Never Not

Never Not
Ch. 90 : Arti Keadilan



Saat ini, Rai dan Shohei tengah berada di tempat latihan. Mereka melakukan adu fisik seperti biasa, untuk mengasah kemampuan bela diri dan pertahanan Rai. Ia berlatih tinju di samsak, memanjat dengan bantuan tali, dan serangkaian latihan otot.


Shohei mengajari berbagai macam teknik melawan orang yang menggunakan pisau dan juga senjata. Ini karena mereka belum bisa mendeteksi target kesepuluh yang akan Black Shadow hadapi.


Berganti pakaian judoki, kedua pria tampan berbeda kepribadian itu bertanding di lantai yang beralaskan tatami.


"Keluarkan seluruh kemampuanmu! Anggaplah aku adalah musuh yang ingin kau singkirkan!" perintah Shohei sambil menjegal serangan Rai. Kedua kakinya bergeser ke belakang sedikit demi sedikit saat saling adu pertahanan.


Rai menggertakkan giginya. Wajahnya memerah, urat-urat di sekitar leher bermunculan dan peluh mengucur deras dari dahinya. Ia mencoba membuat Shohei terus bergerak maju ke arahnya. Di waktu yang sama, ia meluncurkan kakinya ke sisi kanan kemudian meliukkan pinggul dan menyelipkan tangannya di ketiak kiri Shohei. Menjepitkan pinggul searah jarum jam, ia pun menggunakan kekuatan otot lengannya untuk mengangkat Shohei dan membanting tubuhnya ke lantai.


"Yosh!" Rai mendengus mengangkat sebelah tangannya yang mengepal. Ini pertama kalinya ia bisa mengalahkan Shohei.


"Bagus! Bagus sekali! Kau mengalami kemajuan yang pesat!" puji Shohei yang sedang dalam posisi jatuh terbaring di lantai tatami.


Rai menjatuhkan tubuhnya, turut berbaring di sisi kanan Shohei. "Hah ... aku benar-benar tak sabar berhadapan dengan target terakhir kita. Kira-kira dia siapa, ya?"


"Ini mungkin tidak akan mudah, sosok itu sama sekali belum teraba oleh kita. Untuk itu, kau harus berlatih bela diri setiap hari," ucap Shohei bernada khawatir.


"Bagaimana dengan calon mertuamu?"


"Penyadap yang kuletakkan di ruang kerja rumahnya sama sekali tak berfungsi. Tak ada info apa pun yang bisa kuserap. Aku sangat yakin, Matsumoto-san mengetahui sosok kesepuluh itu. Mungkin dia berusaha menutupi dan melindunginya, atau mungkin justru bersekongkol dengannya."


"Jika itu terjadi, kau pasti berada pada pilihan yang berat." Rai berdiri cepat, lalu mengulurkan tangan ke arah Shohei.


Shohei menerima uluran tangan itu, kemudian ikut bangkit. "Omong-omong, Seina sangat menyukai Black Shadow."


Kalimat yang baru saja terlontar dari mulut Shohei, sontak membuat Rai terentak.


"Dari mana kau mengetahuinya?" tanyanya sedikit gugup.


"Dia mengatakan padaku," jawab Shohei seraya berbalik membelakangi Rai untuk mengambil air mineral.


Mata Rai makin membulat. "Dia mengatakan itu padamu?" tanyanya dengan wajah yang tegang.


"Ya, kemarin saat aku menyusulnya di tembo galeri. Aku juga terkejut saat dia tiba-tiba bilang seperti itu. Tapi, ini membuatku lega, setidaknya dia juga memiliki rasa keadilan dalam dirinya. Mereka yang mengagumi karakter Black Shadow, pasti orang-orang yang merindukan keadilan sosial."


"Sokka (begitu, ya)," desah Rai hambar. Dia hanya berharap, semoga Seina menyukai Black Shadow hanya sebatas yang diperkiraan Shohei.


"Rai, arigatou. Kau sudah memerankan tokoh Black Shadow sesuai keinginanku. Belakangan ini, orang-orang mulai berani mengampanyekan isu keadilan sosial di media sosial. Mereka terinspirasi dari Black Shadow.”


Rai tertegun seketika. "Nanti saja ... kata terima kasih seharusnya diletakkan di akhir. Sementara ini belum berakhir, kan?"


