Never Not

Never Not
Ch. 64 : Black Shadow adalah Bayangan Shohei



Detik itu juga, pupil mata Rai melebar tepat setelah menoleh ke arah gadis yang baru saja menyapanya. Ia terpaku dengan mata yang sama sekali tak mengerjap. Sosok yang berada di hadapannya saat ini sungguh membuatnya tercengang.


"Hajimemashite, aku Matsumoto Seina, aku kekasih Yamazaki Shohei." Seina mengulurkan tangannya ke depan sambil mengulas senyum anggun.


Bukannya menyambut uluran tangan gadis itu, Rai malah makin terperangkap dalam rasa keterkejutan yang tak terkira. Raut wajah tak percaya membayang di manik hitam lelaki itu. Pasalnya, gadis yang menghampirinya itu bukanlah pertama kali dilihatnya.


Tidak mungkin ....


Tentu saja Rai mengenali gadis itu sebagai si penguntit Black Shadow. Dan juga menjadi satu-satunya gadis yang berinteraksi dengan Black Shadow, di mana ia tak segan mencium dan mencumbuinya setiap kali mereka bertemu.


Masih terlonjak, Rai mendadak teringat perkataan Shohei beberapa menit yang lalu.


"Namanya Matsumoto Seina. Dia mahasiswa akhir universitas Keio fakultas Hukum. Tingginya sekitar 155 cm. Rambutnya hitam panjang. Matanya bulat. Kulitnya putih dan pastinya dia kawaii. Oh, iya, aku akan meneleponnya setelah turun dari sini."


Rai sungguh tak percaya dengan penglihatannya saat ini. Berkali-kali ia ingin meyakinkan diri sendiri kalau ini tidak mungkin. Gadis itu bukan kekasih Shohei, atau mungkin dia ingin mengatakan gadis itu bukan si penguntit Black Shadow. Tubuhnya bagaikan menerima serangan halilintar hingga membuatnya kaku dan membatu beberapa saat. Pikirannya pun bak diterjang badai Katrina. Kusut, kacau dan porak-poranda seketika.


"Apakah jika aku memutuskan pacarku, kau mau menunjukkan wajah dan menceritakan jati dirimu yang sebenarnya padaku? Aku ingin mengenalmu lebih dekat!"


"Kenapa?"


"Kurasa aku telah jatuh cinta padamu."


Semua kata-kata yang pernah dilontarkan oleh gadis itu, kini membanjiri saluran otaknya dan seakan menggema di pikirannya. Ingatan demi ingatan apa yang telah terjadi di antara mereka pun turut membayang di otaknya. Terus memundurkan ingatannya secara acak, ia pun baru menyadari saat Shohei mengatakan akan menghadiri undangan kencan buta di gedung tempat Black Shadow melaksanakan aksi ke lima. Dan di tempat itu pula, Black Shadow bertemu pertama kali dengan gadis yang ada di hadapannya saat ini.


Tidak mungkin. Mana mungkin dunia sesempit ini.


Rai masih tak memercayai penglihatannya. Sebaliknya, Seina mengernyit ketika pria yang ada di hadapannya itu hanya bergeming dengan tatapan kosong yang tertancap padanya. Tak mendapat respon apa pun, ditambah ekspresi aneh Rai yang menatapnya, tentu membuatnya menjadi sungkan.


Seina menarik kembali ukuran tangannya, lalu berkata dengan nada ragu-ragu. "Ano ... apa aku salah orang?"


Rai terhenyak. Tanpa bersuara, ia langsung membuka pintu mobil dan mengarahkan tangannya ke samping mengintruksikan agar Seina segera masuk dan duduk di samping kursi pengemudi.


Seina menatap wajah Rai yang begitu dingin padanya.


Bukankah seharusnya kami berkenalan lebih dulu? Bahkan aku belum mengetahui namanya.


Di tengah keanehan yang dirasakannya, ia memilih untuk segera masuk di mobil kekasihnya itu.


Berduaan di dalam mobil, suasana ambigu pun menyelimuti keduanya. Beberapa menit berlalu begitu saja tanpa ada yang berbicara. Sesekali, Seina tampak mencuri-curi pandangan ke arah Rai yang terlihat fokus mengemudi.


