Never Not

Never Not
Ch. 95 : Kepolisian Bertindak



Tayangan Black Shadow barusan tentu memunculkan polemik di publik. Perang argumen terjadi di media sosial. Banyak netizen setuju jika tuan Matsumoto dihakimi langsung oleh pria bertopeng itu untuk menjadi contoh efek jera ke pejabat lainnya. Tak sedikit pula Netizen yang menolak dengan keras ide dan rencana pria bertopeng itu. Menurut mereka, meskipun tuan Matsumoto bersalah, Black Shadow tidak berhak menjatuhi hukuman apalagi sampai mengambil nyawanya.


Rai dan shohei langsung bertolak ke tempat latihan mereka di mana itu adalah bekas sebuah gedung olahraga yang sudah tak terpakai dan terabaikan oleh pemerintah Tokyo. Keduanya bertemu dengan menampilkan jejak-jejak tegang yang terpampang jelas di wajah mereka.


"Apa kau sudah membuang ponsel yang kuberikan khusus untuk misi?"


"Iya, aku melemparnya ke sungai."


Shohei mengeluarkan sesuatu dari tasnya yang ternyata adalah sebuah gawai baru. "Ini tidak mudah terlacak. Gunakan hanya untuk menghubungiku."


Rai mengambil gawai itu dari tangan Shohei. "Baik. Lalu bagaimana dengan siaran kita?"


Shohei mengusap kasar wajahnya. Ia mengambil tablet, lalu menyodorkan pada Rai. Mata Rai terbelalak kaget melihat sistem aplikasi itu error. Ia merampas tablet tersebut lalu berusaha mengotak-atik untuk memulihkan data.


"Ini ... tidak akan kembali!" ujar Rai dengan tatapan tak percaya.


Shohei bergeming dengan gigi yang menggertak. Tentu mereka mengetahui serangan dan pengalihan data tersebut hanya bisa dilakukan oleh peretas profesional berskala internasional. Dalam situasi genting ini, sejenak otak Rai mengingat satu nama. Yuta! Ya, hanya pria itu yang bisa merampas kembali data dan aplikasi yang telah diretas. Andaikan mereka masih akur, mungkin ia bisa menghubungi mantan rekannya itu sekarang.


"Siapa yang melakukan ini!" Rai tampak geram sambil terus berusaha memperbaiki sistem saluran siaran mereka.


"Kita kesampingkan dulu Black Shadow palsu dan siaran itu, yang harus kita pikirkan sekarang adalah mencari Tuan Matsumoto karena dia saksi kunci dan juga ... ayah Seina. Kita harus menemukannya sebelum Black Shadow palsu itu kembali mengadakan siaran langsung."


"Bagaimana caranya? Kita tidak bisa melacak lokasi keberadaan video itu."


"Benar, kita tidak bisa melacak! Pria itu menyembunyikan peta lokasi siaran." Shohei menarik tabletnya dari tangan Rai dan kembali memutar siaran langsung. "Apa kau mengenal gudang ini?"


Rai menggeleng. Tak putus asa, Shohei mencoba menilik ruangan yang dijadikan lokasi siaran langsung. Berharap, ada setitik petunjuk yang bisa membuatnya mengetahui tempat penyekapan tuan Matsumoto.


"Ruangan ini palsu! Mereka mengeditnya untuk menyamarkan lokasi yang sebenarnya. Bisa jadi ini sebuah jebakan untuk kita!" cetus Rai.


"Ya, kau benar!" Bahu Shohei merosot seketika setelah menyadarinya. "Lalu, apa yang harus kita lakukan?" gumamnya tenang meski sedang berpikir keras.


Ponsel Shohei mendadak berdering. Belum usai serangan sabotase yang mereka hadapi, ia harus dihadapkan berita tak mengenakkan lainnya yang membuat dadanya seakan tertimpa batu besar.


"Ada apa?" tanya Rai yang menangkap mimik panik di wajah Shohei setelah menerima telepon.


"Seina syok dan pingsan setelah menonton siaran itu. Dia sedang mendapatkan perawatan di rumah sakit," jawab Shohei tak berdaya.