"Semoga berakhir dengan kemenangan yang kita genggam," ucap Shohei menyodorkan salam tinju dan langsung dibalas Rai dengan menangkap kepalan tangan pria itu.



Saat malam tiba, Shohei mempersiapkan dirinya dengan sempurna. Memakai setelan tuksedo rapi dengan sebuah buket bunga camelia yang dipegangnya, Shohei pun mendatangi restoran Italia yang telah direservasi tuan Matsumoto. Begitu tiba di sana, ia terkesiap karena hanya ada tuan Matsumoto di sana. Padahal, tadinya ia berpikir Seina akan turut ikut seperti biasa.


Shohei menghampiri tuan Matsumoto, menyapanya penuh hormat lalu duduk berhadapan.


Seorang pelayan laki-laki datang menghampiri meja mereka, menawarkan menu spesial yang disediakan restoran malam ini.


"Untuk supnya aku mau minestrone, dan untuk hidangan utama aku mau gorgonzolla Risotto," pinta tuan Matsumoto pada pelayan.


"Aku beef tagliata. Hidangan pembuka dan penutup, aku mengikuti yang kalian rekomendasikan," pilih Shohei.


"Baik." Pelayan menarik diri dari meja mereka.


Tuan Matsumoto menuangkan anggur merah di gelas Shohei. "Kapan rencana kepindahanmu ke Kepolisian Nasional?"


"Mungkin dua bulan lagi. Ada beberapa kasus besar yang berada dalam pengawasanku. Setidaknya, menunggu kasus itu benar-benar terselesaikan."


"Yamazaki-san, ikutilah jejak karir ayahmu! Capailah jabatan tertinggi di kepolisian dengan jalan yang benar dan pensiun dengan cara terhormat!"


"Arigatou. Akan kuingat selalu," ucap Shohei membungkuk sopan.


Tuan Matsumoto kini menuangkan anggur gelasnya sendiri. "Aku dan ayahmu sudah berteman sejak SMA. Kami meniti karir bersama untuk mengabdi pada negara dan rakyat.


"Apa aku boleh bertanya sesuatu?" tanya Shohei seketika.


"Boleh saja!"


"Apakah isu yang beredar itu benar? Anda melindungi sembilan pejabat yang disergap Black Shadow?"


Tuan Matsumoto tampak terkejut dengan pertanyaan Shohei. Ia terdiam selama beberapa detik. "Kau memercayainya?" tanyanya balik dengan kening yang berkerut.


"Saya memercayai jawaban jujur Anda."


"Kalau begitu, kenapa kau tidak selidiki?"


"Eh?" Kini giliran Shohei yang terkejut mendengar jawaban tuan Matsumoto.


"Apa aku boleh bertanya lagi?"


"Hmm ...." Tuan Matsumoto mengangguk-angguk sambil mengunyah dengan pelan.


"Apa arti keadilan bagi Anda?"


Tuan Matsumoto terdiam sebentar, lalu berkata, "Keadilan memiliki arti dalam versi berbeda sesuai dengan jabatan kita saat ini. Keadilan akan berubah maknanya ketika kau memiliki jabatan. Itu yang kuketahui."


Shohei tertegun. Dia sedikit membenarkan jawaban Tuan Matsumoto. Sebagai seorang penyidik kepolisian, ia sering memperjuangkan keadilan. Namun, berkali-kali gagal karena atasannya tidak mendukung dan malah memintanya untuk berhenti.


"Kadang-kadang aku bingung. Sebagai seorang aparatur negara, kepada siapakah kita mengabdi? Apakah pada rakyat? Atau malah pada atasan?" ucap Shohei dengan pandangan yang kosong.


Tuan Matsumoto tertawa kecil. "Aku juga pernah punya pemikiran seperti itu. Aku menyesal karena pernah berambisi menduduki jabatan ini. Aku banyak belajar dari ayahmu, dan ingin mengikuti jejaknya dengan segera pensiun dari dunia perpolitikan. Menjadi negarawan sejati yang hanya sekadar memantau perkembangan negara."


"Anda salah! Ayahku justru menyesal dengan pilihannya dulu. Dia selalu mengatakan, tak selamanya memiliki ambisi akan sebuah jabatan itu salah. Jika aku tidak ingin meraih jabatan tertinggi, maka jabatan itu akan diisi oleh orang-orang yang tidak seharusnya berada di sana dan akan digunakan demi kepentingan pribadi."


