Never Not

Never Not
Ch. 41 : Saling Memendam



"Kau tidak apa-apa?" Yuriko tampak khawatir setelah kepala pria itu kembali terbentur meja.


"Ti–tidak apa-apa," jawab Shohei cepat. Ia bergegas merangkak keluar dari kolong meja tersebut. Tampaknya, ia menjadi salah tingkah hingga tak tahu harus berbuat apa usai ciuman tak terduga itu terjadi.


"Shohei-san, dahimu bengkak dan memerah," ucapnya sambil menunjuk dahi Shohei yang sedikit benjol.


Bak melihat hantu, Shohei menjerit kaget saat melihat Yuriko telah berada di sampingnya. Ia langsung memalingkan badan membelakangi gadis itu. "Be–benarkah? Ka–kalau begitu akan kulihat di kamar mandi."


Shohei bergegas ke kamar mandi meninggalkan Yuriko. Begitu berdiri di depan cermin, matanya langsung terarah ke bibir. Adegan saat bibirnya dan bibir Yuriko saling menempel kembali terlintas di benaknya. Seakan ia bisa melihat kembali momen beberapa menit yang lalu itu di depan mata.


Yang tadi Itu ... tidak sengaja, kan? Bagaimana mungkin Yuriko tidak terkejut sama sekali! Aku adalah pria dan dia wanita, bibir kami saling menempel tanpa sengaja tapi dia terlihat begitu santai. Apakah mungkin berciuman seperti itu sudah dianggap hal biasa di dunia ini.


Shohei menggeleng-geleng kepala dengan cepat sambil menepuk-nepuk pipi saat batinnya sibuk berbicara. Jujur saja, meskipun telah berada di usia tiga puluh dua tahun, ia sama sekali belum pernah berciuman dengan wanita.


"Itu bukan ciuman! Itu bukan ciuman! Bibir kami cuma tidak sengaja bersentuhan!" ucapnya mengangguk-angguk berusaha menjelaskan pada dirinya sendiri.


Menatap kembali bibirnya di depan cermin, adegan itu lagi-lagi terlintas di benaknya. Kali ini malah seperti sebuah rekaman film yang di mulai saat bokong mereka bertabrakan, dahi mereka berbenturan, hidung mereka bersinggungan hingga bibir mereka bertemu.


Shohei menarik napas dalam-dalam lalu membuangnya dengan kasar. "Itu bu–bukan ciuman! Jika iya, bagaimana mungkin Yuriko-san sesantai itu? Bahkan Seina tampak canggung saat aku hendak menciumnya." Batinnya terus berbicara. Namun, sedetik kemudian matanya melebar saat teringat Seina.


"Apakah ini sebuah pengkhianatan?" gumamnya dengan wajah yang kaku. "Tidak! Tidak! Itu terjadi secara tidak sengaja. Lagi pula, baik aku maupun Yuriko tidak memiliki perasaan apa pun," tuturnya kembali menjawab pertanyaannya sendiri.


Baru saja bernapas lega, tiba-tiba Shohei teringat satu nama lagi. Rai! Ya, dia tahu betul partnernya itu tertarik pada Yuriko.


"Ba–bagaimana kalau Rai tahu tentang ini?" Memikirkan Seina dan Rai sekaligus, membuat kepalanya makin pusing berputar-putar. Wajahnya tertunduk dengan kedua tangan yang menopang di wastafel. Ia merasa telah mengkhianati kekasih dan sahabatnya itu.


Tiba-tiba, Shohei kembali menatap ke arah cermin.


"Sudah kubilang itu bukan ciuman, itu cuma kecelakaan. Bibir kami tak sengaja bertemu!"


Di sisi lain, Yuriko menyentuh bibirnya sambil mengingat bagaimana saat ia berinisiatif untuk mencium pria itu. Ia menyadari telah bersikap lancang, apalagi posisi Shohei adalah majikannya. Namun, tak seperti Shohei yang amat gugup sampai terus meyakinkan diri kalau mereka tak berciuman, Yuriko malah tampak gembira karena bisa mencium pria yang begitu dikaguminya.


