Never Not

Never Not
Ch. 39 : Tak Kuasa Menahan Geliat Hati



Seina mendorong tubuh Black Shadow secara tiba-tiba di tengah ciuman mereka yang masih berlangsung. Keadaan itu membuat tubuh mereka sedikit berjauhan.


"Kenapa kau selalu melakukan ini padaku?" tanyanya dengan raut wajah yang sulit dideskripsikan.


"Kau juga menyukainya, 'kan?" jawab Black Shadow santai.


"Kita ... tidak boleh seperti ini!" Seina tertunduk, memejamkan mata sambil mengigit bibir bawahnya. Lagi-lagi dia kehilangan kendali atas perasaannya sendiri. Kenapa ia bisa lupa diri saat berhadapan dengan pria ini. "Bagaimana bisa aku melakukan ini berkali-kali dengan orang yang tak kukenali," gumam Seina sambil tertunduk.


"Jadi ... kau baru menyesal setelah berkali-kali berciuman denganku?" ejek Black Shadow sambil tersenyum remeh, "santai saja, ini hanyalah ciuman! Aku juga tidak tertarik melakukan lebih dari itu."


"Apakah kau pikir aku ini hanya seperti mainan?!" Suara Seina yang meninggi itu tampak bergetar.


Di waktu yang sama, Black Shadow menarik tangan Seina dan memaksanya berlari. Mereka bersembunyi di balik pilar yang besar, kemudian mengarahkan Seina untuk ikut berjongkok.


"Ada apa?" tanya Seina mencoba melongok, tetapi Black Shadow langsung menahannya dengan sengaja menekan kepala gadis itu menghadap ke dadanya.


Seina tercegung seketika. Pandangannya terarah pada tangan mereka yang masih saling menggenggam erat. Ia memejamkan mata saat aroma tubuh Black Shadow menguar keharuman bunga camelia.


"Dasar pria penghancur jantung!" gumam Seina dalam hati ketika merasakan detak jantungnya yang memompa cepat dari biasanya.


"Sudah pergi," ucap Black Shadow lega.


Seina membuka matanya perlahan. Wajah pria itu langsung memenuhi retina matanya.


"Ano ... apa aku boleh melihat wajahmu?" pinta Seina sambil mengulurkan tangannya ke wajah pria di hadapannya itu.


Seina mulai meraba setiap detil wajah pria itu. Dimulai dari rahang, pipi, bibir, hidung hingga menyentuh mata. Tepat saat tangan itu meraih topeng dan hendak membukanya, Black Shadow langsung menepisnya secara halus.


"Aku harus pergi!" ucap Black Shadow yang berdiri kemudian berjalan mundur sambil menebarkan kelopak bunga camelia seperti biasa.


Seina turut berdiri dengan cepat. "Jangan seenaknya seperti itu!"


Tak peduli, pria yang mendapat julukan pahlawan di hati masyarakat itu terus berjalan cepat meninggalkannya tanpa berbalik.


Seina berusaha mengejarnya. "Setidaknya biarkan aku sedikit tahu tentangmu!"


Seina menghentikan langkahnya secara mendadak.


Kenapa aku melakukan ini? Tindakanku ini dapat melukai seseorang ....


Seina pun memilih berbalik, dan berjalan dengan arah yang berlawanan.


Kami-sama, tolong sadarkan aku! Aku tidak ingin terjajah oleh perasaan semu ini ....



Rai kembali ke apartemennya setelah hampir dua hari tak pulang. Saat melewati kamar Yuriko, pria itu berhenti sejenak. Ia mengetuk pintu kamar tersebut dengan pelan sebanyak tiga ketukan.


"Oyasumi," ucapnya di depan pintu seraya tersenyum.


Waktu kian maju menyongsong pagi yang merindukan terpaan sinar matahari hangat dan hempasan angin yang menerbangkan serbuk bunga. Sayangnya, pemandangan pagi di kota Tokyo selama berminggu-minggu hanyalah pohon dengan ranting yang mengering di mana ada sisa-sisa salju semalam.


Rai yang masih membelitkan selimut di tubuhnya, terpaksa harus membuka kedua matanya saat mendengar suara ketukan beruntun di pintu kamarnya. Sambil bersungut-sungut, pria itu membuka pintu.


"Kau dari mana saja? Dua hari aku tidak melihatmu," serbu Yuriko sesaat Rai membuka pintu.


Rai menatap wajah Yuriko yang tampak khawatir.