Shohei dan Rai kini bersama-sama menuju Rumah Sakit. Mereka menuju kamar tempat Seina dirawat. Gadis itu masih terbaring tak sadar dengan selang infus yang terpasang.


"Seina-chan ...." Shohei menunduk sekaligus menggenggam tangan mulus berhias jari-jari lentik. Ia mengecup punggung tangan kekasihnya seraya berbisik, "jangan khawatir, ayahmu pasti akan baik-baik saja. Aku berjanji akan membawa tuan Matsumoto kembali padamu!"


Rai yang berdiri di belakang Shohei, hanya mampu mematung. Tentu ia merasa ikut bertanggung jawab atas apa yang dialami ayah gadis itu.


Ponsel Shohei kembali berdering dan kali ini berasal dari Kepolisian Metropolitan yang memberitahukan ia untuk datang ke sana, guna membicarakan penyanderaan tuan Matsumoto yang dilakukan oleh Black Shadow. Ya, berstatus sebagai seorang menteri, tentu menjadi tugas polisi untuk melindungi keselamatannya. Apalagi, Black Shadow tiruan itu telah mendeklarasikan ingin mengadili tuan Matsumoto dengan cara eksekusi.


Tak bisa mengabaikan tugas dadakannya, dengan terpaksa Shohei harus meninggalkan Rumah sakit itu dan meminta Rai untuk menjaga Seina, paling tidak sampai ia datang kembali.


Para detektif dan jajaran kepala devisi kepolisian metropolitan mengadakan rapat dadakan, tepat satu jam setelah tayangan Black Shadow. Shohei yang terlambat, baru saja tiba di gedung itu dan masuk dengan terburu-buru.


"Ketua Yamazaki-san!" panggil seseorang dari arah belakang.


Shohei menoleh dan melihat Seto Tanaka yang baru saja turun dari motornya. Pria itu segera menghampiri Shohei, lalu bersama-sama menuju ruang rapat.


Di ruang rapat, salah seorang polisi membacakan kronologi penculikan tuan Matsumoto. Berdasarkan pengakuan supirnya, tuan Matsumoto keluar dari gedung kementrian pukul lima sore. Namun, ia dihadang sebuah mobil Jep hitam dan diculik oleh dua pria bertopeng saat dalam perjalanan pulang ke rumah. Sementara, supirnya diikat dan ditinggalkan begitu saja di dalam mobil.


"Supir sempat mendengar salah satu dari pria bertopeng itu memanggil rekannya dengan sebutan Mr. White," jelas polisi tersebut.


Sontak, Shohei pun terkesiap. Ini berarti musuh mereka telah menyadari keberadaan Mr. White di belakang Black Shadow. Kemudian sengaja membuat skenario penculikan ini seolah dilakukan oleh ia dan Rai.


"Apakah Mr. White adalah bagian dari komplotan Black Shadow?" tanya salah satu polisi.


"Bisa jadi. Kalau dipikir-pikir Black Shadow tidak mungkin melakukan aksinya sendiri selama ini. Pasti ada seseorang yang membantunya," tutur detektif Shu sambil bersedekap.


Kepala kepolisian metropolitan langsung menegaskan status Black Shadow sekarang adalah buronan karena dia menyekap seorang pejabat sekaligus melakukan rencana pembunuhan. Ia meminta pasukan dari divisi keamanan publik dan divisi penanggulangan kejahatan khusus agar mempersiapkan diri untuk tiga hari ke depan. Ia juga mengabarkan bahwa tim dari badan intelejen negara akan bekerja sama dengan pihak kepolisian untuk melacak keberadaan menteri kehakiman.


Mata Shohei lantas melebar. "Apakah tujuan penculikan tuan Matsumoto untuk membuat Black Shadow dikriminalisasikan? Lalu siapa dalang di balik ini semua?" Batinnya bertanya-tanya.


Sesosok pejabat tanpa nama terlintas dalam bayangannya. Apakah semua ini adalah rencananya?


