Never Not

Never Not
Ch. 28 : Tak Ingin Bersaing Dengannya



Ketika hendak menyalakan pemantik api di ujung rokoknya, tiba-tiba Rai teringat Yuriko. Ya ini karena waktu telah menunjukkan pukul sepuluh malam. Rai keluar dari kamarnya lalu mengecek pintu kamar apartemen Yuriko yang masih tersegel. Artinya, gadis itu masih belum pulang.


Rai memutuskan keluar dan berjalan di sekitar gedung apartemen. Udara dingin yang mendesau-desau kulit, tak mengurungkan niatnya untuk melangkah kecil menuju rumah mewah tak berpenghuni, tempat di mana gadis itu selalu diantar pulang teman-temannya. Begitu tiba di sana, ia pun tak menemukan jejak keberadaan Yuriko. Tak berselang lama kemudian, ia bisa merasakan cahaya mobil yang menyorot dirinya. Ia segera bersembunyi kala menyadari itu adalah mobil yang sering mengantar Yuriko pulang.


Benar, ketika pintu mobil itu terbuka, Yuriko turun dengan tubuh yang terlihat sempoyongan. Tampaknya gadis itu mabuk berat.


"Yuri-chan, kau tidak apa-apa? Apa perlu aku bantu?" Teman Yuriko yang duduk di kursi pengemudi berteriak menawarkan bantuan.


"Aku tidak apa-apa. Pulanglah! Aku akan segera masuk dan beristirahat," ucap gadis itu sambil memegang kepalanya. Ia berjalan gontai menuju pagar rumah itu seakan-akan hendak masuk.


"Baiklah kalau begitu sampai jumpa!" balas temannya yang kemudian meninggalkan dirinya.


Tepat saat mobil itu meluncur pergi, Yuriko langsung menunduk dan mengeluarkan seluruh isi perutnya. Ia muntah berkali-kali. Rai yang sedari tadi bersembunyi di samping tembok rumah tersebut, hanya bisa menggeleng-geleng kepala. Ia menghampiri gadis itu sambil membuka jaket tebal yang sedang dipakainya.


Yuriko yang masih terus memuntahkan alkohol, lantas tersentak ketika sebuah jaket membungkus punggungnya dengan hangat. Saat menoleh ke samping, wajah Rai yang dipenuhi kekhawatiran seakan mengisi manik matanya. Tak hanya itu, pria berusia tujuh tahun lebih tua darinya itu juga memijat tengkuk lehernya.


"Aku tidak apa-apa!" Yuriko menepis tangan Rai dari punggungnya. Ia berusaha berdiri tegap, lalu meninggalkan Rai dengan langkah limbung. Sayangnya, baru berjalan tiga langkah, ia malah terduduk lemas.


"Sialan!" umpat gadis itu.


Rai tersenyum hambar seraya membuang wajah. Seperti tak jera mendapat sikap ketus, ia malah kembali menghampiri Yuriko. "Hei, kenapa kau minum alkohol yang banyak jika tak mampu?"


"Aku membeli empat botol tequila¹ untuk teman-temanku, tapi mereka malah terang-terangan memesan sampanye. Padahal aku membelinya dengan menghabiskan sepertiga gaji kerja part-time. Karena kesal, aku habiskan saja empat botol sekaligus, haha-haha," ucapnya tertawa terbahak-bahak. Matanya semakin sayup, dan tangannya terus memegang kepala.


"Kau terlalu keras pada dirimu sendiri, makanya kau menderita," ucap Rai sambil berjongkok, kemudian menaikkan gadis itu ke punggungnya.


"Apa yang kau lakukan! Jangan macam-macam padaku," ketus Yuriko di tengah kesadarannya yang hampir habis. Gadis itu benar-benar mabuk berat, sehingga ia merasa tak berdaya dan hanya pasrah ketika Rai menggendongnya.


Rai mulai berjalan sambil menggendong Yuriko. Butiran-butiran putih seperti kapas mulai turun menerpa mereka.


"Berhentilah berteman dengan mereka! Lingkaran pertemanan seperti itu tak baik untukmu. Mereka hanya membawa pengaruh negatif di hidupmu," ucap Rai memberi nasihat. Uap yang keluar dari mulutnya, menjadi bukti betapa dinginnya malam itu.


Yuriko tertawa ringkih. "Apa kau pikir, kau sendiri tak pernah membawa pengaruh negatif pada orang lain? Seenaknya menilai teman-temanku!"


Rai terdiam sejenak. "Benar juga, ya? Aku juga bukan orang baik. Aku pernah mengajak temanku, adikku, kekasihku bahkan merekrut banyak orang untuk melakukan penipuan," kenangnya penuh sesal, "dulu kupikir, bahagia itu bisa melakukan hal-hal bebas dan berbuat semaunya. Nyatanya itu adalah awal kehancuranku."


Rai dapat merasakan gadis itu telah tak sadarkan diri dan terlelap di punggungnya. Meski begitu, ia masih terus berbicara.


"Jika kau takut karena tak akan ada yang mau berteman denganmu, aku bersedia menjadi temanmu. Mau jadi pacarmu juga kupikir lebih baik," ucapnya menyengir bodoh, tetapi sedetik kemudian malah terdiam.


