Never Not

Never Not
Chapter 11



Dunia terkadang terlihat sempit dengan pemeran yang itu-itu saja.


Natya berbaring menatap langit-langit kamarnya. Ia masih berusaha mencerna cerita panjang Nada tentang hidupnya. Sebuah versi pengungkapan atas sorot mata sedih yang sering Natya saksikan tatkala berjumpa dengan gadis itu. Termasuk saat pertama kali dia berjumpa dengan Nada tanpa gadis ia ketahui.


Hingga saat ini, setelah Nada bercerita tentang kisahnya dan Adrian, Natya tidak menceritakan bahwa kesedihan Nada yang pertama kali ia lihat bukan di Starbucks, namun di parkiran Staccato pada Valentine lalu. Natya mengingat Nada seorang diri menunggu di restoran tersebut hingga akhirnya mengikuti gadis itu ke parkiran dan melihatnya menangis di dalam mobil.


Cerita Nada dan Natya sendiri mengusik pikiran Natya. Dia tidak menyangka bahwa pacar Arinta merupakan orang yang mengambil andil besar atas kesedihan Nada. Natya tidak yakin apakah Arinta tahu bahwa Nada adalah salat satu orang yang pernah berada di kehidupan Adrian. Sebuah lembaran yang dikoyakkan begitu saja oleh Adrian karena ia tidak menyukai jalan ceritanya.


Natya mengingat Kay pernah bercerita sekilas tentang Arinta yang mempunyai hubungan yang naik turun dengan sahabat dekatnya. Kisah yang waktu itu Natya anggap sebagai karangan Kay belakang untuk mendeskripsikan apa yang ia dan Kay jalani. Namun, ternyata semuanya nyata. Adrian dan Arinta. Adrian dan Nada. Termasuk diri Natya sendiri. Dia tidak tahu peran apa yang ia jalani saat ini, namun yang pasti, ia tidak mau berakhir menjadi seseorang yang menyebabkan tangis di wajah Nada semakin menyebar.


Natya memejamkan matanya dan meletakkan lengannya di atas pelupuk matanya.


He never expected the night would turn like this.


...•••...


"Si Arinta temenan sama Natya?"


Tangan Frinta yang sedang sibuk mengais keripik kentang favoritnya langsung berhenti. Makan siang mereka kali ini diwarnai oleh teriakan-teriakan dan lenguhan milik Frinta saat Nada menceritakan apa yang terjadi dengannya di malam Minggu kemarin.


"Yup, but that's not really the point, babe. In the end, I told him everything."


"You and Adrian?"


Nada mengangguk lemah.


"Gosh, what a very K-Drama." Frinta geleng-geleng kepala tak percaya.


"I know." Nada memijat kepalanya pelan. Dia tidak terlalu banyak minum namun pengar yang ia rasakan di Minggu pagi masih berdampak hingga detik ini. Dia ingat bagaimana dia dan Natya menjadi diam sepanjang perjalanan pulang. Natya mengantarnya ke kosan dan mereka hanya berbicara seadanya di dalam mobil.


"Tapi, sebenarnya nggak ada pengaruh juga kan ke lo atau Natya. Karna toh sebenarnya Natya ke Arinta apalagi ke Adrian nggak ada ikatan yang gimana-gimana. They are just somebody that he knows, apparently." Frinta menghibur Nada.


"You're right... But, somehow it still feels weird."


"Udahlah, lupain aja. What happens in Saturday, stays in Saturday."


Nada berusaha menanamkan itu juga di kepalanya. Toh ya, dia dan Natya pun masih dalam tahap permulaan yang awal sekali. Meski diawali dengan kisah yang sedikit rumit, setidaknya dia rasa itu tidak berpengaruh apapun ke mereka.


"Mba Nada! Mba Frinta!"


Nada dan Frinta mendapati Terra sedang melambai semangat ke arah mereka. Terlihat paper bag Gucci di tangan gadis tersebut. Frinta melihat ke paper bag tersebut lalu ke wajah berseri Terra.


"Wah, belanja tas baru, Ra?"


"Titipan Kak Dhito. Katanya ada temannya yang ulang tahun. Jadi, tadi dia nitip necklace sama earrings aja."


