
Benar, sosok pria yang berjalan penuh kharisma itu adalah Megumi Jun, Kepala Kepolisian Metropolitan yang baru saja menyelesaikan pengambilan gelar profesor hukum di luar negeri. Pria dengan IQ 190 itu kini menghampiri Shohei yang menyambutnya penuh suka cita.
Shohei memberi hormat pada seniornya yang telah menjadi atasan tertinggi di Kepolisian Metropolitan.
"Ada apa denganmu? Kau tampak terlihat tidak baik!" tanya Jun. Ya, sebagai seorang ahli profiller yang juga menguasai ilmu psikologi, ia dengan mudah menebak keadaan orang hanya dengan melihat air muka mereka.
Shohei menggeleng pelan. "Hanya masalah pekerjaan. Bukankah raut wajah seorang detektif tidak pernah baik karena memikirkan segudang masalah yang harus dipecahkan?"
"Kau terlalu bekerja keras!" Jun menepuk bahu Shohei, "Ada dua hal yang kurindukan saat aku meninggalkan Tokyo. Gedung kepolisian metro dan juga dirimu," ucap Jun sambil melebarkan senyum.
"Arigatou, Senpai. Aku merasa tersanjung. Aku juga merindukan kebersamaan kita, terutama setiap kali Anda mentraktirku minum," balas Shohei ikut tertawa.
Sejenak, pandangannya teralihkan pada perempuan yang berdiri di samping Jun, yang terlihat seperti tengah mengandung.
Shohei menampilkan ekspresi terkejut sembari mengulas senyum lebar lalu berkata, "Senpai, selamat! Anda akan menjadi seorang ayah!"
"Arigatou," balas Jun menampil senyum khasnya.
Mereka pun melanjutkan obrolan di restoran yang telah Shohei reservasi sebelumnya.
Istri Jun menyodorkan sebuah bingkisan pada Shohei. "Ini titipan Sachi dan Rui untukmu."
Shohei terhenyak seketika saat istri Jun menyebut nama mantan kekasihnya. Ia mengambil bingkisan yang tertulis namanya.
"Apakah Sachi dan suaminya baik-baik saja? Aku sudah lama tak bertemu dengannya." Ia teringat, terakhir bertemu dengannya saat menghadiri pesta pernikahan perempuan itu tepat setahun yang lalu.
"Mereka memutuskan tinggal di Jerman. Seminggu yang lalu kami sempat menengok mereka di sana," jawab Jun, "huft, andaikan aku masih memiliki seorang adik perempuan, akan kujodohkan kembali denganmu."
Wajar saja Jun mengatakan hal itu, Shohei lebih dari sekadar adik junior baginya. Lelaki berkacamata itu tempatnya berbagi keluh kesah, permasalahan pekerjaan dan juga pribadi. Adapun Shohei, rasa hormatnya terhadap seniornya itu tak pernah luntur. Baginya, Jun adalah guru dalam segala hal, terutama berkaitan dengan penyelidikan. Ia sering bertukar pikiran dengannya untuk memecahkan kasus demi kasus.
Istri Jun langsung menyambung dengan wajah yang menghadap ke arah Shohei. "Dia tidak pernah akur dengan Rui! Jika bertemu, mereka selalu memperdebatkan hal-hal sepele," ucap istri Jun menceritakan hubungan Jun dengan suami adiknya yang juga merupakan kakak kelas Shohei dulu.
"Benarkah?" Mata Shohei membulat dengan bibir yang menahan tawa.
"Bagaimana hubunganmu dengan anak mendiang Matsumoto?" tanya Jun yang mulai menyantap hidangan, "meskipun aku di luar negeri, aku tetap tahu gosip-gosip yang terjadi di kantor."
"Ah, pasti ini ulah Heiji-san si biang gosip," keluhnya yang bisa menebak kalau hubungannya dengan anak mendiang menteri kehakiman dibocorkan oleh inspektur Heiji.
"Jadi benar, kalian sebenarnya akan menikah dalam waktu dekat?" tanya Jun kembali.
Shohei langsung menunduk sambil memaksa tersenyum. "Kami belum memutuskan arah hubungan kami. Apakah akan berlanjut atau tidak. Dia masih terpukul dengan kematian ayahnya, jadi aku rasa dia ...." Kalimat itu terhenti begitu saja. Ia malah teringat kembali ungkapan hati gadis itu saat ia menyamar sebagai Black Shadow.
Melihat ekspresi Shohei, Jun langsung berkata, "Menurutku Yamazaki-san memenuhi standar pria idaman untuk para perempuan yang ingin menjalin hubungan serius dan bersih. Bahkan saat mengetahui kau putus dari adikku, aku sangat patah hati. Jika anakku lahir dan benar-benar berjenis kelamin perempuan, aku akan menjodohkan dia denganmu lagi."
Istrinya langsung terkekeh sambil menyela. "Jika seperti itu, Yamazaki-san harus menunggu sekitar 19 tahun lagi."
"Benar juga, ya. Memangnya berapa usiamu sekarang?" tanya Jun.