Hening. Mereka lama terjebak dalam diam. Seina berinisiatif membuka obrolan lebih dulu untuk mencairkan suasana yang kaku.


"Omong-omong, sudah berapa lama kau dan Shohei berteman? Kata Shohei, dia sudah menganggapmu seperti adiknya sendiri."


Suasana kembali hening. Tak ada jawaban apa pun dari Rai. Untuk menoleh ke arah gadis itu pun tak berani ia lakukan.


Apakah dia mengenalku? Kurasa dia benar-benar tidak tahu aku adalah Black Shadow. Ya, dia tidak boleh mengetahuinya.


"Ano ... apa aku boleh mengetahui namamu?"


Suara lembut Seina kembali terdengar. Namun, tampaknya Rai kembali tak mengacuhkannya. Ia malah memasang wajah ketus seolah tak nyaman dengan pertanyaan yang dilayangkan Seina.


Seina mencoba melirik Rai. Ia buru-buru menunduk saat melihat ekspresi pria itu.


"Gomen ...." Meski tak mendapat respon apa pun, Seina kembali berkata sambil melayangkan seulas senyum ceria, "Bolehkah aku tahu, apa pendapatmu tentang diriku? Em ... maksudku, apa aku cocok menjadi pasangan Shohei-kun? Jujur, sampai detik ini aku merasa kami berdua tidak cocok. Kadang-kadang, ada hal yang membuatku merasa bersalah hingga ingin menyerah dengan hubungan ini. Tapi ...." Kalimatnya tak selesai terucap. Ia justru tertunduk selama beberapa detik saat menyadari tak seharusnya mengatakan hal itu pada sahabat kekasihnya. Apalagi ini adalah pertemuan pertama mereka.


Sementara, Rai terus bergeming dengan ingatan yang kembali muncul ketika Seina mengungkapkan perasaan padanya. Bayang-bayang rasa bersalah telah menguasai dirinya.


Bagaimana ... bagaimana aku menjelaskan jika Shohei tahu calon tunangannya memiliki perasaan romantis pada Black Shadow? Bagaimana aku mengatakan jika perasaan itu muncul karena ulahku yang telah mempermainkannya? Dan bagaimana kalau shohei tahu semua yang telah kulakukan pada calon tunangan.


Untuk pertama kali dalam hidupnya, Rai merasa sangat bersalah. Shohei adalah penolong sekaligus sosok yang berjasa besar karena mengubah hidupnya. Di saat semua orang mengkhianatinya, Shohei adalah satu-satunya yang mengulurkan tangan dan membantunya untuk bangkit. Jika gadis itu bukan orang yang dicintai Shohei, mungkin ia tak akan terguncang seperti ini. Sekarang, apa yang harus ia lakukan?


Seina menaikkan pandangannya dan terperanjat karena arah yang mereka lalui bukan jalan menuju teater. "Kau salah! Seharusnya kita belok ke kiri bukan terus! Kita akan ke gedung teater yang berdekatan dengan Tokyo Dome," tegur Seina cepat.


Rai yang baru menyadari jika dia kehilangan fokus mengemudi, langsung memutar arah secara tiba-tiba hingga terdengar suara ban yang berdecit. Hal itu tentu membuat Seina terentak dengan kepala yang hampir terbentur jika saja tak memakai sabuk pengaman.


Seina mengatur napasnya sambil berusaha menetralkan kembali detak jantungnya. Kepalanya memutar cepat ke arah Rai dengan wajah yang menahan protes.


Bagaimana bisa dia tidak berkata apa-apa? Bahkan hanya untuk sekadar berkata maaf!


Rupanya tindakan Rai tadi membuatnya mendapat kesan buruk di mata Seina. Gadis itu tak percaya jika pria di sampingnya tidak ramah seperti Shohei. Tampaknya ia terlalu berekspektasi tinggi terhadap sahabat kekasihnya itu. Pikirnya, ia bisa menjalin keakraban dengannya. Siapa sangka, pria itu tidak menunjukkan sikap yang baik padanya.


Shohei-kun: Apa dia telah menjemputmu?


Seina: Iya. Kami sedang menuju ke gedung teater.


Shohei-kun: Selamat menonton. Katakan padaku jika dia menggodamu. Akan kutarik telinganya, haha.


Shohei masuk lift bersama Seto Tanaka yang mendampinginya.


