
"Si Mba Nada kayaknya lagi ada masalah deh kak. Aku mergokin dia nangis di toilet kantor gitu. "
Terra dan Dhito sedang duduk bersama menonton Brooklyn 99 bersama di Sabtu pagi itu. Dhito sedang benar-benar istirahat dan tidak mau diganggu oleh pekerjaan kali ini. Akhir-akhir ini entah mengapa dia jadi susah tidur dan baru bisa lelap di atas pukul tiga. Sama sekali tidak membantu dirinya yang harus sudah bekerja pagi.
Terra sendiri masih menikmati Sabtu paginya bersama Dhito. Dia baru akan ada janji dengan teman-temannya sore nanti.
Terra dan Dhito hidup di Jakarta berdua sementara kedua orangtua mereka menetap di Malang. Seperti yang Terra ceritakan, Dhito sudah merantau ke Jakarta sejak SMA, sedangkan Terra baru menginjakkan kaki di Jakarta ketika kuliah. Mereka berdua lahir dari keluarga sederhana sehingga memang benar-benar sebuah perjuangan bagi Dhito hingga akhirnya dia bisa memiliki sebuah apartemen yang ia dan Terra huni bersama. Setiap melihat Dhito, ada rasa bangga, kagum, serta sedih mengusik hati Terra. Dhito selalu tampak ceria dan ceplas-ceplos di kesehariannya. Namun, Terra yakin ada sisi-sisi tak terselami dari kakaknya tersebut. Seperti kesedihannya. Juga siapa wanita yang sedang ia dekati.
"Kenapa? Kok jadi ngeliatin gitu?" Tanya Dhito saat Terra menatapnya begitu lama.
Terra menggeleng. "Nggak ada. Tiba-tiba pengen liat kakak aja. Trus, kepikiran, apa kakak pernah juga gitu sedih sendiri di kantor kayak Mba Nada."
Dhito menoyor pelan kepala adiknya. "Bisa diketawain Natya seumur hiduplah kalau gue nangis galau di kantor. Lagian yakin kalau si Nada itu nangis?"
Terra mengangguk yakin. "Seratus persen. Karna matanya itu sembab banget. Trus ya masih kayak nangis sesenggukan tipis-tipis gitu."
"Sok tau ah." Dhito mencoba mengabaikan dan mengganti pilihan series yang mereka tonton.
"Seriusan kak. Dan itu aku sampe tiga kali pas-pasan di toiletnya."
"Lo beseran atau gimana sih, dek."
Terra mencubit pinggang kakaknya tersebut.
Dhito meringis kesakitan dan mengusap pinggangnya. Terra ini kalau kesal suka main cubit-cubit aja. Nggak cuma kaget, sakitnya itu yang kadang bikin Dhito jadi kesal. Dhito melirik adiknya tersebut yang sedang menyipit ke arahnya. Dia juga bingung mau mengomentari apa soal Nada. Dia juga nggak tahu kalaupun Nada sedih karena Natya, itu karena apa.
Atau mungkin ada masalah lagi sama mantannya?
Yang jelas Dhito rasa itu bukan urusannya.
"Bukan nangis sedih kali. Dia mau nge-date tuh sama si Natya malam ini." Dhito akhirnya buka kartu.
Mata Terra langsung mengerjap-ngerjap kaget campur senang. "Ha? Seriusan? Mba Nada sama Kak Natya?" Terra mengaitkan kelingkingnya untuk memberi tanda jadian. Dhito mendengus geli.
"Apaan sih kode begituan. Lagian ngga tau gimana kelanjutannya. Yang jelas si Natya hari ini ngajak Nada jalan."
"Trus, kakak nggak apa-apa?"
Dhito menaikkan alisnya. "Maksudnya?"
"Ya kenapa-kenapa nggak. Kan biasanya kadang malmingnya sama Kak Natya," Ngeles Terra. Dhito paham bukan itu maksud adiknya tersebut.
"Nggak usah kepoo. Lagian ntar malem juga gue ada janji kok."
"Sama siapa?" curiga Terra.
"Mau tau aja wooyyyy." Terra langsung mengapit Terra dengan lengannya dan mengacak-acak rambut adiknya tersebut. "Udah, nggak usah banyak tanya lagi dan nonton baik-baik aja. Yang jelas ntar malam lo sama gue sama-sama ada janji," tekan Dhito yang disambut dengan Terra yang manyun.
...•••...
Nada keluar dari Gocar yang ia naiki dan melihat lampu-lampu telah menerangi El Dorado, tempat dia dan Natya akan bertemu. Natya sebenarnya sudah menawari Nada untuk pergi bersama, namun gadis itu menolak. Entah mengapa dia sedang tidak ingin terlalu berintetaksi dengan orang lain. Frinta malah sebaliknya, dia sudah guling-guling ketika mendengar bahwa Nada akan makan di sana.