"Yang tadi itu, ah ... aku ingin mengulangnya kembali!" serunya sambil terus lanjut mengepel lantai.


Terus membayangkan adegan manis itu, membuat bibirnya mengembang hingga sisi femininnya sebagai perempuan muncul. Sampai-sampai, ia tak sadar jika sedari tadi hanya mengepel lantai yang sama. Apalagi saat mengingat reaksi gugup Shohei usai mendapat ciuman darinya. Sambil menggigit ujung kuku di jari-jari tangannya, ia bermonolog dalam hati.


Kenapa reaksi Shohei-san seperti itu, ya? Apakah ini ciuman pertamanya?


Berpikir seperti itu sontak membuat semburat merah muda muncul di pipinya.


Ah, tidak mungkin! Tokyo adalah kota bebas dan dia merupakan pria matang, mana mungkin ini ciuman pertamanya. Mungkin dia hanya terkejut! Atau ... jangan-jangan dia terlalu terpesona padaku, hihi ....


Yuriko malah semakin bersemangat mengepel lantai keramik tersebut tanpa bergeser maupun berpindah tempat.


Satu jam kemudian, Shohei membuka pintu kamar mandi dengan pelan, mengeluarkan kepalanya untuk mengintip ke sekitar. Sunyi. Apakah Yuriko telah pulang? Batinnya bertanya. Ia pun keluar dari kamar mandi dengan langkah yang mengendap-endap seperti seorang pencuri.


"Shohei-san!"


Badan pria itu tegap seketika, saat Yuriko memanggilnya dari arah samping.


"I–iya!" Shohei spontan memalingkan tubuhnya ke arah Yuriko.


"Aku sudah mengepel seluruh lantai. Apa tidak ada masalah dengan kepalamu? Aku khawatir karena kau berada di kamar mandi selama satu jam."


"Tidak! Tidak! Tidak ada yang terjadi padaku!" sahut Shohei cepat, "aku hanya sedang membersihkan wastafel. Itu ... sedikit berkerak," dalihnya.


"Benarkah? Kenapa tidak menyuruhku saja?" Yuriko langsung membuka pintu kamar mandi untuk melihatnya, "tapi ... bukankah tidak ada sikat atau alat pembersih lainnya di sini?" tanya Yuriko heran.


"A ...." Shohei tampak kelabakan dengan alasan asal-asalan yang baru saja ia lontarkan. Ia melihat tangannya sendiri lalu berkata kembali, "aku ... aku memakai kukuku!" Ia menunjukkan telunjuk tangannya.


Mata Yuriko membesar seketika. Ia langsung menangkap tangan Shohei. "Sugoi! Ternyata kau sangat mandiri dan pekerja keras!"


Shohei hanya dapat menahan napas dengan mata bulat yang tertuju pada tangan mereka.


Yuriko bergegas melepas tangan Shohei. "Gomennasai, aku sangat tidak sopan!"


Tak terasa, petang pun datang. Yuriko keluar dari apartemen Shohei setelah selesai melaksanakan tugasnya. Tepat saat ia keluar dari gedung, pandangannya terarah pada Rai yang tengah bersandar di jendela kaca gedung dengan memakai jaket kulit tebal lengkap dengan Hoodie yang terpasang di kepala.


"Sudah selesai?" tanya pria itu sambil bersedekap.


"Kenapa kau ada di sini?" Yuriko malah balik bertanya dengan sikap ketus seperti biasa.


"Em ..." Mengerucutkan bibirnya seraya memikirkan alasan, Rai pun menjawab. "Shohei memintaku menjemputmu. Sedikit merepotkan, yah!" ujarnya sambil membuang kasar.


Mendengar hal itu, sontak saja membuat Yuriko makin tersanjung. Ia sudah dibuat melayang dengan berhasil mencium pria itu, apakah kemungkinan ia juga berhasil mencuri hati pria itu?