"Kurasa Black Shadow hanya menggertaknya saja. Dia tidak benar-benar ingin membunuh menteri kehakiman. Kalian ingat kasus tabrak lari yang dilakukan anak wakil senator? Waktu itu Black Shadow juga seperti ingin mendorongnya ke gedung lantai, tapi itu benar-benar tidak ia lakukan. Jadi, sebaiknya kita tunggu sampai dia kembali melakukan siaran langsung," kata inspektur Heiji yang duduk di barisan depan bersama Shohei dan ketua-ketua divisi.


"Sekalipun seperti itu, kepolisian tetap mempunyai tugas untuk melindungi Matsumoto-san. Sekalipun beliau terbukti bersalah seperti yang dituduhkan Black Shadow, dia masih berstatus pejabat negara dan wajib untuk dilindungi. Menjatuhi hukuman bukanlah tugas Black Shadow!" tegas kepala kepolisian metropolitan.


"Itu bukan Black Shadow!" Shohei membersit secara tiba-tiba setelah cukup lama menggenggam kebisuan. Hal itu membuat semua polisi memusatkan pandangan mereka pada pria bernama belakang Yamazaki itu.


Ai Otaka langsung menyela ucapan Shohei. "Ketua, kenapa Anda berpikir demikian? Tidakkah Anda terlihat memihak Black Shadow di saat ayah kekasih Anda dituduh tanpa bukti?"


"Ai-kun, jaga ucapanmu," bisik Seto yang duduk di sebelahnya.


Shohei berdiri, lalu memalingkan badannya ke belakang. "Seperti katamu, pria itu menuduh Matsumoto-san tanpa bukti. Black Shadow tidak seperti itu, dia selalu memiliki bukti kuat untuk menjaring targetnya."


"Ah, aku lupa! Black Shadow selalu penuh kejutan. Siapa tahu tiga hari ke depan dia membeberkan bukti-bukti pidana yang dilakukan calon mertua Anda," sambung Ai Otaka santai.


Mengabaikan ucapan Ai, Shohei lalu bertanya pada tim investigasi. "Bagaimana dengan mobil Jep hitam yang digunakan untuk menculik? Apakah supir mengingat plat nomornya?"


"Tidak. Kemungkinan mereka juga memakai plat nomor palsu," jawab tim investigasi yang diketuai inspektur Heiji.


"Kalau begitu kita harus meminta bantuan pada polisi lalu lintas untuk menyelidiki seluruh mobil Jep berwarna hitam yang beroperasi di Tokyo lewat CCTV. Populasi mobil seperti itu tidak terlalu banyak. Kita bisa mendatangi lokasi-lokasi tempat mobil Jep hitam terparkir."


Kepala kepolisian metropolitan menyetujui usulan Shohei, dan mengintruksikan mereka untuk segera meminta bantuan polisi lalu lintas untuk pengecekan CCTV di seluruh jalan Tokyo.


Sementara itu, Yuriko membaca sejumlah komentar netizen yang tertulis saat siaran langsung semalam. Di antara puluhan ribu komentar hujatan dan cacian untuk tuan Matsumoto, terselip beberapa komentar jeli yang menanggapi aksi Black Shadow kali ini.


^^^"Tidak biasanya Black Shadow langsung menangkap pejabat atau politikus hitam."^^^


^^^"Benar! Ini sedikit aneh! Biasanya Black Shadow menuntun kita untuk mencari tahu terlebih dahulu siapa pejabat yang akan menjadi targetnya."^^^


^^^"Ini janggal! Seharusnya Black Shadow memberi bukti kejahatan tuan Matsumoto terlebih dahulu!"^^^


Setelah membaca beberapa argumen tersebut, Yuriko kembali menonton siaran Black Shadow tadi dan membandingkan dengan beberapa siaran Black Shadow yang telah berlalu.


Di waktu yang sama, Seina mengerjapkan mata dengan perlahan. Baru saja siuman, pandangannya tertumbuk pada wajah yang cukup melekat di ingatannya. Baik Seina maupun Rai kompak tercenung memandangi satu sama lain.


.


.


.



pusing kepala Mr. white gays. ada yang mau bantu mikir 😄


like + Komeng ya. untuk yang mau ngasih vote poin, tahan dulu tunggu tanggal satu biar ga mubazir poinnya.