"Wah itu fine dining keren tuh, Nad. Waitlist-nya lumayan banyak. Oke juga si Natya ngajaknya ke sana."
"Nada!" Nada menoleh dan melihat Natya berlari menghampiri nya. Sepertinya deri tadi pria tersebut sudah menunggu di parkiran untuk itu. Natya terlihat semakin tampan hari ini dengan balutan kemeja warna hitam dengan dress pants senada. Nada yakin Natya memakai high fashion brand yang Nada bahkan tidak hapal jenis-jenis koleksinya. Nada sendiri memilih menggunakan sheath dress Tory Burch yang masih bisa ia jangkau.
Setelah dia pikir-pikir, pergi dengan Natya bahkan membuat dia lebih banyak berpikir dibanding dia dulu dengan Adrian.
Shit, kenapa jadi bawa-bawa Adrian lagi sih, Nad!
Nada merutuk dirinya dan menepis pikiran lain yang lebih jauh. Dia tersenyum kecil ke Natya. Setidaknya dia senang bahwa Natya menunggunya untuk masuk bersama. Nada sempat merasa sedikit trauma untuk masuk ke fine dining sendirian. Takut tiba-tiba bahwa Natya tidak ada, seperti yang terjadi di hari Valentine-nya dengan Adrian.
Begitu masuk Nada cukup bingung melihat suasananya yang tidak terlalu ramai. Padahal kata Frinta restaurant ini waitlist-nya lagi nggak kira-kira.
Natya mempersilakan Nada untuk duduk. Waitress yang datang tersenyum lebar ke mereka. Natya tidak menyebutkan apapaun, hanya mengangguk sebentar dan waitress tersebut sudah pergi kembali.
"Kita nggak lihat menunya dulu?"
Natya meringis. "Sorry ya, Nad. Aku udah booked pokoknya semua makanan rekomendasi mereka, itu yang dihidangin ke kita."
"Oh... Okay." Nada tidak tahu harus berterimakasih atau bagaimana. Karena, Natya kan juga tidak tahu preferensi makanan yang Nada ia sukai. Namun, dia anggap itu niat baik Natya saja. Semoga juga yang datang tidak ada yang Nada tidak sukai. "Untung aku nggak ada alergi ya, Nat."
"Wah, iya juga ya." Natya jadi kepikiran. Dia terlalu gegabah untuk mempersiapkan malam ini.
Sebenarnya intensi lo nggak jelas sih. Mau minta maaf, buat apaan juga? Harusnya lebih kepada mau ngenal lebih jauh kan? Tapi lo malah punya guilty feeling terus ya ke dia?
Kalimat nasihat dari Dhito itu terngiang-ngiang di benak Natya. Dia sebenarnya senang bisa jalan dengan Nada hari ini, tapi entah kenapa ada segelitik rasa bersalah di dirinya. Untuk Nada, dan juga untuk...
"Wah, halo."
Nada terkejut ketika melihat seorang chef berjalan menghampiri mereka. Dia buru-buru tersenyum dan mengangguk kecil.
"Nggak nyangka nih, si Natya, bakal bawa seseorang ke sini. Request khusus lagi." Chef tersebut tertawa kecil dan menepuk pelan bahu Natya.
Natya terlihat canggung dengan perkataan tersebut sementara Nada berusaha untuk terlihat biasa saja.
"Kenalin, Nad. Kakak gue, Kala."
Nada terbelalak kaget. Kakaknya? Duh, jangan bilang bahwa tempat ini punyanya Natya.
"Nada." Nada memperkenalkan dirinya singkat.
Kala bersedekap dan memandang Nada dan Natya gantian.
"Akhirnya Natya nggak cemberut-cemberut nggak jelas lagi."
Mata Nadya membulat. "Emang dulu suka cemberut?" Dia melihat Kala meminta penjelasan lebih jauh.
"Iya. Karna patah hati, yang berkepanjangan. "
Natya terbatuk pelan. "Ga usah ngarang lo mas... " Kalimat nya terdengar mengambang. Kala hanya tertawa puas melihat ekspresi adiknya tersebut. "Oke deh, enjoy the night yaa." Kala mengulas senyum ramahnya ke Nada lalu berlalu pergi.
Natya mengembuskan napas lega saat kakaknya pergi. Dia tidak nyangka juga tiba-tiba Kala jadi ember kayak gitu. Natya melihat ke Nada yang sekarang malah jadi termenung sendiri.
"Nggak usah didengerin si Kala, Nad."
Nada balik menatap Natya. "Padahal lagi berusaha nebak nih."
Natya terbelalak. "Nebak apa?"
