Never Not

Never Not
Ch. 82 : Memikirkan Strategi



Begitu keluar dari tempat airsoft gim milik Yamamoto Sasuke, Shohei menepi sebentar untuk menghubungi Rai yang juga sedang menjalankan misinya.


"Moshi-moshi."


"Bagaimana?"


"Aku berhasil meletakkan penyadap di bawah tasnya. Dia tidak pernah bergonta-ganti tas, jadi penempatan alat sadap di sana cukup strategis," jelas Rai.


"Kerja yang bagus, Rai! Tapi sebelum pulang, aku ingin kau memastikan sesuatu!"


"Apa itu?"


"Aku ingin kau mengecek CCTV yang berhadapan langsung dengan kafe kopi dekat Rumah Sakit Hiroo. Ambillah dari segala sudut yang mengarah pada kafe itu!"


"Hanya di luar? Apa perlu aku mengambilnya untuk di dalam kafe?"


"Tidak perlu. Aku punya salinan yang di dalam kafe. Dan aku butuh rekaman CCTV luar untuk mencocokkannya. Tentang bagaimana caramu mengambil salinannya, semua kuserahkan padamu. Yang pasti, berhati-hatilah!"


"Baiklah! Itu hal mudah untuk dilakukan."


Rai kembali ke apartemennya usai melakukan penyamaran sebagai host di bar mewah, Starlit. Langkahnya tiba-tiba terhenti kala melihat Yuriko baru saja turun dari mobil Shohei.


Rai melihat waktu di jam tangannya. Sudah hampir pukul dua belas malam, tetapi Yuriko baru pulang dan diantar oleh Shohei. Ia pun melangkah cepat menghampiri keduanya.


"Kenapa kalian bisa bersama?" tanya Rai sambil menatap wajah Yuriko yang terlihat bahagia.


"Panjang ceritanya!" balas Shohei singkat.


Seakan mengerti, Rai hanya mengangguk kecil sambil masuk beriringan dengan Shohei.


"Ano ... makanan tadi, bagaimana kalau kita memakannya bersama-sama?" Yuriko berceletuk dari belakang, mengingatkan makanan yang diberikan Shohei saat di apartemen tadi.


"Oh, aku hampir lupa!" Shohei menoleh ke arah Rai.


"Aku sudah makan," jawab Rai ketus.


"Kalau begitu, untuk Yuriko-san saja. Yuriko-san belum makan, kan? Makanlah, untuk mengganti energimu setelah bermain airsoft!" ucap Shohei kembali menoleh ke arah Yuriko.


Rai tergemap seketika mengetahui keduanya baru saja selesai bermain airsoft. Apalagi melihat wajah Yuriko yang tampak berseri-seri.


Setibanya di kamar Rai, mereka langsung membahas tentang Akabane Ayumi.


"Harus kuakui dia wanita yang berkharisma dan sangat menjaga dirinya di ruang publik. Tapi, sepertinya dia pengagum lelaki yang usianya jauh lebih muda darinya." Rai mengeluarkan kartu nama Akabane Ayumi seraya menunjukkannya pada Shohei.


"Dia memberimu kartu namanya. Artinya dia ingin kau menghubunginya," tebak Shohei seraya mengelus dagu.


Rai memetik jari untuk membenarkan ucapan Shohei. "Jadi bagaimana? Apakah mau kubuktikan?"


"Apa menurutmu seorang pramusaji bar bisa membuka airsoft besar? Kalaupun dia memakai modal bank, bukannya dia butuh jaminan untuk mengambil pinjaman?" Shohei malah melempar pertanyaan.


"Jangan mengabaikan pramusaji bar! Mereka memiliki pekerjaan sampingan sebagai pria panggilan. Jika mendapat klien besar seperti wanita-wanita kaya, mereka akan mudah mendapat kucuran dana."


"Jika seperti dugaanmu, kemungkinan Yamamoto Sasuke dan Akabane Ayumi memiliki hubungan. Kau tahu, airsoft gim yang kudatangi dengan Yuriko milik Yamamoto. Dia berhenti kerja dan sekarang mengelola airsoft lengkap."


Rai terkejut seketika. "Bukankah adiknya adalah orang yang bertemu Akabane Ayumi waktu itu dan tewas setelahnya?"


"Maka dari itu ini menjadi menarik untuk diselidiki. Beberapa pejabat membuka usaha untuk pencucian uang haram mereka, lalu sengaja mengatasnamakan orang lain agar tidak terendus hukum. Bagaimana dengan CCTV-nya?"


Rai membuka laptopnya. "Aku telah menyalin tiap kode CCTV yang ada di jalur itu. Cara ini lebih aman," ucapnya sambil mengotak-atik laptopnya. Tampaknya, ia tengah meretas sistem kamera pengintai di jalanan sekitar kafe yang disinggahi Yamamoto Sasuke setelah menemui adiknya malam itu.