Pada saat ini, sudut bibir tuan Matsumoto tampak berkedut. Matanya menatap Shohei dengan sorotan dalam.


"Oleh karena itu, aku akan meneruskan harapan ayahku untuk negara ini. Aku akan meraih kekuasaan tertinggi di kepolisian untuk bisa mengubah keadilan sesuai versiku," sambung Shohei penuh keyakinan.


Tuan Matsumoto kembali mengangguk-angguk, sembari memamerkan senyum elegan.


"Yamazaki-san, kupikir kau tak perlu bertunangan dengan Seina!"


Shohei terkesiap seketika dengan bola mata yang membesar.


"Segeralah menikahinya! Aku sudah membicarakan ini pada ayahmu. Dia bilang, dia menyerahkan sepenuhnya pada kalian. Aku ingin mendengar pendapatmu."


"Ba–bagaimana dengan Seina sendiri?" Nada bicara Shohei mendadak gagap.


"Dia selalu menuruti apa yang kuperintah. Aku hanya butuh jawabanmu."


"Kenapa Anda ingin kami segera menikah?"


"Seina adalah anak semata wayangku. Aku hanya bisa memercayakan dia pada pria sepertimu. Tolong biarkan dia di sisimu dan bahagiakan dia!" Mata cerah pria itu mendadak meredup.


Shohei menurunkan pandangannya. Ia kaget, bingung sekaligus gugup. Rasa senang pun turut menerpanya.


"Aku telah memilih tanggal pernikahan kalian. Tanggal 2 April 2022 sangat cocok untuk melangsungkan upacara pernikahan karena bunga sakura mekar penuh di tanggal tersebut. Tolong ingat tanggal pernikahanmu!" ucap tuan Matsumoto.


Di sisi lain, Rai baru saja pulang ke apartemennya. Saat melewati kamar Yuriko yang terbuka lebar, ia melihat gadis itu tengah mengepak barang-barangnya. Ia pun segera masuk.


"Kau mau ke mana?" tanya Rai sambil melihat sekeliling ruangan.


"Aku ... harus mengosongkan kamar ini besok," ucap Yuriko tertunduk sambil memasukkan barang-barangnya di koper.


"Apa yang terjadi? Kenapa mendadak seperti ini?"


"Pemilik apartemen ini datang dan memberitahu batas sewa kamar ini hanya sampai hari ini. Ternyata kakak sepupuku membohongiku. Dia bilang, sisa sewanya masih satu tahunan, padahal hanya tiga bulanan. Menjengkelkan, ya," ucap Yuriko tak berdaya.


"Ya, sudah. Perpanjang saja kontraknya."


"Aku tidak punya uang sebanyak itu. Harga sewa apartemen ini ternyata sangat mahal. Gaji bulananku dari Shohei-san sudah kupakai membayar uang kuliah," ucapnya sambil menipiskan bibir.


"Lalu, kau akan tinggal di mana?"


"Tinggal di mana, ya?" Yuriko menyengir bodoh. "Mungkin aku akan menumpang di apartemen temanku untuk sementara waktu." Yuriko mengangkat kopernya, lalu menatap Rai yang terdiam. "Ano ... bisakah kau bantu angkat barang-barangku ke lantai bawah?"


Rai menatapnya dengan sayu. Ia mengangguk, lalu mengangkat beberapa barang Yuriko. Mereka bersama-sama keluar dari kamar itu.


Bukannya mengikuti Yuriko, Rai justru membawa masuk barang-barang gadis itu ke kamarnya. Yuriko berbalik dan menghampiri Rai dengan cepat.


"Apa yang kau lakukan?"


"Tinggallah denganku!"


Di ruangan yang redup, seseorang duduk di hadapan beberapa komputer yang mengelilinginya. Ia menopang dagu, seraya memutar kembali tayangan aksi terakhir Black Shadow. Ia berusaha mendengar suara asli Black Shadow dengan menggunakan aplikasi ciptaannya yang berfungsi mengembalikan suara yang dibuat berefek. Dalam hitungan satu menit, suara berefek itu dipulihkan dan kembali ke suara asli.


Pria itu lantas memicingkan mata, seraya bergumam, "Suara ini ... seperti suara yang kukenal."


.


.


.


like dan komeng