"Nebak yang bikin lo patah hati. Hehe..."
Natya menjitak pelan Nada. "Nggak usah ikutan sok tau kayak Kala."
"Padahal gue punya tebakan."
Natya mau tidak mau tertawa. Dia sama Nada yang baru saja bertemu beberapa kali dan tidak punya lingkaran yang saling mengenal, bagaimana coba gadis ini nanti bisa tau.
"Udah ah, lupain aja omongan Kala yang nggak jelas. So... " Natya menatap Nada dalam, "How are you, Ms. Nada?"
Nada jadi tersenyum geli mendengar cara Natya memanggil dirinya. "Never better, Mas," Jawabnya dengan nada dibuat-buat.
"Akhirnya apa?"
"Akhirnya bisa makan juga sama Nada setelah Asiatique."
Nada merasa pengalaman itu terasa sangat lampau. Bahkan dia merasa itu seperti kejadian tahun lalu.
"Iya, tapi nggak apa-apa. Gue juga jadi ketemu temen baru. Dhito orangnya asyik kok."
Natya mengangguk setuju. "Sori banget ya, Nad. Waktu itu emang mendadak banget dapat kabarnya. Dan... Ya keluarga gue sama keluarga temen gue itu udah deket dari dulu."
"It's okay, Nat," ujar Nada maklum.
"Eh, bener juga ya?"
"Hm?"
"Nad and Nat sounds the same. It's like we are calling ourselves nggak sih?"
Nada tergelak. "Apaan sih, Nat. Geli ah. Kayak kata-katanya Frinta tuh."
"Nah iya bener. Pantesan ngerasa ada yang pernah ngomong kayak gitu," sahut Natya bersemangat. "Itu juga hal yang mau gue tanya sih."
"Apaan?"
"Lo keliatan bingung banget pas ketemu waktu itu. Lagi banyak masalah kerjaan?"
Nada diam. Apa dia harus menceritakan soal Adrian ke Natya? Apa mereka sudah di tahap kedekatan yang bisa bercerita tentang masa lalu? Natya sendiri cenderung menghindar jika ada yang menyerempet membahas soal masa lalunya. Nada rasa mungkin dia harus memastikan beberapa hal lagi sebelum akhirnya dia dan Natya bisa saling bercerita lebih dalam lagi.
"Iya... Lagi banyak project gitu. Trus pas yang ketemu lo, kayaknya gue lagi di puncak-puncak stress gitu. Sori kalau pas itu gue agak nggak nyambung ya."
"Oh... Nope. It's alright."
"So... Ini restauran keluarga lo kah?" Nada mengalihkan pembicaraan secepatnya.
"Wah... Nggak kok. Hmm... Ini tapi emang bisnisnya Kala sih. Cuma ya nggak ada sangkut pautnya sama gue. Bokap sih emang bantu dikit."
Dikit yang banyak pasti. Nada bergumam dalam hati.
"Tapi hebat sih Kala berhasil bangun ini. Sebenarnya ya, bokap tuh pengen salah satu dari kami itu ikutin jejaknya jadi lawyer kalau nggak ya dokter kayak nyokap. Tapi si Kala lebih tertarik ke hal ini. Sedangkan gue malah ambil bisnis juga. Gue sih mendingan ya. Tapi, Kala susah banget dulu buat dapat izin bokap waktu awal-awal mau ke Italia buat memperdalam ilmu kulinernya. Drama banget itu. Sempet didiemin tiga sampe empat tahun."
Nada mendengar cerita Natya dengan seksama. Jelas banget kalau pria di hadapannya ini bukan berasal dari keluarga yang biasa-biasa saja.
"Gue lebih beruntung. Pas giliran gue, bokap udah nggak mau ngotot lagi. Sukses deh gue ambil kuliah yang gue mau."
"Dulu kamu kuliah di mana, Nat?" Nada mempersiapkan dirinya dengan jawaban Nada.
"Waktu itu pengen banget ke NYU tapi nggak keterima. Trus ya disuruh bokap yang dekat-dekat aja. Jadinya ke NUS trus lanjut Melbourne."
"Oh..."
"Kalau lo?"
"Swasta biasa aja. Paling ntar lo nggak tau."
"Yee... Tau kali, Nad. Gue gedenya juga masih di Indonesia."
Nada tertawa saja sambil mengibas-ngibaskan tangannya pertanda dia tidak mau membahas lebih jauh soal itu. Mendadak Nada merasa dunianya dan Natya memang benar-benar berbeda. Sangat kebetulan sekali mereka berdua bisa akhirnya duduk bersama di tempat seperti ini.
"Lo asli Jakarta atau bukan, Nad?"
"Gue dari kecil sampe kuliah di Yogya, Nat."
