
Kei menarik napas dalam-dalam lalu mengembuskan secara perlahan. Ia tak terkejut sama sekali karena sebelumnya sepupunya itu sudah pernah mengatakan padanya meski tak terang-terangan seperti sekarang.
"Pertama yang harus kau ceritakan padaku adalah siapa pria yang kau cintai?" tanya Kei dengan tenang.
Seina terdiam. Tatapannya mengarah ke bawah. Tentu ia bingung menjawabnya. Lebih tepatnya, sulit untuk mengatakan sosok pria yang ia cintai itu adalah Black Shadow. Kei pasti akan tak percaya, atau mungkin ia disangka sudah gila jika mengatakan sering bertemu dengan Black Shadow.
"Aku tidak bisa menjawabnya," jawab Seina tertunduk lemas.
"Benar juga, ya. Meskipun kau mengatakannya, bukankah aku tak akan mengenalinya. Kalau begitu, apa yang membuat kau jatuh cinta pada orang itu?" Kei mengganti pertanyaannya.
Seina makin bingung menjawab. "Aku ... aku juga tidak tahu! Cinta itu datang seperti petir. Sangat tiba-tiba hingga aku pun terkejut."
"Kalau begitu lupakan saja dia!"
"Eh?" Seina terhenyak dengan wajah yang kaku.
"Lupakan orang itu, Seina. Sebagaimana petir yang datang menyambar, meledak sesaat lalu menghilang, begitu pun rasa cinta yang kau alami saat ini. Hanya sekilas dan tidak akan bertahan lama."
"Kei-niichan, kau tidak paham yang aku rasakan. Awalnya aku kurang yakin dengan perasaanku. Aku jatuh cinta pada orang yang tak seharusnya. Meski tahu aku tidak mungkin bersamanya dan dia tidak membalas cintaku, tapi aku juga tidak bisa melanjutkan hubunganku dengan Shohei-kun," rintih Seina memegang kedua tangan Kei.
"Kelebihan apa yang dimiliki pria itu yang tidak dimiliki Yamazaki? Di mata ayahmu dan juga di mataku, Yamazaki satu-satunya pria yang pantas menjadi pendampingmu."
"Kalian benar! Bahkan aku juga berpikir seperti itu! Saat papa memperkenalkan Shohei padaku, aku langsung tertarik. Dengan segala kelebihan yang dia miliki, aku yakin bisa jatuh cinta padanya. Aku bahkan merasa bangga bisa menjadi kekasih seorang detektif terbaik di kepolisian. Aku berusaha mengerti dengan kesibukannya. Meski dia selalu memprioritaskan pekerjaannya, meski dia tidak pernah menghubungiku lebih dulu, meski dia sangat kaku dan kikuk, tapi aku sangat senang menjadi kekasihnya," tutur Seina menggebu-gebu.
"Lalu?"
"Sampai saat aku terus bertemu dengan orang itu, hatiku seakan berbalik dan pandanganku hanya tertutupi wajah pria itu. Walaupun pertemuanku dengan pria itu singkat dan tidak masuk akal, tapi meninggalkan bekas yang berkesan. Aku mencoba melupakan bayang-bayang pria itu dengan fokus pada hubunganku bersama Shohei, di satu sisi hatiku malah menuntut Shohei menjadi seperti pria itu. Aku merasa selama ini berpura-pura menjadi perempuan yang pengertian di matanya. Parahnya lagi, aku terus berharap memiliki hubungan yang romantis dan tidak hambar seperti yang kujalani sekarang dengan Shohei."
Kei langsung menggenggam tangan Seina. "Semua itu masih bisa kau bicarakan dengan Shohei. Sedikit menuntut pada pasangan bukan hal yang buruk. Selagi itu demi keharmonisan hubungan kalian. Karena yang menjalaninya adalah kau dan Shohei."
"Jadi ... kau juga sama seperti papa? Memaksaku untuk tetap melanjutkan hubungan ini meskipun aku sudah mencintai orang lain?"
"Seina-chan, seperti yang sudah kukatakan. Perasaanmu pada orang itu akan berlalu."
Seina tampak kecewa mendengar respon Kei. Ia langsung menepis tangan Kei sambil berkata, "Aku menceritakan ini padamu karena kupikir Oniichan akan mengerti perasaanku."
"Justru aku paham dan pernah mengalami hal serupa di saat aku telah memiliki seseorang. Aku pernah berada di posisimu. Delapan tahun lalu, saat aku ditugaskan meliput di kawasan Timur Tengah, aku jatuh cinta dengan salah satu pengungsi wanita. Di usiaku masih sangat muda, cinta kurasakan meledak-ledak bahkan menerobos logika. Bahkan dia adalah seorang janda muda. Suaminya meninggal saat bergabung dalam kelompok sipil bersenjata. Aku terus mencintainya hingga sanggup memutuskan hubunganku dengan kekasihku yang berada di Tokyo. Tapi, apa akhir yang kudapatkan? Tidak keduanya."
Seina bergeming sesaat. Kei kembali menyentuh punggung tangan Seina dengan lembut.
"Seina-chan, dengarkan aku! Ketika kau mencintai seseorang, kau akan menganggap dirimu benar dan semua orang salah. Jangan cepat mengambil keputusan, apalagi meninggalkan orang yang mencintai kita demi orang yang belum tentu membalas perasaan kita."
Kei keluar dari kamar, meninggalkan Seina yang masih membeku dengan air mata yang menggenang. Ia benar-benar dilema.
