Never Not

Never Not
Chapter 9



"Kalau Adrian ngajak gue ketemu, menurut lo gue harus gimana?"


Frinta tidak menjawab dengan perkataan namun dengan reaksi hampir tersedak yang membuat Nada jadi ikutan menepuk-nepuk pelan tengkuk sahabatnya itu.


"Lo nggak apa-apa kan?"


Frinta meneguk minumannya dan langsung menatap Nada heran. "Gue nggak apa-apa, nah elonya ini nggak apa-apa atau gimana? Lo mau ketemu Adrian?"


Nada langsung ciut mendengar reaksi Frinta. "Ya belum tau, Ta. Makanya nanya pendapat elo."


"Kalau jawaban gue sih ya nggak usah. Tapi, kalau lo sampe mau nanya gue gini sih artinya ya lo ada keinginan ketemu juga."


Nada menghela napas berat dan langsung merangsek ke tempat duduknya. "Ya gimana dong, Ta. Gue nggak bisa bohong kalau gue sebenarnya mau denger penjelasan dari dia."


"Duh... Masokis banget sih lo. Buat apa juga ada penjelasan kalau ya resultnya udah ketauan. Dia jalan sama tuh cinta matinya dia dulu. Si model itu."


Nada selalu menduga bahwa nama memang doa. Frinta dan frontal itu beda tipis dan kalimat temannya ini memang suka nyelekit yang sampai ke ulu hati. Ibaratnya, peran Frinta itu selalu jadi bad guys kalau urusan memberi nasihat. Biasanya masih ada Arga yang bisa jadi penyeimbang kalau pacarnya ini kelewat jujur, tapi kalau lagi cuma di Jakarta berdua ini, Nada memang harus siap pasang hati mendengar komentar Frinta. Untungnya, memang ucapan Frinta ada benarnya juga.


"Ya nggak apa-apa sih... Biar closure-nya lebih jelas aja."


"Closure apaan. Udahlah babe, closure is just an illusion or even a scam. I mean, dengan dia tiba-tiba ngilang itu mah udah closure banget." Frinta sudah mau berceloteh lagi tapi langsung tidak tega ketika melihat Nada sudah mau menangis. Akhirnya, gadis itu berdeham dan menyederhanakan pendapatnya. "Intinya itu dari pendapat gue, Nad. Tapi, kalau dari diri lo memang maunya denger penjelasan dari dia, ya udah nggak apa-apa. Temuin aja dia." Frinta melunak.


Nada menatap Frinta ragu. "Do you think that will be a good idea?"


"Do you? Yourself is more important right now. Anything that makes you feel a bit happier... It's okay. Though the way to that won't be a happy experience." Frinta tetap memberi sedikit peringatan ke Nada.


Nada mencerna semua pembicaraan mereka dan berusaha memantapkan hatinya. "Gue bakal ketemu dia, Ta."


Frinta tersenyum maklum. "Iya, nggak apa-apa, Nad."


Nada dan Frinta menghabiskan sisa makan siang mereka dalam hening. Frinta membiarkan Nada berpikir lebih jauh saja tentang keputusannya itu. Namun, dia sebenarnya berharap andai saja ada pilihan lain yang lebih bisa membuat Nada gembira, dibanding murung terus.


Karena itu, Frinta langsung melotot syok ketika sosok Natya dan temannya berpas-pasan mereka di dekat eskalator. Jadi, begini rasanya doa yang langsung dijawab Tuhan?


"Wah, halo Nada, Frinta," sapa Natya lembut.


"Halo, Nat!" jawab Frinta semangat. "Eh, baru sadar deh nama panggilan kalian agak-agak mirip ya." Natya dan Nada diam saja, sedangkan Dhito jadi nyengir lucu mendengar ucapan Frinta tersebut.


"Udah pada mau balik ya?" Natya memandang ke wajah Nada yang lagi-lagi terlihat kusut.


"Iya nih, harus buru-buru balik mau ada meeting juga. Kalian? Baru mau makan?"


"Mau ketemu klien bentar." Natya beralih ke Nada yang dari tadi diam saja. "Nada juga mau balik?"


"Hm?" Nada seakan baru tersadar dari lamunannya. "Iya nih, Nat. Kalau nggak, mau juga sih bareng kalian."


"Bareng ketemu klien kita?" canda Dhito yang disambut lirikan tajam dari Natya.


"Eh, gimana? Sori sori, tadi gue nggak fokus."


Frinta meringis melihat Nada yang jadi kayak mengigau nggak jelas. Ini pertanda dia harus segera menyeret temannya dari sini. Daripada nanti jawabannya makin aneh-aneh. "Oke deh, duluan ya, guys!" Frinta langsung menggamit lengan Nada dan menuruni eskalator bersama.


