
..."Aku tidak bisa membiarkan ketidakadilan yang kuketahui. Selagi mataku dapat melihat, telingaku bisa mendengar, otakku mampu berpikir, dan nuraniku masih ada, aku akan melawan mereka. Meskipun melalui seseorang yang menjadi bayanganku."...
...~Yamazaki Shohei~...
...****************...
Pagi ini sungguh menawan. Burung-burung bertengger di atas pohon yang mulai ditinggalkan daunnya satu per satu. Sepanjang jalanan dipenuhi guguran dedaunan berwarna oranye. Ya, musim gugur telah membentangkan sayapnya di kota ini.
Sepagi ini, Kei yang memakai setelan hitam sudah berada di ruang direktur media tempatnya bernaung. Ia menyerahkan surat pengunduran diri dari tempat yang telah membesarkannya sebagai jurnalis kawakan.
"Apa kau sudah mempertimbangkan ini?" tanya direktur memperingati Kei agar memikirkan keputusannya secara matang. Padahal, dialah yang sebenarnya enggan melepas Kei.
"Ya, ini sudah kupikirkan sejak lama. Sejak kau mengistirahatkan aku dan programku."
"Kenapa? Kenapa harus keluar?"
"Aku ingin menjadi jurnalis independen. Bebas menulis, meliput, menginformasikan dan mengungkap apa pun tanpa tekanan dari siapapun," jawab Kei dengan tegas.
"Apakah ini karena ... program acaramu sempat dicekal? Kau marah karena aku terlalu takut untuk bersuara?" tanya direktur dengan wajah tak berdaya.
"Tidak." Kei menggeleng. "Justru aku merasa tidak enak. Media kita sering disorot politisi dan pemerintah karena tindakanku yang terlalu kritis."
"Tidak papa. Kau adalah nyawa kami. Bukankah kau masih perlu mengungkap identitas Black Shadow? Waktu itu kau sangat menggebu-gebu ingin membongkar sosok di balik topeng itu, kan? Aku mendukungmu! Black Shadow masih menjadi topik hangat hingga hari ini, jadi kita bisa ...."
Kei langsung memotong. "Direktur, aku sudah tak lagi penasaran dengan sosok Black Shadow. Sekarang aku menyadari, ada beberapa hal di dunia ini yang sebaiknya dibiarkan abu-abu. Termasuk tentang sosok dibalik Black Shadow dan pengendalinya. Biarkanlah mereka terus menjadi misteri!"
Kei membungkuk penuh, sebelum akhirnya pamit mundur dan pergi.
Ketika sore bersiap menyapa senja, Ryo mendatangi apartemen kakaknya dengan wajah lesu. Ia masih memakai setelan kantor lengkap dengan tas ransel di pundaknya.
"Hei, ada apa dengan raut wajahmu? Kau seperti orang yang baru saja kena PHK!" tegur Rai melihat tampang memelas Ryo, "apa jangan-jangan ... kau benar-benar dipecat?" Mata Rai tiba-tiba melotot cemas.
Ryo menggeleng. "Aku tidak dipecat. Justru aku dipromosikan naik jabatan. Tapi ... mereka memintaku kepala tim departemen perencanaan di Singapura," jelasnya dengan nada rendah.
"Woah ... itu bagus! Tunggu apa lagi, jangan sia-siakan kesempatan itu!" Rai memegang kedua bahu Ryo dengan mata berbinar, seolah ikut senang dengan pencapaian karir adiknya.
Sebaliknya, mendengar respon Rai, Ryo malah terkejut. Wajah kecewa disertai nada tak senang langsung meloncat keluar dari mulut Ryo. "Oniichan, saat dalam perjalanan menuju ke sini, aku sempat mengira kau mungkin akan menahanku, melarangku, memintaku agar tetap di sini bersamaku. Kupikir, Oniichan pasti tak akan membiarkan aku pergi seperti aku yang merasa berat meninggalkanmu."
