Never Not

Never Not
Chapter 5



Kalau orang-orang yang mengenalnya tahu bahwa dia sekarang sedang berada di Asiatique, pasti mereka akan heboh menanyakan kenapa dan... 'Kok bisa?'


Dari berpuluh-puluh kali perjalanannya ke Bangkok, Natya hanya menginjakkan kaki di Asiatique tidak lebih dari tiga kali. Tapi, di sinilah dia di Minggu malam. Sedang menyantap seafood di belakang stand makanan bersama seorang gadis berparas manis yang belakangan jadi sering ia temui. Mereka berdua kedapatan meja panjang yang berada tepat di dekat stand makanan penjual jus dan tempura. Mereka berdua duduk di ujung meja sedangkan di samping kanan mereka duduk turis yang dari logatnya dapat ditebak mereka dari Singapura, Singlish yang digunakan begitu familiar di telinga Natya dan Nada.


Nada meneguk jus semangkanya dan melahap suapan terakhir di piringnya. Natya sendiri sudah dari tadi selesai dari makannya. Dia sebenarnya mau mengajak Natya ke tempat yang lebih tenang di bagian dalam Asiatique. Mereka makan di dekat jembatan karena Nada punya tempat makanan favorit di sini.


Natya tidak enak kalau langsung mengajak gadis itu untuk beranjak pergi. Sehingga, dia menunggu sekitar setengah jam dulu baru mengarahkan Nada untuk ke bagian dalam Asiatique. Ada tempat es krim enak yang dulu pernah Natya kunjungi.


Sesampainya di sana, Natya langsung memesan es krim cokelat dan es krim kelapa kesukaannya agar dapat dimakan bersama. Mereka langsung duduk mencari tempat. Waktu masih menunjukkan pukul enam dan mereka mau menunggu hingga jam tujuh nanti untuk ke bianglala.


"Lo udah sering banget ya ke Bangkok?" Tanya Nada melihat Natya yang sedang random membicarakan beberapa kebiasaan orang di negara ini.


Natya mengangguk. "Lumayan. Kantor lama sama kantor baru sama-sama mengharuskan gue untuk keliling regional SEA dan Bangkok termasuk salah satu yang sering gue kunjungi."


"Asik dan capek pasti ya kalau keliling-keliling gitu."


Natya tertawa kecil mendengar pernyataan Nada. Jarang orang yang mengomentari capeknya pekerjaannya ketika dikaitkan dengan 'jalan-jalan'. Setidaknya tidak bagi kenalan baru seperti Nada. "So, how about you? What do you do?"


"Cuma karyawan kelas menengah biasa. Biasa banget malah, " celetuk Nada.


Narya geleng-geleng kepala. Gadis yang di depannya ini dari tadi cenderung untuk menyederhanakan apapun tindakan yang dia lakukan.


Nada melihat Natya masih menatapnya dengan tatapan minta penjelasan yang lebih jelas. "Jadiiii.... Ya gue emang cuma karyawan biasa di sebuah perusahaan FMCG. Kalau dibilang gue berprestasi banget ya juga enggak. Gue juga bukan dari kampus yang bakal dibilang Top 5 di Indonesia. Cita-cita gue juga sederhana aja. Gue nggak ambis. Si Frinta suka gemas sendiri liat gue. Tapi ya gitu, I don't know. Gue lebih kepada orang yang mau melakukan apa yang gue suka, tanpa harus terikat sama goal atau achievement tertentu. " Nada menatap Natya dengan pandangan usil. "A person like me will make you stress. You will never relate to me."


Natya terbahak. Memang penjelasan yang Nada berikan merupakan hal yang sangat bertolak belakang dengan Natya. Dia tidak bisa membayangkan bahwa dia menjalani waktu tanpa ada tujuan tertentu yang ingin ia capai. Apalagi jika itu menyangkut pekerjaan. Natya sudah dikenal perfeksionis dan bahkan kadang demanding.


"Kalau lo memang sesantai itu, terus kenapa sih lo suka sedih?" Tembak Natya langsung.


Nada berhenti menepuk-nepuk es krim di hadapannya dengan sendok dan menatap Natya tajam. "Kenapa lo suka bilang gue sedih?"


"Di Starbucks lo terlihat sedih. Di toko buku lo baca majalah sampe mata lo kayak mau nangis. Dan di konser kemarin, lo kayak menghindar gitu. Dan... Sori kalau gue terdengar freak, tapi waktu gue ngeliat ke belakang, ada moment di mana lo nangis. "


"Who doesn't cry on Fix You?" Kilah Nada berusaha bercanda. Namun, dia sadar bahwa Natya sama sekali tidak akan percaya dengan alasan-alasan yang akan dia lontarkan.


Nada pun menarik napas panjang. Sepertinya dia benar-benar akan menerapkan what happens in Bangkok, stays in Bangkok ke Natya. Mungkin juga memang dia sedang membutuhkan teman bicara yang benar-benar netral dan akan melihat kondisi dirinya dari sisi lain.


"So... Let say few years back I loved someone and now I know he doesn't love me." Pernyataan klise yang terasa sangat pahit itu akhirnya keluar dari mulut Nada.


Natya tidak bereaksi apapun. Dia hanya memilih diam untuk membiarkan Nada memiliki waktu dan momen yang cukup untuk meluapkan apapun yang sedang mengganjal di hatinya.


