Never Not

Never Not
Ch. 79 : Kasus yang Tak Terungkap



..."Aku bukan orang baik seperti anggapanmu. Aku hanya bodoh ... dan bangga dengan kebodohanku yang mampu membuatmu bahagia."...


...Shohei Yamazaki~Gomen, Aishiteru....


...----------------...


"Gomen, membuatmu menunggu." Shohei keluar dari kamar seraya mengancing kameja putih yang dipakainya. Ia membeku sesaat ketika melihat Seina memandang saksama pada sebuah lukisan pemberian dari Rai.


"Oh, ini lukisan hadiah dari temanku," jelas Shohei yang kini berdiri di samping Seina.


"Shohei-kun, apa lukisan ini memiliki makna?" tanya Seina dengan pandangan yang masih tertancap pada karya seni itu.


Tentu saja makna dari lukisan ini adalah awal kesepakatan antara dirinya dan Rai dalam menjalankan misi sebagai Mr. White dan Black Shadow. Untungnya, sosok Black Shadow yang berada di belakang Mr. White dilukis menyerupai sebuah bayangan dari Mr. White sendiri, sehingga maknanya bisa tergantung dari pandangan orang yang melihat.


"Itu ...." Shohei tampak berpikir sejenak. Dia lalu menggeleng sambil berkata, "Ah, tidak ada makna apa pun. Hanya murni sebuah karya seni komersial."


"Bahkan jika ini karya seni komersial, bukankah tetap memiliki makna dari sang pelukisnya?" ujar Seina sambil tertegun di depan lukisan itu.


"Benar. Apa kau suka dengan lukisan ini?"


Seina terdiam. Mungkin, dia hanya sekadar tertarik karena lukisan itu terdapat objek bunga camelia, yang mana mengingatkan dirinya pada setiap pertemuan dengan sosok pria misterius.


Seina lalu menoleh ke arah Shohei yang tengah memasang dasi di kerah kameja.


"Biar kupasangkan!" Gadis itu langsung mengambil alih.


Shohei menahan napas sambil menatap wajah lembut Seina dengan tangan yang begitu lihai memasangkan dasi.


Tolong jangan ambil kebahagiaan ini. Aku ingin terus seperti ini bersama dengan wanita yang kucintai ....


"Arigatou, ternyata Seina-chan bisa melakukan hal seperti ini," puji Shohei dengan senyum yang mengembang sempurna.


"Ini kegiatan yang selalu kulakukan dari kecil. Saat masih sekolah dasar, aku sampai harus naik ke kursi untuk membantu papa memasangkan dasi. Aku sangat senang melakukannya, sampai-sampai aku tidak senang jika papa akan menikah lagi dan seseorang akan menggantikan tugasku," kenang Seina sambil membantu Shohei memakaikan jas dan topi kepolisian.


"Pantas saja tuan Matsumoto tidak menikah lagi," ucap Shohei sambil tertawa kecil.


"Apa aku jahat karena terlalu mendominasi kehidupan papa?"


"Tidak. Kau hanya terlalu menyayangi papamu dan tidak ingin dia membagi cintanya padamu untuk orang lain." Shohei mengambil kedua tangan Seina, kemudian menggenggamnya dengan lembut. "Seina-chan, mari kita fokus pada diri kita masing-masing terlebih dahulu. Kau fokus menyelesaikan kuliahmu, dan aku fokus dengan tugas besarku saat ini. Setelah ini, kita akan bersama-sama memulai kehidupan baru di tempat ini," ucapnya sembari menatap lekat bola mata gadis itu.


Seina terdiam sesaat, kemudian mengangguk lemah tanpa berkata apa pun.


Setelah mengantar Seina ke kampus, Shohei langsung menuju kantornya. Rupanya, ia telah ditunggu di ruang rapat. Pria lulusan hukum di universitas Oxford itu langsung duduk memimpin rapat bersama inspektur Heiji selaku ketua devisi investigasi, juga inspektur dari devisi dua dan tiga. Di hadapan mereka, terdapat belasan detektif kepolisian Metro. Ya, rapat kali ini membahas tentang kasus gadis perawat yang tewas di Rumah Sakit Hiroo tempo hari.