Rai menunduk seraya membasahi bibirnya yang kering. "Ryo-chan, mulai sekarang, berhentilah mengkhawatirkan aku lagi! Kau bisa lihat sendiri, kan? Hidupku sudah lebih baik dan aku cukup bahagia dengan keadaan ini. Kau selalu menjadi adik yang baik bagiku, tapi sayangnya ... aku tak bisa menjadi kakak yang baik untukmu. Alih-alih menjaga dan melindungimu, malah kau yang selalu melakukannya untukku. Jadi, inilah waktunya kau memikirkan kehidupanmu sendiri. Temukanlah kebahagiaanmu, kembangkan sayap karirmu, dan ciptakan kisah cinta yang menarik untuk kau ceritakan padaku!" ucapnya pelan.
"Oniichan," panggil Ryo lemah dengan mata yang berkaca-kaca, "aku ingin menangis di pelukanmu," rengeknya.
"Tidak boleh!"
"Kalau begitu, aku mau menangis di pelukan Yuriko saja." Ryo langsung membuka pintu apartemen dan bergegas masuk mencari Yuriko.
Rai terbelalak kaget. Tak terima, ia lantas segera mengejar adiknya.
Sama seperti Ryo, Kei juga menceritakan kalau dia telah keluar dari media yang membesarkan namanya pada Shohei dan Seina. Ia juga mengatakan akan berkeliling dunia untuk memburu berita yang menarik dan menantang adrenalin, seperti saat dia ditugaskan meliput di Timur Tengah.
"Lalu, kapan Oniichan akan meninggalkan Jepang?" tanya Seina seraya menyantap hidangan makan malam mereka.
"Aku menunggu kalian menikah dulu. Aku perlu memastikan kalian benar-benar terikat secara resmi," balas Kei terkekeh.
"Kalau begitu seharusnya Oniichan juga menikah, karena kau seumuran Shohei!" Seina merengut, tetap kemudian tertawa.
"Kei-san, semoga kau semakin sukses," ucap Shohei.
"Ucapan yang sama untukmu," balas Kei.
Langit yang berselimutkan gelap, telah ditutup dengan kehadiran mentari di kaki langit. Cahayanya yang cerah menyentuh kulit dua pria tampan yang tengah mendaki perbukitan. Titik peluh menghiasi sekitaran dahi mereka.
"Dari jauh bukit ini terlihat datar. Tidak kusangka puncaknya akan setinggi ini," keluh Rai yang memakai pakaian santai dengan topi kasual milik Yuriko yang dipasang secara terbaik.
"Untung saja kita tidak mengajak pasangan kita. Kalau tidak, Seina tak akan mampu mendaki." Shohei membenarkan syalnya.
"Kalau mengajak Yuriko maka kita akan terlambat. Saat aku pergi, dia masih tidur sekalipun aku sudah membangunkannya!"
Ya, setelah misi berakhir, kedua pria yang memiliki sifat bertolak belakang itu meluangkan waktu untuk berlibur. Mereka telah bersama selama setahun lebih. Sering menikmati kebersamaan, saling percaya dan bergantung satu sama lain.
"Apa kau mendengar berita tentang mayat yang ditemukan terapung di sungai Sumida? Banyak yang mengira jenazah itu Black Shadow." Rai duduk berjongkok seraya menggosok-gosokkan kedua telapak tangannya untuk menciptakan kehangatan.
"Kurasa itu bisa menjadi alasan tepat untuk membuat Black Shadow hilang selama-lamanya," balas Shohei yang turut berjongkok, lalu membagikan sepotong roti panjang yang dibawanya sebagai sarapan mereka.
"Apakah dengan menghilangnya Black Shadow, segala ketidakadilan dan kecurangan yang terjadi di dunia pemerintahan juga akan tiada?" pikir Rai seketika seraya mendongak ke atas.
"Tentu saja tetap ada. Tapi ... setidaknya Black Shadow telah membuka mata orang-orang untuk tidak mudah dibodohi dengan politik kotor dan pejabat bermuka dua," jawab Shohei. Ia lalu menoleh pada Rai. "Rai, setelah ini ... berjanjilah padaku untuk tetap menjalani kehidupan yang baik. Walau Black Shadow hanya tokoh yang kau perankan, tapi bukankah dia telah menyatu dalam dirimu?"