Dhito dan Natya sama-sama melihat kedua gadis itu turun dengan ekspresi tak terdeskripsi.


Dhito pun akhirnya buka suara. "Lo wacana mulu ngajak dia jalan. Udah tau belom kenapa dia jadi kayak ngelindur gitu?"


Natya jadi tersindir dengan kalimat Dhito itu. "Sabtu nanti kita jalan kok." Natya menjawab pede meski dia sama sekali belum nanya.


"Baguslah."


"Mau ngajak Nada ke tempat Mas Kala," sambung Natya.


Dhito jadi melongo mendengar statement Natya. "Lo serius?" Dhito terlihat tak percaya. "Chandra Dinatya, gue sebagai teman akhir-akhir ini suka kaget dengan tingkah lo, but... you do you, bro..." Dhito sebenarnya lebih terdengar sarkas dengan pernyataannya itu.


Natya tidak merespon dan melengos pergi ke tempat meeting mereka. Kali ini dia akan serius dan tidak wacana.


...•••...


Aventia - 6pm.


Nada membaca kalimat itu berkali-kali. Besok dia akan bertemu lagi dengan Adrian dan rasa gugupnya sudah terasa di sore ini. Dari tadi dia bolak-balik ke kamar kecil untuk membasuh wajahnya. Sempat berpas-pasan sekitar dua kali dengan Terra yang memberikan ekspresi bingung. Nada pun hanya bisa menyapa dengan gestur tanpa mengeluarkan sepatah kata apapun.


Saat dia duduk di tempatnya, Dion yang memperhatikan bahwa Nada sudah dari tadi bolak-balik ke toilet langsung mengirim pesan ke Frinta.


Si Nada kenapa? Salah makan? Bolak-balik toilet mulu.


Nggak kali. Retouch makeup kali.


Nggak ya. Itu malah wajahnya basah mulu. Udah luntur kali makeupnya.


Kepo ah lo, Mas.


Pacar yang mana?


Yang sempat nyusul pas kita outing ke Singapore.


Itu mah bukan pacarnya dia, cuma orang gila yang nggak sengaja ketemu aja.


???????????


Frinta menoleh ke Nada yang sekarang memusatkan perhatiannya ke layar laptop di depannya. Tangannya mengetik terus yang Frinta harap benar-benar sedang bekerja saja, daripada ternyata malah lagi nggak karuan entah ngetik apa.


Frinta jadi gatal mau tau kelanjutan keputusan Nada untuk bertemu Adrian. Ketemu nya dimana. Apa butuh bantuan untuk disetirin daripada nanti pingsan di tengah jalan. Meski segala pertanyaan itu sudah mengisi kepalanya, Frinta memilih untuk diam dulu. Kalau Nada niat, pasti nanti dia yang ngomong sendiri. Kalau dia mungkin mau memilih untuk settle ini sendiri, maka ya udah, Frinta pasti bantu semangat dan doa juga. At least, supaya nggak sesak napas aja si Nada di tempat itu.


Nada kayaknya sadar bahwa ada sepasang mata yang dari tadi memperhatikannya. Dia menoleh dan pandangannya bersirobok dengan Frinta yang langsung nyengir kikuk.


"Penasaran ya lo?"


"Ah, enggak, penasaran apanya."


Terdengar bunyi pesan baru di IM kantor Nada. Dia melihat ada pesan dari Mas Dion yang malah menjawab pertanyaan Nada.


Iya, Nad, penasaran. Lu abis putus?


Nada langsung celingukan ke arah meja Dion. Dia langsung melambai-lambai melihat Nada sedang mencari dia. Nada jadi ketawa sendiri melihatnya.


"Malam entar makan yuk sama yang lain," ajak Nada ke Frinta.


"Seriusan lo?" Frinta mengecek apakah Nada ini dalam kondisi stabil atau nggak.


"Iya, serius. Ntar pulangnya lo bareng gue lagi aja ya. Nginep tempat gue."


Frinta tersenyum penuh pengertian. "Siap, bos!"


Nada mengulas satu senyum lagi sebelum kembali fokus ke pekerjaannya. Dia harus selesaikan semuanya hari ini karena dia tidak tahu apa efek dari obrolannya dengan Adrian besok.


Tuhan... Lancarkan pembicaraan besok! Doa Nada dalam hati.


...•••...


Nada duduk dan menyesap tehnya yang mulai terasa pahit. Dia dan Adrian sudah berada di tempat tersebut sekitar lima belas menit. Adrian sendiri masih mengeluarkan pertanyaan yang bersifat basa-basi yang cuma direspon Nada seadanya saja.


