Never Not

Never Not
Ch. 108 : Membuka Tabir Misteri



"Apa kau yakin?" tanya Rai cepat.


Yuriko mengangguk-anggukkan kepala tanpa berpaling dari foto tersebut. "Iya, aku sangat yakin. Meski dalam foto ayahku terlihat masih muda, tapi aku yakin dia orang yang sama."


"Apa ayahmu polisi juga?" tanya Kei yang kini menegakkan tubuhnya setelah cukup lama bersandar.


"Itu dulu, saat usiaku masih lima tahun. Dia kecelakaan saat bertugas yang membuatnya tak lagi menjadi polisi," ucap Yuriko dengan nada rendah.


"Memangnya ayahmu dari divisi mana? Apa kau tahu tugas apa yang dilaksanakan ayahmu waktu itu?" Kei mulai mengeluarkan kemampuan mengulik informasi sebagai seorang jurnalis.


"Ibuku pernah bilang dulunya ayahku pasukan riset keamanan luar publik," jawab Yuriko seraya mengingat-ingat apa yang diketahuinya.


"Itu adalah pasukan khusus yang bergerak secara diam-diam dalam mengantisipasi kelompok radikal," imbuh Shohei menjelaskan.


Yuriko mengangguk. "Hum ... ibuku pernah bercerita kalau dulunya ayah diberikan tugas untuk menangkap kelompok anti terorr. Tapi saat menjalankan tugas itu, ayahku malah terkena serangan bom yang membuat kedua kakinya di amputasi."


"Ah, aku baru saja melihat profil Kazuya Toda di internet, ternyata dia pernah ditempatkan di pasukan riset keamanan luar publik." Kei menunjukkan gawainya yang memuat profil tersebut.


"Berarti benar Kazuya Toda pernah satu divisi yang sama dengan ayah Yuriko," ucap Shohei sambil mengelus dagunya.


Rai bergegas menuju meja komputer. Ia membuka mesin pencarian internet sambil bertanya, "Yu-chan, berapa usiamu sekarang?"


"Dua puluh dua tahun," jawab Yuriko.


Rai langsung mengetik kata kunci 'kasus serangan bom dari kelompok radikal tujuh belas tahun yang lalu'. Dalam beberapa detik, artikel berkaitan langsung bermunculan di mesin pencarian internet. Dari info yang beredar, aksi pengeboman tersebut menewaskan tiga polisi dan pelaku pengeboman itu sendiri serta melukai seorang polisi yang bertugas di mana itu adalah ayah Yuriko.


"Ada yang aneh!" seru Rai.


Shohei, Kei, Ryo dan Yuriko lantas langsung berkumpul mengelilingi Rai.


"Kasus itu malah menjadikan Kazuya Toda diangkat sebagai komandan pasukan riset keamanan luar publik yang menjadi awal tangga karirnya di kepolisian," ucap Rai setelah membaca artikel itu.


"Sebagai ketua kelompok waktu itu, dia dianggap mampu meminimalisir korban yang tadinya mungkin akan memakan ratusan orang, tapi hanya menjadi lima orang. Termasuk ayahmu sendiri," tutur Shohei pada Yuriko.


"Dan ayahku malah dihentikan dari kepolisian secara sepihak," imbuh Yuriko tersenyum getir.


"Dia masih mau menerima jabatan itu setelah kawan-kawannya tewas?" Ryo malah menampilkan ekspresi heran.


"Apa kau pernah mendengar ayahmu menceritakan kejadian ini? Mungkin kita bisa mendapatkan versi yang berbeda," tanya Shohei menoleh pada Yuriko.


"Sejak keluar dari keanggotaannya, ayahku tidak lagi mengungkit apa pun yang berhubungan dengan kepolisian maupun pemerintahan. Tapi, ibu bilang itu karena ayahku merasa dikhianati temannya sendiri. Aku yakin dialah orangnya, Kazuya Toda," ucap Yuriko menatap kembali foto Kazuya Toda dengan mata yang memercik api.