"Hum ...." Rai membenarkan dengan sebuah dehaman kecil.
"Seperti yang pernah kubilang, aku punya teman yang baru membuka perusahaannya tahun ini. Aku akan merekomendasikan kau padanya agar kau bisa bekerja di sana."
"Ah, tidak perlu. Aku ... sudah punya rencana untuk ke depan," tolak Rai sambil tersenyum optimis.
Rai tersenyum lebar, sambil mengangkat sepasang alisnya. "Aku ingin menjadi politisi."
Shohei tertawa kecil mendengar perkataan Rai yang seperti sebuah gurauan.
"Aku serius!" tekan Rai dengan raut wajah tak main-main, "aku sudah memikirkannya. Aku akan terjun ke dunia politik. Entah setahun, dua tahun, atau lima tahun lagi. Black Shadow tidak hanya mengubah pandangan orang-orang yang tak mau ikut campur persoalan negara, tapi juga membuatku paham dunia perpolitikan serta intrik di dalamnya. Dia menyadarkan aku akan satu hal ... bahkan satu tindakan nyata dapat mengubah dunia dibanding seribu solusi yang hanya dibicarakan di tempat duduk. Jika Black Shadow lahir untuk menumpas pejabat dan politikus kotor, maka aku akan lahir sebagai politikus bersih yang membawa harapan banyak orang. Melalui jalan ini, aku bisa meneruskan perjuangan Black Shadow dan Mr. White," tuturnya menggebu-gebu.
Shohei tertegun. Tatapannya melekat erat pada pria yang berusia dua tahun lebih muda darinya. Hanya dengan memandang mata Rai, ia bisa meyakini ada kesungguhan dari lontaran kalimatnya barusan.
"Gomen, sempat menganggap keinginanmu sebagai lelucon. Tapi ... jika memang ingin terjun ke dunia politik, maka kau harus benar-benar siap segala hal. Ada tanggung jawab besar yang harus kau pikul. Kau tidak boleh hanya berniat mencari peruntungan di sana."
"Jangan khawatir, jika aku main kotor ... silakan tangkap aku, Pak Polisi!" Rai menyerahkan kedua tangannya sambil menyengir, seakan minta diborgol. "Bagaimana dengan kau sendiri?" Ia gantian bertanya.
"Aku tetap seperti ini." Saat mengatakan itu, wajah Shohei berangsur-angsur menjadi kelam, "kalau begitu ... semoga keinginanmu tercapai, Black!" Shohei mengarahkan kepalan tangannya ke depan.
Rai melakukan hal yang sama. "Begitu juga denganmu. Mari sukses bersama, Mr. White!"
Angin sore menjatuhkan dedaunan yang mulai mengering. Rai dan Shohei kini berdiri bersebelahan. Di hadapan mereka ada kobaran api yang menyala-nyala dengan perkasa. Rai menurunkan tas ransel dari punggungnya, lalu membuka resleting hingga menampakkan kostum dan topeng yang dipakai selama ini.
"Aku sungguh bersyukur dipertemukan denganmu," ucap Rai pelan.
"Aku pun demikian," balas Shohei seraya menunjukkan senyum andalannya.
Keduanya lalu membakar kostum dan topeng Black Shadow dalam api yang menyala.
"Rai-kun, apa kau masih ingat dengan perjanjian kita saat aku mengajakmu menjalankan misi ini sebagai Black Shadow?" ucap Shohei sambil menyaksikan bagaimana topeng dan kostum itu perlahan-lahan menjadi abu begitu disantap api.
Rai mengangguk saru. Bola matanya refleks bergerak ke samping. Matanya mendadak terasa perih. Namun, bukan karena efek asap yang ditimbulkan api tersebut.
"Tentu saja."
Dengan pandangan nanar, Shohei berkata lambat-lambat. "Begitu misi ini selesai ...."
"Hubungan kita pun berakhir," sambung Rai sambil menelan ludah yang terasa pahit.
"Kita tak perlu bertemu ..."
"Maupun saling menghubungi."
