
Akhirnya, Rai dan Shohei sepakat untuk kembali bekerja sama. Bedanya, Rai tetap bergelung dengan kelompok penipu yang dulu diketuainya. Untuk membuka kedok Kazuya Toda yang tersimpan rapi selama belasan tahun, tentu tidak mudah. Jalan satu-satunya adalah tetap menjalankan misi penipuan dengan memanfaatkan keahlian Yuta sebagai peretas profesional.
Rai lalu memberitahu idenya yang hendak meretas jaringan internet dan telekomunikasi kepolisian untuk mengalihkan fokus polisi di Tokyo saat misi itu berlangsung. Awalnya Shohei menentang ide pria itu karena ditakutkan akan menimbulkan kegaduhan, tetapi Rai meyakinkan ini hanya berlangsung satu jam dan tak akan ada korban jiwa. Karena tak memiliki cara lain, Shohei pun terpaksa menyetujuinya.
Shohei kemudian mengumpulkan timnya untuk menelusuri asal-usul harta Kazuya Toda yang tersimpan di ruang safe room. Sebelumnya, ia mengatakan bahwa Rai tak di tim mereka lagi.
"Aku dan Rai tidak lagi berada di jalan yang sama."
Yuriko, Kei, dan Ryo lantas terkejut dengan apa yang baru saja diungkap pria itu.
"Rai telah kembali ke geng lamanya, di mana salah satu dari anggota mereka ternyata adalah pelaku peretasan siaran Black Shadow."
Saat Shohei menjelaskan seperti itu, Ryo langsung bereaksi tak senang. Tentu ia mengetahui geng yang dimaksud dan juga anggota yang meretas siaran langsung tersebut.
Shohei lalu membungkuk di hadapan mereka bertiga. "Sebelumnya, aku memohon maaf pada kalian semua karena selama beberapa hari ini aku tidak bisa fokus. Masalah yang terjadi antara aku dan Rai, tidak perlu kalian khawatirkan karena tidak ada kaitannya dengan misi ini. Ke depannya, aku akan berusaha untuk tidak melibatkan urusan pribadiku lagi." Ia menoleh ke arah Ryo sambil berkata, "Aku mempersilakan kau memilih, apakah tetap bersama di tim ini, atau berhenti dan keluar dari misi ini.
Ryo membulatkan mata. Dia langsung berdiri dengan dada yang sengaja dibusungkan. "Aku tetap akan berdiri di tim ini, meskipun kakakku sudah tidak lagi bekerja sama denganmu."
Shohei mengulas senyum. "Kini aku tahu kenapa Rai mengajakmu untuk ikut bergabung di tim ini. Tapi tenang saja, kami berdua masih satu tujuan, yaitu meruntuhkan Kazuya Toda."
Rapat pun dimulai. Kei melaporkan hasil penelusurannya yang membuntuti Eita Kaze secara diam-diam. Dari Kei, akhirnya Shohei menemukan jawaban bahwa harta yang tersimpan di safe room itu adalah hasil penjualan senjata ilegal.
Karena Rai tak mengetahui letak gudang tempat safe room itu berada, maka Shohei pun menugasi Yuriko dan Ryo untuk memperoleh informasi pada orang-orang terdekat Kazuya Toda. Mereka tak bisa hanya mengandalkan Rai. Sebab, seperti yang sudah dijelaskan, Yuta yang mengetahui seluruh seluk-beluk ruangan itu hanya akan memberitahukan pada Rai tepat saat mereka melakukan aksi penipuan.
Yuriko lalu menempelkan alat penyadap di bawah kolong meja tamu Kazuya Toda. Dari hasil penyadapan, hanya tiga orang yang memiliki akses masuk safe room, yaitu Kazuya Toda, Eita Kaze, dan juga Mr. X.
Sesuai instruksi Shohei, Yuriko kemudian membuntuti Mr. X. Bahkan ketika Mr. X mendatangi bar untuk minum-minum, gadis itu tetap mengekornya. Yuriko berpura-pura menjadi gadis yang mabuk berat, lalu sengaja menabrakkan diri ke Mr. X yang tengah minum di meja bar tender.
"Gomennasai, aku tidak sengaja! Pandanganku sedikit berkunang-kunang," ucap Yuriko dengan suara yang sengaja dibuat oleh orang mabuk.
"Ah, tidak masalah! Hati-hati jangan memaksakan berjalan," ucap Mr. X yang juga sebenarnya mulai mabuk.
Yuriko berjalan sempoyongan menuju pintu keluar bar. Setelah keluar dari bar tersebut, dia menampakkan ekspresi wajahnya yang asli. Ternyata saat sengaja menabrakkan tubuhnya tadi, kesempatan itu ia gunakan untuk mengambil dompet milik Mr. X. Ia lalu membuka dompet tersebut untuk mengambil id card pria tersebut. Kartu itu di-scan lalu ia kirimkan ke Ryo untuk dibuatkan id card yang sama persis. Sebagai mantan penipu dan ahli digital, hal ini sudah sering ia lakukan. Bahkan ia dapat bertransformasi sama persis dengan Mr. X dengan hanya mengubah tampilan rambut dan efek makeup.
Hari di mana tim Rai akan beraksi pun tiba, Ryo menyamar sebagai orang kepercayaan Kazuya Toda, kemudian mendatangi gudang tersebut bersama Shohei yang berpakaian seragam perang kepolisian. Berkat id card tiruan, pintu pertama bisa terbuka dengan begitu mudah. Namun, keduanya tersentak ketika mengetahui pintu kedua memakai teknologi biometrik sebagai pengaman. Untungnya, penyamaran Ryo sebagai Mr. X membuat mesin dapat mengenali wajahnya. Pintu kedua pun turut terbuka lebar untuk mereka berdua. Ryo dan Shohei kini berdiri di depan pintu safe room.