"Ah, Shohei-san benar-benar pria yang sangat baik. Bahkan dia menyuruhmu menjemputku karena pasti khawatir aku akan tersesat lagi!" puji Yuriko sambil meletakkan tangannya yang saling bertautan ke sisi pipinya.


Rai hanya bisa mencetak wajah masam melihat reaksi berlebihan Yuriko. Nyatanya, Shohei tak memintanya untuk menjemput gadis itu. Malahan, ia sudah berada di situ selama hampir dua jam hanya untuk menunggu Yuriko selesai bekerja dan mengajaknya pulang bersama.


Yuriko melenggang lebih dulu dengan langkah riang. Samar-samar terdengar suaranya yang tampak mendendangkan lagu kasmaran. Rai berjalan pelan di belakangnya, sengaja tak mensejajarkan langkah mereka. Tampaknya, ia dapat membaca suasana Yuriko hari ini yang terlihat sangat cerah, secerah matahari di musim panas.


"Ne, Yu-chan!" panggil Rai.


Yuriko terus bernyanyi kecil dengan kepala yang berayun tanpa menyahut panggilan Rai.


"Ne, Yuri-Yuri!" panggilnya lagi lebih keras.


Masih diabaikan juga. Bahkan untuk menoleh ke arahnya pun tidak Yuriko lakukan. Hal itu tentu saja membuat Rai kesal.


"Yuriko-chan!" teriaknya kencang.


Di waktu yang bersamaan, gadis itu berbalik dan berkata, "Apa kau mau menemaniku makan ramen?"


"Eh?" Rai tercenung seketika.


Saat langit telah gelap, mereka baru saja turun dari kereta. Keduanya singgah ke kedai mie ramen yang terletak di dekat apartemen mereka.


"Itadakimasu!" ucap keduanya di depan hidangan ramen panas yang tersaji.


Baru saja hendak menyantap ramen, Yuriko justru memerhatikan beberapa remaja yang duduk di pojok terus menatap kagum ke arah Rai.


"Hei, kau sedang diincar gadis-gadis itu." Yuriko mengedikkan dagu ke arah gadis remaja yang terus memerhatikan Rai.


Rai turut menoleh searah pandangan Yuriko saat ini.


"Huuaaa ... dia menoleh pada kita!" Terdengar cukup jelas suara heboh saat Rai turut memerhatikan mereka.


Rai mengerlingkan mata ke arah gadis-gadis remaja yang terus menatapnya. Tak pelak, gadis-gadis itu pun bersorak ria.


"Dasar genit!" cela Yuriko sambil dengan bola mata yang terputar ke atas.


Rai mendekatkan mulutnya ke telinga Yuriko untuk berbisik. "Susahnya jadi orang tampan ya ... seperti ini. Selalu sukses menarik perhatian para gadis maupun wanita. Mungkin hanya kau saja yang tak tertarik padaku."


"Sepertinya kau punya banyak pengalaman dengan banyak wanita. Berbeda dengan pak polisi yang tampak canggung berhadapan denganku," ucap Yuriko cekikikan sambil kembali membayangkan ekspresi Shohei selama dia berada di sana. Ia menganggap reaksi gugup Shohei karena pria itu juga tertarik padanya.


"Hei, ada apa dengan matamu?" ketus Rai.


"Hah, memangnya ada apa dengan mataku?" Yuriko langsung melepas sumpitnya, menghadap ke arah Rai sambil menarik bawah matanya seolah meminta pria itu memeriksa matanya.


"Maksudku, mata dan pikiranmu selalu ditutupi oleh Shohei sehingga apa pun yang sedang kita bicarakan selalu kau kaitkan dengarnya," cetus Rai bersuara suram sambil lanjut menyeruput mie-nya.



Di sisi lain, Shohei dan Seina justru sedang menonton di bioskop. Ya, hari ini memang jadwal kencan mereka dan keduanya telah sepakat menonton di bioskop dari jauh hari. Bioskop itu cukup dipadati penonton karena jadwal pemutaran film yang memang ditunggu-tunggu.