Pada saat ini, aku benar-benar tidak tahu harus tetap melanjutkan hubunganku dengan Shohei, atau berhenti sampai di sini. Aku benar-benar tidak tahu ....
Seina memutar kepala ke samping, meraih ponsel yang tergeletak di meja nakas. Sudah semalaman, ia tak mengaktifkan ponselnya itu. Sekarang, tepat saat ponselnya hidup, bunyi pemberitahuan pesan suara masuk secara beruntun. Seina mulai mendengar pesan itu satu per satu.
"Seina-chan, hontou ni gomennasai. Aku telah merusak rencana kencan kita. Aku tidak mengabarimu dan juga terlambat datang. Kau pasti lelah menungguku. Gomen, gomennasai. Suara Shohei dengan nada khawatir terdengar begitu jelas.
Seina kembali mendengar pesan suara berikutnya yang masih berasal dari Shohei. "Seina-chan, sekali lagi tolong maafkan aku! Aku janji akan mengganti kencan kita yang berantakan. Minggu depan kau mau ke mana? Apa kau mau keluar Tokyo? Atau kau ingin aku mengambil cuti kantor untuk kita berlibur? Ah, apa kau mau kita berkencan besok? Kebetulan aku punya waktu sore hari."
Seina terus mendengar pesan suara yang dikirimkan Shohei dari semalam hingga pagi tadi. Permintaan maaf tak henti-hentinya terus diucapkan pria itu. Semakin Seina mendengarnya, semakin bibirnya bergetar dan air matanya meluncur begitu saja. Bagaimana tidak, kekasihnya itu terus menyalahkan dirinya sendiri atas kencan yang gagal terlaksana. Padahal semua itu tak ada kaitannya sama sekali dengan sikapnya yang sekarang. Hatinya yang sedang dilema dan goyah, membuat ia tak mampu membalas sekata pun pesan yang dikirimkan Shohei.
Saat ini, Shohei tengah berada di sebuah kafe yang cukup sepi pengunjung. Dia duduk di sudut ruangan, sambil sesekali mengecek ponselnya. Hingga kini, Seina belum juga menghubunginya meskipun seluruh pesannya telah diterima.
"Aku belum sempat bertanya pada pamanku pagi tadi. Tapi aku berhasil mendapatkan daftar pejabat yang ditemui pamanku selama dua Minggu terakhir." Kei menyodorkan sehelai kertas pada Shohei usai memesan minuman.
"Tidak kusangka kau sangat cepat bergerak!" Shohei mengambil kertas itu sambil bergeleng kagum.
"Menunda sesuatu yang membuatku penasaran bukan gayaku!" Kei tersenyum miring.
"Arigatou." Shohei menyimpan kertas tersebut dalam tasnya.
"Aku berencana mengundang pamanku sebagai narasumber acaraku. Dengan begitu, dia tak akan mencurigaiku jika aku menanyakan sesuatu padanya," ungkap Kei.
"Ide bagus!" Shohei langsung bersemangat, "Dengan begitu, kita mungkin akan mendapatkan informasi tentang target kesepuluh," ucapnya sambil memicingkan sebelah mata.
Teringat dengan curahan hati yang Seina ungkapkan padanya, Kei pun langsung mengubah topik pembicaraan. "Omong-omong, bagaimana hubunganmu dengan Seina?"
Mimik wajah Shohei berubah seketika. "Sepertinya dia sedang marah padaku. Semalam kami janjian berkencan, tapi aku terlambat datang. Dia tak menjawab telepon dan membalas pesanku sampai sekarang. Kurasa dia juga sengaja mematikan teleponnya."
"Apa aku boleh memberimu saran?"
"Dengan senang hati."
"Seina-chan tidak memiliki ibu. Dia hidup dengan ayah yang sangat menyayanginya. Aku adalah kakak sekaligus teman masa kecilnya. Bisa dikatakan dia mengalami father complex¹. Jadi, selama hidupnya dia hanya dekat dengan aku dan pamanku. Kau harus bisa meyakinkan dia bahwa kau adalah lelaki yang tak kalah hebat dari aku dan ayahnya. Jangan sampai dia menemukan lelaki di luar sana yang membuatnya nyaman seperti saat sedang bersama ayahnya ataupun aku."
Shohei mengangguk sambil tertawa bodoh. "Aku ini sangat payah dalam percintaan."
"Rawatlah cinta setelah kau jatuh! Hubungan percintaan bisa sesimpel itu," ucap Kei sambil tersenyum tipis. Ia mengangkat gelas sejajar dengan hidungnya, lalu berkata kembali, "Sama seperti kopi ini, jika kau terus membiarkannya maka akan menjadi dingin, begitu pun perasaan."
.
.
.
visual Kei Ayano
Jejak kaki 🦶🦶
Father complex: Sikap perempuan yang terlalu dekat dengan ayahnya atau kakak laki-laki sehingga membuat dia selalu mencari sosok lelaki yang seperti ayah dari segi umur, sifat, sikap dll. biasa wanita kek gini demen pria dewasa yang berumur. Dia juga gampang meleleh/luluh/terlena/baper dengan perlakuan istimewa yang dilakukan pria terhadapnya.
Nah ada juga istilah brother complex. wanita dengan brother complex ini susah menerima kakaknya menikah dan dia akan mudah cemburu pada istri kakaknya gitu. karena dia menganggap memiliki hak atas kakaknya sendiri.
Satu dari kalian mungkin mengalami dua hal di atas, atau menjadi korban dari wanita yang memiliki sikap father complex/brother complex.
Jangan lupa like yoo