Never Not

Never Not
Chapter 3



"Sawadee ka!"


Sambutan ramah mengawali perjalanan awal Nada ke Bangkok hari ini. Setelah banyak gempuran menghardik dirinya dari sisi kehidupan pribadi, Nada memutuskan untuk liburan sejenak di Bangkok. Dia memutuskan untuk menonton Coldplay di Bangkok. Nada sebenarnya tidak terlalu mengikuti band tersebut, namun siapa yang tidak mengenal hits terkenal dari Coldplay? Jadi, setidaknya ada yang Nada lihat di Bangkok.


Ini bukan kali pertama gadis tersebut menginjakkan kaki di negeri ini. Perjalanan kali ini merupakan kali ketiga dia ke Bangkok. Tapi, untuk perjalanan pribadi, ini merupakan pertama kalinya.


"Welcomeeeeeeeee!!"


Frinta menyambut dengan pelukan kencang. Dia sudah di Bangkok di hari ketiga. Frinta benar-benar mengambil cuti panjang selama dua minggu. Satu minggunya sebenarnya akan dia dan Arga manfaatkan untuk liburan ke Korea Selatan. Maklum, teman Nada yang satu ini sudah termasuk golongan bucin dengan artis di negeri ginseng tersebut.


Frinta melepaskan pelukannya dan Nada melanjutkan dengan menyapa Arga. Mereka berdua hari ini bertugas menjemput dan mengantar Nada ke penginapannya. Sebenarnya Frinta sudah mengajaknya untuk menginap bersama dia dan Arga, namun Frinta menolak karena seperti biasa, dia ingin merasakan sendirinya, dan dia juga mau membiarkan pasangan LDR ini menikmati waktu bersama mereka berdua.


Nada pun diantar ke hotel-nya di daerah Siam. Setelah check-in, Nada langsung memanfaatkan waktunya


untuk tidur siang sejenak. Nada benar-benar datang di hari konser berlangsung. Dia mau setelah itu dia tinggal fokus untuk jalan-jalan saja. Frinta dan Arga yang mau mengajak dia makan siang pun, dia tolak dulu.


 "Besok ya ajak gue makan yang enak-enak. "


 "Oke tuan putriiii."


Nada memasang alarm dan terbangun ketika waktu telah menunjukkan pukul empat sore. Dia bergegas mandi dan memesan makanan di hotel. Setelah bersiap dan makan, Nada segera memesan Grab untuk mengantarnya ke stadium. Letak stadium-nya ternyata lumayan jauh dari tempatnya menginap. Nada tidak terlalu sempat mencari tahu lokasinya kemarin. Dia sendiri hanya pernah sekali menonton konser di luar negeri. Atau lebih tepatnya pertunjukan musikal. Nada rela mengejar pertunjukan musikal Lion King ke Singapore. Sisanya, dia tidak terlalu mengikuti artis ataupun penyanyi sehingga hanya mengikuti konser-konser di Jakarta yang diajak temannya.


Begitu sampai di Stadium, Nada membeli air mineral yang dijual di venue. Karena botol minuman lain tidak diizinkan untuk dibawa masuk. Nada melihat sekelilingnya, sudah banyak para fans yg mengantri. Gate juga sudah dibuka sehingga antrian masuk semakin mengular. Beberapa merupakan tipe fans yang datang dengan memakai kaos bergambar Coldplay, atau memakai langsung kaos merchandise official yang dijual di booth merchandise.


Nada mendapatkan tempat di Row L. Dia tidak memilih untuk standing. Saat masuk, dia bisa melihat kerumunan yang ada di floor seat sudah ramai. Nada berada di seat L-16. Nomor 2 dari atas dari rombongan L. Di sebelahnya duduk dua remaja yang sedang asik bermain ponsel. Nada melihat ke depan. Pertunjukan akan dimulai jam 7, jadi sekitar setengah jam lagi.


Saat dia melihat ke bawah, wajah Nada langsung pucat pasi. Adrian dan Arinta baru saja muncul dan terlihat mau mencari tempat duduk mereka. Nada langsung mendudukkan dirinya ke bawah seperti mencari-cari sesuatu di lantai, dia menggerai rambutnya ke depan wajahnya sehingga wajahnya tidak akan terlihat. Dia berusaha melihat keberadaan mereka berdua berjalan ke tempat lain. Setidaknya mereka tidak berada di satu


row.


