Never Not

Never Not
Ch. 130 : Serangan Balik dari Kazuya Toda



Usai mengadakan konferensi pers, Eita Kaze langsung dijemput kejaksaan. Sepanjang jalan, pria itu kembali mengilas balik dialog antara dirinya dan Kazuya Toda.


"Kaze-san, kali ini kau benar-benar mengecewakanku! Bagaimana bisa kau seceroboh ini!" Suara kelam nan suram datang dari Kazuya Toda begitu melihat tayangan video yang mengekspos tempat persembunyian uang-uang miliknya yang terkumpul selama bertahun-tahun.


Eita Kaze yang tak kalah terperanjat, lantas membungkuk penuh di hadapan pria itu. "Mohon maafkan saya, saya akan mengatasi semuanya."


Pada saat itu, sudut bibir Kazuya Toda langsung membentuk seringai jahat. "Bagaimana cara kau mengatasinya? Semua telah terbongkar! Hacker itu pasti bekerja sama dengan Black Shadow. Ya ... hanya Black Shadow yang bisa melakukan semua ini!" ucap pria yang kini menjabat sebagai kepala keamanan nasional. Ia lalu menatap santai Eita Kaze yang masih membungkuk penuh penyesalan. "Omong-omong, kudengar anakmu sedang melakukan pendidikan militer di USA. Bagaimana jika orang-orang tahu anak dari pejabat intelejen malah menjadi pasukan militer negara lain?"


Eita Kaze yang tahu arah pembicaraan Kazuya Toda lantas berkata cepat. "Tolong jangan usik dia. Menjadi anggota militer USA adalah impiannya."


Sebagai seseorang yang telah setia mendampingi Kazuya Toda, Eita Kaze sangat mengetahui betul watak pria itu. Kazuya Toda tak pernah menggertak, atau pun main-main dengan ucapannya. Dia adalah orang yang akan menggunakan cara apa pun untuk mencapai tujuannya.


"Hukuman bagi pelaku koruptor dan pencucian uang di negara ini hanya lima sampai tujuh tahun. Aku akan menjamin kehidupan keluargamu dan menyewakan pengacara untuk meringankan hukumanmu, kau bisa kembali bersama mereka setelahnya. Kau mengerti maksudku, kan?"


Eita Kaze membatu seketika. Tidak ada pilihan lain. Ia memiliki dua kesalahan tak termaafkan, yaitu membiarkan hacker itu tetap hidup dan tak berhati-hati saat melakukan transaksi terakhir di kapal. Hanya ini cara satu-satunya untuk menebus kesalahan itu sekaligus membiarkan karir anaknya tetap lanjut. Walau bagaimanapun, dia tetap seorang ayah.


Di markas, Shohei, Rai, Kei, Yuriko dan juga Ryo mendadak hening dan hanya menunjukkan ekspresi masing-masing. Dengan adanya pengakuan dari Eita Kaze, maka kasus tentang pencucian uang dan jual beli persenjataan ilegal telah selesai. Tentunya dengan menjadikan Eita Kaze sebagai tersangka. Jika seperti ini, maka rencana untuk menjebak Kazuya Toda telah gagal.


Tentu saja yang paling terpukul atas pemberitaan ini adalah Shohei. Padahal tinggal selangkah lagi untuk menjebak pria itu. Namun, semuanya telah gagal total karena Kazuya Toda lebih dulu mengantisipasi. Pantas saja nama Kazuya Toda tak bisa terdeteksi sebelumnya, meskipun Mr. White dan Black Shadow telah menjerat sembilan politikus yang memiliki hubungan erat dengan pria itu. Sebab, pria tua itu selalu memiliki cara untuk mengamankan dirinya seorang.


Di waktu yang sama, Kazuya Toda pun memberi pernyataan pada awak media. Dalam wawancaranya itu, dia mengaku sangat terkejut sehubungan dengan penemuan kepolisian dan kejaksaan tentang timbunan uang ilegal di salah satu gudang pelabuhan. Ia juga mengaku tak tahu menahu tentang keterlibatan Eita Kaze dan menyerahkan sepenuhnya kasus itu pada pihak yang berwajib.