"Tidak banyak artikel yang mengulik tentang kasus ini. Sepertinya kasus ini dibiarkan terlupakan begitu saja," timpal Kei yang ikut mencari-cari informasi terkait.


"Ini benar-benar lucu. Ayahku lumpuh seumur hidup, teman-temannya tewas di tempat, tapi dia menjadi satu-satunya orang yang masih hidup dan malah mendapatkan keuntungan dari tragedi itu! Itulah kenapa awalnya aku tidak percaya dengan keadilan," cerocos Yuriko menggebu-gebu.


"Tunggu, jika Matsumoto-san mengetahui apa yang dilakukan Kazuya Toda selama ini lalu menyimpan bukti, kenapa dia tidak berani mengusutnya? Bukankah dia memiliki wewenang sebagai menteri kehakiman?" Rai mengutarakan pikirannya yang menyembul secara tiba-tiba.


Ucapan Rai tentu saja membuat Shohei dan Kei terkesiap. Secara naluri, mereka membenarkan apa yang dikatakan Rai.


"Jangan-jangan ... menteri kehakiman memiliki rahasia yang digenggam Kazuya Toda. Semacam aib atau skandal misalnya. Jadi, hal itulah yang membuat menteri kehakiman tidak berkutik," duga Yuriko atas pertanyaan Rai.


"Bisa jadi!" Rai mengangguk-angguk sambil memetik jari, tanda bahwa ia sepaham dengan gadis yang tinggal bersamanya itu.


Shohei refleks menoleh ke arah Kei seakan meminta konfirmasi.


Napas Kei berembus berat. "Kalau itu ... aku tidak tahu. Meski dia pamanku, bukan berarti aku mengetahui segala hal tentang dirinya. Di mataku dia adalah sosok ayah yang menyayangi putrinya."


"Apakah ada ayah yang tidak menyayangi putrinya?" sosor Yuriko dengan suara datar.


Sejujurnya, Shohei pun merasa aneh dengan sikap dan kebijakan yang dikeluarkan menteri kehakiman selama ini. Dimulai dari mengeluarkan dirinya dan polisi lainnya dari divisi khusus yang menyelidiki kasus korupsi pejabat. Kemudian enggan berkomentar di publik atas kasus-kasus korupsi yang berhasil dikuak Black Shadow. Terakhir, ayah Seina itu terlihat penuh pertimbangan dan dilematis saat berbicara dengannya pada makan malam terakhir mereka. Pesan yang ia tinggalkan pada Megumi Jun juga seakan-akan bisa memprediksi apa yang akan terjadi ke depan.


Mata Shohei membesar seketika. Apa yang dikatakan Ryo cukup masuk akal. Mengingat, mendiang Matsumoto ingin agar ia segera menikahi Seina. Sekarang, hanya tinggal membuka tabir misteri ini untuk menemukan jawaban yang sebenarnya.


Shohei kembali ke tempat sedia kala, sambil berkata, "Karena kita sudah mengetahui target kesepuluh dan ternyata itu adalah musuh kita bersama, maka butuh bukti untuk menjatuhkan target kita. Sialnya, kita tak menggenggam satu pun bukti kejahatan ataupun kerja sama yang dia lakukan dengan kesembilan orang ini. Kita juga tidak punya seorang informan yang berada di badan kepolisian nasional."


"Tenang saja, aku akan masuk ke sana menyamar untuk mengambil informasi seperti biasa!" ujar Rai.


"Masalahnya kita tidak punya waktu banyak. Tiga hari lagi dia akan dilantik menjadi kepala keamanan nasional. Artinya, bukan hanya kepolisian saja yang berada dalam genggamannya, tapi juga militer, pasukan bela diri khusus, pasukan anti terorr, dan pasukan keamanan perdana menteri." Shohei menunjukkan wajah masam.


"Apa kita sanggup mencegah semua itu dalam tiga hari?" pikir Rai memandang kosong ke depan.


"Aku akan mencari tahu seluk beluk Kazuya Toda selama menjabat, termasuk peristiwa tujuh belas tahun lalu yang juga melibatkan ayah Yuriko. Pasti kita dapat menemukan celah untuk menjatuhkan Kazuya Toda!" Kei menyahut.


