
Natya sudah menguap beberapa kali ketika Dhito menjelaskan beberapa prospek investasi mereka di Bangkok. Sebagai Business Lead, Natya harus memikirkan untuk ekspansi project-nya di Bangkok. Namun, sudah hari ketiga di sini dan dia mulai merasa sedikit bosan - atau lebih tepatnya lelah. Dua bulan ini dia sudah bolak-balik berkeliling banyak kota dan negara. Dia menyukai pekerjaannya, hanya pada titik tertentu rasa lelah itu terkadang muncul.
"Gue yakin lo cuma dengerin 10% omongan gue kan?" Hardik Dhito kesal.
"Salah, 5%." Jawaban Natya ini menghasilkan lemparan kertas dari Dhito. Mereka berdua sudah tiga hari ini hanya mendekam di dalam kamar hotel yang paling jauh juga cuma ke kantor. Hiburan terdekat mereka adalah konser Coldplay nanti malam. Natya sendiri cukup sering datang ke konser-konser musik mancanegara karena dulu salah satu orang terdekatnya sangat menyukai pertunjukan musik. Tapi, kali ini dia harus menikmatinya bersama Dhito yang sebenarnya setengah hati.
"Gue sebenarnya sih mau milih tidur aja. Atau mendingan cabut aja deh ke Phuket pas Jum'at."
Untung saja Natya berhasil meyakinkan temannya itu untuk ke konser bersama dengan iming-iming dibelikan console game terbaru incaran Dhito. Yang tentu saja akan dibelikan Natya nanti. Nanti kalau ingat.
Kedua pria ini pun pergi ke stadium yang lumayan jauh dari tempat menginap mereka di Siam. Gate akan dibuka dari pukul 5, namun mereka berdua memilih untuk masuk di jam 6 atau bahkan mepet ketika acara dimulai saja.
"Eh, kok nomor kursi kita jauhan sih?" Celetuk Dhito ketika melihat tiket yang ia pegang.
"Jauh gimana?" Respon Dhito sekenanya.
"Lo di tribun L. Gue di N."
"Seriusan?" Natya mengambil tiket yang Dhito pegang. "Lo ngambil punya Brian ya ini?"
"Ya gue ambil aja lah pokoknya yang diletakin meja kita kemarin."
"Ini si Brian nih salah ngasih."
"Yaelah mana dia udah jual lagi kan tiket satu lagi." Dhito jadi kesal. "Garing banget lah gue nonton sendiri."
"Nggak usah sok kehilangan lo."
"Ya enggak nyet, tapi malas juga kalo gue nonton mojok sendiri. Apalagi samping gue ntar pasangan. Males gue jadi obat nyamuk kanan kiri gue." Dhito flashback ke masa dimana dia nekat nonton konser Bruno Mars sendirian karena teman-temannya tidak bisa diajak. Tapi, sialnya di kanan kirinya masing-masing adalah pasangan yang tentu saja selama konser, selain menikmati musik, juga menikmati kebersamaan mereka, membuat Dhito seperti obat nyamuk.
"Udahlah, dua jam ini doang. Udah jauh banget kita ke sini. " Setengah hati Dhito menuruti ajakan Natya. Dia tau sebenarnya temannya ini sendiri masih dalam proses pemilihan patah hati yang kronis. Biasanya ada yang menemani Natya kalau ke konser, tapi sosok itu pada akhirnya harus pergi. Entah untuk sementara atau selamanya juga Dhito tidak tahu. Karena masalah Natya itu berada di antara rumit dan sengaja dibuat rumit.
Natya dan Dhito pun berpisah menuju ke tribun masing-masing. Natya berada di posisi tengah, bangku kanannya masih banyak yang kosong sedangkan deretan bangku sebelah kirinya sudah terisi. Saat Natya memperhatikan bangku kirinya itulah dia melihat sosok yang dia kenal sedang berjalan menuju ke arah tribun tersebut.