Frinta 'O' tanpa suara. Tapi, setelah itu dia melanjutkan. "Mau juga sih gue temanan sama Dhito." Nada menginjak pelan kaki temannya tersebut.


"Bareng kita yuk, Ra. Udah makan?"


"Udah kak. Tapi, ini udah mau balik." Terra masih berdiri di dekat mereka.


"Oh ya udah, balik kantor barengan aja. Kita juga udah selesai," tawar Nada langsung. Dia dan Frinta pun menyelesaikan pembayaran dan mereka bertiga langsung menuju parkiran.


Terra tertawa mendengar pertanyaan Frinta yang blak-blakan. "Temannya, Kak. Eh, tapi lebih tepatnya, temannya Kak Natya sih." Terra berpikir beberapa saat sebelum tiba-tiba melanjutkan dengan semangat. "Wah, jangan-jangan Mba Nada kenal juga."


"Hm?" Nada yang sedang menyetir jadi mendadak deg-degan.


"Arinta?" Sahut Frinta penuh selidik.


Terra menggeleng. "Bukan. Kak Kay."


"Mantannya Natya?" Kali ini Nada yang bertanya. Leher Frinta langsung sakit karena dia menoleh begitu cepat ke arah Nada.


"Ha? Siapa?"


"Bukan."


Frinta dan Terra sama-sama bereaksi di waktu yang berbarengan.


"Lo dulu, Ra." Frinta mempersilakan karena dia sadar Terra adalah informan mereka saat ini. Kalau kekagetan dia sih cukup dia simpan sendiri saja.


"Bukan pacarnya, Kak Natya. Tapi, sahabat deketnya. Setauku sih ya," jawab Terra tidak terlalu yakin. "Emang Kak Natya nggak cerita ke Mba Nada. Katanya malam Minggu kemarin jalan berdua yaaaa?" goda Terra.


"Wah, tau aja lo, Ra. Keren juga," puji Frinta. Dia jadi menimbang kayaknya Terra ini boleh juga direkrut jadi mata-mata untuk perkembangan kisah Nada.


"Nggak ada cerita kok Natya. Lagian kayaknya emang belum ada momen tepat juga buat nyeritain tentang teman-temannya. "


"Oh... Tapi, aku tetep nggak nyangka sih kalau Kak Natya sama Mba Nada bisa saling kenal. Kak Natya kan orangnya juga lumayan tertutup gitu."


"Terus mantannya dia siapa?" Frinta buru-buru menyambut segala kesempatan yang ada untuk menggali lebih dalam lagi soal Natya.


"Nggak tau sih... Aku juga sebenarnya nggak dekat-dekat banget ke Kak Natya. Cuma ya dia sering aja mampir ke apartemen kan buat ketemu Kak Dhito. Aku nggak nimbrung juga. Aku cuma tahu memang Kak Natya itu ya dekat sama Kak Kay."


"Si Kay ini teman deket banget gitu?"


"Kayaknya gitu. Aku juga pernah lihat secara langsung sekali. Kalau secara nggak langsung mah sering. Mba semua pasti pernah lihat juga."


"Ha? Siapa?" Frinta mendadak bingung.


"Kak Kay itu ya artis gitu. Masih baru banget dulu dia model. Catherine Lee."


"What?!" pekik Frinta.


Nada sendiri sebenarnya hampir mengerem mendadak. Untung dia bisa menjaga kesadaran dirinya. Duh, ini si Terra datang-datang udah bawa kabar mengejutkan aja.


"Wah, gila-gila... Otak gue butuh mencerna semuanya dulu nih." Frinta memijit kepalanya pelan. Dia tidak menyangka bahwa tiba-tiba ceritanya Nada sudah kayak jaringan laba-laba aja meterkaitannya.


Terra sendiri jadi bingung. Apa dia ada salah ngomong ya? Atau kebanyakan ngomong?


Sementara Nada, dia menarik napas berat. Banyak hal yang ia tidak ketahui tentang Natya. Begitu juga sebaliknya. Nada tidak tahu harus bereaksi bagaimana mendengar lingkaran pertemanan Natya yang unik ini.


Yang paling mengerikan dari semua ini, Nada tiba-tiba tersadar, apa sekarang dia juga menjadi bayang seorang Catherine Lee di hidup Natya?


Perjalanan pulang ke kantor pun menjadi terasa lebih panjang bagi Nada.