Shohei terkesiap. "Jadi, kau juga bisa meretas CCTV?" tanyanya tak percaya. Sebab, selama ini Rai tak pernah menunjukkan keahliannya di bidang ilmu teknologi.


"Ya, aku banyak belajar dari mantan sahabatku. Dia lulusan IT di universitas Waseda," kenang Rai seraya mengingat saat-saat ia masih berkecimpung di dunia penipuan. Hal semacam meretas, mengotak-atik, serta memanipulasi sistem dan CCTV adalah makanan mereka sehari-hari.


Dari dua rekaman itu tidak ada yang beda. Semua menunjukkan rekaman yang sama dari sisi berbeda. Shohei menatap penuh ke layar laptop dengan tatapan yang jeli.


"Tidak ada yang mencurigakan!" ucap Rai sambil memangku dagu.


"Tunggu!" Shohei menghentikan kedua rekaman itu sejenak. "Ada perbedaan waktu di kedua rekaman ini. Rekaman CCTV di dalam kafe berada di rentang waktu 00.15 - 00.45. Sedangkan rekaman CCTV luar kafe menunjukkan setengah jam setelahnya. Artinya, rekaman dalam kafe yang disalin pihak kepolisian telah diotak-atik untuk menyesuaikan waktu ditemukannya mayat." Shohei menyimpulkan dengan cepat.


"Apa ini artinya dia membunuh adiknya sendiri? Ah, ini sulit dipercaya!" sambung Rai.


"Beberapa pelaku kriminal justru berasal dari orang terdekat. Tapi untuk kasus ini, kita belum bisa membuktikan apakah benar Yamamoto Sasuke adalah pelakunya. Meskipun iya, apa alasannya? Apa kaitannya dengan Akabane Ayumi? Itu yang harus kita cari tahu."


Sebenarnya, tanpa melihat kasus kematian perawat itu, Shohei telah memiliki bukti kejahatan yang dilakukan Akabane Ayumi selama ini. Hanya saja, ia harus mempertimbangkan segala aspek. Mengingat, saat ini adalah masa kampanye dan Akabane Ayumi merupakan kandidat kuat dengan banyak pendukung dari berbagai lapisan masyarakat. Kemungkinan orang-orang tidak akan memercayai jika Akabane Ayumi adalah politikus busuk yang berlindung dengan citranya yang baik. Selain itu, Akabane Ayumi mungkin bisa memberi petunjuk tentang target terakhir mereka.


"Bagaimana kalau kita pancing saja mereka?" ucap Rai tiba-tiba.


Shohei diam termenung. "Mari kita pikirkan lagi besok. Istirahatlah! Ini sudah larut, kau harus jaga kondisimu agar selalu fit," ucapnya sambil memasang mantel yang sempat ia lepas. Saat hendak keluar dari kamar Rai, tiba-tiba langkah Shohei terhenti. "Omong-omong, ini tentang Yuriko-san."


"Ada apa dengan Yuriko?" tanya Rai.


"Dia menguasai teknik-teknik menyerang dan melumpuhkan lawan. Jika ada waktu, pelajari taktik itu dari dia untuk membekali dirimu sendiri," ucap Shohei.


"Eh? Sungguh?" Mata Rai melebar sempurna.


"Tapi, tetaplah berhati-hati! Jangan sampai dia mengetahui siapa kau sebenarnya," ucap Shohei yang kemudian pergi.



Tak terasa beberapa hari telah berlalu, musim salju sebentar lagi akan berakhir, berganti dengan musim semi yang membawakan sejuta warna. Seina dan teman-temannya sedang duduk bersantai di taman kampus.


"Bagaimana kalau kita berwisata hanami¹ bersama-sama nanti?" ajak salah satu teman Seina.


"Ide bagus!" sahut teman-temannya. Salah satu temannya menoleh ke arah Seina. "Seina-chan, bagaimana denganmu?"


"Tentu saja Seina tidak bisa bergabung. Dia pasti akan melakukannya dengan kekasihnya," sahut lainnya.


Seina terdiam. Ia malah menatap layar ponselnya yang gelap. Sudah seminggu lebih, ia dan Shohei tak bertemu, berkomunikasi lewat telepon pun hanya sekali. Ya, saat kencan terakhir, pria itu memang mengatakan padanya akan fokus dengan kesibukannya. Terbukti, mereka meniadakan kencan akhir pekan di Minggu ini.


Entah kenapa, ingatannya malah terkilas saat ia tak sengaja melihat Shohei keluar dari kondominium bersama gadis yang disebut sebagai asisten rumahnya.


Masih menatap kosong layar ponsel, tiba-tiba terdapat sebuah pesan pemberitahuan siaran langsung dari Anonim. Ternyata, teman-teman Seina pun mendapat pemberitahuan serupa. Seina segera mengeklik pesan pemberitahuan tersebut.


Layar menghitam seketika, dan sebuah tulisan muncul secara tiba-tiba.


"Black Shadow Comeback!"


.


.


.


jejak kaki



Hanami: kegiatan melihat sakura yang sedang mekar di musim semi.



like+komen