"Jika nanti kita tak sengaja bertemu ..."
"Tak perlu saling menyapa."
"Kita akan menjalankan kehidupan masing-masing ..."
"Dan tetap menjaga rahasia yang pernah ada di antara kita."
Setelah saling mengingatkan perjanjian yang mereka buat, keduanya berhadap-hadapan kemudian mengambil ponsel dan saling menghapus kontak di ponsel masing-masing.
"Rai ...."
"Shohei ....."
"Sayonara!" Kedua pria itu berucap kompak sambil tersenyum getir.
Sejujurnya, Shohei tak ingin mengakhiri hubungan mereka. Rai pun enggan berpisah darinya. Hanya saja, entah kenapa mereka sulit untuk saling mengatakan yang sebenarnya.
Tepat saat senja tenggelam lima menit yang lalu, keduanya pun meninggalkan tempat itu dengan arah yang berlawanan. Rai dan Shohei memilih berpisah dan menjadikan kisah petualangan mereka sebagai bagian dari sejarah hidup yang untuk dikenang. Sama seperti senja yang cepat berlalu, begitu pula persahabatan mereka yang terjalin singkat.
.
.
.
catatan author ✍️✍️
gays, ini sebenarnya dah chapter terakhir tapi kepanjangan, dan capek juga nulisnya. jadi aku bagi dua, sambungannya entar nyusul dua hari ke depan. sebenarnya sampai sini pun, semua udah jelas ya. tapi aku tahu kalian pasti ingin tahu nasib Rai dan Shohei ke depan.
Kalau kalian ngikutin semua novel aku, pasti kalian tahu apa yang jadi ciri khasku di setiap novel. Apakah tulisan? Nope, tulisan aku bisa berubah-berubah. Di DSG dan AR tulisanku terlihat feminin, di DF, GA, dan NN terlihat maskulin. Apakah gaya bahasa? Nope, gaya bahasa aku tergantung genre.
Ciri khas yang selalu ada di novelku itu adalah selalu menggabungkan cinta persahabatan dan kekeluargaan. Mulai dari DSG, ada persahabatan antara tokoh Aldrin dan Naufal. Di DF kalian bisa melihat kekompakan Yu dan gengnya, terus persahabatan Ren dan Emi di GA yang penuh pengorbanan. Dan kisah ini ada persahabatan antara Shohei dan Rai, Rai dan Yuta, Ai dan Seto.
Juga selalu ada hubungan emosional antara anak dan ayah. Pesan-pesan yang ada di novelku lebih ke sisi kemanusiaan, karena ada banyak di sekitaran kita itu yang kurang memanusiakan manusia.
Ternyata masih ada yang nanya, Kenapa aku sering bikin novel latar Jepang. Karena menurut aku untuk genre detektif, kriminalitas tinggi, narkoba, dan gangster untuk negara Asia lebih cocok berlatar di Jepang, Hongkong sama Macau. Kebayang gak kalau novel ini latarnya Indonesia? pasti vibesnya jadi beda banget kan. jadi lucu ngebayanginnya.
Jepang negara yang memiliki teknologi canggih dan ber-SDM tinggi. Jepang juga terkenal dengan orang-orang yang masa bodoh, gampang depresi, tapi punya malu yang tinggi. Jadi kalau gua mau halu tingkat tinggi, ya gak terlihat maksa. Karena di Jepang emang kayak gitu. Seperti yg pernah aku bilang di GA, saat orang-orang hollywood menciptakan peralatan canggih lewat film mission impossible, Jepang malah mewujudkannya secara real.
Btw, ini soal Yuri gendong Rai. jadi gini, beberapa bulan lalu, aku sering nonton di reelsku, video cewek gendong cowoknya di punggung. ceweknya langsing, tapi bisa gendong cowoknya yang kekar dan aku lihatnya lucu. jadi aku terinspirasi dari mereka. kayaknya itu lagi hits di Thailand karena aku lihat video serupa juga ada banyak. entah challange atau apa ...
ok sekian kumur-kumur unfaedah ini, jangan lupa tetap nantikan chapter terakhirnya. jangan lupa like dan komeng