Dari sekian banyak konser, kenapa sih mereka harus ke sini? Bukannya artis seperti  Arinta akan lebih memilih ke Singapore atau Melbourne? Ngapain memilih ke Bangkok?Nada bahkan memilih liburan ke sini karena Bangkok bukan merupakan negara yang sering dikunjungi Arinta atau Adrian. Paling mentok mereka main ke Phuket. Atau mereka memang sedang liburan ke Phuket ya?


Begitu duduk normal (dengan rambut yg tetap sengaja dibuat ke depan).  Nada segera membuka Instagram dan mengecek unggahan terbaru Arinta.


Tuh, kan! Tampak unggahan terakhir di feed gadis itu adalah tiga hari yang lalu di Phuket. Duh, kenapa sih Nada nggak lihat-lihat dulu.


Nada merutuki dirinya.


 Keberadaan Adrian dan Arinta di venue yang sama dengan dirinya, membuat gadis itu tidak tenang. Suasana bahkan kemegahan penampilan saat itu tidak bisa mengusik pikirannya yang sebenarnya saat itu sudah mau pulang saja. Tapi Nada tidak mau membuang sia-sia tiket yang dibelinya dengan harga luar biasa ( meski di tribun, karena dia belinya mepet maka dia mendapatkan harga calo yang pasang harga nggak main-main), ditambah dia mau menunjukkan kepada dirinya sendiri bahwa dia pasti kuat. Toh, mereka berdua juga tidak sadar ada dia di sini.


Momen termenyedihkan lainnya sebenarnya adalah ketika Fix You dimainkan. Lagu pemersatu umat dalam


urusan patah hati atau kesedihan ini, sudah sukses membuat air mata Nada jatuh tidak kira-kira. Gadis itu terpaksa mengusap air matanya berkali-kali. Terlalu sakit untuk mendengar lagu ini dengan fakta bahwa penyebab rasa sakit berada di tempat yang sama.


Begitu lagu Up & Up selesai dimainkan sebagai lagu penutup, Nada tidak mempedulikan lagi dan bergegas turun dari tribun tersebut.


Dia bisa merasakan rasa panik merayap ke dirinya dan merasakan mual yang luar biasa. Nada bergegas


menuju ke toilet dan memuntahkan semuanya. Entah itu panik atau apapun itu, yang jelas sekarang dia merasa pusing dan sedikit lemas.


Nada mencuci wajahnya dan berusaha menguatkan langkahnya. Dia tidak boleh lemah. Lagipula perjalanannya masih panjang. Nada keluar dari toilet dan agak terhuyung ketika mau menuruni tangga hingga ada tangan yang memegang lengannya erat.


 


Nada mendongak dan melihat Natya sedang menatapnya. Sebelum Nada sempat mengatakan apa-apa, Natya


sudah menuntunnya perlahan menuruni tangga dan  membawanya ke lantai dasar. Suasana stadium saat itu benar-benar dipenuhi manusia dan masih terasa keriuhan suara orang yang membludak keluar dari stadium.


"Kamu ngapain?" Tanya Nada saat mereka berusaha membelah lautan. Natya masih memegang lengannya sembari mencari jalan keluar yang lapang bagi mereka. Begitu mereka keluar dari gerbang, Natya langsung menarik Nada ke dudukan bata yang berada di samping stand penjual minuman.


 "Fuh... lebih mendingan deh ya di sini,” ujar Natya seraya mempersilakan Nada untuk duduk. Nada pun duduk lebih kepada karena memang kakinya agak capek juga jalan jauh di tengah kerumunan.


“So, hi, nice to see you again?” Nada membuka percakapan dengan nada sedikit sarkas. Terakhir dia bertemu dengan orang di depannya ini tadi sekitar dua bulan yang lalu. Nada bahkan bisa dibilang sempat lupa sedikit bahwa dia pernah berjumpa dengan seseorang bernama Natya di hidupnya.


Pria tersebut tersenyum singkat dan mengangguk pelan. “Meski kayaknya waktu itu aku berharap pertemuan


selanjutnya nggak ada acara nangis atau sedih.”


“Dan bener kan? Emang siapa yang sedih sekarang?”


“You. From the beginning of this concert.”


“Nggak usah ngarang – “ Nada terhenyak. “Duduk di row berapa sih tadi?”


