
"Topeng seperti ini pasti banyak diperjualbelikan di pasaran, kan!" ucap Yuriko sambil menyeringai.
Ia mengembalikan topeng itu ke dalam tas dan meletakkan tas ke posisi semula. Saat menutup pintu lemari, Yuriko malah teringat dengan ucapan Rai beberapa menit lalu.
"Sudah kubilang tempat kerjaku fleksibel. Aku hanya perlu menunggu panggilannya, dan bekerja sesuai perintahnya!"
"Pekerjaan apa itu. Jangan-jangan kau jadi pembunuh bayaran!"
"Enak saja! Ini pekerjaan yang berhubungan dengan keadilan."
Yuriko terdiam kaku. Raut tak percaya membayang di wajahnya. Apakah barang-barang tadi ada kaitannya dengan pekerjaan pria itu?
Memang benar, ada banyak jenis topeng pahlawan seperti super Sentai, ultraman, dan Kamen Rider yang dijual di pasaran, termasuk topeng Black Shadow tentunya. Namun, bagaimana ia bisa memercayai Rai menyimpan alat-alat canggih yang tak dimiliki oleh orang biasa?
Di saat rasa penasaran menyeruak dalam diri Yuriko, Rai justru telah kembali dengan membawa dua kaleng bir.
Melihat Yuriko berdiri di depan lemari, Rai pun berkata, "Kau sudah meletakkan barang-barangmu di sana?"
Yuriko mengangguk cepat, lalu ikut duduk di meja makan tanpa berkata apa pun. Rai membukakan penutup kaleng bir lalu menyodorkan pada Yuriko.
"Ayo bersulang!" ajak Rai.
"Untuk apa?" tanya Yuriko.
"Untuk apa, ya?" Rai memiringkan kepalanya, "Ya, untuk kita berdua."
Yuriko tersenyum masam, lalu mengangkat birnya.
"Kanpai!" ucap keduanya serentak sembari bersulang.
"Itadakimasu," lanjut mereka lagi sambil mencakup tangan di hadapan sajian udon hangat. Keduanya mengambil sumpit dan mulai menyantap mie.
Yuriko diam-diam menatap Rai yang tengah menyeruput mie. Ia bahkan sampai tertegun karena masih teringat dengan penemuan barang-barang tadi. Saat tatapannya bertemu dengan Rai, matanya langsung beralih ke mangkok. Ia menyeruput mie dengan cepat bahkan sampai tersedak.
Rai segera mengambil air minum dari keran lalu memberikan pada Yuriko yang terbatuk-batuk.
"Arigatou." Yuriko langsung meminumnya.
"Hei, aku tahu masakanku memang enak, tapi tidak perlu dimakan terburu-buru seperti itu," ucap Rai menahan tawa.
Yuriko mengelap mulutnya lalu berkata, "Ah, aku harus segera kembali ke kampus."
"Eh?! Ke kampus lagi?"
"Iya. Aku punya janji dengan dosenku." Yuriko berdiri dan memasang jaket dengan terburu-buru lalu mengambil tasnya, "Ittekimasu (aku pergi dulu)!"
"Itterasshai (hati-hati di jalan)," jawab Rai sambil menghabiskan mienya.
Yuriko melangkah keluar terburu-buru. Begitu masuk di lift, ia mencoba mengatur napasnya.
Kenapa aku jadi gugup melihatnya? Black Shadow dan dia bukan orang yang sama, kan?
Sore hari, Shohei mendatangi toko berlian di daerah ginza. Ia menatap deretan cincin wanita yang berada di etalase. Sejenak, ia teringat akan permintaan tuan Matsumoto saat sedang makan malam bersama.
"Apa ada yang bisa saya bantu?" Seorang pramuniaga datang mendekat.
"Aku butuh rekomendasi cincin wanita."
Pramuniaga itu kemudian memperlihatkan beberapa cincin berlian keluaran terbaru. Baru saja hendak memilih, tiba-tiba ponselnya berbunyi panggilan masuk.
"Moshi-moshi."
"Yamazaki-san, paman baru saja menghubungiku. Dia bilang, dia setuju menjadi narasumber program acaraku. Paman mengatakan akan mengungkap semua rahasia besar yang disimpannya selama ini, termasuk pejabat tersembunyi yang selalu menjadi pelindung sembilan orang yang telah disergap Black Shadow," ucap Kei dari balik sambungan telepon.