"Really? Wow, that's cool." Ucapan Natya terdengar tulus.
"Gue baru di Jakarta berarti... Mau lima tahun. Kelar lulus langsung ke sini."
"Hmm... Berarti lo lulus lima tahun lalu ya. Berarti kita beda...," Natya terlihat menghitung di benaknya, "... Lima tahun juga!"
"Well noted, Kak."
Makanan mereka pun datang tak lama kemudian. Nada sangat bersyukur bahwa makanan yang dihidangkan semua sangat sesuai dengan dirinya. Tuna bruschetta-nya benar-benar enak membuat Nada mau menangis bahagia. Osso Buco-nya juga luar biasa. Benar-benar padanan yang enak untuk Barolo wine. Vibe dan makanan malam itu membuat Nada rileks dan sangat menikmati percakapan kecil mereka saat makan. Nada juga jadi tahu beberapa hal lain tentang Natya.
Natya yang penuh ambisi tidak terlihat mengintimidasi dengan perkataannya. Dia bahkan mau menanggapi mimpi-mimpi sederhana Nada. Nada benar-benar salut dengan sikap Natya.
Nada tengah menyantap Pana cotta-nya ketika sosok yang tak asing lagi baginya datang menghampiri mereka. Wajahnya serta-merta menjadi pucat. Arinta berjalan mendekat ke mereka dan mengapa Natya dengan ramah.
"Eh, hai, Rin!" Natya berdiri dan memberi pelukan kecil ke Arinta. Arinta membalas pelukan tersebut. Matanya langsung menuju ke arah Nada yang menunduk. Nada bingung harus bereaksi seperti apa. Dia pun memberanikan dirinya untuk mendongak dan tersenyum ke Arinta.
"Aah... I think we've met before?" Arinta terlihat berpikir keras. Dia tadi cukup kaget melihat Natya makan berdua bersama seorang wanita. Sebuah pemandangan yang janggal. Karena hanya orang tertentu yang biasanya Natya bawa ke restauran kakaknya ini. Berarti Natya dan wanita yang ada di depannya ini setidaknya dekat dengan arti yang lebih spesial.
Nada sendiri sedang bingung bagaimana menjawab pertanyaan Arinta. Apakah dia harus jujur? Atau lebih baik pura-pura tidak tahu saja?
Arinta saat ini begitu cantik dengan tube dress hitam serta outerwear putih nya. Riasan wajahnya juga menambah kecantikannya. Nada mendadak merasa seperti itik buruk rupa di hadapan Arinta.
"Yes... I think.. once? I'm Adrian's friend." Nada mengucapkan itu dengan pahit. Dia juga jadi keringat dingin membayangkan kalau Adrian lagi di sini.
"Oh iya!" Arinta jadi semangat. Dia menatap Nada seksama yang membuat Nada terasa tidak nyaman.
"Adrian pacar lo itu?"
"Sst!" Arinta memberi isyarat ke Natya untuk mengecilkan suaranya.
"Nggak ada yang denger kali, Rin."
Nada diam melihat itu. Jadi, sekarang Adrian benar-benar sudah jadi pacar resminya Arinta?
"Trus ini lo sama dia?" Natya berusaha mencari sosok Adrian.
"Nggak. Gue sama temen. Nah elo ini, lagi sama... "
"Nada." Nada memperkenalkan dirinya dengan suara bergetar yang ditahan. Natya mendadak menyadari perubahan raut wajah Nada. Dia terlihat gugup dan... mau menangis?
"Nada... " ulang Arinta perlahan. "Pacar barunya Natya?" Tembak Arinta langsung.
"Oh, nggak. Temannya Natya," klarifikasi Nada langsung.
Arinta tersenyum penuh arti. "Kirain. Soalnya yang Natya bawa ke sini biasanya udah penuh seleksi ketat."
Natya memberi peringatan lewat matanya ke Arinta. Arinta tertawa kecil lalu menatap Natya dan Nada bergantian. "So... It's a pleasure to meet you both. Especially, you. Nice to meet you, Nada." Arinta tersenyum lebar. Namun, bibir Nada terlalu kaku untuk membalas senyum itu. Arinta terlihat heran sejenak namun akhirnya dia memutuskan untuk tidak terlalu memusingkan hal tersebut.
Begitu gadis itu pergi dari hadapan mereka, Natya langsung cemas melihat aura Nada yang langsung berubah. "Nad?" Dia berusaha memastikan Nada tidak apa-apa.
"Dia... dia temen kamu, Nat?"
"My friend's friend. Why..?"
Nada menghela napas berat. Malam ini benar-benar seperti tahap akselerasi baginya untuk bersikap terbuka kepada Natya. "Do you know why I was always sad whenever I met you?"