Never Not

Never Not
Ch. 83 : Teka-Teki Black Shadow



"Lihat sana! Black Shadow melakukan siaran langsung!" seru orang-orang sambil menatap layar Videotron.


Ya, duduk santai di atas pohon yang gundul sambil memegang mic ala reporter, Black Shadow kini menyapa seluruh penonton dengan jargon andalannya.


"Mina-san (semuanya), Black Shadow hadir kembali untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi dalam kegelapan. Mari kita perjelas, sejelas hitam dan putih!"


Sementara, Shohei justru duduk tenang di ruang kerja sembari mengendalikan siaran langsung. Beberapa polisi yang lewat di ruangannya tampak bercakap-cakap. Mereka memperbincangkan Shohei yang lembur selama beberapa hari dan jarang keluar dari ruang kerjanya.


Tiba-tiba, polisi lainnya berteriak dan mengabarkan siaran langsung Black Shadow. Lantas para detektif terbaik itu berkumpul untuk menonton siaran langsung.


"Si jagoan itu lagi, ya?" ucap Ai Otaka sambil memutar kursi kerjanya.


"Mina-san, kali ini akan ada sesuatu yang akan mengguncang kalian semua! Tapi, kalian harus melihat foto ini terlebih dulu."


Tayangan di layar pun berganti dengan sebuah foto perawat magang bersama Akabane Ayumi yang pernah ia ambil. Namun, sosok Akabane Ayumi di foto itu sengaja dibuat kabur.


"Apa kalian mengingat gadis ini?" tanya Black Shadow, "dia adalah perawat magang yang ditemukan tewas terjatuh dari lantai gedung Rumah Sakit Hiroo. Mungkin sebagian dari kalian banyak yang tidak tahu karena berita ini memang tidak begitu heboh. Tapi, berita yang tidak heboh ini berhasil membuatku tertarik untuk menyelidikinya. Dan kalian tahu apa yang kudapatkan?" Black Shadow terdiam cukup lama, kemudian berkata, "Aku menemukan foto itu sehari sebelum kematiannya. Ternyata di foto itu dia bertemu dengan salah satu politikus yang mencalonkan diri sebagai gubernur Tokyo."


Publik tercengang seketika. Mereka langsung bertanya-tanya siapa sosok calon gubernur yang dimaksud pria bertopeng itu.


Black Shadow melompat turun dari atas pohon. "Pasti kalian penasaran, kan, kenapa calon gubernur itu menemuinya? Bagaimana kalau kita main tebak-tebakan? Kira-kira ... siapakah calon gubernur tersebut? Dan apa kaitannya dengan gadis itu? Silakan jawab! Aku beri kalian waktu berpikir selama beberapa hari. Aku akan kembali mengumumkan jawabannya. Jawaban yang benar akan mendapat hadiah tepuk tangan dariku," seru Black Shadow dengan gayanya yang heboh.


Tayangan Black Shadow tentu membentuk banyak opini di masyarakat. Ada yang langsung memilih opsi calon gubernur yang mereka curigai, dan ada yang masih saling bertanya. Dalam sekejap, tagar teka-teki Black Shadow langsung menduduki trending satu nasional di Twitter. Para netizen sibuk berdebat dan saling serang demi membela calon gubernur yang mereka dukung.


"Yang disebut Black Shadow pasti bukan Akabane Ayumi! Aku yakin itu," ucap salah satu teman Seina.


"Itu sudah pasti? Mana mungkin Akabane Ayumi melakukan hal seperti itu!" bela temannya yang lain.


Seina memilih diam sambil tetap menancapkan matanya pada layar ponsel, meskipun siaran Black Shadow telah berakhir. Ia justru teringat pertemuan terakhir mereka. Saat itu, ia mengungkapkan perasaannya pada pria misterius itu. Namun sayangnya, pria itu malah pergi meninggalkannya begitu saja.


Kepolisian Metropolitan yang sempat menangani kasus itu juga ikut gempar. Pasalnya, ini artinya Black Shadow akan mengambil alih penyelidikan yang sebelumnya mereka lakukan.


"Jika kematian gadis itu ada hubungannya dengan calon gubernur Tokyo, maka ini akan memperburuk kinerja kepolisian di mata publik!" ujar inspektur Heiji sambil mengusap kasar wajahnya.