Nada sedang berjalan menuju tribun L dan gadis itu langsung bergegas naik ke row-nya. Dia tidak sempat memperhatikan bahwa ada yang sedang menatapnya dari tadi. Begitu duduk pun dia hanya lihat kanan kiri dan kemudian memainkan ponselnya. Hanya saja beberapa menit kemudian, Natya melihat bahwa tiba-tiba wajah gadis itu terlihat pucat dan mendadak dia menunduk bahkan sepertinya dia sudah berlutut di lantai depan kursinya dan mencari-cari sesuatu. Hal itu dilakukannya cukup lama bahkan saat dia kembali duduk dengan normal, dia sengaja membuat rambutnya ke depan wajahnya seperti tirai hingga menutup wajahnya.
Natya jadi celingukan juga mencoba menerka siapa di dekat mereka ini yang membuat gadis itu terlihat tiba-tiba panik. Selama konser, terkadang Natya mencuri lihat ke belakang, meski dia tidak bisa melihat terlalu jelas. Namun, di sanalah dia melihat, di tengah keriuhan musik kala itu, dia bisa melihat Nada yang mengusap air matanya beberapa kali.
I know broken heart when I see it.
Begitu kadang-kadang Natya berusaha memahami kondisi orang lain. Saat musik sudah mencapai penghujung dengan penampilan Up & Up, Natya berusaha memastikan dia tetap bisa melihat keberadaan Nada karena dia punya firasat gadis ini akan langsung bergegas pergi begitu saja. Benar saja, begitu konser selesai, Nada merupakan orang yang dengan cepat menuruni tangga tribun menuju ke pintu keluar. Natya buru-buru menyusul Nada namun begitu melihat ia pergi ke toilet, Natya memutuskan untuk menunggu di sekitar area tersebut.
Saat Nada keluar dengan wajah pucat, Natya sedikit ragu untuk menghampiri nya. Dia juga tidak mau terlihat sebagai sosok aneh di hadapan Nada kalau tiba-tiba muncul begitu saja. Dia pun jadinya memilih untuk menganggap mungkin ini hanya kesempatan untuk melihat seseorang yang dikenal, tidak harus ditindaklanjuti lebih jauh. Namun, begitu dia melihat Nada terlihat tidak stabil dalam melangkah, buru-buru dia menahan lengan gadis tersebut agar tidak jatuh.
"Kamu ngapain?"
Natya pun sebenarnya tidak tahu jawabannya. Tapi, yang jelas saat ini yang mau ia lakukan adalah membantu Nada untuk mencari tempat yang lebih nyaman dan aman, tanpa alasan apapun.
...•••...
"Manis sih, tapi bukan tipe lo ini mah, " Komentar Dhito saat Natya menunjukkan akun Instagram milik Nada. Dhito mengembalikan ponsel Natya.
"Sok tau lo soal tipe gue. "
"Gue bukan sok. Tapi, beneran tau. Lo mau gue bahas sekarang?"
"Oke, nggak usah." Ujung-ujungnya Natya jadi panik sendiri.
"Mau jalan jam berapa lo ntar malam? "
"Belum dia hubungi sih.. Tapi kalau ke Asiatique, dari jam 5 kali ya."
"Lo bakal ngejemput dia? "
"Maunya. Hotel dia juga deket dari sini. Tapi kemarin malam aja prasyarat dia banyak banget pas gue tawarin anterin pulang. Nggak yakin juga gue dia mau gue jemput."
"Wah, oke juga nih cewek bisa nolak bentukan kayak lo."
"Kayak gue gimana maksud lo? "
"Lo nggak mancing supaya gue puji kan? "
"Sialan lo."
Dhito jadi terkekeh geli. Tapi, dia lalu menatap serius temannya ini. "Lo beneran tertarik sama ni cewek?"
Natya terdiam sejenak. Dia berusaha mencari padanan yang tepat untuk apa yang dia rasakan. "Intinya gue merasa ada yang beda aja dan mau tahu lebih aja."
"Naksir?"
"Lo kenapa jadi banyak nanya kayak nyokap gue deh?"
