Never Not

Never Not
Ch. 115 : Menenangkan Hati



Shohei langsung memalingkan pandangannya. Ia terlalu terkejut dan tak menyangka akan pengakuan Yuriko barusan. Dia bahkan sama sekali tak menyangka gadis itu memiliki perasaan romantis padanya.


Ini lucu, sejak awal ia menghindari Yuriko karena Rai tampak menyukainya. Siapa sangka dunia percintaan mereka malah berputar seperti bola yang tak berujung maupun memiliki sudut.


Yuriko segera berdiri, menyengir bodoh sambil berkata, "Astaga tidak sepantasnya aku mengutarakan isi hatiku dalam situasi seperti ini. Maaf aku terlalu terbawa perasaanku sendiri."


Ia bergegas ke dapur dan membersihkan peralatan masak yang sempat digunakan untuk memasak bubur. Shohei masih membeku, diam dan terpaku. Sesekali matanya melirik ke arah Yuriko.


Ponsel Yuriko berdering tiba-tiba, ternyata itu berasal dari ibunya. Gadis itu segera menerima panggilan. Baru saja berbicara, ia tampak terkejut dan panik dengan apa yang dikatakan ibunya. Hal itu terlihat oleh Shohei yang sedari tadi memantaunya.


"Kalau begitu, aku akan pulang sekarang! Tunggulah, semoga ada kapal hari ini."


"Ada apa?" tanya Shohei.


Yuriko hanya diam. Tidak seperti saat sedang bersama Rai, dia justru sungkan mengatakan apa yang sedang dialaminya pada Shohei.


"Apa terjadi sesuatu pada keluargamu?" tebak Shohei.


"Ayahku masuk Rumah Sakit sudah beberapa hari ini. Ibu tidak bisa bekerja karena harus menjaganya, sementara tidak ada yang bisa digunakan untuk membayar perawatan jika ibu tidak bekerja. Oleh karena itu, aku ingin pulang untuk melihatnya. Maaf, Shohei-san, aku tidak bisa berlama-lama di sini. Aku harus ke pelabuhan untuk menaiki kapal feri." Yuriko menunduk, lalu mengambil tasnya bersiap untuk pergi.


"Apa aku boleh ikut?" tanya Shohei.


Lontaran kalimat tanya itu menghentikan langkah Yuriko seketika, dia berbalik pelan lalu menatap Shohei yang tampak serius.


"Aku tidak ingin terus seperti ini. Bisakah kau membantuku menghilangkan rasa sakit ini?" pinta Shohei memelas. "Aku rasa ... aku butuh suasana berbeda dari kota Tokyo. Suasana yang bisa mengembalikan semangatku lagi," ucapnya pelan. Bukannya hendak melarikan diri, hanya saja dia butuh menenangkan kembali pikirannya dan menstabilkan emosinya agar bisa lebih berpikir jernih.


Permintaan pria itu tentu saja membuat Yuriko tersentak. Ia berbalik dengan sepasang mata melebar tak percaya. Jantungnya seakan meletup-letup di dalam sana. Meski mencoba diredam, tetap saja berdetak dua kali lipat lebih cepat.


Yuriko sontak mengangguk. Dalam hatinya berkata tidak masalah jika Shohei hanya menjadikan dirinya sebagai pelarian, asalkan pria itu bisa kembali ke tujuan utamanya.


Mempersiapkan diri secara mendadak, Yuriko dan Shohei pun mendatangi pelabuhan untuk mengejar kapal feri hari itu. Untungnya mereka tidak terlambat. Sama-sama telah berada di kapal, keduanya menatap hamparan laut yang luas. Desau angin membuat rambut keduanya melambai-lambai di udara.


"Aku lega kau sudah terlihat sehat," ucap Yuriko memecahkan keheningan di antara mereka.


"Maaf sudah membuatmu khawatir," balas Shohei membungkuk pelan.


"Tidak apa-apa." Yuriko kembali menatap Shohei yang tampak menikmati sentuhan air laut.


Sejujurnya, ia ingin menanyakannya pada Shohei. Hanya saja, dia merasa sungkan. Ia hanya bisa berharap hubungan kedua pria itu baik-baik saja. Dari lubuk hatinya yang terdalam, ia juga mengkhawatirkan Rai. Bahkan batinnya terus bertanya-tanya keberadaan pria itu.