“Dua row di bawah lo tadi tapi ya sampingan dikit. Ya lumayan lah tadi bisa ngeliat tiba-tiba ada yang mendadak nunduk.”


Urgh! Nada mengomel dalam hati. Ini kenapa pas di saat yang aneh-aneh ketemu orang ini terus sih? Dia ada magnet apa. Lagian ngapain juga bisa sampai di Bangkok ketemu dia?


 “Fans-nya Coldplay?” Nada langsung mengubah total topik pembicaraan. Natya jadi tertawa kecil. Gadis


di depannya ini kayaknya benar-benar nggak mau membahas setiap ditanya kenapa sedih. Tapi, setiap ketemu ekspresinya selalu murung sama sedih. Yang seharusnya Natya lanjutkan dengan ‘trus apa hubungannya dengan dia?’.


“Lumayan. Tapi, sebenernya lebih nemenin temen ke sini. Ke sini juga karena ada urusan kerjaan.”


 “Oh...” angguk Nada. “Trus, temannya mana?”


“Oh iya.” Natya jadi ingat dia sudah sibuk sendiri dan melupakan temannya. Buru-buru dia langsung menelepon Dhito yang sudah pasti disambut dengan semprotan.


“Lo dimana, nyet? Telepon nggak diangkat.” sahut Dhito kesal. Dia sudah dari tadi keluar dan menunggu


Natya di mobil mereka.


 “Ini, ketemu temen.”


Nada jadi ikutan hening ketika mendengar Natya menyebutnya sebagai ‘teman’. Untuk orang yang baru ketemu tiga kali dengan masing-masing pertemuan hanya di kisaran lima belas menit ke atas, agak luar biasa sih kalau bisa dibilang teman.


“Temen? Siapa? Si Brian jadi ikutan ke sini juga?”


 “Bukan, bukan.”


 “Temen lo yang mana lagi?” cecar Dhito. “Cepetan deh lo ke mobil. Mau balik nggak? Ntar ini macetnya udah gila-gilaan.”


Natya diam sejenak. Ini memang kalau sudah selesai konser, pasti jalanan akan macet parah. Natya melihat cewek yang sedang duduk tak jauh dari dirinya ini. Dia menjauhkan ponselnya dari telinganya kemudian bertanya pelan ke Nada.


“Nad, udah mau pulang kan ya?”


Nada geleng-geleng kepala mendengar pertanyaan itu. “Nggak, Nat. Masih mau belanja.”


 “Ha, seriusan?” Natya malah jadi percaya.


“Ya enggaklah! Gue udah gelesoran di sini juga. Kenapa emangnya? Gue udah mau pulang banget nih, Nat.” Nada jadi rada seram juga dengan Natya yang suka tiba-tiba muncul. Apa ini orang diam-diam ngintilin dia atau gimana? Tapi, dari perawakan sama penampilan Natya, kalau dia pun mau jadi stalker, pasti bukan ke tipe yang kayak Nada sih. Eh, tapi apapun itu, yang jelas cowok ini agak tidak tertebak dan jadinya kok malah nyeremin ya?


Mendengar itu, Natya tiba-tiba mendapat ide dan langsung menyambungkan pembicaraannya dengan Dhito. “Lo pulang duluan deh.”


“Apaan sih kok lo nggak jelas? Lo dimana sih?” Dhito berpikir sebentar. “Eh, lo lagi sama cewek ya ini? Anjir, sama siapa lo?”


“Oke ya, duluan aja, gue nggak mau ikutan deh ke pub. Ngantuk gue. Gue pulang sendiri aja.”


“Pub? Woy – “


Natya tidak lagi mendengar perkataan Dhito karena dengan cekatan dia langsung menghentikan pembicaraannya.


“Nggak jadi sama teman lo?”


 “Nggak. Dia mau lanjut ke pub. Gue udah capek banget, nggak bakal ada energi lagi sih ke tempat kayak gitu.”


 “Wah, iya sih. Capek banget lah.” Nada setuju dengan pertanyaan tersebut.


 Natya buru-buru mengalihkan topik mereka. “Oke... lo nginep di mana? Siapa tau searah.”


 “Deket sini kok.”


“Interplace? Ya udah gue temenin jalan deh ke sana. Nggak terlalu jauh sih, tapi kalo jalan sendiri nggak enak juga pasti ntar.”