"Ya justru itu, bro. Satu, gue mau mastiin lo ke cewek ini emang niat beneran. Nggak harus gue bilang lo cinta mati atau gimana. Ya yang jelas lo emang tertarik aja. Kedua, lo harus mastiin lah ke depannya gimana. Nggak lucu juga ya ini selingan sesaat. Gue ngeliat ini cewek bukan tipe lo bukan fokus ke appearancr atau apa ya, manis kok. Gue nggak tau sifatnya gimana, cuma ya intinya kalau sekedar main-main, cewek ini juga terlalu baik. Lo mau main-main sama yang emang nyarinya cuma main-main doang lah. " Tiba-tiba Dhito jadi memberi nasihat panjang lebar.
Natya antara mau tertawa mendengar Dhito yang mendadak serius, namun dia juga paham beberapa poin yang dimaksud oleh Dhito.
"Her eyes... "
Alis Dhito terangkat mendengar ucapan Natya.
"It feels familiar. Her sad eyes. Gue merasa seperti melihat diri gue aja."
Dhito menggeleng pelan dan bergidik. "You are doomed, man."
...•••...
"Jadi, kalian ketemu lagi? Lo yakin dia bukan stalker?" Frinta menginterogasi Nada saat mereka menyantap Tom Yam di restoran rekomendasi Arga. Cowok itu juga dari tadi turut mendengar cerita panjang lebar Nada tentang Natya.
"Nggak sih. Kayaknya memang nggak sengaja aja ketemu berkali-kali. "
"Ya enggak disimpulin langsung ke sana juga sih." Nada jadi syok sendiri mendengar pernyataan Frinta.
"Ya abis ketemu terus." Frinta menyibak kan rambutnya. Biasanya kalau dia sudah melakukan itu, artinya dia memang sedang berpikir keras. "Lo berdua doang nanti jalannya? Perasaan lo gimana? Lo tertarik nih sama ini cowok?"
"Gue ya karena ada yang mau nemenin kenapa nggak. Apalagi ya overall dia kelihatan baik. "
"Kan kelihatan doang, bukan beneran baik."
"Kok kamu jadi judes, yang?" Arga jadi heran melihat keketusan Frinta.
"Ini namanya hati-hati, babe. Intinya aku sekarang bertugas jadi filter yang mau deketin Nada. Anti sama orang-orang nggak jelas kayak si Adrian itu."
Nada terdiam mendengar nama Adrian disebut. Dia belum menceritakan kepada Frinta bahwa dia juga bertemu dengan Adrian di sini. Tapi, dia nggak mau kalau temannya ini makin sewot.
"Kalau kamu segalak ini, nanti yang beneran niat takutnya ya ikutan kefilter. " Arga mencubit pelan pipi Frinta. "Lagian ini masih date pertama. Saran gue sih, Nad. Ya coba aja dulu. Cowok ini nggak terdengar freak yang gimana. Ya lebih kayak ke cowok normal yang tertarik aja sih sama lo."
Nada mendadak merasa pipinya memerah kalau mengingat bahwa Natya tertarik dengannya. Bagaimana pun, tidak dipungkiri Natya itu lebih tampan dari cowok kebanyakan. Kalau beneran dia memang pada akhirnya sedang melakukan pendekatan, Nada tidak mau bohong kalau dia deg-degan.
Frinta melihat gerak-gerik Nada. Sebenarnya dia tidak mau juga mengekang Nada. Tapi, kalau melihat kondisi Nada saat Adrian meninggalkannya mendadak, Frinta tidak mau kejadian yang sama terulang. Adrian juga di awal sangat baik dalam hal memperlakukan Nada, sampai Frinta juga luluh dibuatnya. Tapi, ternyata toh temannya ini diperlukan dengan seenaknya. Per detik ini, seingat Frinta belum ada penjelasan dari cowok itu. Frinta sebenarnya sudh ingin sekali melabraknya, cuma ditahan oleh Nada.
"Lo kita drop deh ya di Asiatique."
"Eh? Kan lo berdua bosan ke sana?"
"Iya kita drop doang. Trus nunggu deh dimana. "
"Ga usah, Taaa. Gue nggak mau ganggu date lo berdua."
"Santai. Ntar toh Selasa gue sama si Arga kurang beduaan apalagi coba."