"Kau boleh pergi. Aku akan menunggu Rai di sini!" perintah Shohei.
"Baik. Aku juga masih akan melaksanakan tugas yang lain." Ryo lalu keluar dari ruangan itu melalui akses jalan lain.
Meski Shohei duluan tiba, tetapi jarak waktu Rai menuju ke ruang bawah tanah yang tersembunyi itu hanya berselang lima menit darinya. Jadi, tak membutuhkan waktu lama untuk Shohei menunggu kedatangan Rai dan kembali siap berkolaborasi lagi.
Inspektur heiji bersama para polisi yang bertugas di Metropolitan telah kembali. Para polisi mengungkap kekesalan mereka terhadap serangan hoaks yang melanda kepolisian Jepang.
"Kita harus mencari pelakunya! Dia telah menganggap remeh kepolisian Jepang!" ucap inspektur Heiji dengan amarah yang masih berkobar. Lantas, perkataannya langsung disambut setuju oleh seluruh polisi di ruangan itu.
"Kita tidak bisa melakukannya!" sahut Jun seketika, "jika hal ini bocor keluar, tentu akan memalukan kepolisian sendiri di mata publik dan dunia. Yang perlu kita tindak saat ini adalah meningkatkan kembali sistem keamanan kita agar tidak mudah dibobol," lanjutnya.
Jun lalu duduk di salah satu meja komputer, lalu mencolokkan hardisk miliknya. Dengan kecerdasan otaknya, ia mampu mengembalikan sistem keamanan, komunikasi, dan juga jaringan internet yang sempat diambil alih oleh Yuta. Malahan, Jun balik menyerang seluruh komputer yang digunakan Yuta untuk meretas.
Yuta tersentak hebat ketika seluruh komputernya mendapat serangan balik yang membuat seluruh programnya mengalami error'.
"Tidak mungkin! Tidak mungkin!" Mata pria itu terbelalak hebat saat seluruh data-datanya sedang ditransfer ke sebuah komputer tanpa kendalinya.
"Ada apa?" tanya Haru mendekat.
"Kita ketahuan!" Yuta berusaha menghentikan serangan retasan yang terjadi pada komputernya. Namun, usahanya gagal! Komputer itu terus dikendalikan oleh pihak lain.
Takut identitasnya sebagai peretas ketahuan, ia pun langsung menghancurkan seluruh komputernya. Sejenak, ia teringat akan komunikasinya bersama Rai yang mendadak terputus. Mungkinkah aksi mereka ketahuan?
Dalam keadaan panik, Yuta lantas berkata pada Haru. "Hubungi anggota kita sekarang juga, suruh mereka bergegas keluar dari area pelabuhan. Mungkin polisi sedang menuju ke sana."
"Apa? Lalu bagaimana dengan Rai sendiri?" tanya Haru tak kalah panik.
Yuta menutup matanya rapat-rapat. "Aku tidak tahu apa yang terjadi dengannya. Komunikasi kami tiba-tiba terputus, GPS-nya juga tak terlacak. Lebih baik kita selamatkan diri sekarang juga! Kita telah membuat kekacauan di kepolisian, mereka pasti tidak akan tinggal diam dan mencari kita!"
Di kepolisian Metropolitan, Jun tersenyum simpul seraya kembali menarik kembali hardisk-nya. Inspektur Heiji menghampirinya dengan raut heran.
"Kita baru saja ditipu habis-habisan, tetapi Kepala Megumi-san malah senyum-senyum di depan komputer seperti pemuda yang baru saja jatuh cinta!" protes inspektur Heiji.
"Itu karena aku baru saja menyerang balik orang yang baru saja meretas kepolisian," jawab Jun santai.
"Benarkah?" Inspektur Heiji mendadak girang, "katakan padaku siapa orangnya? Di mana posisinya sekarang? Bagaimana rupanya? Aku akan menangkapnya sekarang!" ujarnya berapi-api.
Di sisi lain, kekacauan yang juga terjadi di pelabuhan karena isu peledakan bom, telah sampai di telinga Kazuya Toda. Pria yang selalu tampak tenang itu, telah membaca hal aneh yang terjadi malam ini. Ia pun segera menggerakkan pasukan yang dibentuknya secara khusus menuju pelabuhan.
Tak butuh waktu lama, pasukan khusus itu pun datang ke pelabuhan Tokyo. Atas perintah Kazuya Toda, mereka langsung menuju gudang tempat safe room itu berada. Saat gerombolan pasukan berseragam hitam itu tiba di depan gudang, dua sosok berjubah hitam lengkap dengan topeng yang melekat di wajah mereka, telah berdiri tegap di depan sana seolah tengah menyambut kedatangan mereka.
Entah siapa yang mulai lebih dulu, pasukan khusus Kazuya Toda dan dua sosok bertopeng itu maju secara bersamaan dan saling menyerang.
.
.
.
catatan penulis ✍️
Ini pertama kalinya aku menulis dua karya on going sekaligus. Waktu menulis di jam hantu biar bisa tenang dan karena kalo siang juga aku punya kerjaan utama, tapi efeknya pas lagi ngedit tulisan, ada banyak yang terlewati karena ngantuk. Jadi, kalau ada kata tipo, kalimat rancu, kata yang kena auto text, dan lain-lain harap maklum aja, ya. Spill per paragraf aja, biar bisa langsung kuedit.
jangan lupa jempol dan komennya.