
Ya, pria yang berdiri gagah di atap gedung itu adalah Otaka Ai, seorang detektif kepolisian divisi penyidik satu di bawah naungan Shohei. Dia juga merupakan anak dari Jenderal Otaka yang kini menjabat sebagai Kepala Kepolisian Nasional. Namun, sosoknya saat ini bukan sebagai seorang detektif maupun anak jenderal, melainkan bagian dari tim Black Shadow yang bertugas menjadi mata-mata di kubu Kazuya Toda.
Otaka Ai bergabung di kubu Black Shadow dan Mr. White, dimulai saat Shohei mengirimkan artikel gelap yang ditulis Kei tentang keterlibatan ayahnya pada kasus jual beli senjata ilegal. Shohei sengaja melakukan itu untuk menguji Ai, apakah dia akan berpegang pada keadilan dan kebenaran ataukah ikut menyembunyikan kejahatan ayahnya.
Saat itu, detektif Shu membocorkan pembicaraan antara Shohei dengan salah satu polwan yang tergabung dalam tim forensik.
"Intinya ... pelaku penusukan Yamazaki-san dan pelaku penyekapan sekaligus pembunuhan mendiang menteri kehakiman kemungkinan besar orang yang sama! Tapi ... yang membuatku heran, kenapa Yamazaki-san merahasiakan ini pada kita semua? Kenapa dia memilih menyelidikinya sendiri?" selidik detektif Shu kala itu.
"Itu artinya, ketua tidak memercayai kita. Atau ... mungkin saja dia mencurigai salah satu di antara kita." Ai Otaka tiba-tiba mengangkat suara setelah memilih diam cukup lama.
"Bagaimana bisa kami melakukan itu pada ketua?" Polisi lain tampak tersinggung dengan ucapan Ai yang tak berdasar.
"Seperti yang pernah Shu-senpai katakan, tugas seorang detektif adalah mencurigai orang. Kurasa tidak masalah jika ketua mencurigai salah satu di antara kita. Bukankah begitu, Shu-senpai?" Pada saat itu, ucapan yang keluar dari mulut Ai memang sengaja untuk menyindir seseorang.
Sayangnya, setelah berkata hal demikian, ia malah mendapatkan sebuah tamparan begitu menerima surel misterius terkait ayahnya. Ai bukanlah orang bodoh yang mudah termakan berita hoaks, tetapi entah kenapa ia memercayai isi artikel tersebut dan bukti yang dipaparkan. Hal itu membuatnya tidak tahan untuk segera pulang dan menelepon ayahnya.
"Moshi-moshi, apa Ottousan ada di rumah sekarang? Atau masih di kantor? Aku ingin berbicara padamu!"
"Aku masih di kantor. Datanglah ke rumah besok!"
"Tidak. Aku akan ke kantormu sekarang!"
Ai langsung meluncur ke departemen kepolisian nasional dan menjumpai ayahnya. Di sana, ia menanyakan langsung tentang keterlibatan ayahnya dalam tindakan ilegal seperti yang dituduhkan dalam artikel. Sayangnya, ayahnya malah menampik semua tuduhan itu dengan alasan yang tidak memuaskan.
"Apa tujuanmu memaksaku masuk di kepolisian? Apa hanya karena kau ingin ada yang meneruskan profesimu? Apa kau tahu, saat sedang mengikuti pendidikan kepolisian, aku sering menerima rundungan karena aku masuk dengan cara menggantikan seseorang yang seharusnya lolos? Di tempat kerjaku yang sekarang juga masih yang tidak menyukaiku karena mereka menganggap aku tidak layak berada di antara mereka!" serang Ai pada ayahnya dengan amarah yang berkobar.
"Lalu, di mana letak salahnya? Bukankah semua yang kulakukan demi kebaikanmu? Mereka yang menghujatmu dan tak menyukaimu itu hanya karena tidak bisa berada di posisimu. Lagi pula, bukankah kau sendiri yang meminta dipindahkan ke kepolisian Metropolitan?" Tuan Otaka menyanggah tuduhan anaknya dengan cukup tenang.