Seto Tanaka menepuk meja sambil berkata dengan nada kesal, "Ini semua karena kita diperintahkan untuk menghentikan kasus!"


"Benar! Kepala kepolisian sendiri yang mengumumkan di berita kalau gadis itu bunuh diri," sahut polisi lainnya.


Kei Ayano yang juga menyaksikan tayangan itu, mencoba memecahkan teka-teki dari Black Shadow.


Jika salah satu kandidat calon gubernur akan menjadi target Black Shadow selanjutnya, maka orang itu seharusnya berhubungan dekat dengan pejabat-pejabat yang telah disergap.


"Bawa aku data-data delapan pejabat yang telah diringkus Black Shadow," perintah Kei pada salah satu wartawan juniornya.


Tak hanya publik, wartawan, dan kepolisian, para politikus yang mencalonkan diri sebagai gubernur Tokyo langsung bereaksi dengan tayangan tersebut. Tak terkecuali Akabane Ayumi. Ia tentu tahu sosok yang bersama perawat magang itu adalah dirinya sendiri.


Shohei tersenyum tipis. Tayangan Black Shadow barusan tentu hanyalah sebuah umpan. Sebab, selama beberapa hari menyimpan alat penyadap, ia tak bisa menemukan informasi apa pun terkait kematian gadis itu.


Sekarang, Black Shadow berhasil memancing Akabane Ayumi. Mengetahui sasaran Black Shadow kali ini adalah dirinya, wanita itu pun tak tinggal diam. Ia tampak menghubungi seseorang.


"Apa kau sudah mengambil bukti-bukti yang disimpan adikmu?" tanya Akabane Ayumi saat telepon itu tersambung.


"Ya, file-nya telah kusimpan."


"Kenapa masih kau simpan? Lenyapkan file itu sekarang juga!" ucapnya dengan nada tenang walau wajahnya terlukis kepanikan.


"Baik."


Akabane Ayumi menutup telepon. Tanpa ia tahu, apa yang dibicarakannya tadi telah terdengar dan direkam langsung oleh Shohei. Meski pria itu tak bisa mendengar lawan bicara Akabane Ayumi, tetapi ia yakin itu pasti adalah Yamamoto Sasuke.


Shohei kembali mempertajam pendengarannya saat Akabane Ayumi tampak menghubungi seseorang lagi.


Di sebuah ruang kerja yang luas, seorang pejabat misterius juga baru saja selesai menonton tayangan Black Shadow. Pria itu menautkan jari-jarinya dengan gaya elegan sambil tersenyum sinis seolah sedang menyayangkan sosok politikus yang akan kembali ditelanjangi Black Shadow.


"Kuharap kau bisa selamatkan dirimu sendiri!" gumamnya sambil memikirkan satu nama kandidat calon gubernur yang berada dalam lingkaran pendukungnya.


Tak lama kemudian, ponselnya berdering dan terlihat nama Akabane Ayumi.


"Ckckck ... ternyata kau masih belum bisa menyelamatkan dirimu. Padahal aku sudah membantu menutupi keterlibatan dirimu di proyek besar revengers Tokyo dan meminta kepolisian menutup kasus kematian gadis itu," ucapnya sambil menatap miris layar telepon.


Pria tua misterius itu mengangkat telepon dengan santai sambil berkata, "Sebelum kau bicara, tolong jangan sebut namaku!"


"Tuan, aku butuh bantuanmu lagi!" ucap Akabane Ayumi sedikit terbata-bata.


"Akabane-san, bersikaplah santai! Jangan panik seperti ini! Ingat, kau adalah calon gubernur terkuat. Aku akan mengerahkan buzzer di media sosial untuk menuduh kandidat lain. Lagi pula, kandidat dari partai sebelah dulunya terkenal senang tidur dengan gadis muda. Kita bisa menggunakan ini sebagai tuduhan sekaligus kampanye hitam."


"Baik, terima kasih banyak telah membantuku," ucap Akabane Ayumi.


Shohei yang masih mempertajam pendengarannya, terkejut ketika Akabane Ayumi langsung mengakhiri telepon.


Siapa yang dihubungi Akabane Ayumi? Dan apa yang mereka bicarakan?