“Emang siapa yang bilang gue sendirian di sini?”


Natya hampir saja tersedak mendengar jawaban Nada. Iya juga, kok dia sok tahu sih kalau cewek ini datang ke sini sendirian. Jangan-jangan datangnya udah sama pacar lagi? Tapi, tadi kayaknya samping kanan kiri Nada itu remaja gitu. Cewek juga. Apa duduknya jauhan sama pacar.


 “Ngga ding, emang sendiri kok gue ke sini. Di Bangkok-nya doang yang nggak sendiri.” Nada sedikit menahan tawa melihat perubahan raut wajah Natya.


Nada mengangguk. “Eh, tapi seriusan sih, gue pulang sendiri aja. Lumayan kenal kok gue sama daerah di


Bangkok,” ujar Nada sok pede. Padahal dia kalau ke Bangkok ya mainnya paling ya daerah Siam, Silom, Sukhumvit, atau mentok ke Khao San buat makan mango sticky rice kesukaannya.


“Udah jam sebelas malam gini. Sama orang yang gue ga kenal aja kalau ada yang minta tolong temenin gue bakal bantu, apalagi yang udah gue kenal kayak lo.”


 “Yang kenal nama?” sambung Nada cepat.


“Yes, Madam.” Natya jadi gemas sendiri dengan Nada yang suka nyindir segala pernyataan dirinya. “Jadi, Mbak Nada nginap di daerah mana? Gue nanya nggak maksud apa-apa kok. Serius deh. Kalau ternyata kita beda arahnya jauh, ya gue nggak mau nganter juga.” Natya berusaha memberi penjelasan yang logis. Ya padahal kalau beda arah ya pasti ditemenin juga.


“Di Siam.”


“Itu sih jauh, Nadaaa, dari sini.” Natya menahan gemas keinginannya mengacak-acak rambut Nada. “Ya


udah, ngepas sih itu. Gue juga nginap dekat situ kok.”


 “Seriusan? Dimana?” Nada berusaha mengetes lagi.


“Iya deket, Nad.”


“Iya, Siam kan tapi luas juga.”


 “Ya emang seluas apa sih, Nad,” Natya jadi agak kesal Nada mau dianterin malah mutar-mutar nanya ini


itu. “Lo nginapnya dimana emangnya?”


 “Ibis.”


 “Oke, nggak jauh. Gue di Kempinski.”


“Oh...”


“Ya kan? Nggak jauh kan?” repet Natya. “Ya udah yuk, buruan, biar kita nggak kemalaman.”


 Nada menurut danmengikuti Natya berjalan keluar dari area taman di Stadium ini. Mereka melewati


riuhnya pasar yang berada di dekat Stadium. Nada mengikuti Natya perlahan dari belakang. Rasanya aneh juga, datang ke sini sendiri kemudian pulang jadi jalan berdua bersama orang yang hanya baru beberapa kali saja dia temui. Tapi, bersyukur juga, gara-gara ini bahkan Nada jadi nggak sempat sedih berlarut-larut


mengingat keberadaan Adrian dan Arinta.


 “Kita mau mesen Grab-nya nggak dari sini aja, Nat?” tanya Nada sambil berjalan cepat-cepat menyusul


langkah kaki Natya yang panjang. Akhirnya dia bisa berjalan berdampingan dengan Natya.


 “Kalau mesan Grab bakal ditolak terus nanti. Sebenarnya, ini gue mau ke tempat ada langganan gue


sih di sini.”


“Tuktuk?” tebak Nada asal.


 Natya tertawa. “Ojek, Nad.”


 “Ha, serius?”


 Natya akhirnya menepuk pelan puncak kepala Nada. “Nggak... ada taxi kok di sini.”


 “Ngapain, Nat. Mahal banget taxi di sini kalau malam gini. Bisa-bisa harganya dinaikin sepuluh kali lipat.”


“Iya, nggak apa-apa. Sekali-sekali juga,” ujar Natya. Natya berhenti di dekat terminal bus dan Nada mengikutinya. Cowok tersebut mengeluarkan ponselnya dan tampak menelepon seseorang. Setelah beberapa menit, telepon tersebut pun dimatikan.


 “Ada, Nat?” Nada tampak ragu.


 “Ada. Tadi orang kantor bantu urusin.”


 “Oh...” Nada jadi berusaha menebak-nebak perusahaan apa tempat Natya bekerja di sini.


