
Lelaki bernama asli Matsui Rai itu memandang lurus ke depan, melihat megahnya kota Tokyo dari atas menara tertinggi itu. Ia memundurkan ingatan saat mendatangi Rumah Sakit tempat Shohei dirawat.
Ketika itu, ia berpapasan dengan beberapa polisi yang tampak hendak meninggalkan Rumah Sakit. Mereka tengah bercerita tentang kasus penusukan yang dialami Shohei.
"Kudengar dari tim penyelidik investigasi ketua Yamazaki-san sempat menuliskan sebuah pesan di lantai trotoar tempatnya terkapar," ucap salah satu polisi.
Rai yang tak sengaja menguping pembicaraan mereka sontak terlonjak dengan mata yang melebar. Ia menghentikan langkahnya serta menajamkan Indra pendengaran untuk menangkap informasi lebih dari polisi-polisi itu.
"Benarkah? Apa yang ketua Yamazaki-san tulis?" tanya beberapa polisi yang terkaget.
"L L O D," jawab salah satu polisi sambil mengeja setiap huruf yang sempat ia lihat langsung di tempat kejadian.
"Apa itu? Apakah sebuah kode rahasia?" Polisi-polisi lainnya tampak berpikir.
"Entahlah. Tapi sekelas detektif Shu pun tidak mengerti dan mengatakan itu bukan kode atau sandi. Dia menuliskan itu menggunakan darahnya sendiri. Dan tampaknya memakai tangan kiri karena tangan kanannya bersih dari darah," lanjut polisi tadi.
"Apakah itu sebuah inisial pelaku yang menyerangnya? Atau ada kaitannya dengan kasus dalam video viral itu?" pikir salah satu polisi.
"Seharusnya jika mengetahuinya, Yamazaki-san hanya tinggal menulis namanya langsung," sambung polisi tersebut.
"Tunggu! Tidakkah kalian merasa penikaman ini terlalu kebetulan? Meski tempat kejadian perkara itu memang sepi dan toko-toko di sekitarnya telah mati, tetapi tak ada catatan kriminal yang terjadi di lokasi itu sebelumnya. Artinya, itu bukanlah tempat yang rawan untuk terjadi tingkat kejahatan," kata salah satu polisi yang berpikir kritis.
Usai mengingat kembali hal yang didengarnya kemarin malam, Black Shadow pun memulai siaran langsungnya tanpa ada Mr. White yang mengendalikan semuanya seperti biasa.
Seina masih berada di menara yang sama sambil menangkup kedua tangannya, memohon agar bisa dipertemukan dengan Black Shadow. Tiba-tiba ia mendapat pesan dari Kei yang menginfokan jika Black Shadow tengah mengadakan siaran langsung sekarang. Sontak, gadis yang sedang menjalin hubungan dengan Shohei itu bergegas mengambil ponselnya dan membuka salah satu aplikasi live streaming.
Semua mata publik tertuju pada siaran langsung Black Shadow saat ini. Tampilan siaran kali ini terlihat berbeda dari sebelum-sebelumnya. Jika biasanya video diawali kehadiran Black Shadow yang tampil bak seorang reporter dengan jargon andalannya, maka sekarang hanya ada sebuah teks yang berisi semacam kuis. Pria bertopeng itu meminta para penonton untuk berpartisipasi dengan menjawab pertanyaan yang ia lontarkan di kanal siaran langsungnya saat ini.
Di layar yang gelap itu tertulis sebuah pertanyaan berisi:
Apakah benar gadis hostest yang menghilang itu membawa lari uang pemilik kasino?
Apakah benar penusukan yang dialami ketua penyidik kepolisian Metropolitan dilakukan oleh perampok?
Orang-orang tampak mengernyit kebingungan membaca pertanyaan yang dilayangkan oleh Black Shadow. Yuriko yang awalnya tak tertarik, menjadi serius menonton tayangan tersebut ketika Black Shadow menyinggung tentang penusukan Penyidik Kepolisian Metropolitan. Seingatnya, pagi tadi Rai mengabarkan jika Shohei belum juga sadar.