"Benarkah?" Shohei terperanjat seketika.
"Iya, sepertinya paman telah memikirkan semua ini dengan matang. Dia meminta kau juga hadir malam ini. Entah kenapa aku punya firasat yang tidak enak dengan apa yang akan terjadi. Aku rasa jika ini dilakukan di siaran televisiku mungkin akan ada pihak-pihak yang berusaha mencekal. Jadi, aku berencana melakukan streaming di YouTube Channel milikku."
"Apakah ini tak masalah untukmu menyiarkan ini?"
"Sudah kubilang, aku adalah jurnalis. Aku tidak akan menutupi kebenaran sekalipun mungkin aku akan mendengarkan hal yang tak kuharapkan dari paman."
"Baiklah, aku akan datang! Kirimkan alamat studiomu."
Shohei menatap salah satu cincin berlian yang memancarkan kilauan indah. Lalu berkata pada pramuniaga, "Aku ambil yang ini!"
Usai membeli cincin lamaran, ia mendatangi sebuah restoran mewah berlokasi di ketinggian 200 meter yang berhadapan langsung dengan menara Tokyo. Rupanya, Rai telah berada di sana dan baru saja melakukan reservasi balkon restoran untuk besok malam.
"Aku sudah meminta manajer restoran itu untuk mendekorasi tempat ini. Makan malam kalian akan sangat romantis karena ditemani alunan biola dan juga pemandangan seratus kembang api yang dinyalakan secara beruntun. Dia pasti akan terharu dengan kejutan darimu," ucap Rai.
"Arigatou, ne," ucap Shohei tanpa ekspresi.
"Hei, hei, ada apa ini? Kau tidak terlihat seperti orang yang sedang bahagia!" tegur Rai.
Shohei membuang pandangannya. "Malam ini, tuan Matsumoto bersedia mengungkap semua yang dia ketahui."
Shohei mengangguk. "Aku yakin apa yang akan dia sampaikan berkaitan dengan target kesepuluh. Jika benar, kita tidak perlu repot-repot turun tangan lagi untuk target kesepuluh. Hanya saja, mungkin ayah Seina juga ikut terlibat. Dan dia memintaku untuk ikut hadir malam ini."
"Apa mungkin dia ingin menyerahkan diri dan memintamu menahannya?" terka Rai ragu-ragu.
"Entahlah .... Aku hanya mengkhawatirkan perasaan Seina."
"Teleponlah dia sekarang!"
"Eh?" Shohei menatap Rai.
"Bicaralah dengannya! Bukankah dia belum tahu kau akan mengajaknya ke sini besok malam?"
Shohei mengambil ponselnya lalu menghubungi Seina. "Moshi-moshi, Seina-chan."
"Ya, Shohei-kun. Ada apa?" Suara lembut Seina menyapa sejuk pendengaran.
"E ... em, ini tentang kencan kita besok, aku akan mengajakmu ke suatu tempat. ucap Shohei sambil memegang kotak cincin yang baru saja ia beli.
"Eh? Ke mana?"
Shohei menatap Rai. Pria itu buru-buru meletakkan jari telunjuknya di bibir agar Shohei merahasiakan kejutan ini.
"Kau akan segera tahu," ucap Shohei.
"Baiklah," balas Seina.
Gadis itu menutup telepon dan teringat pembicaraan ayahnya semalam tentang pernikahannya dengan Shohei yang akan segera dilaksanakan.
Di waktu yang sama, Yuriko kini berada di perpustakaan umum. Sudah tiga jam ia sibuk memburu koran-koran dan majalah berita yang memuat informasi tentang Black Shadow. Tak hanya itu, ia juga mencari informasi lewat internet serta menonton aksi-aksi Black Shadow yang telah berlalu. Dia yang dulunya tak peduli akan sosok pria bertopeng itu, kini justru mencari tahu apa pun yang berkaitan dengannya.
Yuriko memperbesar gambar penampilan wajah Black Shadow yang tersembunyi di balik topeng. Secara spontan, matanya justru membayangkan wajah Rai. Dugaannya semakin diperkuat dengan barang-barang canggih yang ia temukan dalam tas ransel Rai, memang dipakai Black Shadow saat menjalankan aksinya.