Shohei melirik ke kiri dan kanan, tampak isi bioskop itu didominasi pasangan kekasih seperti dirinya dan Seina. Hanya saja, mereka terlihat tak sungkan untuk memamerkan kemesraan. Ada yang merangkul kekasihnya, ada yang saling suap-suapan dan ada yang bersandar di pundak kekasihnya.


Shohei melirik ke arah Seina. Gadis itu tampak antusias menonton adegan per adegan. Shohei memberanikan diri menggenggam tangan Seina. Itu sukses membuat Seina tersentak. Mereka saling melempar senyum dengan tangan yang bertautan erat.


Untuk Seina sendiri, ia memilih mempertahankan hubungannya dengan Shohei sesuai saran dari Kei. Meski tak tahu jelas bagaimana perasaannya pada pria berkacamata itu, tetapi ia juga tak ingin melepaskannya. Menurutnya, hubungan yang ia miliki dengan Black Shadow hanya seperti negeri dongeng. Tidak nyata.


Wajah keduanya mendadak berubah ketika adegan film menunjukkan sepasang kekasih yang saling berciuman mesra. Spontan, baik Shohei maupun Seina saling membuang pandangan. Keduanya justru teringat akan ciuman yang masing-masing mereka lakukan bersama orang lain. Perasaan bersalah pun mendera sepasang kekasih itu.


"Seina-chan/Shohei-kun ...." Keduanya kompak memanggil dengan saling berhadapan meskipun tetap duduk tenang.


Sama-sama terdiam canggung, Seina pun membuka suara lebih dulu. "Silakan ...."


Shohei mengangguk. "Seina-chan, begini, aku ... aku ... aku ...."


Hanya mengucap kata yang tak jelas itu sudah membuat napas Shohei memburu.


"Apa yang terjadi denganmu?" tanya Seina sedikit mengkhawatirkan Shohei karena tiba-tiba pria itu berkeringat dingin.


"Aku ... aku tak sengaja men .... menci–, menci–"


"Menci?" Mengerutkan dahi, Seina mengulang sepotong kata ambigu yang Shohei lontarkan.


Kenapa rasanya sulit sekali untuk jujur pada Seina.


"Aku ... aku ...." Semakin lama, semakin sulit bagi Shohei untuk berkata.


"Ada apa?" tanya Seina yang terlihat penasaran.


"Aku ... tak sengaja ...."


"Tak sengaja apa?"


"Mencium ....."


Apakah aku harus jujur mengatakan ini pada Seina?


"Mencium apa?" Mata Seina membulat seketika.


"Aku mencium ... aku ... aku mencium bau busuk di sini!" ucapnya spontan dengan suara yang lantang.


Sontak, seluruh orang yang ada di bioskop itu menoleh ke arahnya. Beberapa dari mereka pun terlihat mengendus bagaikan anjiing pelacak usai mendengar perkataan Shohei.


.


.


.


Catatan Author ✍️


Gua ngakak sampe desember. Ini kenapa pada bilang pasangan yang tertukar dah kaya judul sinetron? Yang jelas pasangan itu kan cuma Shohei sama seina. Yuriko sama Rai ya bukan pasangan. Yang ada si Rai sama Yuriko bisa jadi hama di hubungan Shohei sama seina.


Bingung ya siapa bakal jadi ma siapa? wkwk... entar deh kalian bakal tahu keberpihakan gua sama masing2 pasangan di chapter-chapter klimakss. Selama novel ini belom ada tanda End, semua bisa berubah dan apa pun bisa terjadi. Silakan oleng2 deh 🤣


Sebenarnya percintaan di sini hanya bumbu-bumbu pemanis cerita, aku lebih mengedepankan petualangan Mr. White-Blackshadow, sama hubungan persahabatan antara Pak Polisi sama mantan kang Nipu dan Napi 🤣🤣 kan mereka pembawa rollnya.


Readers said: "Author selalu belokin/ubah alur kalau kita berusaha menebak."


dipikir gampang mengubah alur yang dah dibentuk rapi dari awal? yang ada cerita jadi amburadul karena bingung ngelanjutinnya 🤣


Apa pun itu, Saya mencintai kalian semua ❤️