Di tempat kerja, Kei yang baru saja menyelesaikan program acaranya tampak memikirkan sesuatu meski matanya masih tertuju di layar laptop.
"Apakah dia mendapatkan temuan fakta yang berbeda dengan penyelidikan polisi? Ini sangat menarik," ucap Kei tersenyum tipis seraya memetik jari.
Berikutnya, tulisan berganti lagi. Di layar tersebut tertulis jika Black Shadow akan memberikan sebuah petunjuk yang memudahkan penonton menjawab pertanyaan. Layar langsung beralih ke sebuah ruangan Rumah Sakit tempat di mana Shohei dirawat. Pada rekaman tersebut terlihat pula Shohei yang masih terbaring dan belum siuman.
Mata Seina terbelalak seketika. "Kapan Black Shadow masuk ke kamar Shohei-kun dan mengambil rekaman itu? Apakah saat aku pulang ke rumah? Atau saat aku menuju ke sini?" gumamnya sambil mencoba mengingat-ingat.
Setelah memberi petunjuk rekaman yang menampilkan Shohei, layar kembali hitam dan hanya ada sebuah teks.
"Jika kalian tak mengerti di mana letak petunjuknya, maka akan aku beri tahu. Penyidik kepolisian yang sedang terbaring di sana merupakan petunjuk dari kedua kasus di atas yang sebenarnya saling berkaitan. Penyidik itu menyimpan bukti dari pelaku utama untuk kasus video viral."
Orang-orang tercengang ketika membaca pesan Black Shadow di layar.
Para polisi di gedung kepolisian Metro pun turut heboh. Mereka bertanya-tanya kira-kira bukti apa yang disimpan oleh Shohei. Detektif Shu melihat deretan huruf yang abstrak sambil memicingkan mata. Ia berusaha keras untuk mengartikan maksud deretan huruf yang ditulis oleh Shohei.
"Jangan-jangan, bukti yang didapatkan ketua Yamazaki-san ada di ponselnya. Maka dari itu si penusuk menghancurkan ponselnya!" ujar salah satu polisi yang sontak membuat mata detektif Shu terbuka lebar.
Black Shadow lantas membuka polling untuk meminta penonton menjawab pertanyaannya barusan. Hanya ada dua jawaban yang perlu dipilih penonton, Ya atau Tidak. Ia juga menjelaskan batas polling berakhir sampai besok malam. Tak ayal, penonton pun berbondong-bondong mengikuti polling tersebut sesuai dengan dugaan mereka masing-masing.
Black Shadow menghentikan siarannya setelah menjanjikan akan mengumumkan hasil poling besok malam.
Seina masih terus memusatkan pandangannya ke layar ponsel. Ia mendadak terhenyak saat berpikir mungkin saja Black Shadow akan ke tempat ini. Benar, ketika hendak masuk lift, kepalanya reflek mendongak ke atas dan melihat Black Shadow menggunakan lift tersebut. Gadis itu bergegas memencet tombol. Lift yang membawa Black Shadow sontak terbuka tepat di lantai tempat Seina berada saat ini.
"Kau lagi! Benar-benar penguntit yang gigih," ucap Black Shadow tersenyum miring. Ia mulai berpikir jika Seina adalah gadis biasa yang begitu mengidolakannya, tetapi berlagak jual mahal.
Seina masuk ke lift yang sama, lalu saling berhadapan dengan Black Shadow. "Terserah apa katamu. Tapi, jujur saja sejak kemarin aku sangat ingin menemuimu."
"Maaf, tapi aku sangat sibuk," balas Black Shadow. Ia menarik cepat tengkuk leher Seina untuk membuatnya mendekat. "Jika kau menginginkan servis seperti biasa, nanti saja aku tidak bisa sekarang," bisiknya dengan suara memesona dan diiringi lirikan mata yang menggoda.
Mata Seina membulat seketika. Bertepatan dengan itu, pintu lift kembali terbuka. Ketika pria misterius itu hendak keluar, Seina langsung menahannya dengan memegang ujung jubah pria itu. Posisinya saat ini ada di belakang pria bertopeng itu.