"Jadi?" Nada memberanikan diri untuk membuka suara. Dia tidak mau menghabiskan waktu terlalu lama dengan ketidakjelasan.


"Jadi..." Adrian menarik napas panjang. "Aku mau minta maaf, Nad." Ia mengucapkannya pelan dan sangat hati-hati.


"Untuk?" Suara Nada mulai bergetar tetapi dia berusaha untuk tidak menangis. Ia bahkan menatap wajah Adrian yang malah membuat pria itu gusar di tempat duduknya.


"Semuanya."


Alis Nada terangkat mendengar itu.


"Semuanya?"


"Terutama saat hari Valentine itu, Nad," lanjut Adrian. Nada mulai merasakan tenggorokannya tercekat untuk merespon. "Aku... Aku waktu itu sudah mau datang, Nad. Tapi, tepat di hari itu. Di malam sebelumnya bahkan. Arinta datang lagi, Nad." Adrian menatap Nada dengan pandangan meminta pengertian. Dia yakin, Nada akan paham mengenai kondisinya dengan Arinta. "Dia... Dia mau mencoba lagi semuanya. Dari awal. Klise memang, tapi kondisi kami yang berjarak... Kondisi saat, " Adrian menarik napas panjang, "... saat aku dekat sama kamu, ngebuat dia sadar tentang aku. Maaf, Nad. Maaf aku egois."


Nada tidak bisa berkata-kata. Dia yakin air mata sudah menggenang di pelupuk matanya. Karena dia pun sudah melihat Adrian dengan kabur. Memori tentang kebersamaan mereka selama dua tahun. Cerita-cerita Adrian tentang Arinta, semuanya kembali merasuki pikirannya. Nada dan Adrian adalah dua orang patah hati yang waktu itu tidak sengaja bertemu. Adrian sendiri bilang bahwa ada sekilas sifat Nada yang mirip dengan Arinta. Nada pun sempat sadar bahwa terkadang, dia menjadi bayang dari Arinta. Atau parahnya, pelarian.


Hanya saja, ketika Arinta juga bercerita tentang masa lalunya yang pahit, Adrian adalah orang yang mendengarnya dengan sabar dan memberi semangat. Sungguh ironis ketika pada akhirnya, dia juga adalah orang yang mencampakkan Nada begitu saja.


"Aku... Aku ngerasa saat itu juga belum ada ikatan di antara kita. Dan malam itu, Arinta mengajak aku untuk kembali memperbaiki apa yang sempat hilang di antara kami... "


"Dengan merusak hidup gue, Yan?" Emosi Nada mulai meluap. Dia merasa penjelasan Adrian hanya seputar dirinya dan pembenaran atas perlakuannya.


"Gue nggak bermaksud untuk itu, Nad..."


"Trus, ninggalin gue gitu aja dan baru muncul setelah berbulan-bulan, itu maksudnya apa?"


Mulut Adrian terkunci rapat. Dia tahu tidak akan ada penjelasan yang baik dari sikapnya terhadap Nada. Apa yang dia perbuat memang kejam dan kurang ajar. Dia merasa bersalah untuk itu. Menjadikan Nada sebagai sebuah resiko, sesuatu yang ia rasakan dapat ia lepas.


"Aku minta maaf, Nad. Aku benar-benar minta maaf."


Ingin rasanya Nada berteriak sekencang-kencangnya, tetapi berhasil ia tahan gejolak itu. Nada bangkit dari kursinya dan menatap Adrian dengan geram. "Gue ga nyangka, Yan, lo bakal sebrengsek ini ke gue. Gue hargai lo mau minta maaf. Tapi, jangan pernah lagi lo ganggu kehidupan gue."


Nada keluar dari restoran tersebut dengan kaki bergetar. Dia menguatkan langkahnya untuk masuk ke dalam mobilnya. Begitu duduk di kursi kemudi, tangis Nada langsung pecah. Dia menyesal dengan segala hal yang ia lalui bersama Adrian. Dia menyesal telah menaruh kepercayaan yang begitu besar hingga akhirnya harus dikecewakan dengan sangat gegap gempita.


Setelah cukup tenang, Nada mulai menghapus air matanya. Dia melihat bayangannya di cermin dan menepuk-nepuk kedua pipinya untuk setidaknya bisa waras menyetir hingga sampai di kosnya dengan aman. Nada mulai menghidupkan mesin mobilnya dan mengambil ponselnya untuk mengalihkan pikirannya sementara. Di sanalah dia menemukan pesan itu, pesan yang mungkin seharusnya sudah ada sejak beberapa minggu yang lalu.


Natya


Nad, are you free this Saturday?