Arga jadi cengegesan sendiri yang langsung disambut Frinta dengan menyikut lengan cowok tersebut.
"Jadi..."
"Ya, jadi... Lo info aja ke dia kalau kalian langsung ketemuan di Asiatique jam 5 sore. Ntar di sana lihat deh. Kalau ujungnya lo pulangnya mau bakalan sama dia, ya kita juga ngikut aja. " Frinta tersenyum dan meng dipakai jahil tanda dia juga sudah mencair soal ini. Nada tersenyum melihat dukungan dari sahabatnya ini. "Dah, sana. Chat deh si Ganteng. Gue mau lihat ah, beneran ganteng atau enggak."
Arga mengacak rambut Frinta.
Nada tertawa lalu buru-buru membuka aplikasi pesan di ponselnya.
Halo, Nat. Ini Nada. Nanti kita langsung ketemu ya di Asiatique jam 5.
"Udah gue chat dia."
"Oke, good. Terus, Nada, " Nada suara Frinta berubah.
"Ya? "
"Yang selanjutnya jangan di Asiatique ya. Lo dipelet apa sih sama uncle-uncle bianglalanya. "
...•••...
Natya melirik jam tangannya. Sebentar lagu menunjukkan pukul 5. Dia sudah di drop oleh Dhito sejak pukul setengah empat kurang. Dhito sendiri heran kenapa temannya ini tidak mau saja membawa mobilnya.
"Ntar pulangnya mau naik kapal sama BTS* aja gue."
"Kok lo ribet banget sih jadi orang." Dhito bertanya heran. "Kasihan juga nih cewek dapatnya transportasi umum mulu. Padahal yang dulu diperlakuin kayak putri," seloroh Dhito yang membuat Natya mengumpat.
"Nggak usah bawa-bawa masa lalu."
Dhito cuma menghendikkan bahu. "Ya kabarin aja deh kalau ntar butuh apa-apa."
"Okay, thanks, bro."
Natya melihat sudah mau jam 5 dan tiba-tiba terlihat Nada sedang menghampirinya, bersama dua orang lain di belakangnya.
"Sorry, Nat. Belum nunggu lama kan? "
"Santai.. Gue juga baru sampe. Ini juga belum jam 5." Natya tersenyum lebar. Dia bisa melihat bahwa gadis di samping Nada sudah menyikut gadis itu pelan sebagai tanda.
"Oh iya, kenalin Nat, sahabat gue, Frinta. Sama darling-nya nih, Arga." Nada memperkenalkan mereka dengan mimik wajah usil.
Arga dan Frinta langsung bersalaman dengan Natya. Frinta nggak bisa memungkiri kalau cowok di hadapannya ini sih termasuk ke dalam kategori 10/10. Kalau dari tampang sih udah menang banyak. Penampilan juga dipastikan ini nggak sembarangan. Arga aja ini bisa kebanting juga. Wah, yang kayak gini, semoga beneran tulus ke temannya. Frinta mau memasang antena tajam, jangan sampai ini buaya darat berkedok ikan ****** nih.
"Nggak sekalian ikut?" Tawar Natya tmyang setengah serius setengah basa-basi juga.
"Beneran boleh? Ya nggak papa sih," Jawab Frinta yang langsung dipelototin Arga.
"Enggak, bro. Kita ada agenda lain juga. Ini tadi bantuin ngedrop Nada aja sekalian. " Arga berusaha meralat. Ceweknya ini kalau kadang posesif sama nekat nya lagi kumat ke Nada, bisa jadi tembok cina juga. Kalau kayak gini takutnya malah yang deketin Nada jadi kabur semua.
"Oh.. Oke... "
"iya kita duluan ya. Jagain Nada ya. Oke, bye.!" Buku-buku Arga menyeret Frinta sebelum cewek ini mulai melakukan hal-hal aneh lagi.
Setelah Frinta dan Arga sudah tak terlihat lagi, Nada dan Natya sama-sama melempar pandang lalu tertawa.
"Shall we?"
Nada tersenyum dan tak sabar menikmati malam ini.
...........
Note:
*BTS \= Bangkok Skytrain