Yuriko yang ikut menyaksikan tayangan wawancara Kazuya Toda hanya bisa termegap-megap tak habis pikir. "Bagaimana mungkin dia masih bisa tersenyum natural saat sedang melakukan kebohongan besar?"


"Apakah kita kalah telak darinya?" tanya Ryo dengan wajah miris.


Shohei berjalan mundur dengan tatapan gamang. "Cara apa lagi yang harus kita lakukan untuk menghadapinya?" ucapnya sambil meninju dinding dengan tampilan wajah frustrasi.


"Dia selalu memiliki tameng untuk menutupi kebusukannya," sahut Rai dengan suara menahan geram.


"Ayah Yuriko, pamanku, dan bahkan Eita Kaze yang telah setia padanya ia korbankan. Setelah ini siapa lagi? Siapa lagi yang akan dia korbankan untuk kepentingannya?" sambung Kei dengan amarah yang menguar dalam dirinya.


Markas itu mendadak hening, seperti sedang diselimuti duka. Masing-masing dari mereka seakan larut dengan pemikirannya sendiri.


Yuriko melompat dari atas meja yang didudukinya lalu berkata, "Jangan patah semangat! Tidak ada kejahatan yang bertahan abadi. Pasti akan ada jalan untuk bisa menghancurkan Kazuya Toda." Ia merangkul Rai sambil kembali berkata, "Rai-kun, Shohei-san, Kei-san, dan Ryo-san adalah orang-orang hebat dan memiliki keahlian masing-masing. Untukku yang masih mahasiswa, tentu sangat bangga bisa bergabung dan menjadi bagian dari kalian. Oleh karena itu, aku tidak ingin melihat wajah frustrasi kalian. Mari kita pikirkan rencana B! Kita pasti akan menang!"


"Benar, sudah saatnya kita memikirkan rencana berikutnya," susul Rai dengan sorot mata yang tajam.


Shohei dan Kei mengangguk-angguk setuju. Sepertinya usaha Yuriko untuk membakar semangat lelaki di ruangan itu cukup berhasil. Mereka yang tadinya tampak putus asa, kini kembali optimis.


"Apa kalian sudah melihat ini?" Ryo yang sedari tadi diam di depan komputer, tiba-tiba bersuara dengan raut tak percaya.


Ucapan panik Ryo lantas mengundang semuanya mendekat. Di layar komputer saat ini, tengah terputar sebuah rekaman video yang beredar sejak satu jam lalu. Dalam video tersebut, terlihat sesosok pria berpakaian Black Shadow lengkap dengan topengnya.


Melihat sosok orang yang menyerupai dirinya, Rai lantas mengepalkan tangan. "Dia lagi rupanya!"


Ryo lalu memutar video tersebut.


"Mina-san, ini Black Shadow. Aku datang memperingati kalian semua agar berhati-hati. Aku meletakkan sebuah bom di suatu tempat teramai di kawasan Shibuya. Bom itu akan meledak pada jam empat sore ini. Jaga diri kalian!" ucap pria bertopeng yang menyerupai Black Shadow.


Video kurang dari satu menit itu berakhir begitu saja. Namun, ancaman dalam video itu tentu menimbulkan kepanikan sebagian orang yang telah menontonnya. Sebaliknya, polisi tidak langsung percaya begitu saja. Pasalnya, mereka baru saja habis-habisan ditipu dengan surel misterius. Yang ada, para polisi malah berasumsi jika pelaku penebar bom hoaks semalam adalah Black Shadow.


"Jangan percaya! Ini mungkin jebakan!" ujar Rai merespon video tersebut.


"Jika orang lain yang melakukannya, mungkin benar ini jebakan. Tapi jika Kazuya Toda, ini mungkin serius. Ingat, dia bisa melakukan apa pun!" sanggah Kei.


