Never Not

Never Not
Ch. 63 : Memastikan Perasaan



Shohei masih duduk mematung saat Kei baru saja pergi. Merenungi apa yang baru saja dikatakan Kei, ia pun sadar jika hubungan antara dirinya dan Seina belum memiliki kemajuan apa pun meski mereka akan segera bertunangan. Masih banyak yang belum ia ketahui dari wanitanya itu, begitu pula sebaliknya.


Shohei kembali mengecek ponselnya dengan wajah yang kurang bersemangat. Secara bersamaan, tiba-tiba di layar tertulis nama Seina sebagai pemanggil. Ia lantas segera menjawab telepon.


"Moshi-moshi, Seina-chan, apa kau baik-baik saja?" tanya Shohei cepat.


"Shohei-kun, maaf aku baru menghubungimu." Suara lemah Seina mengalun di telinga pria itu.


"Tidak apa-apa," jawab Shohei yang langsung berdiri dari tempat duduknya karena terlalu senang. Dia sampai tak tahu harus berkata apa. Yang pasti sedikit ada kelegaan di hatinya mendengar suara Seina.


"Shohei-kun, yang semalam ...."


"Mohon maafkan aku! Aku akan menggantinya besok," potong Shohei, "kencan kita yang gagal. Aku akan menggantinya besok. Ke mana pun Seina inginkan, aku siap menemanimu," ucapnya beruntun.


Suara Shohei yang begitu berkobar-kobar membuat Seina dilema. Ia benar-benar tidak tega mematahkan hati pria yang terpaut sepuluh tahun lebih tua darinya itu.


Seina tersenyum kecil. "Besok sore, aku ingin menonton pertunjukan teater sahabatku."


"Akan kutemani jika kau berkenan!"


"Arigatou. Kalau tidak keberatan, apa kau bisa jemput aku di kampus?"


"Tentu saja! Aku juga akan mengajak sahabatku."


"Eh?"


"Ya, semalam seharusnya aku memperkenalkan dia padamu sesuai janjiku. Tapi sebagai gantinya, besok aku akan mengajaknya menonton bersama kita."


"Tapi, aku hanya membeli dua tiket," ucap Seina dengan suara yang kecil.


"Oh, begitu, ya?" Shohei tampak berpikir.


"Tapi tidak masalah. Kita bisa membeli satu tiket lagi di sana," sambung Seina kembali.


"Kalau begitu, aku menantikan besok sore," ucap Shohei di penghujung komunikasinya sambil mengepalkan tangan karena kegirangan.


Selesai menelepon Shohei, Seina meletakkan kembali ponselnya di atas meja nakas.


Akan kucoba sekali lagi. Ya, lagi dan lagi, aku mencoba mempertahankan hubunganku dengan Shohei. Meski memilih tetap bertahan, aku juga tak akan melepaskan perasaan ini.


Jika diingat kembali, ia bertemu Shohei dan juga Black Shadow di hari yang sama, meskipun dengan cara yang berbeda. Seina membuka laci nakas, lalu mengambil kotak keramik indah berisi kumpulan kelopak bunga camelia yang ditinggalkan Black Shadow setiap bertemu dengannya. Ia merangkai kelopak tersebut lidi dupa hingga membentuk setangkai bunga camelia. Jika Black Shadow tak meninggalkan kelopak Camelia ini, mungkin ia akan selalu berpikir pertemuannya dengan lelaki misterius itu hanyalah khayalan.


Hei, pria perusak jantung, aku menunggu pertemuan kita selanjutnya. Jika aku masih bertemu denganmu di tempat itu, itu artinya kita benar-benar dihubungkan oleh takdir. Dan aku akan memastikan apakah perasaanku padamu masih sama seperti sekarang ....



Shohei telah kembali ke apartemennya. Matanya tertuju pada meja makan, di mana telah tersaji deretan menu makan malam yang ditutup rapi dengan plastik wrap makanan. Ia membaca secarik kertas kecil yang terletak di samping piring.


"Selamat makan. Semoga hari ini menyenangkan untukmu."


Shohei tersenyum tipis dengan pesan yang ditinggalkan Yuriko. Selama menjelang misi kemarin, mereka tak sempat bertemu. Sebab, ia selalu berangkat kerja lebih awal dan kembali ke rumah di malam hari ketika gadis itu telah pulang. Ia pun menarik kursi, segera duduk dan mulai mencicipi masakan Yuriko yang masih hangat.


"Umay! Dia sudah mulai pandai memasak," gumam Shohei sembari mencicipi satu per satu menu makan malam di atas meja. Sepertinya kali ini masakan Yuriko benar-benar pas di lidah. Padahal, baru kemarin dia menyantap hidangan sup miso yang rasanya sangat hambar. Ia mengambil ponselnya, lalu mengetik sebuah pesan yang dikirimkan pada Yuriko.