Jun awalnya mengenalkan adik perempuannya kepada Shohei, tetapi pada akhirnya tak berjodoh karena adik perempuannya itu malah mencintai pria lain. Seperti mengulang kisah lama, setelah tujuh tahun berlalu, menteri kehakiman menjodohkan anak gadisnya pada Shohei. Naas, gadis yang dicintainya itu kembali mencintai pria lain yang notabene adalah orang terdekatnya.
Suasana mendadak hening begitu saja. Jun dan istrinya hanya saling menatap dalam kebisuan.
"Ah, maaf, aku telah mengubah suasana menjadi tidak nyaman. Sepertinya aku perlu ke kamar mandi sebentar." Shohei berdiri dan bergegas beranjak dari tempat duduknya.
Lima menit kemudian, Shohei yang baru saja keluar dari toilet restoran, langsung dihadang Jun. Lengannya dipegang pria itu kemudian didorong ke belakang sehingga membuatnya kembali masuk ke dalam toilet.
Kedua pria matang itu saling membelakangi dinding yang memisahkan mereka.
Sambil bersandar di dinding, Jun berkata dengan lambat-lambat. "Yamazaki-san, apa kau pernah mendengar kisah kerang? Mutiara indah yang dihasilkan kerang berasal dari pasir yang masuk ke cangkang. Kerang harus bisa menahan sakit karena butiran pasir yang menghantam tubuhnya selama bertahun-tahun. Pada akhirnya, rasa sakitnya berbuah manis karena pasir tersebut lambat laun menjadi mutiara indah yang bernilai."
"Sayangnya, setelah pasir itu menjelma menjadi mutiara, ternyata yang menikmati indahnya mutiara bukanlah dirinya sendiri, melainkan manusia," sambung Shohei sambil tersenyum getir.
"Tapi, dari sana kita juga belajar, rasa sakit yang kerang alami ternyata tidak sia-sia karena bisa bermanfaat bagi makhluk hidup lainnya." Jun menambahkan. "Yamazaki-san, aku yakin kau bisa seperti kerang. Berbesar hati dan tetap sabar menahan luka, karena tidak ada yang sia-sia untuk setiap kesabaran yang kita miliki."
Shohei tercenung. Sungguh, ia ingin semua kembali seperti sedia kala. Namun, tampaknya hatinya masih butuh waktu. Ibarat kayu yang akan tetap berlubang meski paku sudah terlepas. Begitupun dirinya. Sudah tidak sakit, tapi tak bisa lupa.
Di sisi lain, Rai yang sedang berada di distrik Shibuya. Berada di antara kerumunan pejalan kaki yang hendak menyeberang, mata pria itu mendadak terpaku pada siaran berita yang meliput jabatan baru Kazuya Toda sebagai Kepala Badan Keamanan Nasional. Dalam konferensi persnya, pria yang merupakan target kesepuluh Black Shadow itu mengungkapkan visinya untuk menjaga kestabilan negara, termasuk dari hal-hal yang membuat publik bergejolak.
Mengetahui Kazuya Toda masih aman-aman saja hingga kini, membuat ia mengkhawatirkan nasib tim yang dibentuk Shohei usai tak bergabung lagi dengan pria itu. Apakah Shohei bisa mengungkap seluruh kejahatan Kazuya Toda? Takutnya, Shohei malah tak bisa fokus ke misi tersebut akibat permasalahan pribadi yang terjadi di antara mereka.
Ia mendadak teringat dengan obrolan Yuta beberapa saat lalu yang mengatakan bahwa diminta untuk meretas siaran Black Shadow oleh salah satu pejabat. Mengenai harta simpanan Kazuya Toda yang berhasil terendus oleh Yuta, sebenarnya itu bisa dijadikan bukti kuat untuk memerangkap pejabat tersebut.
Rai memasuki box telepon umum. Ia memegang gagang telepon, lalu mulai menekan nomor ponsel Shohei pada tombol yang tersedia. Namun, tangannya mendadak kaku seketika.
"Arigatou, telah membantu misiku selama ini. Menjadi Black Shadow sesuai keinginanku. Hubungan kita berakhir sampai di sini. Kau tak perlu lanjut berjuang denganku lagi."
Suara yang menjadi kalimat perpisahan antara dirinya dan Shohei kembali terkenang dalam benaknya. Ia menyadari telah memilih jalan yang berseberangan dengan Shohei. Lagipula, ia telah membuat kesepakatan bersama Yuta untuk membantunya melancarkan aksi penipuan itu, agar bisa menggantikan uang yang ia pinjam. Pada akhirnya, Rai menutup kembali gagang telepon, lalu pergi.
Selepas makan siang bersama Jun Megumi, Shohei mendatangi kediaman Matsumoto. Ia bebas melenggang masuk seperti rumah sendiri, karena pelayan telah mengenalnya sebagai calon suami Seina.
Berdiri di depan pintu kamar Seina, tampaknya pria itu telah siap menemui kekasihnya. Ia tampak menarik napas dalam-dalam sambil memejamkan mata.
Bahkan, ketika hatiku terasa sakit, aku berusaha mengambil hatinya dengan berpura-pura tak mempermasalahkan semuanya.
.
.
.
like+komeng