Ai terdiam sejenak sambil memandang penuh ke ayahnya. "Ingatlah, Ottousan adalah seorang penegak hukum! Tujuan masuk di kepolisian seharusnya untuk memberantas kriminal, bukan melakukan tindakan kriminal dan tindakan pelanggaran hukum!" pekik Ai dengan suara yang lantang.
"Sebaiknya kau fokus pada tugasmu sebagai anggota penyidik!" ujar ayahnya sambil kembali sibuk dengan sejumlah berkas di atas meja kerja.
"Karena aku seorang penyidik, maka kurasa ini adalah bagian tugasku. Jika Ottousan menyembunyikan sesuatu dariku, maka aku akan menggunakan keahlianku sebagai seorang penyidik."
Jenderal Otaka tersentak mendengar pernyataan putranya. "Jadi kau ingin menyelidiki ayahmu sendiri?"
Pada saat itu, Ai tak lagi merespon pertanyaan ayahnya. Ia langsung berbalik dan keluar dari ruang kerja ayahnya dengan membawa rasa kecewa dan kekhawatiran. Berjalan lurus menuju koridor yang sepi, ia malah melihat Shohei berdiri tak jauh dari hadapannya.
"Ketua, Anda di sini?" Ai cukup heran melihat kehadiran Shohei di sana.
"Aku ke sini untuk menemuimu," jawab Shohei dengan datar.
Keduanya pun berbicara empat mata di gang yang sempit dan sepi. Shohei membuka obrolan dengan mengungkap secara jujur jika dialah yang mengirim surel padanya. Mendengar hal itu, Ai sempat terkesiap. Bukankah berarti isi dari surel tersebut kemungkinan valid?
"Jika memang ayahku melakukannya, kenapa Anda tidak melaporkannya?" tanya Ai.
"Tidak semudah itu. Ayahmu hanya terlibat, tapi bukan pelaku utama. Maka dari itu aku ingin kau bekerja sama denganku!"
"Kerja sama dalam hal apa?"
"Menegakkan kebenaran dan keadilan," jawab Shohei dengan pandangan dalam.
Ai memicingkan mata. "Apa Ketua mencoba memperalatku? Kau ingin menggunakan diriku untuk melawan ayahku sendiri, kan?"
"Katakanlah seperti itu, jika kau menganggapku begitu!" balas Shohei tanpa menutup-nutupi tujuannya mengajak Ai masuk bergabung dalam timnya.
Ai tertawa tanpa suara seraya membuang wajah. "Apa Anda tahu, seorang anak tetap akan melindungi ayahnya. Sekalipun ayahku adalah orang terbejadd sedunia!"
"Yang kutawarkan padamu juga merupakan cara melindungi ayahmu. Apakah kau ingin ayahmu terus berada di jalan yang salah? Aku yakin, kau salah satu orang yang memiliki rasa keadilan tinggi. Tidak peduli apakah dia orang terdekatmu, selama mengetahui dia melakukan tindakan yang salah, kau akan berusaha menghentikannya."
Ai Otaka termenung seketika, Shohei seakan bisa mengetahui apa yang dirasakannya selama ini. "Baiklah! Tapi sebelumnya aku ingin bertanya padamu. Apakah Ketua ... adalah Mr. White?"
Shohei terdiam. Tidak membenarkan dan juga mengelak.
"Sejak insiden penusukan itu, aku selalu memantau Ketua secara diam-diam."
"Kenapa kau memantauku?"
"Karena aku takut insiden itu terulang lagi. Yang melakukan itu adalah orang terdekat Anda. Aku melihatnya langsung karena tempat kejadian waktu itu adalah daerah patroliku. Sayangnya, aku tidak bisa mengungkapnya, karena dia juga merupakan orang terdekatku. Aku lalu meminta pada ayahku untuk dipindahkan ke Metropolitan. Itu adalah caraku untuk menjaga Anda dan mencegahnya kembali berbuat kriminal. Tapi sayangnya, sepertinya aku gagal."