^^^Yamazaki Shohei-san^^^


^^^Arigatou atas makan malamnya. Masakanmu malam ini sungguh lezat. Aku sangat suka.^^^


Yuriko ternyata sedang menyantap mie ramen bersama Rai di kedai favorit mereka. Ia tersentak ketika menerima pesan line yang dikirimkan Shohei. Matanya melotot diikuti seruan heboh membaca pesan singkat dari pria berprofesi polisi itu.


"Dia mengirim chat padaku! Ini chat pertamanya sejak kami bertukar kontak line! Dia memuji hasil masakanku," pekik Yuriko menepuk-nepuk punggung Rai penuh kegirangan sambil menunjukkan pesan Shohei pada Rai.


"Hah? Hasil masakanmu? Itu hasil masakanku! Kau hanya membantuku memotong-motong bahan," ketus Rai sambil mengingat beberapa jam lalu, Yuriko meneleponnya dan meminta tolong untuk membantunya memasak di apartemen Shohei.


"Ya, ya, ya. Berkatmu aku tertolong, entah kenapa semua masakan yang kumasak hari ini gagal total. Untuk itu sebagai ucapan terima kasihku aku mentraktir kau makan mie ramen di sini, kan?" balas Yuriko menyengir.


"Maaf saja ... yang aku tolong bukan kau, tapi Shohei agar dia tidak keracunan memakan masakan gagal buatanmu. Lagi pula, sejak kapan kau berhasil memasak satu menu saja" sindir Rai memasang wajah masam.


"Hei, hei, suara hatimu terdengar jelas di telingaku. Itu sangat kejam!" Yuriko menyikut lengan Rai hingga membuatnya tersedak.


Rai meneguk air, lalu berkata, "Hei, carilah pekerjaan baru! Kau tahu sendiri, kan, Shohei memperkerjakan kau hanya untuk sementara."


"Tentang itu aku belum terpikir sama sekali. Lagi pula niat awal aku kerja di sana supaya bisa lebih dekat dengan pak polisi. Ternyata aku jarang bertemu dengannya juga karena pak polisi sungguh sibuk. Tapi, bisa mengetahui banyak hal tentangnya seperti makanan kesukaannya, tontonan favoritnya, dan sisi lain dari dirinya sudah membuatku senang. Kadang-kadang dia suka terlihat salah tingkah dan pemalu," balas Yuriko penuh semangat sambil menyeruput mie.


Rai bergeming. Bukan tanpa sebab ia memberi saran pada Yuriko tentang pekerjaan. Shohei tentu tak lama lagi akan mengajak kekasihnya tinggal di hunian kondominium itu sehingga tak membutuhkan seorang pekerja Rumah Tangga lagi. Lebih dari itu, hingga kini Yuriko juga tak mengetahui jika sebenarnya Shohei telah memiliki calon tunangan.



Hari berganti begitu cepat sehingga waktu yang kembali direncanakan oleh Shohei dan Seina telah tiba. Ketika warna langit tampak kemerah-merahan, Rai yang baru saja turun dari apartemennya bergegas masuk ke dalam mobil dan duduk tepat di samping Shohei.


"Kau mau mengajakku ke mana?" tanyanya sambil memasang sabuk pengaman.


"Menonton teater."


"Hah?" Mulut Rai ternganga bersamaan dengan matanya yang melotot kaget. "Menonton teater adalah aktivitas yang sangat membosankan. Aku lebih memilih menonton film dewasa di rumah dibanding kau suruh temani menonton teater," keluhnya dengan wajah yang masam.


"Aku juga hanya menemani pacarku."


"Lalu kenapa kau mengajakku?"


"Tentu saja aku ingin kenalkan dia padamu."


Rai makin terkesiap. "Apa kehadiranku tidak akan mengganggu kencan kalian?" tanyanya sungkan.


Rai mengembuskan napas kasar. "Ya, sudah. Aku juga ingin tahu seleramu seperti apa. Apakah selera kita sama atau jangan bilang lebih buruk dari yang kubayangkan!"


"Mau dia buruk atau tidak di matamu, dia tetap terbaik di mataku," tandas Shohei sembari terus menyetir.


"Ya, ya, ya. Kau sudah mulai puitis!" Rai mengangguk-angguk sambil menyengir.


Baru saja berbelok menuju kampus Seina, tiba-tiba ponsel Shohei berdering. Pria itu segera menjawab panggilan yang masuk.


"Sekarang ini juga?" tanya Shohei pada seseorang yang meneleponnya. Ia menatap arloji lalu menutup mata dalam-dalam, "apa tidak bisa ditunda besok?" tanyanya yang masih berbicara di telepon.


"Ada apa?" tanya Rai selepas Shohei menjawab panggilan masuk.


"Aku harus segera ke departemen kepolisian Nasional. Mereka memanggilku untuk ikut rapat dadakan sekarang. Bagaimana ini, aku sudah janji padanya untuk menemaninya menonton. Dia pasti akan kecewa lagi. Apalagi dia sudah membeli tiket untukku." Shohei tampak kebingungan. Ia menoleh ke arah Rai yang terdiam, secara tiba-tiba otak Shohei membersit sesuatu. "Rai, tolong bantu aku! Aku akan ke Departemen Kepolisian Nasional sekarang, jadi tolong kau jemput kekasihku di kampusnya."


