Never Not

Never Not
Ch. 154 : Memulai dari Awal



Jika berbicara tentang distrik yang paling tidak aman di Tokyo, maka Kabukicho adalah jawabannya. Disebut sebagai distrik lampu merah terbesar di dunia, kawasan ini menyuguhkan hiburan malam mulai dari bar, kelab malam, pijat plus-plus, kasino,motel, pusat prostitusi hingga toko-toko yang menjajakan alat bantu penuntasan hasrat. Distrik yang letaknya hanya sepuluh menit dari stasiun Shinjuku, juga terkenal dengan tempat para Yakuza turut yang ikut serta menjalankan bisnis mereka di sana.


Dulunya, tempat ini menjadi kawasan favorit Rai dan anggota kelompok penipu besutannya dalam menjalankan aksi mereka. Bahkan markas besar mereka masih berdiri kokoh di antara bangunan-bangunan megah yang kental dengan musik disko dan bau alkohol.


Jika menelusuri lebih jauh lorong-lorong kawasan ini, ada sebuah tempat yang disebut rawan untuk pengunjung. Bagaimana tidak, ada banyak Yakuza dan Yankee yang berkeliaran di sini. Belum lagi, pria-pria berbadan hitam dari luar Jepang yang kerap menipu wisatawan asing. Polisi pun seakan lumpuh dan tak berani mengusik mereka.


(Yankee: preman, berandalan)


Pagi hari, polisi tua yang mungkin sedikit lagi akan pensiun tengah berjaga-jaga di Koban cabang Kabukicho. Berkali-kali ia menguap saking tak ada yang dikerjakannya. Seorang polisi yang berusia lebih muda darinya, masuk tergesa-gesa sambil membawa amplop bertanda resmi dari Kepolisian Metropolitan.


(Koban: satuan terkecil dari kepolisian Jepang. Semacam pos polisi setiap kelurahan gitu)



"Kita mendapat kiriman surat dari kepala kepolisian metropolitan!" ucapnya sambil menunjukkan surat tersebut.


Polisi tua itu langsung mengambil surat tersebut dan membacanya. "Hah? Penambahan anggota baru?"


Keduanya saling melirik bingung.


"Kita saja tak ada kerjaan di sini! Setiap hari cuma duduk seperti patung. Kenapa harus tambah orang lagi!" gerutu polisi tua itu.


"Tu–tunggu, apa aku tidak salah baca nama anggota yang akan masuk ke sini?" Polisi yang satunya lagi malah mengucek-ngucek matanya.


Polisi tua lantas membaca nama partner kerja mereka yang baru. "Ya-ma-za-ki Sho-hei. Ah, Yamazaki Shohei? Di mana ya aku dengar nama ini? Dia tidak asing."


Polisi satunya lagi lantas terbelalak kaget. "Bukankah dia anak dari jenderal Yamazaki? Dia kepala divisi penyidik 1 metropolitan!"


"Benar! Aku juga baru ingat!" Polisi tua itu lantas melipat kembali surat. "Sepertinya mereka salah mencetak nama."


"Benar juga, ya! Mana mungkin seorang detektif berprestasi seperti dia dipindahkan ke sini!"


Di waktu yang sama, seorang pria bertinggi tegap lengkap dengan seragam kepolisian yang sama seperti mereka, berdiri tepat di depan pintu sambil membawa sekotak barang-barangnya.


"Konbanwa, Yamazaki Shohei desu. Aku anggota baru yang ditugaskan di sini. Douzo yoroshiku onegaisimasu," ucapnya penuh semangat seraya membungkuk.


Kedua polisi itu hanya melongo dengan mata yang terbelalak. Mereka bahkan memperhatikannya dari ujung kaki hingga ujung kepala. Melihat bagaimana pria yang terbiasa memakai setelan jas elit khas kepolisian metropolitan itu, kini hanya memakai seragam standar kepolisian biasa seperti yang mereka gunakan.


Melihat dua polisi itu hanya termangu, ia pun kembali berkata, "Apa aku boleh masuk dan meletakkan barang-barangku?"


"Ah, tentu saja! Silakan masuk! Ini mejamu. Maaf, kami tak sempat membersihkannya. Surat pemberitahuan anggota baru masuk pagi ini." Kedua polisi itu bergegas berdiri, yang satunya mengajaknya masuk dengan ramah, yang satunya lagi buru-buru membersihkan meja tak berpenghuni yang ditumpuk dengan berbagai barang.


"Apa aku boleh tahu jadwal pembagian tugas di sini?" tanya Shohei.


"Biasanya kami gantian mengadakan patroli," jawab polisi satunya lagi. Padahal, kenyataannya mereka tak pernah patroli karena daerah itu dikuasai oleh Yakuza dan para yankee yang mana masyarakat sekitar lebih menaati mereka.


"Jangan khawatir! Di sini kita kerja santai!" Polisi tua itu menyengir.


"Kalau begitu ... bolehkah aku yang lebih dulu melakukan patroli? Aku perlu beradaptasi di lingkungan sini," pinta Shohei.


Kedua polisi itu saling menatap bingung, tapi segera mengangguk cepat. Shohei langsung mengambil kunci mobil dan mulai berpatroli. Kedua orang itu buru-buru mengintip dari balik pintu, melihat bagaimana Shohei menjalankan mobil dengan pelan seraya menegur beberapa pengendara yang parkir sembarangan ataupun yang melaju kencang dengan memakai pengeras suara.


"Aku tak mengerti! Dia masih bisa bersemangat saat dipindahkan ke tempat seperti ini!" Polisi tua itu tak berhenti berdecak heran.


