status dia dan Natya itu cuma teman, ngapain dia juga sok-sok bingung untuk dikenalkan dengan status seperti apa.


Nada melirik ke jam tangannya. Mamanya akan tiba masih sekitar dua jam lagi. Masih banyak cukup waktu untuk berbicara bersama Natya dan memikirkan cara mengenalkannya nanti.


Nada pun lalu menoleh ke arah Natya dan mulai mengobrol dengan lebih bersemangat.


----


Sayup-sayup Nada mendengar tawa yang sangat familiar di telinganya. Dia membuka mata dan perlahan dan melihat ibunya yang tengah tersenyum lebar sambil bereaksi atas ucapan Natya.


Nada butuh waktu beberapa menit untuk memproses semuanya sebelum akhirnya dia hampir melompat kaget.


"Mama??" Nada memanggil dengan suara serak baru bangun tidurnya.


Mamanya serta Natya sontak menoleh ke arahnya.


Mamanya memberikan senyum penuh arti ke dirinya. "Pulas banget tadi kamu tidurnya. Tadi mama dilarang Natya buat bangunin."


Nada spontan menganga kaget. Ini kenapa mamanya jadi ramah banget? Trus, udah berapa lama sebenernya dia tidur??


"Iya, Nad. Soalnya nggak enak juga kayaknya kamu kecapekan. Sampe bisa ketiduran di tengah cerita." Natya tidak bisa menyembunyikan rasa gelinya, yang juga sebenarnya gemas, kepada Nada.


Nada mengusap-usap wajahnya. Memastikan setidaknya tidak ada hal aneh di wajahnya.


"Aman, nak. Masih cantik kok."


Nada tersedak mendengar ucapan mamanya. Jarang sekali mamanya mengatakan hal tersebut. Apalagi di depan cowok kayak Natya. Dan Nada sendiri malah jadi sungkan mendengar itu. Coba mamanya ini tau si Natya ini gebetannya atau mantan pacarnya adalah artis. Artis! Nada hanya seonggok kentang kalau dibandingkan dengan Catherine.


"Aku cuci muka dulu deh." Nada melipir sekaligus kabur sebentar agar dia bisa lebih mempersiapkan diri menghadapi mamanya yang sekarang terlihat akrab dengan Natya.


Begitu Nada balik lagi ke ruang tunggu, Natya sudah tidak ada di ruang tunggu tersebut.


"Lama banget sih kamu, Kak. Tapi, keluarnya juga nggak ada perubahan. Kirain lama karena dandan."


"Mama nggak konsisten ah. Tadi muka bengep aku baru bangun tidur dibilang cantik."


Mamanya Nada tertawa mendengar jawaban anak gadisnya itu. "Tadi kan buat menaikkan nilai jual kamu."


"Apaan sih, Maaaaa... " rengek Nada. Dia lalu celingukan mencari sosok Natya.


"Dia tadi ada yang nelepon, jadinya ngurusin itu dulu." Mendengar jawaban mamanya, Nada hanya bisa mengulum senyum. "Trus, pacar atau bukan nih?"


Nada tersedak untuk kedua kalinya. Dia tidak berharap mamanya akan sefrontal ini.


"Temen, Ma." Nada memberikan klarifikasi sebelum mamanya terlalu jauh menebak.


"Iya. Ngerti."


Mata Nada menyipit curiga karena ekspresi mamanya sama sekali tidak menampakkan tanda-tanda memahami arti 'teman' yang Nada sebutkan.


"Kamu pulang aja abis ini sama Natya. Mama aja yang jaga Papa. Sampe malam juga. Kamu hari ini istrahat total aja. Sama temenin aja Natya makan malam hari ini."


Nada rasanya ingin kayang aja mendengar permintaan mamanya ini.


"Nauva sama Mama aja yang jaga Papa hari ini," Sambung mamanya sebelum Nada menyahut dengan penolakan.


Nada baru mau membuka mulut untuk protes ketika Natya kembali muncul di hadapan mereka. Wajahnya terlihat semakin suram. Entah karena kecapekan atau juga karena obrolan nya di telepon tadi sangat menguras energi.


"Sori, Tan, lama..." Natya meminta maaf dengan lama.


"Iya, nggak apa-apa, kok... Oh iya, kamu istirahat aja habis ini. Belum sempat istirahat kan dari sampai di Yogya? Barengan aja sama Nada sekalian." Mama Nada menepuk lembut pundak Nada yang memancing Nada untuk sedikit mendengus. Drama banget sih mamanya kali ini....