Tampaknya, Shohei telah mengetahui sosok yang dimaksud Ai. "Untuk hal itu, aku juga berada dalam dilema yang sama denganmu. Aku mencurigainya, tapi mencoba tetap berpikiran positif. Tapi, sepertinya semua itu terbantahkan saat beberapa jam lalu salah satu tim forensik mengonfirmasikan beberapa bukti. Semua petunjuk mengarah padanya. Baik dia maupun ayahmu, dan juga mendiang calon mertuaku bekerja sama dengan target kesepuluh."
"Target kesepuluh?" Ai memiringkan kepalanya dengan wajah penuh tanda tanya.
Ai lalu sepakat bergabung dengan tim Shohei. Ia mendatangi markas dan berkenalan dengan anggota lainnya. Melihat Kei, tentu dia langsung mengenalinya sebagai jurnalis muda terkemuka.
"Ah, kau jurnalis berani itu, kan? Apakah kau yang menjadi Black Shadow selama ini?" tanya Ai yang penasaran akan sosok Black Shadow asli.
"Bukan aku," jawab Kei datar.
"Apa kau?" tanya Ai pada Yuriko, tetapi sesaat kemudian dia berkata, "mana mungkin Black Shadow seorang perempuan!" Matanya lalu beralih ke Ryo yang duduk bersandar dengan gaya yang lesu. "Ah, jangan-jangan kau yang jadi Black Shadow!" Ai memerhatikan Ryo dari ujung kaki hingga ujung kepala, lalu berkata sambil mengelus dagu. "Mana mungkin penampilan Black Shadow kering dan lemah seperti ini!" ucapnya sambil mengangkat sudut bibir atasnya.
Ryo lantas berdiri dengan kesal. "Asal kau tahu, begini-begini aku juga pernah jadi polisi! Walaupun hanya bohongan!"
Kehadiran Ai di tim Shohei, ditanggapi dingin oleh Kei, Yuriko, dan juga Ryo. Selain karena sikap Ai yang cukup menyebalkan, mereka mengira Shohei akan menjadikannya sebagai pengganti Rai. Namun, Shohei menekankan pada mereka bahwa kehadiran Ai bukan untuk menggantikan siapapun, melainkan menambah kekuatan di kubu mereka.
Shohei lalu menjelaskan pada Ai tentang rencana mereka yang hendak masuk ke ruang safe room.
"Hanya ada tiga orang yang memiliki akses masuk ke safe room, yaitu: Kazuya Toda, Eita Kaze dan ayahmu. Untuk masuk ke tempat itu, kita mungkin membutuhkan id card di antara ketiga orang itu."
"Aku mengerti," ucap Ai.
Ai lalu meminta ayahnya bertemu di sebuah bar kecil. Tuan Otaka yang datang lebih dulu ke sana, langsung mendapat sambutan cocktail gratis hasil racikan Ryo yang menyamar sebagai pramutama bar. Ia sengaja membuat tuan Otaka mabuk dengan memasukkan kadar alkohol tinggi ke dalam minuman buah segar itu.
Kemudian, Yuriko datang menabraknya dengan berpura-pura sebagai gadis yang mabuk berat. Ia memanfaatkan kesempatan itu untuk mengambil dompet jenderal Otaka. Begitu keluar dari bar, ia langsung mengambil id-card untuk di-scan dan dikirimkan ke Ryo. Tak berselang lama kemudian, Ai datang menghampirinya dan Yuriko langsung mengembalikan dompet tuan Otaka padanya.
"Arigatou!" ucap Yuriko.
"Kalian lumayan merepotkan!" ketus Ai yang langsung masuk ke dalam bar untuk membawa pulang ayahnya yang mabuk.