"Yamamoto Nanao usia dua puluh tiga tahun, mahasiswa keperawatan yang sedang magang di Rumah Sakit Hiroo. Ditemukan dalam keadaan meninggal dunia pada hari Jumat pukul 00.45." Seorang tim investigasi membacakan laporan tentang kasus kematian gadis perawat tersebut.


Dari hasil penyelidikan, diketahui bahwa korban memiliki kakak kandung laki-laki yang bernama Yamamoto Sasuke dan telah diperiksa sebagai saksi. Kasus ini menjadi menarik karena dari hasil otopsi terdapat tanda-tanda jika kemungkinan korban diserang terlebih dahulu sebelum jatuh dari lantai gedung.


"Sekitar pukul dua belas malam, ada yang melihat Yamamoto Sasuke mendatangi korban di Rumah Sakit. Dari keterangannya, ia datang mengambil kunci rumah, tapi salah satu teman magang korban mendengar mereka tengah berdebat sengit," sambung polisi yang tergabung dalam tim investigasi.


"Apa yang diperdebatkan?" tanya Shohei.


"Yamamoto Sasuke mengatakan itu hanya masalah sepele. Dia telah menceritakan detailnya. Tidak ada yang janggal," jawab polisi itu.


"Apakah setelah itu dia benar-benar pulang ke rumah?" Kali ini pertanyaan datang dari Inspektur Heiji yang duduk di sebelah kanan Shohei.


"Tidak. Yamamoto Sasuke mengaku singgah di Rumah Makan dekat Rumah Sakit. Hal ini dibuktikan dengan CCTV yang ada di Rumah Makan tersebut."


Seto Tanaka berdiri sambil mengungkap pendapatnya. "Orang-orang terdekatnya banyak yang mengatakan kalau korban memiliki perangai yang buruk dan juga kasar. Ada kemungkinan faktor sakit hati atau balas dendam menjadi pemicu korban diserang."


Ai Otaka yang duduk di samping Seto, hanya mendengar penuturan para detektif sembari memajukan bibirnya ke samping kiri dan kanan.


"Ya, yang kita curigai saat ini hanyalah mantan kekasihnya dan teman magangnya yang waktu itu juga sedang piket bersamanya. Ia memutuskan mantan kekasihnya seminggu yang lalu tanpa alasan dan itu tidak diterima begitu saja. Sedangkan temannya itu pernah bertengkar dengan korban beberapa hari yang lalu. Tapi hingga kini kami tidak menemukan bukti apa pun untuk menahan mereka," imbuh Seto Tanaka.


"Masalahnya ... semua orang-orang terdekatnya memiliki alibi kuat," sambung detektif Shu yang duduk sambil bersedekap.


"Lalu, siapakah orang terdekatnya yang memiliki kemampuan bela diri?" tanya Shohei.


Tanda memar yang terdapat di leher korban, menjadi bukti bahwa penyerang adalah seseorang yang memiliki kemampuan bela diri. Hal ini disadari pertama kali oleh Shohei bahkan sebelum hasil otopsi keluar.


Mendengar pernyataan para detektif yang menyelidiki kasus ini, Shohei hanya bisa menautkan jari-jarinya sambil berpikir keras.


Lalu, apa kaitannya korban dengan Akabane Ayumi-san? Kenapa di hari sebelum kematian gadis itu, dia bertemu dengannya?


Satu jam setelah rapat, Shohei kembali ke ruangannya. Saat memutar televisi, ia terperanjat seketika. Pasalnya, Kepolisian Metropolitan melalui juru bicara membuat pernyataan resmi pada wartawan bahwa kasus yang terjadi di Rumah Sakit Hiroo adalah murni bunuh diri. Polisi juga membantah dugaan wartawan kalau telah terjadi perundungan atau pelecehan kekuasaan di Rumah Sakit tersebut. Wartawan diminta tak berspekulasi macam-macam dan membesar-besarkan berita.


Setelah mendengar berita tersebut, Shohei bergegas ke ruangan Kepala Kepolisian Metropolitan.