"Iya, ingat peristiwa yang menimpa ayahku! Dia benar-benar meledakkan bom untuk membuktikan serangan terooris itu nyata!" imbuh Yuriko membenarkan pemikiran Shohei.


"Kazuya Toda benar-benar picik!" seru Ryo yang ikut naik pitam.


"Lalu apa yang akan kita lakukan?" tanya Kei yang telah buntu.


Semuanya tampak berpikir. Mereka tak bisa mengambil tindakan yang terburu-buru menghadapi orang seperti Kazuya Toda.


"Yang paling utama kita lakukan adalah pastikan bom itu benar-benar ada atau tidak. Kita harus menemukannya. Jangan sampai bom itu meledak dan memakan korban jiwa," ucap Shohei dengan nada suara terdengar kelam.


Tiba-tiba ponsel pria itu berdering, memunculkan sebuah nomor asing. Shohei memicingkan mata lalu menerima telepon itu dengan ragu-ragu.


"Moshi-moshi ...."


"Penyidik divisi satu Yamazaki-san?"


"Ya, benar."


"Ini dari Kepala Keamanan Nasional, Toda Kazuya."


Mendengar nama tersebut membuat mata Shohei melebar seketika. "Apa yang membuat seorang pejabat besar seperti Anda menghubungi saya langsung?" tanya Shohei sambil menyapukan pandangan pada keempat timnya, seolah memberi sebuah kode.


"Tentu karena ini situasi darurat. Aku juga mengundang para polisi berbakat lainnya di Metropolitan. Hanya saja, mereka mengatakan kau cuti kerja sehingga aku harus menghubungimu langsung. Tentu aku membutuhkan bantuan kalian semua. Begini saja, bagaimana kalau kita bertemu di restoran Chikagi di Shibuya? Akan sangat tenang jika kita mengobrol sambil minum kopi bersama," ucap pria yang notabene adalah musuh terbesar Mr. White dan Black Shadow selama ini.


Terdiam sejenak, Shohei pun menyetujui untuk bertemu dengan pria itu pada pukul tiga sore hari ini. Ia sungguh tak bisa menebak apa yang hendak dibicarakan pria itu padanya. Ia hanya berharap pertemuan ini bisa membuatnya mengetahui rencana Kazuya Toda yang sebenarnya.


Setelah menutup telepon, Shohei kembali berembuk dengan timnya.


"Apa kau akan menemui orang culas itu?" tanya Rai.


"Iya." Shohei mengiyakan.


"Kalau begitu, biar aku temani," balas Rai lagi.


"Tidak perlu. Ryo-chan, periksa lokasi mana saja yang ramai pengunjung di Shibuya sore ini!" perintah Shohei.


"Baik." Jari-jari lihai Ryo mulai bergerak lincah di papan tombol. "Sore ini ada empat acara sekaligus. Di plaza, di restoran, di taman hiburan dan lapangan terbuka. Empat lokasi ini saling berdekatan membentuk persegi," ucap Ryo mulai membaca peta lokasi yang disinyalir akan menjadi lokasi tempat pengeboman.


"Ternyata benar. Ini adalah rencana Kazuya Toda," ucap Shohei yang langsung mengingat lokasi pertemuannya dengan pria itu berada di restoran tersebut.


"Kalau begitu kita menyebar saja! Aku dan Ryo akan menyisir di area lapangan dan taman hiburan," ucap Rai.


"Aku akan ke plaza." Yuriko mengajukan diri.


"Itu terlalu luas untukmu. Biarkan Kei membantumu." Shohei mengintruksikan. "Aku sendiri akan menemui Kazuya Toda di restoran yang ada di seberang plaza. Pakai seragam dan pasang GPS di badan kalian. Jika terjadi sesuatu, kita harus saling berkomunikasi. Dan yang terpenting ...." Shohei menjeda kalimatnya hanya untuk menarik napas sesaat, "Kalian harus selamat!"


.


.


.


jangan lupa like Komeng ya