Tak lama kemudian, datang Taxi yang mengantar mereka berdua. Sekilas Natya melihat Dhito sudah


mengirimkan pesan terhadapnya.


Lo dimana gila? Ini si Brian bilang lo minta pesenin dia Taxi yang dulu deket universitasnya itu. 


Ntar deh, gue cerita. Ini gue hitungan sejam nyampe hotel.


Di mobil, Nada diam saja sambil melihat pemandangan di luar jendela. Natya sebenarnya ingin melihat


apakah dia masih melihat pemandangan di luar masih dengan ekspresi murung?


“Di sini sampai kapan, Nad?”


 Nada menoleh ke arah Natya. “Seminggu. Lo?”


 “Rabu udah balik.”


“Oh...”


“Terus, rencana besok mau kemana, Nad?”


“Udah janjian sih sama temen yang di sini, mau makan bareng.” Nada tidak balik bertanya.


 “Temen kuliah dulu?”


"Nggak... lebih tepatnya sih pacarnya temen. Tapi temen gue juga lagi ngapel dia ke sini. Mereka


Kamis mau cabut liburan ke Seoul. Temen gue itu katanya mau ikut fanmeeting atau apa gitu.”


“Oh... Makannya dari pagi sampe malem atau makan satu kali aja bareng mereka?”


Nada jadi mau tidak mau tertawa mendengar pertanyaan itu. “Makan siang aja, soalnya malam-nya gue mau ke Asiatique terus mereka berdua nggak mau. Udah bosen banget.” Nada melihat ekspresi bingung di wajah Natya.


“Lo belum pernah ke sana?”


 “Pernah. Ke sana terus malah. Udah kena pelet nih sama bianglala-nya Asiatique.”


Natya jadi tertawa. “Seriusan suka naik bianglala yang di sana?”


 “Iya. Kenapa? Tacky ya? Pada bilang sih itu B doang. Mana suasananya kan ya emang pasar malam gitu. Tapi, somehow gue suka sih yang begitu. Kerasa rame, tapi pas di bianglalanya, bisa kayak merasa sepi dan asik aja ngeliat lampu warna-warninya.”


“Trus, sendirian ke sana, Nad?” pancing Natya.


“Kenapa?” Nada ragu mau melanjutkan kalimatnya, tapi ya udahlah, what happens in Bangkok, stays in Bangkok. “Mau barengan, Nat?”


“Sure. Belum pernah naik bianglala-nya soalnya.”


Gantian Nada yang tertawa geli. Setelah itu, mereka berdua menikmat pemandangan di luar jendela dalam diam. Natya sebenarnya mau mengajak Nada mengobrol lagi, tapi dia bisa melihat raut wajah lelah Nada sehingga tidak enak. Biarin aja dulu Nada istirahat, toh besok mereka akan bisa ngobrol lebih banyak lagi.


Taxi tersebut pun akhirnya sampai di hotel Nada. Memang Natya yang meminta supaya di hotel Nada


saja dulu, baru hotel dirinya.


 "Ini berapa ya, Nat?”


“Udah, aman. Besok aja traktirnya.”


Nada tersenyum geli. “Oke deh. Thanks, Nat. See you tomorrow!” Nada baru saja mau keluar dari mobil ketika tiba-tiba Natya menyeletuk pelan. “Trus, besok kontakannya gimana, Nad?”


Nada menahan senyumnya. Dia tidak jadi keluar lalu menoleh ke Natya. “Oh iya ya, ya udah, gue minta nomor lo yaa. Ntar kalau udah kelar sama temen gue, gue hubungin.”


“Oh... oke...” Natya sebenarnya lebih berharap kalau Nada duluan yang memberi nomornya. Tapi, ya sudahlah, daripada nanti tidak dikasih sama sekali lalu harus buka kartu ngehubungin lewat DM IG.


 “Hati-hati, Nat.” Nada melambai dari luar mobil. Natya balas melambai kemudian mobil tersebut melanjutkan perjalanan ke tempat pria tersebut menginap.


Begitu Nada berbalik memasuki lobi hotelnya, Nada merasakan hatinya juga jadi tidak karuan.


 Nada, semoga kamu nggak aneh-aneh lagi ya! Nada berusaha memarahi dirinya sendiri. Sekarang, dia tidak tahu harus berekspektasi seperti apa untuk besok.