"Tidak mungkin! Tidak mungkin! Dia terlalu hebat untuk melakukan ini." Kepala Yuriko menggeleng tak percaya.
Yuriko mulai merunut kejadian demi kejadian. Rupanya, aksi Black Shadow terakhir waktu itu, hanya berselang dua hari sejak pria itu mengalami cedera di bagian lengan. Ia pun baru menyadari setiap kali Black Shadow beraksi, Rai pasti selalu pulang larut malam. Berkali-kali ia juga mendapati wajah pria itu memar, dan itu tepat setelah sehari tayangan langsung Black Shadow.
Rai, inikah yang kau maksud pekerjaan yang berhubungan dengan keadilan?
Malam hari, Yuriko memutuskan kembali ke apartemen. Rai yang sedang sibuk di dapur, langsung menyambutnya dengan riang. Lagi-lagi ia mendapati pria itu tengah memasak hidangan makan malam. Ia mendekat, menusuk pinggang Rai dengan jari telunjuknya hingga membuat pria itu kaget.
"Ano ... izinkan aku tinggal di sini bersamamu," ucap Yuriko tiba-tiba.
Rai terkesiap, tangannya yang memegang sumpit masak mendadak mematung.
Melihat reaksi kaget Rai, Yuriko buru-buru berkata, "Letak apartemen ini tidak terlalu jauh dari kampusku. Kalau mau menyewa kamar sendiri harganya mahal, jadi aku bermaksud untuk patungan biaya sewa denganmu per bulan."
"Selama kau tetap bersamaku di sini, kau tidak perlu memikirkan biaya sewa kamar!"
"Eh? Jangan seperti itu! Aku tidak ingin hanya menumpang gratis di tempatmu. Setidaknya biarkan aku membantumu."
"Jangan khawatir! Sewa apartemen ini bukan aku yang bayar."
"Memangnya siapa yang bayar?" selidik Yuriko.
"Kau tidak perlu tahu. Lebih baik bantu aku angkat sup itu ke meja makan," pinta Rai dengan mata yang mengarah ke panci kaca.
Yuriko malah mematung di samping sambil menatap wajah Rai. Ia juga turut memerhatikan postur tubuh pria itu.
"Lenganmu yang terluka, apa sudah baik?" tanya gadis itu.
Rai melihat lengannya sendiri. "Aku bahkan hampir lupa kalau lenganku sempat terluka," ucapnya menyengir.
Sementara itu, Shohei telah datang ke studio milik Kei untuk menjadi bintang tamu sekaligus narasumber. Ya, sebagai seorang pegiat sosial media, kanal YouTube Kei menjadi salah satu yang memiliki subscriber terbanyak di Jepang.
Shohei dan Kei telah duduk di tempat masing-masing. Di hadapan mereka kru dan kameraman telah bersiap-siap. Hanya tinggal menunggu tuan Matsumoto, maka siaran langsung di kanal YouTube Kei akan dimulai.
Detik dan menit terlewat begitu saja hingga tak terasa satu jam telah terbuang sia-sia. Kei yang tak sabar, mulai menghubungi tuan Matsumoto. Anehnya, telepon itu tak kunjung terjawab. Para kru dan kameraman tampak tak sabaran.
Ketika Kei masih sibuk menghubungi pamannya, tiba-tiba televisi di ruangan itu mendadak teracak kemudian menjadi gelap. Tak lama kemudian, muncul tulisan "Black Shadow Come Back".
Seluruh ponsel yang berada di ruangan itu memberikan pemberitahuan siaran langsung Black Shadow, termasuk ponsel milik Shohei. Sontak, ia yang sedari tadi duduk tenang langsung berdiri dengan sepasang mata yang melebar. Ia benar-benar tak memercayai penglihatannya saat ini.
Di layar saat ini, terlihat sesosok pria bertopeng yang berperawakan persis Black Shadow. Namun, yang membuat Shohei dan Kei terlonjak adalah tuan Matsumoto duduk di samping pria itu dengan kaki dan tangan yang terikat, dan juga mulut yang dibekap.
"Mina-san (semuanya), Black Shadow hadir kembali untuk mengungkap kebenaran yang tersembunyi dalam kegelapan. Mari kita perjelas, sejelas hitam dan putih!" Pria bertopeng itu menyapa penonton dengan jargon andalan seperti biasa
.
.
.
kasih aku like dan komeng dong