
Jawaban Shohei tentu begitu menikam jantung Rai. Raut wajahnya yang tersembunyi di balik pelindung terlihat menggelap secara instan. Ia menjatuhkan tongkatnya seraya memandangi tongkat Shohei yang mengarah pada lehernya.
"Yo, Mari istirahat!" Shohei berbalik lalu mengambil air mineral. Ia melempar satu botol lainnya pada Rai.
"Omong-omong ... kapan kau bertunangan dan mengajak pacarmu tinggal bersama?" tanya Rai membuka penutup wajahnya.
"Mungkin ... setelah selesai misi," jawab Shohei sambil menenggak air mineral.
"Kalau begitu ... mari kita selesaikan misi ini secepatnya!" ucap Rai menghadap Shohei.
"Masalahnya kita belum tahu siapa lawan terakhir yang akan kita hadapi."
"Maka dari itu sebaiknya kita mulai saja menjaring target ke sembilan. Mungkin saja dari sana akan terkuak tokoh tersembunyi yang menjadi target terakhir kita. Bagaimana kalau kita atur strategi jebakan?"
Shohei menatap wajah Rai dengan lekat, lalu tertawa kecil. "Kau terlalu bersemangat!"
"Kau juga menginginkan misi ini cepat selesai agar bisa segera bertunangan dengannya, kan?"
Shohei mengangguk kecil sambil tersenyum getir. "Tapi Seina-chan ... seperti belum siap bertunangan. Setiap kali aku membahasnya, dia selalu mengalihkan topik pembicaraan. Dia juga terkesan mengulur waktu menyelesaikan skripsinya padahal aku sudah membantunya untuk merampungkan. Kadang-kadang aku berpikir, apakah mungkin dia ragu dengan hubungan ini, atau mungkin dia merasa kami tidak cocok. Soalnya jarak usia kami juga cukup jauh."
Pada saat mengatakan ini, ada rasa yang berdesir di dalam diri pria berumur tiga puluh dua tahun itu. Kekhawatiran juga seakan menyergapnya.
Mendengar nada khawatir Shohei, Rai buru-buru berkata, "Tidak begitu! Dia sangat menyukaimu."
"Eh?" Shohei tersentak seraya memicingkan mata.
Rai tergemap atas ucapannya sendiri, tetapi dengan cepat ia kembali berkata, "Saat aku menemaninya menonton, dia sempat cerita banyak tentangmu."
"Benarkah?" Shohei tampak tertarik dengan kalimat yang baru saja Rai lontarkan.
Rai mengangguk. "Dari situ, aku bisa menyimpulkan kalau dia sangat menyukaimu. Mungkin saja dia sedang mempersiapkan dirinya untuk menjadi pendamping terbaik. Bukankah biasanya wanita akan seperti itu? Apalagi kekasihmu itu adalah gadis muda yang manja, sementara kau adalah pria matang. Mungkin dia ingin belajar mandiri terlebih dahulu, dan itu butuh beberapa waktu."
Shohei membulatkan matanya seraya mengacungkan jari telunjuk ke arah Rai. "Ah, kau benar! Kenapa itu tidak terpikir olehku! Ternyata kau memang sangat mengerti karakter wanita,"ucapnya tampak senang, "Aku sempat meragu saat menjalin hubungan dengannya. Aku kira hatiku sudah mati. Kupikir aku tidak bisa jatuh cinta lagi, atau mungkin aku akan menjadi pria yang hidup tanpa wanita. Aku takut dicampakkan lagi. Aku takut kisah lamaku terulang di mana wanita yang kucintai ternyata tidak mencintaiku. Tapi kau membuatku lega."
Senyum palsu membingkai di wajah tampan Rai. Ia memutar badannya membelakangi Shohei, kemudian menutup mata rapat-rapat sembari mengulum bibirnya sendiri.
Arght! Aku malah membohonginya dengan membuat cerita fiktif.
Sejenak ucapan Seina kembali menggaung di benaknya.
"Apakah jika aku memutuskan pacarku, kau mau menunjukkan wajah dan menceritakan jati dirimu yang sebenarnya padaku? Aku ingin mengenalmu lebih dekat!"
"Kenapa?"
"Kurasa aku telah jatuh cinta padamu."
Kini Rai mengerti kenapa Seina mengatakan jika ia tidak bisa putus dari pacarnya. Ya, karena gadis itu tak punya alasan untuk mengakhiri hubungannya dengan pria sebaik Shohei.
Telepon berdering tiba-tiba, Shohei menggeledah tasnya untuk menemukan ponsel. Rai menoleh kembali ke arah Shohei yang tampak menerima panggilan telepon.