Natya melirik ke arah Nada untuk melihat reaksi gadis tersebut. Yang dilirik malah seperti terlihat setengah kesal setengah bengong. Kalau tidak ada mamanya di sini, sudah pasti Natya mengacak-acak rambut gadis tersebut.


"Ya udah deh, aku pulang dulu ya, Ma..." Nada akhirnya menurut saja dengan saran ibunya tersebut. Dia juga sudah tidak ada energi untuk menimbang-nimbang. Disuruh A ya kerjakan saja A tersebut dengan patuh.


Nada berdiri dan mengambil ranselnya, begitu juga dengan Natya.


"Pamit dulu ya, Tan."


Mama Nada mengangguk lalu memeluk Natya dengan penuh kasih. Nada sendiri langsung merasa sangat canggung melihat hal tersebut di hadapannya. Dia benar-benar tidak tahu reaksi apa yang pantas ia berikan.


Dalam perjalanan menuju pintu keluar, akhirnya Nada jadi diam saja. Berdampingan dengan Natya saat ini di lorong Rumah Sakit terasa seperti tidak nyata. Kehadiran Natya yang sangat mendadak di kehidupan Nada yang bahkan hingga ke masalah personalnya ini terasa sangat aneh. Aneh yang tidak buruk, namun juga tidak bermakna baik.


"Yuk, Nad."


Natya mengarahkan Nada ke parkiran. Nada langsung diam.


"Sewa mobil lagi, Nat?"


Natya hanya menggaruk-garuk kepala kikuk.


"Anti kendaraan umum?" Canda Nada.


"Anti ribet aja, Nad. Apalagi pas ke sini nggak tau juga reaksi kamu bakal kayak gimana. Atau kondisi kamu lagi gimana." Natya diam sejenak. "Tapi, bersyukur sih kamunya baik-baik aja."


Seorang Bianca Karina Nada pun jadi kehabisan kata-kata.


--------


"Lo ya yang kasih posisi gue ke Natya," todong Nada langsung saat Frinta mengangkat teleponnya.


"Halo yang lagi dikunjungi. Ciyee... " Goda Frinta yang disambut dengan decakan Nada. "Bibit unggul nih si Natya. Gue kasih alamat lo ke dia soalnya dapet laporan dari Dhito kalau Natya jadi bengong-bengong nggak jelas karena khawatir."


Lagi-lagi Nada merasakan desiran aneh di hatinya. Dia tidak tahu harus senang mendengar Natya khawatir mengenai dirinya atau tidak. Nada merasa sadar diri dan tidak mau berharap banyak. Meski Natya yang jauh-jauh terbang ke Yogyakarta hanya untuk menemui dirinya tidak disangkal membuat Nada terharu.


"Gue jadi bingung, Ta..."


"Kayaknya yang ini sinyalnya jauh lebih bagus daripada si ****** yang dulu."


"Gue nggak mau berpikir apa-apa dulu deh."


"Terserah sih. Gue cuma mau nekenin aja kalau elo DISUSUL ke Jogja. Nah, kalau lo nggak mau pikirin ya juga nggak apa-apa. Toh kan fokus lo saat ini ke bokap tuh. Tapi yaa... disyukuri aja ada cowok ganteng yang siap nemenin terus. Doi ngambil cutinya seminggu tuh kata si Dhito."


"Seriusan???" Nada terbelalak kaget.


"Iya. Khusus buat nemenin Nada. Duh, romantis banget ya. Ganteng, tajir, baik hati, ga nyata banget si Natya ini."


Nada terdiam. Dia pun dulu bertemu dengan orang yang seperti itu. Adrian pun dulu ia labeli sebagai pria terbaik sedunia sampai akhirnya juga tetap berakhir menjadi paling kejam sedunia.


Love can be ugly.


"Udah, Nad... Nggak usah terlalu didalami dulu. Bawa santai aja. Si Natya yang jelas tulus nyusul ke sana. Kalau dia tiba-tiba confess di Jogja sih bakal tebar confetti deh gue."


"Duh, nggak usah ngasih ide yang aneh-aneh deh lo."


Frinta hanya tertawa puas.


"Mba Nadaaaaaaaa, ada yang nyariiinnnnnn." Nira berteriak kencang yang bahkan bisa didengar Frinta.


"Pangeran udah datang ye? Enjoy yaaa."


"Makan malam doang kok..."


"Iya pahaaammmm. " Frinta jadi ikut-ikutan Nira.


Nada mematikan sambungan teleponnya dan menarik napas panjang. Semoga malam ini tidak menambah beban pikirannya.