"Bagaimana bisa Kepolisian Metro merilis pernyataan resmi seperti itu ke media, saat hasil forensik dan otopsi membuktikan kalau kemungkinan dia diserang sebelum jatuh," ucap Shohei dengan nada yang berapi-api begitu berada di ruangan kepala kepolisian Metropolitan.


Kepala Kepolisian Metro yang duduk tenang di kursi kebesarannya, lantas berkata dengan santai, "Aku tidak mengerti dengan kemarahanmu saat ini. Kakak korban yang merupakan keluarga satu-satunya telah menerima kematian adiknya tanpa menuntut polisi untuk menyelidiki kasus ini. Masih banyak kasus yang perlu diungkap Kepolisian Metro, jangan membuang-buang waktu kerja kalian."


"Tapi—"


"Kasus ini telah berakhir. Kau boleh keluar," ucap kepala kepolisian sambil mengarahkan tangannya ke pintu.


Shohei mengepalkan tangannya dengan erat hingga menampakkan urat-urat.


"Bagiku, kasus berakhir hanya jika kebenaran dari kasus itu terungkap," ucap Shohei yang membuat Kepala Kepolisian itu membeku sesaat. Ia kemudian menunduk lalu keluar dari ruangan itu.


Shohei berjalan cepat menuju ruangannya. Dari belakang, Seto Tanaka memanggil seraya berlari kecil menuju ke arahnya.


"Ketua, kami telah diperintahkan untuk menghentikan penyelidikan kasus kematian Yamamoto Nanao."


Shohei hanya bergeming tanpa berkata apa-apa. Dari lantai atas, Ai Otaka tampak memantau keduanya.


Setelah kembali ke ruangannya, Shohei menghempaskan tubuhnya di kursi kerjanya yang empuk. Ia mencoba mengatur ritme napas dan emosi. Matanya menoleh ke arah jendela dengan tatapan kosong.


Jika sebagai polisi aku tidak bisa bertindak, maka Black Shadow yang akan bertindak sebagai bayanganku.



Malam hari, Yuriko telah kembali ke apartemennya. Saat hendak membuka mantel, pandangannya malah tertuju pada buket bunga camelia yang menjadi kenangan pertemuannya dengan Shohei. Ia mengambil buket bunga itu, lalu melemparnya ke dalam tempat sampah. Namun, tak cukup sedetik, ia kembali memungutnya.


Suara ketukan dari sebelah dinding kamarnya tiba-tiba terdengar. Yuriko tersenyum kecut, lalu membuka jendela kamarnya. Tak lama kemudian, Rai turut membuka jendelanya. Pria itu mengapit sebatang rokok yang belum menyala.


"Bagaimana perasaanmu saat ini?"


"Cukup lega. Setidaknya aku tidak terlalu larut dalam anganku sendiri. Bukankah kenyataan selalu tak sejalan dengan harapan?" Senyum kecil melintas di bibir Yuriko. Meski begitu, matanya tak bisa menyembunyikan sisa-sisa guncangan kesedihan yang dialaminya.


"Lalu bagaimana?"


"Bagaimana apanya?"


"Apa kau masih mau bekerja padanya?"


"Tentu saja! Dia memberiku gaji yang cukup dengan pekerjaan yang ringan dan fleksibel. Pekerjaan ini memang hanya bersifat sementara, kan? Jadi, aku hanya akan berhenti, jika dia sudah tak membutuhkanku lagi."


"Lalu, bagaimana dengan perasaanmu padanya? Apa kau menyerah?"


Yuriko menatap salju yang mulai turun ringan. "Hanya karena perasaanku tak terbalas, lalu kenapa aku harus berhenti menyukainya? Cinta bukan seperti itu ...."


Rai tertegun seketika sambil memainkan sebatang rokok di jari-jarinya.


"Cinta itu ... sesuatu yang membuat orang menjadi bodoh. Ini menurutku," ucap Rai dengan senyum yang mencibir. Ia menyalakan pemantik untuk membakar ujung rokoknya, lalu mulai mengisap dengan perlahan sambil ikut menatap salju.


Mengenai perasaan di hatiku saat ini, aku enggan mengakui itu cinta. Karena aku takut menjadi bodoh.


.


.


.


like + komen