Gomen, Shohei-kun. Hanya untuk mengatakan kalimat itu saja, aku tidak mampu.
Usai menerima panggilan telepon, Shohei lantas berkata, "Ayah Seina mengundangku makan malam sekarang. Ini kesempatanku menyelidiki target kesepuluh."
"Menyelidiki target ke sepuluh?" ulang Rai sambil mengernyit.
"Ya. Kurasa menteri kehakiman Matsumoto mengetahui sesuatu. Saat menyadap perangkat digital tuan Yoshuke, aku membaca obrolan mereka yang menyeret namanya. Dan itu tidak hanya sekali saja. Aku yakin tuan Matsumoto mengetahui sesuatu dan menyembunyikan banyak hal. Apalagi dia mengeluarkan peraturan yang membuatku dan beberapa polisi tertarik dari devisi khusus pemberantasan pejabat korupsi. Kemudian menyisakan beberapa jaksa yang ternyata terlibat suap," ungkap Shohei sambil mengingat beberapa jaksa yang telah berhasil tertangkap basah oleh Black Shadow karena menerima suap."
Mata Rai membesar seketika. "Shohei, ba–bagaimana jika menteri kehakiman ternyata adalah target ke sepuluh? Bukankah ini akan mempengaruhi hubungan kau dan kekasihmu jika ayahnya terlibat?"
Shohei terdiam sesaat. "Apa pun yang terjadi, tidak akan mengubah perasaanku pada Seina. Karena dia adalah tujuan hidupku," ucapnya dengan pandangan lurus ke depan.
"Apakah kau akan tetap melanjutkan misi ini jika ternyata menteri kehakiman juga ikut terlibat?"
"Untuk mendapatkan deduksi yang sempurna, seorang detektif tidak boleh menggunakan perasaannya." Saat melontarkan kalimat itu, tak ada keraguan dari nada suaranya.
"Kau benar-benar polisi yang murni. Ah, kalau begitu pergi saja. Biar aku pulang naik kereta."
"Kau tidak apa-apa?"
"Tidak apa."
"Kalau begitu aku pergi duluan!" Setelah berkata, Shohei segera beranjak darinya.
Mata Rai memandang sendu kepergian Shohei.
Kau sangat mencintai gadis itu, tapi Black Shadow telah merebut cinta gadis itu. Setelah misi selesai, tugas Black Shadow pun berakhir dan aku akan menghilang dari kehidupanmu.
Langit gelap menjadi pertanda bahwa hari telah memasuki malam. Butiran salju melayang-layang di udara sebelum menghempas tanah. Dingin melekat, menusuk-nusuk kulit Rai meski telah menggunakan mantel tebal. Dia berdiri di pinggiran lintasan kereta sambil memerhatikan salju yang turun ringan.
Sejenak, Rai teringat ucapan Shohei yang mengatakan bahwa Seina adalah tujuan hidupnya. Lalu, bagaimana dengan dirinya sendiri?
"Huft, kukira aku tertinggal kereta!" Suara gadis yang sangat familiar memasuki pendengaran Rai.
Pria itu segera menoleh ke samping dan terkejut melihat Yuriko yang membungkuk sambil mengatur napasnya. Sepertinya gadis itu datang dengan berlari.
"Yuri-yuri," panggil Rai dengan semangat.
Yuriko segera menoleh. Dari jarak dua meter, ia bisa melihat pria itu berdiri sejajar dengannya walau terhalang beberapa orang yang berlalu lalang.
Sekitar tiga puluh menit kemudian setelah turun dari kereta cepat, Rai dan Yuriko berjalan santai menuju apartemen mereka.
"Aahh, dinginnya." Yuriko menggesek-gesekkan kedua tangannya guna mencari kehangatan. Tak lama kemudian, ia terhenyak ketika sebuah syal melingkar di lehernya. Ketika hendak berbalik ke belakang, Rai malah menahan bahunya.
"Jangan bergerak!" perintah Rai sambil melilitkan syal cokelat miliknya di leher Yuriko, kemudian mengangkat seluruh rambut panjangnya yang tertutupi syal tersebut. Pria itu juga memindahkan topi kasual di kepala Yuriko ke kepalanya. Kalau begini, kau lebih terlihat cantik dan feminin," ucapnya sambil tersenyum.
Yuriko terdiam tanpa kata. Saat Rai hendak menggenggam tangannya, ia langsung menepisnya dan segera bergeser ke samping untuk menciptakan jarak di antara mereka.
"Hei, kau memperlakukan aku seperti kuman," ketus Rai sambil menyelipkan kedua tangannya dalam saku mantel.