"Aku hanya ingin memohon padamu agar kau membantu penyidik kepolisian itu untuk mengungkap kasus video viral. Aku mohon!" pinta Seina sambil menunduk dalam.
Black Shadow memalingkan kepalanya dengan pelan, menatap datar wajah Seina yang memelas padanya. "Kenapa kau memintaku melakukan itu?"
Seina terdiam sejenak. Mana mungkin ia akan mengatakan jika polisi yang sedang terbaring itu adalah kekasihnya. Selain itu, instingnya berkata jika calon tunangannya itu akan menghadapi bahaya yang lebih besar jika terus mengusut kasus video gadis hostest yang hilang. Maka dari itu, ia memohon pada Black Shadow untuk menggantikan tugas Shohei dalam mengusut kasus tersebut sebelum kekasihnya sadar.
"Karena aku yakin hanya kau yang bisa membantu mereka. Wanita dalam video dan juga penyidik kepolisian itu. Hanya kau yang bisa!" ucap Seina dengan sepasang mata yang tertancap di manik hitam Black Shadow.
"Apa hadiah yang akan kau berikan untukku jika aku berhasil melakukannya?" ucap Black Shadow sembari memutar tubuhnya agar kembali saling berhadapan dengan Seina.
Seina mematung dan hanya dapat meneguk ludah pahitnya. Black Shadow tertawa ringkih lalu berbalik memutuskan keluar.
Tepat saat pintu lift hendak menutup, Seina kembali berteriak, "Ayo kita bertemu lagi di sini besok malam! Aku akan menunggumu di sini dan kau bisa meminta apa pun dariku asal kau dapat menyelesaikan kasus itu."
Mendengar hal itu, Black Shadow hanya dapat bergumam dingin. "Ba-ka!" (Bodoh)
Lucu, semua orang berharap padanya. Padahal hingga kini ia pun tak tahu siapa dalang di balik kekacauan semua ini. Apa yang ia lakukan barusan hanya bertujuan mengulur waktu sembari menunggu Shohei siuman. Selain itu, poling yang ia selenggarakan bersama pernyataannya malam ini untuk membuat pihak-pihak terkait menjadi ketar-ketir. Ia perlu membaca tindakan apa yang akan dilakukan oleh pelaku utama atas siaran langsungnya malam ini.
Di tempat berbeda, seorang pejabat tinggi tampak panik usai menonton siaran langsung Black Shadow. Rupanya ia terpengaruh dengan ucapan Black Shadow yang menuturkan jika Shohei memegang sebuah bukti.
"Bukti apa yang disimpan penyidik Kepolisian itu?" pikirnya dengan wajah geram. "Kalau seperti ini, tidak ada pilihan lain. Dia tidak boleh sadar. Habisi dia malam ini juga, entah bagaimanapun caranya! Dia harus mati malam ini juga!" perintah pejabat itu dengan suara yang menggelegar sambil menyodorkan sebotol arsenik, yaitu zat berbahaya yang dikenal sebagai senjata mematikan karena sulit terdeteksi dan dapat menyatu dalam cairan apa pun. "Kau tahu apa yang harus kau lakukan dengan ini, 'kan?" tanyanya pada anak buahnya.
Pria bertubuh tinggi tegap itu mengangguk. "Baik, Tuan. Akan aku selesaikan malam ini tanpa menimbulkan kecurigaan apa pun."
"Kau memang selalu bisa diandalkan," puji pejabat itu sambil tertawa terbahak-bahak.
Ia menoleh ke arah gadis muda yang berada duduk di kursi besi. Tangan dan kakinya dililit tali sedang mulutnya dibekap.
"Kau lihat sendiri, kan? Aku tidak takut untuk menghabisi nyawa seseorang meskipun itu adalah polisi. Ini semua karena ulah kakakmu! Kalau saja dia tidak membuat video viral itu, kau tetap akan menjadi kesayanganku," ucap pria itu seraya mencengkram dagu si gadis muda dengan kuat seolah hendak meremukkan rahangnya.
Gadis yang tampak ketakutan itu hanya bisa menggeleng-gelengkan kepalanya. Ada genangan air di sudut matanya.
.
.
.