Tidak biasanya dia menanyakan diriku ....


Rai yang senang karena Yuriko mendatanginya sepagi ini hanya untuk menanyakan keberadaannya, lantas berkata, "Kenapa kau mencariku? Jangan-jangan kau khawatir padaku, ya!"


"Tentu saja aku mencarimu karena ingin tahu kabar pak polisi. Di mana lagi aku bisa tahu kabar terakurat selain padamu."


Bibir atas Rai reflek terangkat, menunjukkan dua gigi depannya sebagai tanda kekesalan. Ya, tentang Shohei yang telah sadar dan pulih, memang tidak diketahui orang-orang. Pria itu sengaja meminta keluarga dan kekasihnya agar tak membocorkan pada awak media kalau dia telah siuman dan semakin membaik.


"Dia baik-baik saja dan akan semakin membaik."


"Benarkah?" Raut senang tergurat di wajah Yuriko. Namun, sedetik kemudian ekspresinya berubah kala memerhatikan wajah Rai secara saksama.


"Ada apa dengan bawah matamu itu?"


Rai refleks memegang bawah matanya yang membiru dan sedikit bengkak. Ya, itu adalah bekas pukulan yang ia dapatkan saat bertarung di Rumah Sakit.


"Aku terjatuh dan terbentur benda keras saat sedang bekerja," jawab Rai mengarang cerita.


"Oh, jadi itu yang membuatmu tidak pulang selama dua hari."


Rai mengangguk pelan sambil memajukan bibirnya. "Yu-chan, tolong buatkan aku sarapan!"


"Eh? Apa katamu? Kau pikir aku pembantumu!" Yuriko melempar tatapan melotot ke arah Rai.


"Kalau Shohei telah keluar dari Rumah Sakit, maka kau sudah boleh bekerja dengannya. Bukankah kau harus melatih dirimu agar pandai memasak? Jadi, kau harus banyak latihan cara memasak yang benar dan tidak gosong!"


"Benar juga, ya! Kenapa aku tidak terpikir olehku?" Yuriko menepuk lengan Rai dengan kuat, sambil menyengir. "Baiklah, sebaiknya aku memang harus sering melatih diriku!" ucapnya sambil masuk ke apartemen Rai.


Rai tersenyum miring. "Sesusah-susahnya kau ditaklukkan, tetap saja mudah kukelabui!" gumamnya dalam hati.


"Hei, apa-apaan ini? Bagaimana aku bisa memasak kalau bahan makanannya cuma ini?"


"Seorang koki hebat bisa memasak makanan lezat hanya dengan satu bahan," seru Rai seraya berkacak pinggang.


"Oh, begitu, ya? Tapi, maaf aku bukan koki hebat."


"Ya, sudah kalau begitu pergilah berbelanja bahan makanan di supermarket!"


Yuriko membulatkan matanya. Di luar sangat dingin, mana mungkin dia mau berjalan kaki beberapa meter hanya untuk membeli bahan makanan.


"Tidak perlu. Kurasa aku ingin membuat omelet." Yuriko langsung memasang apron di tubuhnya.


Di Rumah Sakit, Shohei tengah melipat kertas origami membentuk bunga kertas Camelia. Rencananya rangkaian bunga kertas itu akan ia tunjukkan pada Seina ketika datang berkunjung. Keadaannya sudah semakin membaik, dan besok dia sudah bisa pulang.


Tiba-tiba pria itu menerima satu pesan dari kekasihnya.


^^^Seina.^^^


^^^Maaf, Shohei-kun, aku tidak bisa menemanimu hari ini. Aku harus bertemu dosenku.^^^


Shohei.


Tidak masalah. Semoga urusanmu cepat selesai. Ganbatte ne!


Usai membalas pesan, Shohei meletakkan ponselnya di meja samping ranjangnya. Namun, ponsel itu kembali berdering. Ternyata Rai yang melakukan panggilan video. Shohei melihat sekeliling ruangan, sebelum menerima panggilan tersebut.


"Yo, bagaimana kabarmu?" tanya Rai yang terlihat dari layar ponsel.


"Aku semakin baik. Aku ingin sekali segera keluar dari sini dan kembali bekerja!"


"Apa kubilang, dia sudah sembuh!" Rai tampak berbicara dengan seseorang.


"Kau dengan siapa?" tanya Shohei mengernyit.


Tak lama kemudian, wajah Yuriko memenuhi layar ponselnya.