"Habisnya kau selalu bertindak seenaknya!"
Rai terkekeh. "Benar juga, ya! Itulah sikap burukku. Ia mendongak, membiarkan salju menerpa wajah tampannya. "Hei, Yu-chan, apa kau punya tujuan hidup?"
"Tentu saja. Sangat banyak. Aku ingin mendapatkan pekerjaan bagus, mengumpulkan uang banyak agar bisa memasangkan kaki robot di kaki ayahku agar dia tak memakai kursi roda lagi. Menjadi kaya raya agar ibuku tidak perlu menjadi nelayan lagi. Membahagiakan ayah dan ibuku adalah tujuan hidup utamaku. Setelah itu, baru akan memikirkan kebahagiaan diri sendiri. Menikah dengan pria yang kucintai tentunya."
Rai tertegun mendengar keinginan tulus Yuriko. Ia mengembuskan napas dari mulutnya. "Sepertinya semua orang memiliki tujuan hidup."
Rai menyadari selama ini ia tak memiliki tujuan hidup. Sebelum di penjara, ia hanya memikirkan keuntungan dan kesenangan yang ia peroleh dari hasil menipu. Dia menjalin hubungan palsu dengan beberapa wanita tanpa rasa apa pun. Mirisnya, wanita yang pernah ia cintai malah mengkhianatinya. Setelah keluar dari penjara, ia menyerahkan dirinya untuk dikendalikan oleh Shohei. Namun, misi mereka sebentar lagi akan berakhir. Shohei mungkin tak membutuhkannya lagi. Bukankah dia harus segera memikirkan tujuan hidupnya ke depan?
Begitu tiba di kamarnya, Rai duduk sambil membuka laptopnya. Di atas meja juga tertera tumpukan koran dan majalah terbitan bulan ini.
Tak lama kemudian, pintu kamarnya terbuka.
"Tadaima!" seru Ryo yang baru saja pulang dari kerja. (Sebuah salam ketika pulang ke rumah, jika diartikan secara harfiah artinya aku pulang)
"Okaeri (selamat datang kembali)," jawab Rai sambil tetap menatap layar laptop.
Ryo mendekat dan memerhatikan kakaknya yang sibuk menjelajahi mesin pencarian internet. Ia tersentak ketika melihat yang dibaca kakaknya itu adalah info tentang biaya pemasangan kaki robot untuk orang lumpuh.
"Eh, untuk apa kau mencari tahu pemasangan kaki robot?"
Rai tak menjawab. Matanya masih terpaku pada layar. Ryo menatap koran di atas meja. Koran itu terbuka tepat pada halaman yang memuat sejumlah lowongan kerja.
"Oniichan, Yamada grup membuka lowongan kerja lagi untuk cabang Osaka. Apa kau tak berniat melamar kerja di sana?" ucap Ryo sambil meletakkan tas kerjanya di atas meja.
Bukannya merespon apa yang dikatakan adiknya, Rai malah berkata, "Ryo-chan, pulanglah ke apartemenmu!"
"Heh? Aku tidak keberatan jika harus tinggal bersamamu di sini," ucap Ryo cepat.
"Tapi aku yang keberatan. Lagi pula kau tahu sendiri, kan? Apartemen ini kecil dan sempit. Hanya muat untuk satu orang."
"Bagaimana kalau Oniichan pindah ke apartemenku? Apartemenku lebih luas dan cukup untuk kita berdua. Kau pasti suka!" ajak Ryo bersemangat.
"Tidak. Aku sudah merasa nyaman di sini."
"Ayolah, Oniichan! Selama ini kau tidak pernah main ke apartemenku."
"Daripada kau mengajakku, lebih baik carilah teman kencan! Jika cocok, ajak dia tinggal bersamamu dan menikahlah!"
Tentu saja jawaban Rai membuat Ryo mengerut. Ia menganggap kakaknya semakin aneh dan berbeda dari yang dikenalinya.
Di sisi lain, Shohei tiba di sebuah restoran mewah di kawasan Harajuku. Di sana, terlihat sebuah meja utama yang telah ditempati tuan Matsumoto, Seina dan juga Kei. Shohei menghampiri meja tersebut. Ia dan Kei saling berpandangan. Dari lirikan mata itu, seolah mereka sedang berbicara tanpa bersuara.
.
.
.
catatan author:
chapter terakhir dari spesial story' Chiba dan Mayu dah update ya, silakan diintip bagi yang belum baca. Maaf baru bisa update lagi.
jangan lupa like ya, spoilerrr ke depannya akan ada satu karakter dari novel AR yang akan muncul. Siapakah dia....