"Hati-hati, jangan sampai apa yang kau lakukan terendus olehnya. Akun sosial mediamu langsung lenyap pasti karena dia memerhatikan track record-mu selama ini." Shohei memperingati.


"Jangan khawatir! Serahkan tugas ini padaku!" balas Kei.


"Aku akan mencoba mencari tahu tentangnya pada ayahku. Meski mungkin akan sulit karena ayah tidak mau membicarakan tentang profesinya sebagai polisi," sambung Yuriko.


"Arigatou gozaimasu. Aku mengandalkan kalian semua," ucap Shohei. Ia memalingkan muka ke arah Kei lalu berkata, "Besok aku akan menemui Seina terlebih dahulu. Selama beberapa hari ini kami tidak berkomunikasi."


"Besok abu paman akan disimpan di tempat pemakaman. Mungkin dia akan melaksanakan upacara di sana," balas Kei sekadar memberi informasi.


"Apa yang bisa kulakukan untuk kalian?" tanya Ryo sambil berdiri.


"Untuk saat ini kau tidak perlu melakukan apa pun. Tetaplah fokus bekerja dan jangan membocorkan ini pada siapapun. Keahlianmu akan sangat berfungsi di akhir nanti," ucap Rai tersenyum miring sambil memegang kedua lengan adiknya.


Selepas pembicaraan, mereka kembali dengan memulai tugas masing-masing. Langit makin pekat, di mana waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Rai dan Yuriko baru saja turun dari kereta, mereka berjalan santai menuju apartemen mereka.


"Hah ... tidak kusangka hidup ini penuh kejutan." Yuriko membuang napas kasar sambil mengantongi kedua tangannya. "Aku yang tadinya tidak percaya lagi dengan yang namanya keadilan, sekarang malah ikut bergabung bersama kalian untuk memperjuangkan keadilan," lanjutnya sambil tersenyum kecut.


"Itu tidak seberapa dengan diriku. Bagiku hidup ini seperti sebuah lelucon. Aku yang dulunya seorang penipu dan telah merugikan banyak orang, malah sekarang menjadi pahlawan keadilan." Rai tertawa hambar.


"Dan aku malah jadi teman sekamarmu." Yuriko mendorong lengan Rai sambil cekikikan.


"Bukan hanya sekamar, tapi seranjang juga." Rai menaikkan keningnya sebanyak dua kali mencoba menggoda Yuriko.


Yuriko langsung membuang wajah sambil menahan senyum.


"Pasti kau dan keluargamu telah banyak melewati kepahitan selama ini," ucap Rai sambil menengadahkan kepala.


"Setidaknya aku beruntung karena ayahku masih hidup sampai detik ini. Berbeda dengan calon tunangan Shohei-san, kematian ayahnya pasti membuatnya terpukul. Kudengar dia bahkan tidak menghadiri sidang skripsinya."


Pembicaraan tentang Seina membuat raut wajah Rai menggelap seketika. Ia berharap gadis itu telah membaca surat yang disisipkan ke dalam tasnya sebelum kematian menteri kehakiman.


Langkah Rai tiba-tiba terhenti sehingga membuat Yuriko heran. Ia menatap wajah pria itu yang tampak kaku, lalu menoleh ke arah pandangnya saat ini. Di hadapan mereka sekarang, seorang pria berpakaian setelan tuksedo biru tua baru saja keluar dari mobil sport-nya.


"Yo, apa kabar Rai-kun!" sapa pria itu sambil mengulas senyum lebar.


Yuriko menoleh cepat ke arah Rai. Pria itu masih membatu, mimik wajahnya tiba-tiba mendingin.


"Hei, ada apa dengan ekspresimu itu? Apakah begitu caramu menyambut sahabat lama?" ucap pria itu sambil membentangkan tangan.


.


.


.


jangan lupa like dan komeng gays biar gua senang sesenang dapat minyak gosok isi minyak goreng.