Akhirnya, setelah melewati perjalanan laut yang memakan waktu enam puluh menit, mereka pun tiba di desa Ine yang merupakan kampung halaman Yuriko. Desa terpencil yang terhimpit pegunungan dan perairan ini masih terletak di kawasan prefektur Kyoto. Saat menginjakkan kaki, pemandangan air laut, rumah apung dan hutan Pinus yang berjajar rapi menyapa sejuk mata.


Yuriko langsung mengajar Shohei ke rumahnya yang berada di pinggiran pantai. Rumah yang didominasi kayu itu tampak sederhana, tak banyak furniture, tapi ada beberapa pajangan foto yang menunjukkan ayah Yuriko dalam balutan seragam polisi kebanggaannya. Mata Shohei memicing saat melihat salah satu foto yang memotret kebersamaan ayah Yuriko dengan para polisi lainnya.


"Lihatlah sosok yang di samping ayahku ini! Bukankah dia Kazuya Toda?"


Shohei mengangguk. "Benar, dia Kazuya Toda."


Mereka lalu bersama-sama mengunjungi Rumah Sakit tempat ayah Yuriko dirawat. Sesampainya di ruang bangsal, ibu Yuriko terkejut ketika melihat putrinya membawa pria dewasa yang tampan dengan bentuk tubuh yang tinggi tegap.


Shohei membungkuk sopan di hadapan ayah dan ibu Yuriko. Ibu Yuriko berdiri dan segera menarik tangan anaknya lalu mengajak keluar dari ruangan itu.


"Siapa pria tampan itu?" tanya ibu Yuriko sambil mengintip Shohei dari jendela yang bertirai.


"Dia temanku," jawab yuriko.


"Benar dia temanmu?" Ibu Yuriko masih tak percaya.


"Iya, dia temanku."


Ibu Yuriko langsung memasang tampang kecewa. "Kupikir dia kekasihmu. Pasti dia anak orang kaya. Soalnya dari tubuhnya tercium seperti bau aroma lembaran uang baru."


Yuriko menyeringai lalu berkata, "Sebenarnya dia majikan di tempatku bekerja."


Sementara Yuriko hanya bisa mengembuskan napas kasar. Ketika hendak masuk kembali ke dalam ruangan, ia melihat Shohei dan ayahnya tengah berbicara serius. Ia pun mengurungkan niatnya dan membiarkan Shohei berbicara empat mata dengan ayahnya.


Sore itu, semburat cahaya di langit jingga sangat memesona. Garis cakrawala tampak anggun di angkasa, menjadi pertanda bahwa sebentar lagi akan ada pergantian waktu dari terang ke gelap. Burung-burung riuh bersenandung terbang secara berkelompok. Menunjukkan suasana desa memang lebih indah dibanding suasana kota yang dipenuhi kebisingan mesin.


Pulang dari Rumah Sakit, Yuriko mengajak Shohei mengelilingi desanya. Namun, Shohei mengernyit ketika gadis itu malah membawanya ke tempat penyewaan sepeda.


"Ketika aku sedih, aku memilih bersepeda di perbukitan. Aku menumpahkan kekesalanku dengan mengayuh sepeda sekencang-kencangnya untuk melawan arah angin. Laju angin yang meniup seakan menerbangkan seluruh masalah yang berkecamuk di kepalaku," ucap Yuriko sambil tersenyum.


Setelah membayar uang sewa, masing-masing dari mereka mengambil sepeda dan mulai menaikinya. Dua insan itu kini bersepeda santai dengan beriringan. Mereka menulusuri tiap sudut desa, melewati pantai, hamparan sawah, tempat pusat perdagangan pasar hingga jalanan sepi yang berkelok.


Shohei dan Yuriko kompak berteriak saat mereka menuruni perbukitan yang sempit di mana di bawahnya terdapat jurang. Tampaknya mereka sedang beradu kecepatan. Terbukti, keduanya menaikkan tempo kecepatan bersepeda. Kaki mereka mengayuh cepat bagaikan atlet di ajang kejuaraan.


"Aku pasti menang," ucap Shohei yang sepedanya kini bergerak maju lebih cepat dari sepeda Yuriko.


"Belum tentu!" Yuriko membungkukkan tubuh, lalu mempercepat dayungnya agar bisa sejajar dengan posisi Shohei saat ini.


"Hah ... hah ... Hah ...." Keduanya kompak menyandarkan sepeda mereka di pohon lalu duduk beristirahat di aspal.


