
Ramalan kakek tua itu membuat Rai tersentak. "Ramalan seperti apa itu? Kau mengatakan hal-hal berbahaya agar aku datang kembali padamu di lain waktu, kan? Kalau hanya seperti itu aku juga bisa meramal, aku ramal kau akan tertidur jika mengantuk dan makan jika lapar," ketus Rai sambil menatap punggung kakek tua yang membelakanginya.
Ia lantas tertawa tanpa suara sambil kembali memutar badannya.
"Kau tak dipaksa untuk memercayai ini semua. Tapi jika kau dekat dengannya, tak ada salahnya memperingati pria itu akan badai yang datang berturut-turut di kehidupannya," kata kakek tua itu dengan pandangan yang mengarah pada Shohei.
Rai berjalan tak acuh meninggalkan kakek tua. Sebagai mantan penipu ulung, tentu ia tak memercayai hal-hal seperti itu. Sebab, dulunya ia sering berpura-pura menjadi peramal untuk menjerat target sekelas bos-bos besar.
Pada pukul delapan malam tadi, Yuriko baru saja selesai menyiapkan hidangan makan malam untuk Shohei. Setelah pulang dari kafe, ia kembali ke apartemen itu untuk memasak. Ya, sebagai asisten rumah, selain membersihkan apartemen, sudah menjadi tugasnya untuk menyiapkan sarapan dan makan malam pria itu meski mereka tak bertemu akhir-akhir ini. Ia bisa membagi waktu kuliahnya dengan bekerja paruh waktu di sini. Bahkan, gadis itu sempat mengikuti sejumlah pelatihan memasak yang diadakan secara gratis demi benar-benar mahir memasak.
Semua makanan yang telah ditata di meja makan, telah dilapisi dengan plastik wrap untuk menjaga kesegarannya.
"Yosh! Akhirnya selesai juga. Huaahhh ... ini menu baru yang kupraktekkan dari hasil pelatihan kemarin. Semoga pak polisi suka!"
Yuriko melihat jam dinding yang telah menunjukkan angka delapan malam.
"Apakah pak polisi masih bekerja? Apa dia tidak memiliki hari libur?" pikir Yuriko sesaat karena ini merupakan hari Minggu, tetapi Shohei tak terlihat di rumahnya, "ah, tidak masalah! Aku akan memaklumi segala pekerjaannya!" sambungnya seolah-olah dirinya adalah pasangan pria itu.
Waktu meloncat pada pukul sepuluh malam. Kini, Yuriko telah pulang ke apartemennya. Baru saja hendak merebahkan tubuhnya di ranjang, terdengar suara pintu yang diketuk secara beruntun dan berisik. Sambil menggerutu, gadis itu melangkah malas membuka pintu.
"'Konbanwa!" sapa Rai dengan heboh begitu pintu terbuka.
"Kenapa datang mengetuk pintu malam-malam begini seperti penagih utang?" geram yuriko dengan nada kesal.
"Ayo, tebak apa yang kubawa!" Pria itu tampak menyembunyikan sesuatu dari balik punggungnya.
"Memangnya apa lagi yang kau bawa selain sering membawa keributan di depan kamarku!" ujar Yuriko sambil bersedekap.
"Jangan berkata jahat seperti itu padaku, karena aku sedang berbaik hati padamu." Rai mengerlingkan mata seraya menunjukkan box makanan dengan desain yang mewah.
Mata Yuriko sontak terang benderang. Ketika ia hendak mengambil box makanan itu, Rai langsung kembali menyembunyikannya. Pria itu malah menerobos masuk ke dalam kamar Yuriko dan duduk di meja kecil yang biasa dijadikan tempat makan.
Yuriko turut duduk di sisi Rai. Tiba-tiba gadis itu menjadi bersikap manis seperti anak kucing. Matanya melebar sempurna saat melihat cheese cake yang dimakan Rai saat mereka berada di kafe mewah tadi sore.
"Ini ...." Suara Yuriko tercekat.
Rai menyodorkan cake mahal itu pada Yuriko sambil mengerahkan tangannya, mempersilakan gadis itu memakannya. Rupanya, setelah pulang dari wahana hantu, Rai kembali ke kafe itu hanya untuk membelikan Yuriko potongan cheese cake itu.
"Makanlah!" ucap pria itu sambil menepuk kepala Yuriko dengan lembut, "Oyasumi," ucapnya kembali sambil berdiri dan hendak keluar.