Saat ancaman terorr bom menguasai Kepolisian, Ai dan Seto ditugaskan ke menara Tokyo untuk mengamankan serangan teroriss. Namun, bukannya mengikuti rombongan kepolisian. Pria itu malah berbelok arah dan sengaja menjebak mobil itu di tengah kemacetan. Tujuannya adalah agar bisa bergabung bersama tim Black Shadow yang tengah berada di pelabuhan. Ia menyusup masuk ke dalam tim yang dibentuk Kazuya Toda, lalu memerintahkan mereka untuk mundur saat berkonfrontasi dengan Kei dan juga Yuriko.
Bahkan hari ini, ketika Shohei dan tim lainnya berpencar untuk mencari tahu keberadaan bom, ia malah memilih menyamar sebagai anggota tim Kazuya Toda.
"Tolong dengarkan baik-baik! Bom itu berada di lantai paling atas plaza dan terpasang di tubuh kekasihku. Kumohon jangan bergerak, karena aku sedang memikirkan rencana untuk menyelamatkan semuanya."
Mendengar sinyal darurat dan pesan terselubung dari Shohei, Ai langsung bergegas menuju ke lantai paling atas plaza. Ia masuk ke dalam markas penyekapan dan kembali bergabung dengan tim yang dibentuk Kazuya Toda. Kemudian mencari celah untuk mencuri remote kontrol bom di sisa-sisa menit terakhir.
***
Saat ini, Kazuya Toda yang tengah berdiri di sisi dinding kaca restoran, menatap jam tangannya yang telah menunjukkan pukul empat sore waktu Tokyo. Dia mengambil ponselnya, lalu menelepon seseorang.
"Kenapa bomnya tidak meledak?" tanya pria antagonis itu sambil menatap jauh ke seberang gedung.
"Maafkan kami, Tuan. Sepertinya ada yang menyusup ke dalam tim kami untuk mengambil remote-nya."
Wajah Kazuya Toda menggelap seketika. "Cari orang itu dan segera selesaikan!"
Masih berdiri di atap gedung, Ai Otaka melaporkan situasi darurat pada seluruh tim. "Cepatlah keluar dari gedung ini dan selamatkan diri kalian. Mereka mengambil rekaman video Ryo-san yang memakai topeng dan meminta orang-orang pergi. Kei-san dan juga Yuriko-san telah tertangkap CCTV gedung. Aku khawatir kalian akan semakin tersudut. Untuk itu, cepatlah pergi dan bersembunyi ke tempat yang aman! Aku sudah menyiapkan mobil di area sebelah barat gedung ini. Gunakan mobil itu dan larilah sejauh mungkin," ucap Ai Otaka sedikit tak tenang.
"Semuanya, ikuti perintah Ai sekarang juga! Saat ini yang paling utama adalah keselamatan kalian. Kazuya Toda pasti tidak akan diam saja! Jangan sampai kalian tertangkap oleh anggotanya!" Shohei memberi ultimatum pada timnya untuk segera bergerak.
Rai, Kei, Ryo dan Yuriko pun segera berlari menuju area tempat mobil yang telah disediakan Ai.
"Ai-kun, kau di mana? Aku ingin bicara denganmu!" tanya Shohei kemudian.
"Aku ada di rooftop gedung ini, Ketua!"
"Baik aku akan segera ke sana." Shohei memasuki lift lalu menuju lantai tertinggi gedung itu. Seina masih setia berada di samping sambil menggenggam tangannya.
Di waktu yang sama, Ai mendengar suara langkah kaki yang menuju ke arahnya. Ia pun memutar tubuhnya secara perlahan. Naas, sebuah peluru langsung melesat cepat ke arahnya dan menembus ke salah satu bagian tubuhnya. Pada hitungan detik berikutnya, ia roboh dan terkapar di lantai dengan tubuh bersimbah darah.
Ai menatap gamang pada sosok pria yang baru saja menembaknya. "Ke–kenapa ... kau ... lakukan ini pa–padaku, Seto-kun?"
Ai otaka
.
.
.
jangan lupa like dan komeng. yang mau ngasih vote poin, alihkan ke DoSa aja ya. arigatou gozaimasu