"Ternyata ketika beraktivitas, manusia akan merasa dirinya benar-benar hidup. Arigatou, untuk sore yang menyenangkan," ucap Shohei sambil merajut senyum.


Yuriko hanya bisa membalas senyuman pria itu. Titik peluh masih enggan berhenti keluar dari pori-pori kulit mereka. Sama-sama terdiam dan hanya saling memandang, tawa mereka pun pecah tanpa ada hal yang lucu untuk ditertawakan.


Cahaya kegelapan mulai terlihat di kaki langit. Yuriko dan Shohei memutuskan kembali ke rumah. Di dapur, ibu Yuriko tengah sibuk menyiapkan hidangan makan malam besar. Aroma ikan laut yang dipanggang telah tercium, menggelitik rasa lapar keduanya yang kelelahan setelah bersepeda.


"Yu-chan, ibu kehabisan Shoyu, tolong beli di toko Pak Utada," perintah ibunya yang tengah sibuk memotong lobak.


"Baik," sahut Yuriko. Dia lalu menoleh ke arah Shohei. "Apa kau mau ikut menemaniku berbelanja? Tidak terlalu jauh."


Shohei mengangguk. "Boleh."


"Bagaimana kalau kita pakai motor saja biar cepat?" Yuriko berjalan ke arah motor tua yang terparkir di halaman rumah mereka.


"Ah, aku tidak yakin. Soalnya sudah lama aku tidak mengendarai sepeda motor." Shohei menggaruk-garuk kepalanya.


"Itu gampang! Kau cukup diam di belakangku," ucap Yuriko sambil menaiki motor dan mulai menghidupkan mesin.


"Heh?" Shohei tampak terkesiap. Namun, Yuriko langsung melempar helm yang membuatnya sedikit kelabakan menangkap. Setelah memakai helm, ia pun duduk di belakang gadis itu.



Yuta baru saja keluar dari kasino tertutup tepatnya di pusat hiburan malam ilegal yang menjadi sarang para Yakuza. Ia mendengus kesal karena kalah bermain kartu dengan memakai sisa uang yang diberikan Eita Kaze padanya. Ya, soal berjudi, Yuta memang tak sehebat Rai yang menguasai trik-trik agar bisa menang. Kasino ini dulunya juga menjadi tempat favoritnya bersama Rai untuk berjudi sekaligus mencari mangsa baru.


Yuta berjalan sempoyongan dengan sebotol sampanye di tangannya menuju tempat ia memarkirkan mobilnya. Tanpa disadari, ternyata sedari tadi ia dipantau sekelompok orang berseragam hitam. Saat menuju gang sempit dan sepi, dua orang yang ternyata merupakan anak buah Eita Kaze langsung menghadangnya.


Langkah Yuta terhenti secara paksa. Hanya dengan melihat tampang mereka, ia langsung tahu akan ada bahaya yang mengancamnya saat ini. Ia pun segera berbalik cepat. Sayangnya, di belakangnya pun telah berdiri dua orang dengan seragam serupa.


Yuta tentu tak berdaya di tangan orang-orang itu. Terlebih lagi ia tidak punya kesempatan untuk melarikan diri. Ia memilih lari ke arah samping, tapi salah satu dari mereka dengan mudah menangkap tengkuk lehernya sehingga membuatnya tak bisa bergerak. Salah satu dari mereka maju, lalu menghajar perut dan wajahnya berkali-kali.


Yuta terjerembab di aspal dalam keadaan tak berdaya. Namun, ia tak mau mati sia-sia begitu saja. Ia beringsut mundur sambil melempar benda apa pun ke arah mereka. Sayangnya, tindakannya malah menyulut emosi orang-orang itu. Salah satu di antara mereka mengangkat tubuhnya seperti karung beras, lalu melemparnya ke tumpukan kayu.


Yuta merintih kesakitan. Sungguh, ia sudah tak punya tenaga lagi untuk bergerak apalagi kabur dari mereka. Hampir pasrah. Saat orang-orang itu hendak membekuknya, di waktu yang sama muncul sesosok pria yang melompat dari atas gedung tua lalu menyapukan satu tendangan yang langsung mendarat di rahang masing-masing orang itu.


.


.


.


aku sibuk sekali Akhir2 ini, tapi kusempatkan untuk tetap update cerita ini. jadi kalian juga jangan lupa sempatkan like dan komen. kalau ada tipo, kata berulang, kalimat rancu, komen aja di tiap paragraf nanti aku edit lagi.