"Arigatou, Tanaka-san. Aku tertolong dengan jas cadangan yang kau bawa," ucap Shohei.


"Tidak apa-apa, Ketua. Ini kesalahanku yang lupa memberi undangannya pada Anda. Anda pasti telah menyusun aktivitas di luar." Seto menunduk dengan rasa penuh bersalah.


"Bisakah setelah ini kau mengantarkan aku ke gedung teater dekat Tokyo Dome?" pinta Shohei menghela napas. "Sebenarnya hari ini aku ada jadwal kencan dengan kekasihku," bisiknya malu-malu.


Seto Tanaka membulatkan matanya. "Apa kekasih Anda tak masalah dengan pembatalan kencan?"


"Maka dari itu aku meminta tolong padamu. Dia ada di sana."


Seto mengangguk cepat. "Siap!"


Denting lift berbunyi seiring pintunya terbuka dan mengantarkan mereka ke lantai tujuan. Shohei dan Seto tampak terlonjak ketika jajaran pejabat tinggi kepolisian berdiri di hadapan mereka. Rupanya kedua orang itu salah menaiki lift. Lift yang membawa mereka itu dikhususkan untuk para pejabat tinggi kepolisian nasional. Tak ayal, mereka pun bergegas membungkuk untuk meminta maaf dan langsung keluar.


Salah seorang pejabat tinggi kepolisian lantas menoleh ke belakang, melihat siluet punggung Shohei yang baru saja berlalu di hadapan mereka.


"Bukankah pria berkacamata itu adalah anak dari jenderal Yamazaki-san?" tanya pejabat itu dengan mata gelap yang melintas.


"Oh, iya, dia penyidik di kepolisian Metropolitan. Dia juga telah direkomendasikan pindah ke sini," sahut salah satu pejabat kepolisian.



Akhirnya, Rai dan Seina tiba di gedung teater. Beberapa calon penonton terlihat memasuki gedung itu. Seina dan Rai kompak keluar dari mobil. Sempat saling melirik, Rai memutuskan berjalan lebih dulu tanpa berkata apa pun.


"Tunggu!" Teriakan Seina menghentikan langkah Rai.


Rai berbalik pelan, menoleh datar ke arah Seina.


"Arigatou gozaimasu telah menggantikan Shohei mengantarku ke sini. Gomennasai, jika aku merepotkanmu. Sepertinya dari tadi kau tidak nyaman. Seharusnya kau bisa menolak permintaan Shohei dari pada melakukannya dengan terpaksa," ucap Seina yang merasa kesal karena Rai terlihat ketus dan tak mau bicara padanya.


Lagi-lagi Rai hanya membisu. Namun, kali ini ia mengangkat tangan dan menunjukkan kedua telapak tangannya ke arah Seina. Ia mulai menggerak-gerakkan jari-jarinya dengan lincah, membuat sebuah kalimat dengan bahasa isyarat.


Sontak, hal itu membuat Seina terperangah dan langsung membungkuk berulang-ulang.


"Gomen, gomennasai," ucapnya dengan rasa bersalah, "aku benar-benar tidak tahu," sambungnya lagi yang mengira Rai seorang tunawicara.


Rai kembali menggerak-gerakkan tangannya. "Tidak apa-apa," ucapnya dalam bahasa isyarat.


"Apa kau bisa mendengar suaraku?" tanya Seina dengan nada hati-hati.


Rai mengangguk.


"Apa aku boleh tahu namamu? Shohei-kun tidak sempat memberitahukannya padaku," tanyanya kembali.


Rai mulai mengeja huruf per huruf dengan jari-jarinya yang memudahkan Seina membaca namanya.


"M-A-T-S-U-I. Matsui ... Matsui-san?" Seina membaca huruf-huruf itu dalam satu kata.


Rai menunjukkan simbol cincin sebagai tanda penyebutan nama yang dikatakan Seina itu benar. Ia kemudian berbalik pelan membelakangi Seina. Sinar matanya meredup secara perlahan, dan garis senyum di bibirnya lenyap berangsur-angsur.


Black Shadow adalah bayangan Shohei, bukan Rai Matsui.


.


.


.


tancepin jempolnya dan kasih komentar, biar gua ada alasan untuk cepat up 😆