"Kita lihat saja saat pulang nanti, apakah dia masih semringah seperti tadi!" jawab polisi yang satunya.


Shohei turun dari mobil patroli untuk membantu wanita renta menyeberang. Bertepatan dengan itu, ia tak sengaja melihat seseorang melakukan aksi penipuan terhadap warga negara asing. Selesai membantu nenek-nenek menyeberang, ia lalu menghampiri dua orang yang tengah mengobrol.


"Hei, berhenti melakukan modus penipuan, jika kau tak ingin diamankan!" tegurnya.


"Apa matamu rabun? Kau tak bisa melihat seragam yang kukenakan?" balas Shohei santai, lalu berkata pada warga negara asing tersebut dengan menggunakan bahasa Inggris terbatas, "jangan percaya kata-katanya. Dia ingin menipumu. Lebih baik minta bantuan pada polisi."


"Hei, atas dasar apa kau bilang aku penipu!" Pria tadi malah mendorong tubuh Shohei dengan kasar. "Polisi sepertimu jangan mencoba jadi pahlawan, kalian cuma dianggap badut di sini, cuih!" Ia malah meludah di hadapan Shohei.


"Jangan mengira kau bisa membodohi semua orang. Aku pernah berteman dengan mantan penipu ulung. Trik seperti yang kau gunakan itu sudah basi!"


"Kau menganggap remeh aku? Apa kau tak tahu sedang berhadapan dengan siapa?" Pria itu menunjukkan sebuah tato besar yang menjadi ciri khas keanggotaan Yakuza.


Shohei memuntir lengan pria itu sambil berkata, "Jangankan Yakuza, sekelas penjahat berkedok pejabat tinggi dan penguasa di negeri ini pun aku tak takut."


Ya, saat identitasnya sebagai Mr. White diketahui kepala kepolisian metropolitan, pria itu langsung mendapat hukuman pemindahan tugas ke kawasan yang sering disebut paling tak aman di kota Tokyo. Sebenarnya, sebelum Jun memutuskan untuk memutasi dirinya, ia hendak menyerahkan surat pengunduran diri. Namun, entah kenapa rasanya sungguh berat. Ia terlalu mencintai profesi ini. Mulai hari itu, ia harus kembali memulai karirnya dari bawah lagi.


Shohei kembali ke Koban dengan membawa beberapa orang yang melakukan berbagai kejahatan, seperti ketahuan mencopet, memalak pedagang kecil hingga berkelahi. Orang-orang tersebut dipaksa membuat surat perjanjian untuk tidak mengulang perbuatan beserta jaminan tebusan agar tak ditahan. Pos kepolisian yang selalu sepi itu mendadak ramai.


Dua polisi yang menjadi partner kerja Shohei mendadak kelabakan menghadapi warga yang sudah tak takut untuk melapor. Semangat yang masih berkibar di wajah Shohei, membuat mereka terheran-heran.


Saat jam istirahat siang, Shohei duduk di meja kerjanya sambil membuka bekal bento yang disiapkan Seina dari rumah.


"Aku membawa bekal yang cukup banyak, apa kalian ingin ikut makan bersamaku," ajak pria berkacamata itu.


Dengan cepat, kedua pria itu menarik kursi mereka ke meja Shohei.


"Itadakimasu!"



Yuriko memerhatikan Rai yang tengah sibuk di depan laptop peninggalan Yuta. Sejak semalam, Rai terus berada pada posisi seperti itu tanpa istirahat. Tampaknya, pria itu sedang menciptakan sebuah aplikasi yang akan diluncurkan ke publik.


Yuriko menghampiri kekasihnya itu seraya membawakan sekaleng minuman dingin.


"Apa yang sedang kau kerjakan?" tanya Yuriko penasaran.


"Aku sedang menciptakan aplikasi sebagai pundi-pundi penghasilan kita ke depan," balas Rai tanpa memalingkan pandangan.


"Istirahatlah dulu! Kau tidak tidur semalaman! Apa kau pikir tubuhmu itu mesin!" ketus Yuriko.


Rai menoleh ke arah Yuriko, lalu menarik perempuan itu ke pangkuannya. "Aku hanya butuh pengisian daya untuk menambah energi," ucapnya sambil meletakkan ujung telunjuk di bibirnya.


Yuriko tersenyum lebar dan langsung mengecup singkat bibir Rai.


"Sepertinya pengisian daya tak cukup jika hanya sekali kecup. Aku butuh lebih dari itu," ucap Rai sembari memicingkan sebelah mata.


Yuriko mengangkat sepasang tangan Rai yang menempel di mouse dan keyboard laptop, lalu mengarahkan ke tangan itu ke pundaknya. "Kalau begitu ... kau harus melepas pekerjaanmu dulu supaya bisa lebih leluasa melakukan pengisian daya."


Rai tersenyum miring. "Saran yang bagus. Kita lihat, butuh berapa lama pengisian daya kita lakukan!" Ia langsung berdiri sambil menggendong Yuriko menuju ranjang tidur mereka.


.


.


.


Tinggal 1 chapter lagi gays, Ini kepanjangan banget. Mau diringkas tapi takut ntar ngeganjal di kalian. Waduh keknya gw bakal dilemparin ember isi duit segepok nih sama kalian, dari kemarin bilang tinggal 1 chapter Mulu tapi gak tamat-tamat 🤣🤣 beneran kumat penyakit gua di penghujung chapter 🤣🙏


Tapi ini beneran tinggal 1 chapter lagi. Insha Allah sambungannya menyusul tar malam, atau besok pagi. jangan lupa like dan komeng.