"Gue nggak bisa ceritakan detail ke lo. Intinya adalah gue dikecewakan dengan seseorang yang gue percaya setidaknya tidak akan membuat gue sakit dengan cara meninggalkan gue. Tapi, gue nggak ditinggalkan juga sih. Karna emang nggak jelas juga dari awal. Gosh, it does sound pathetic, isn't it? " Nadya berusaha melucu.


"Not at all," Respon Natya langsung. "Gue nggak tau cerita lengkapnya. Tapi gue yakin lo hanya sayang sama seseorang yang pada akhirnya nggak berjalan sesuai harapan. "


"Yeah.. You can adress it like that... " Nada berkata lirih dan kembali memain-mainkan es krim di depannya dengan sendok. Bayangan Adrian dan Arinta yang ia lihat kemarin kembali menyeruak dan membuat dadanya sakit kembali.


"Sorry that I make you hurt by asking that. "


"No worries. You don't hurt me. " Nada menggeleng. "Okay enough with the sad fest. So, what's your story? "


"My story?"


"Yeah, why you are always everywhere but not looking sad at all?" canda Nada.


Natya tertawa. "I have my own trick." Natya mengedip sok manja. "Anyway, just so you know, I was always surprised to see you everywhere. Especially on that Coldplay concert."


"Iya kan, jauh-jauh gue ke Bangkok. Ketemunya lo lagi lo lagi. "


"Bangkok sih ga jauh-jauh amat, Nad. "


"In term of personal or business?"


"Hmm... Personal deh."


"Most country in South and East Asia. A bit of Europe tour. Then, Los Angeles and New York."


Nada cuma terdiam mendengar Natya menyebutkan negara-negara tersebut. Apalagi ini dalam rangka personal travel, bukan karena bisnis.


"That's all. Not much."


Nada mendengus pelan. Ya udah deh, at least dia berusaha humble.


"Jadi, sampai minggu depan mau keliling Bangkok ke mana aja?" Natya mulai bertanya lagi.


"Hmm... " Nada membayangkan itinerary-nya. Dia sebenarnya bukan orang yang terlalu mempersiapkan itinerary untuk bepergian. Berbeda dengan Frinta yang kalau sudah berhubungan dengan travelling akan punya jadwal dan tujuan dari bangun hingga tidur.


Saat memutuskan short getaway ini, Nada hanya ingin jalan-jalan biasa seorang diri dimana dia bisa berpikir tentang apapun tanpa diganggu dan ada keharusan untuk memusatkan perhatian terhadap orang lain.


"Kalau besok sih kayaknya mau ke The Grand Palace."


"Belum pernah ke sana?"


"Belum.".


"Bakal panas banget tuh. Jangan lupa persediaan anti sengatan matahari."


Nada mau tidak mau jadi tertawa. "Kalau itu udah tau banget. Udah siap lengkap segala perlengkapannya."


"Trus, seharian ke situ aja?"


"Enggak lah. Hmm... " Nada meletakkan telunjuknya di dekat dagu untuk menunjukkan dia sedang berpikir. "Any recommendation?"


Natya tersenyum jahil. "I have a long list of recommendation."


...•••••...


"Pemandangan Chaopraya-nya kayaknya lebih keliatan kalau sunset nggak sih?" Natya dan Nada baru saja memasuki bianglala Asiatique.


Nada mengangguk. "Iya udah pernah. Sekarang mau nyobain kalau naiknya malam."


Natya hanya memandang wanita di hadapannya ini dengan heran.


"Jadi," ujar Nada ketika bianglala mulai bergerak, "gue bakalan ga ngomong apa-apa dan cuma mau liat pemandangannya di luar. Jadi lo juga jangan bersuara atau ngajak ngomong gue."


Natya mengangguk pelan, masih bingung dengan tingkah Nada.


Benar saja, Nada memang hanya melihat ke luar dengan tatapan sendu. Dalam remang-remang cahaya yang menembus ke dalam bianglala, Natya mengamati sosok Nada dengan seksama. Kalau berkali-kali Dhito mengatakan bahwa Nada bukan tipenya, bisa dibilang memang bukan. Tipe seperti Nada ini, akan sangat jarang berada di lingkaran hidupnya. Nada bukan seorang wanita yang akan serta merta dikatakan cantik. Namun, tidak ada yang bisa mengalahkan tatapan mata maupun senyumnya yang sangat manis. Nada terlihat sederhana tetapi bisa dibilang akan membuat penasaran. Ditambah dia memiliki karakter yang tidak tertebak.


Natya ikut menoleh ke luar bianglala. Berusaha memahami pemandangan yang bisa menyihir Nada untuk bergumul dalam diam.


Begitu mereka keluar dari bianglala, Nada langsung menggerak-gerakkan lehernya dan menepuk kedua pundaknya. Ia lalu menoleh ke Natya dengan senyum lebar. "I'm recharged."


Natya hanya mengulas senyum kecilnya. Saat ini dia tahu bahwa bagaimanapun Nada adalah seseorang yang memiliki dunianya sendiri yang tentu saja tidak Natya ketahui karna mereka hanya bertemu di dua hari ini.


"By the way, besok malam kalau free, mau gue ajakin ke suatu tempat ga, Nad?"