Setelah melakukan siaran langsung, Black Shadow mendatangi sebuah rumah. Ia memakai kalung yang telah dirakit bersama kamera pengintai. Kamera itu terhubung langsung ke tablet milik Shohei.


"Aku sudah berada depan rumahnya," tutur Rai pada Shohei.


"Temukan bukti."


"Baik."


Ia mulai membuka pintu rumah tersebut dengan menggunakan alat khusus. Ia membuka salah satu kamar yang terpampang beberapa foto seorang gadis.


"Sepertinya ini kamar gadis perawat itu," ucap Rai sambil mengangkat kalungnya agar Shohei dapat melihat foto di dinding.


"Temukan filenya sekarang sebelum pria itu datang," pinta Shohei sambil mengingat pembicaraan Akabane Ayumi di telepon tadi. Ia yakin, file tersebut tersimpan bukti kejahatan sekaligus alasan yang membuat gadis itu tewas.


"Tidak ada komputer atau pun laptop di sini!" ucap Rai.


"Sial! Kita terlambat! Komputernya pasti telah dihilangkan." Shohei memijat pelipisnya.


"Mungkin saja kamar ini memang tidak memiliki komputer."


"Kalau memang tak memiliki komputer, kenapa ada kabelnya di sana?"


Rai langsung menoleh ke kiri dan kanan, kemudian mendapati kabel komputer yang masih tersambung pada colokan listrik.


"Sugoi! Matamu benar-benar jeli!" Rai berdecak kagum. "Apa mungkin komputernya dipindahkan ke kamar kakaknya?" duganya.


"Coba cek!"


Baru mau melangkah, Rai mendengar deru pintu yang terbuka diiringi lsuara kaki yang melangkah ke dalam rumah.


"Gawat! Pria itu sudah pulang!"


"Cepat sembunyi!"


Rai berbalik cepat. Sialnya, ia tak sengaja menjatuhkan bingkai foto sehingga menimbulkan suara pecahan kaca yang nyaring. Tentu saja langsung terdengar oleh Yamamoto Sasuke yang baru saja tiba di rumahnya itu. Dengan segera, ia pun menghampiri kamar adiknya.


.


.


.


catatan author:


Mina-san, watashi wa Yu desu.


arigatou gozaimasu telah mengikuti novel NN sampai di part ini. Hingga di chapter 83, novel ini masih aman ya. kalian pasti sadar kalo novel ini belum ada adegan 21++ paling cuma ciuman hot doank, iya ngga? 🤣 kan ada beberapa tuh yg nanya di GC kenapa NN belom ada adegan 21++ beda sama novel2 sebelumnya.


kadang aku bikin adegan-adegan kek gitu untuk memperkuat sifat/sikap karakter, seperti di novel DF yg penuh dgn kekerasan dan s*ksualitas ya karena temanya gangster, kan. jadi gangster ya ga jauh2 dari gituan. kalo di GA kan karena ada hubungannya dengan alur cerita ke depannya, begitu juga di AR Rai banyak kali diceritakan main dengan cewek, ya biar kalian tahu kalo dia emang kang ranjang 🤣. 21 +++ antara Chiba dan Mayu juga dibuat supaya reader bisa merasakan betapa kuatnya jalinan cinta mereka berdua.


nah kalo di NN, gua mau bikin adegan 21++ masalahnya gak masuk di alur saat ini. Dari pada merusak cerita, ya mending ga ada dulu. Mungkin belum saatnya gitu karena NN ini ceritanya lebih berat. Aku rasain sendiri nulis cerita ini mesti kuulang-ulang bacanya biar ga plot hole. Dan pada dasarnya, aku bukan tipe penulis yang menjadikan 21++ dalam novel buat menarik banyak pembaca. So, untuk 21++ mungkin ada kalo udah antiklimaaks. entar kita liat aja.


Yang jelas cerita ini bentar lagi akan klimaaks, siap-siap aja ada banyak bom alur di next-next chapter. tipe alur novelku emang gini gays, pelan, lambat, tapi kliimaksnya terasa. dan gua ga pernah nambah-nambahin konflik baru untuk memperpanjang cerita.


buat pembaca yang mau dukung novel ini melalui hadiah dan vote, besok aja ya. biar masuk di hitungan bulan baru. jangan sekarang, sia-sia poinnya entar.


like+komen