"Bagaimana dengan bayaran makanan tadi?" tanya Yuriko pelan sambil menatap cheese cake tersebut.
"Tenang! Bukan aku yang membayarnya," balas Rai simpel.
"Sebenarnya ... kau datang di sana untuk berkencan, kan? Makanya kau memintaku agar cepat-cepat membawa teman-temanku pergi," tebak Yuriko tiba-tiba.
"Ada aroma parfum wanita yang melekat kuat di tubuhmu. Aku tahu itu pasti merek Chanel. Teman kencanmu pasti anak orang kaya. Aku bisa mendeteksi status sosial seseorang hanya dengan parfum yang mereka gunakan," ucap Yuriko menggebu-gebu.
Rai terdiam. Secara refleks, ingatannya terkilas pada saat ia membantu Seina keluar dari wahana hantu. Ya, parfum yang menempel di tubuhnya itu tentu milik gadis itu. Apalagi selama di dalam wahana, ia terus mendekapnya.
Kali ini, Rai tak membalas ucapan Yuriko, seolah membiarkan gadis itu tetap pada pemikirannya.
Saat Rai hendak membuka kenop pintu, Yuriko kembali berkata, "Apa pun itu ... Arigatou gozaimasu, Tetangga terbaik!"
"Hum." Rai mengangguk tanpa berbalik, lalu memutuskan beranjak menuju kamarnya. Ketika telah berada di luar, Rai mengangkat mantelnya sambil mengendus. Tampaknya ia ingin memastikan aroma parfum itu.
Yuriko segera mencicipi cheese yang berhasil membuatnya tergiur sore tadi. Matanya terpejam rapat saat satu suapan telah masuk ke dalam mulutnya.
"Oishi! Ini sungguh enak! Kenapa makanan kalangan atas selalu enak begini?"
Di sisi lain, Shohei sedang dalam perjalanan mengantar Seina pulang ke rumahnya. Sepanjang jalan, gadis itu menceritakan masa kecilnya sebagai anak yang dibesarkan ayahnya seorang dan hal-hal yang sangat ia takuti hingga sekarang.
"Aku takut menonton film horor. Soalnya setelah menonton, aku akan susah tidur karena terus membayangkan hantu. Sepertinya, aku juga tidak bisa tidur malam ini," tutur Seina tertawa kecil.
"Gomen. Aku tidak akan membawamu ke sana lagi." Kepala Shohei tertunduk dengan rasa penuh penyesalan.
"Ah, aku malah jadi membuatmu merasa bersalah!" Seina menyandarkan kepalanya, lalu menghening sesaat sembari melamunkan sesuatu. "Tapi ... untungnya aku bertemu dengan temanmu dan memintanya membawaku keluar dari tempat itu. Jika tidak, mungkin aku sudah jatuh pingsan," kenangnya sambil mengingat kembali beberapa tindakan perlindungan yang Rai berikan padanya.
"Hontou ni gomennasai." Seperti kehabisan kata, Shohei kembali meminta maaf tanpa banyak bersuara.
Entah kenapa, tiba-tiba ia mengkhawatirkan hubungannya dengan gadis itu seiring waktu untuk menyelesaikan misi semakin dekat. Meski perasaannya pada Seina telah tumpah ruah, tetapi seakan ada sesuatu yang mengganjal di hatinya. Ya, apalagi Shohei adalah pria yang selalu mengedepankan logika dibanding emosinya.
Tak terasa, mobil itu telah membawa mereka hingga di depan kediaman tuan Matsumoto. Seina melepas sabuk pengaman seraya melihat ke tempat parkir.
"Sepertinya papa tidak pulang lagi," terka Seina sambil bersiap keluar dari mobil. Namun, ia tersentak ketika Shohei menahan pergelangan tangannya hingga membuatnya menoleh.
"Izinkan aku menginap di rumahmu dan menemanimu malam ini," ucap Shohei seketika. Kali ini, kalimat itu muncul atas inisiatifnya sendiri. Bukan atas permintaan Seina seperti waktu itu, bukan pula bagian saran dari Rai.
Sepasang alis Seina tampak berkerut. "Apa kau khawatir karena aku tak akan bisa tidur karena efek wahana hantu tadi?"
Shohei menggeleng pelan. "Karena aku ingin lebih lama bersamamu," ucapnya sambil menatap netra legam gadis itu.
.
.
.
like+ komen