"Pak polisi!" serunya dengan suara yang heboh.


Shohei terperanjat. Namun, selanjutnya ia malah tertawa melihat Rai dan Yuriko yang tampak saling memperebutkan ponsel.


"Shohei, aku menyuruhnya memasak untuk melatih kemampuannya sebagai pelayan di apartemenmu nanti. Tapi, lihatlah apa yang dia masak! Hanya telur omelet buruk rupa. Sebaiknya kau pertimbangkan kembali kalau ingin memperkerjakan dia," ujar Rai menunjukkan omelet telur buatan Yuriko yang tampak acak-acakan.


Yuriko merebut ponsel Rai dan kembali menguasai layar. "Jangan dengarkan dia, Shohei-san! Dia terus-terusan menggangguku selama memasak. Dia sengaja menggelitik pinggangku saat aku membalikkan telurnya," balas Yuriko tak mau kalah.


Shohei hanya bisa tertawa melihat adu mulut antara Rai dan Yuriko. "Sudah-sudah ... kalau begini kalian bisa membuat jahitan operasiku terbuka," ucapnya sambil terkikik. Ia merasa terhibur dengan adanya Rai dan juga Yuriko.


Di sisi lain, Seina yang ternyata sedang duduk di sebuah kafe, membaca balasan pesan Shohei sambil menghela napas. Tak lama kemudian, Kei Ayano datang menghampirinya.


"Gomen, aku telat!"


"Tidak masalah! Aku juga baru datang. Apa aku mengganggu kesibukanmu?" tanya Seina sungkan.


"Ah, tentu saja tidak! Kebetulan aku baru mau ke kantor. Ada apa denganmu? Wajahmu terlihat tidak baik!" Kei menarik kursi di hadapan Seina lalu mencoba melihat daftar menu di kafe itu.


"Oniichan, aku ...." Seina mengambil kapucino hangat lalu menyeruputnya untuk meminimalisir rasa gugup yang menerpanya. "tiba-tiba ... aku ragu untuk bertunangan dengan Yamazaki Shohei."


Kei tertegun seketika, lalu menautkan jari-jarinya di atas meja. "Apa yang membuatmu ragu? Seingatku, kau tampak gembira saat menceritakan padaku sedang menjalin hubungan dengan seorang penyidik kepolisian Metro. Bukankah pertunanganmu akan dilaksanakan bulan depan?"


Seina tak menjawab, ia justru tertunduk.


"Apa kau menyukai seseorang?" duga Kei dengan tatapan menelisik seolah mencari jawaban dari kedua mata Seina.


Seina masih tak menjawab.


"Oh, begitu rupanya!" Kei dapat menebak jawaban Seina lewat bahasa tubuh. "Siapa pria yang kau sukai? Apakah dia teman kampusmu?" tanyanya kembali.


Seina terdiam sejenak. Mana mungkin ia akan menceritakan tentang kisahnya bersama Black Shadow yang terbilang unik. Di mana pertemuan mereka hanya terjadi setiap kali pria itu menyelesaikan sebuah kasus. Lebih anehnya lagi, di pertemuan singkat itu mereka habiskan hanya dengan berciuman.


Kei pasti akan tercengang atau mungkin menganggapnya membual. Kalaupun percaya, yang ada kakak sepupunya itu akan memaksanya untuk mempertemukan dia dan Black Shadow. Sebab, hingga kini Kei aktif memburu pria misterius itu untuk bisa diwawancarai.


"Meski aku tidak begitu mengenal Yamazaki-san, tetapi aku telah banyak mengetahui kepribadian pria itu dari orang-orang terdekatnya. Dia benar-benar pria yang baik, berpendidikan dan tepat untukmu. Oh, iya, masa depannya juga sangat cerah. Mungkin dia akan menggantikan posisi paman saat ini suatu hari nanti," tutur Kei.


"Aku pun berpikir seperti itu," sambung Seina sambil termenung, "saat pertama kali bertemu, aku langsung tertarik dengannya. Aku bahkan sangat senang karena papa mengenalkan pria yang sesuai ekspektasiku selama ini. Hanya saja ...." Seina tak mampu meneruskan kalimatnya.


Pria brengsek itu sudah seenaknya datang di kehidupanku. Dan bodohnya lagi, aku tidak bisa menahan geliat hatiku saat bertenu dengannya.


.


.


.


Jangan lupa like, ya? Mengsedih, banyak yang baca tapi ngga ngasih like 😭😕