"Apa?!" Rai tercungap seketika.


"Onegaishimasu. Dia pasti sudah menungguku sekarang." Shohei mencakupkan kedua tangannya di depan Rai seraya memohon dengan tatapan penuh harap.(onegaishimasu: aku mohon)


"Bagaimana aku bisa melakukannya? Melihat pacarmu saja aku tidak pernah. Namanya pun aku tidak tahu."


"Namanya Matsumoto Seina. Dia mahasiswa akhir universitas Keio fakultas Hukum."


"Berarti dia sekampus dengan Yuriko," ucap Rai terkejut.


Kini giliran Shohei yang terkejut. "Yuriko juga kuliah di Keio? Aku baru tahu."


"Lalu mana fotonya? Perlihatkan padaku!" pinta Rai yang terpaksa mau memenuhi permintaan Shohei.


Shohei mengambil ponselnya, tetapi tiba-tiba ia teringat tak memiliki satu pun foto kekasihnya. "Aku tidak punya fotonya."


"Hah? Kau tidak punya koleksi foto pacarmu?"


Shohei menggeleng.


"Tidak pernah foto bersamanjuga?"


Shohei kembali menggeleng.


Rai mendengus seraya berdecak lidah. "Ya, sudah. Kalau begitu beritahu aku ciri-cirinya."


"Tingginya sekitar 155 cm. Rambutnya hitam panjang. Matanya bulat. Kulitnya putih bersih dan pastinya dia kawaii. Oh, iya, aku akan meneleponnya setelah turun dari sini," ucap Shohei yang kini memutar arah menuju gedung departemen kepolisian Nasional.


Mereka telah tiba di gedung kepolisan nasional. Shohei membuka sabuk pengaman, kemudian keluar dari mobilnya.


"Huft, aku kembali melanggar janjiku. Semoga dia bisa memaklumi tugasku. Tolong jaga dia! Aku akan segera menyusul kalian setelah urusanku selesai," pintanya sebelum masuk ke gedung tersebut.


"Oke ... oke!" Rai kini berpindah posisi duduknya ke kursi pengemudi dan mengambil alih kendaraan untuk segera melaju ke universitas Keio.



Di universitas Keio, Seina dan teman-temannya baru saja keluar dari fakultas hukum. Teman-temannya mengajak dia untuk menonton teater yang dibintangi salah satu kawan mereka.


"Maaf, tapi aku akan pergi bersama pacarku," tolak Seina pada teman-temannya.


"Woah ... jadi kau akan kencan dengannya! Ya, sudah semoga kita bertemu di sana nanti!" seru mereka yang langsung menaiki mobil dan pergi lebih dulu meninggalkan Seina.


Seina mengambil cermin kecil di dalam tasnya untuk mengecek penampilannya sebelum Shohei datang menjemput. Di waktu yang sama, ponselnya berdering dan ternyata itu panggilan dari shohei.


"Seina-chan, gomennasai, aku ada panggilan mendadak dari kepolisian nasional."


Mendengar hal itu, sontak membuat wajah Seina terlihat kelam seketika.


"Oh." Kata itu ia denguskan pelan diiringi raut kecewa.


"Tapi aku telah meminta sahabatku menjemputmu. Dia mungkin sedang dalam perjalanan. Pergilah dengannya ke tempat teater! Aku akan segera menyusul kalian," sambung Shohei cepat.


Pada detik yang sama, sebuah mobil berhenti tak jauh dari Seina berpijak. Lantas, ia langsung mengenali mobil tersebut adalah milik kekasihnya.


"Apakah sahabatmu itu memakai mobilmu?" tanya Seina memerhatikan mobil sedan hitam itu.


"Ah, iya. Benar! Apakah dia sudah di sana?" tanya Shohei.


Seina tak menjawab. Matanya malah terpaku pada sosok yang baru saja keluar dari mobil itu. Benar, pria putih berbadan tinggi tegap, memakai mantel panjang hitam dengan syal yang melilit di lehernya itu adalah Rai. Kepalanya tampak menoleh ke sekeliling orang yang berlalu lalang depan fakultas hukum.


"Huft, bagaimana bisa aku menemukannya kalau ada banyak gadis di sini," keluh Rai yang kebingungan sambil menggaruk-garuk kepalanya.


Beberapa mahasiswi yang lewat tampak terperangah melihat sosok tampan yang berdiri di samping mobil sedan. Seina yang juga memerhatikan gerak-gerik pria itu, lantas memberanikan diri berjalan mendekatinya.


"Summimasen, apa kau temannya Yamazaki Shohei?"


Suara lembut seorang gadis yang datang dari arah belakang membuat Rai berbalik cepat.



.


.


.


jempolnya jangan lupa 👍🏻