"Jangan menyukai Shohei! Jangan jatuh cinta padanya! Aku pastikan kau akan patah hati! Dia milik orang lain dan akan segera bertunangan. Selain itu ...." Rai menjeda ucapannya, hanya untuk menghela napas. "Atau jika kau benar-benar tak tertarik padaku, pilihlah pria lain asalkan jangan Shohei! Aku tidak ingin bersaing dengan Shohei, meskipun aku tahu dia tak tertarik padamu. Aku tak ingin ada persaingan di antara kami," ucapnya di tengah salju yang turun semakin lebat.


Sejujurnya, ia tak mengerti mengapa melontarkan kata-kata itu. Mungkin karena beberapa saat lalu Shohei meneleponnya dan membicarakan tentang pencarian kondominium yang akan pria itu tinggali bersama tunangannya nanti. Padahal, ia telah menantikan momen patah hati gadis itu.


Tak terasa, mereka telah sampai di gedung apartemen. Berdiri di pintu kamar Yuriko, Rai berusaha merogoh tas bawaan gadis itu dengan sebelah tangannya.


"Hei, di mana kunci kamarmu?" tanya Rai sambil terus merogoh tas selempang Yuriko.


Yuriko tak menjawab. Rai mengulang kembali pertanyaannya, tetapi lagi-lagi gadis itu tak menjawab dan hanya mengeluarkan racauan kosong.


Rai mendengus kasar. "Hei, di mana kau taruh kunci kamarmu?" tanyanya untuk yang ketiga kali disertai sedikit menggoyangkan-goyangkan tubuh.


"Ada di tas," jawabnya malas dengan mata terpejam.


"Tidak ada!"


"Oh, ya? Kalau begitu mungkin tertinggal di apartemen temanku, hehe-hehe," balas Yuriko sambil menyengir dalam ketidaksadaran.


"Huft!" Rai meniupkan uap bibirnya ke atas hingga rambut depannya terkibas. Ia kembali merogoh tas gadis itu untuk memastikan sekali lagi. Tetap tidak ada. Bagaimana ini? Apa yang harus ia lakukan pada gadis mabuk itu?



Roda waktu terus berputar, hingga tak terasa pagi telah menyongsong. Kelopak mata Yuriko terbuka pelan. Hanya sedikit. Terasa berat sekali. Namun, suasana aneh yang tak biasa masuk samar-samar di netranya, seakan memaksa untuk bangun.


"Aaaaaaaaaaaaaaaa!" Yuriko berteriak kencang saat menoleh dan mendapati Rai tidur di sampingnya.


Sementara, Rai sedang terlelap seakan menerima serangan tiupan terompet beruntun. Baru saja bangun dan terduduk, ia justru mendapat hantaman bantal secara bertubi-tubi. Bermaksud menghindar, ia malah jatuh dari ranjang tidurnya.


"Apa yang kau lakukan padaku? Kenapa aku bisa ada di sini dan tidur denganmu, hah?" amuknya yang masih terus memukuli Rai dengan bantal.


"Salahkan dirimu yang mabuk dan ceroboh karena meninggalkan kunci kamar di rumah temanmu! Kau seharusnya berterima kasih padaku karena aku bersedia berbagi ranjang denganmu," ucap Rai yang terus berjalan mundur menghindari pukulan-pukulan kecil dari Yuriko.


"Jika kau berniat menolongku, seharusnya kau tidur di lantai!"


Yuriko melunak. Ia menjatuhkan bantal yang sedari tadi digunakan untuk menghantam Rai, lalu bergegas keluar dari apartemen pria itu dengan wajah yang kusut. Baru saja membuka pintu, matanya terbuka lebar tatkala melihat Shohei berdiri tepat di hadapannya. Pria itu memakai setelan jas kepolisian yang membuatnya lebih terlihat gagah.


"Ohayou gozaimasu!" sapa pria itu sambil sedikit menunduk.


"Ini ... ini tidak seperti yang kau pikirkan!" ucap Yuriko tiba-tiba dengan wajah panik.


"Eh?" Dahi Shohei sontak membentuk lipatan-lipatan halus. "Gomen, tapi aku sedang tak memikirkan apa pun," ucapnya dengan senyum yang kaku.


"Syukurlah! Aku hanya sekadar klarifikasi."


Baru saja Yuriko bernapas lega, tiba-tiba Rai merangkulnya sambil berkata, "Kenapa kau harus melakukan klarifikasi? Kau bukan artis!"


Yuriko segera menepis tangan Rai. Meski begitu, pandangannya tak lepas dari Shohei.


Shohei tertawa kecil. "Ternyata kalian sangat dekat, ya? Omong-omong, aku tadi singgah membeli okonomiyaki² sebelum ke kantor. Aku membeli dua bungkus, ambillah satu untuk sarapan kalian!" ucap Shohei memberikan sebungkus okonimiyaki panas.


"Arigatou gozaimasu." Rai tampak girang mengambil sebungkus okonomiyaki dari tangan Shohei.


"Kalau begitu, aku ke kantor dulu," ucap Shohei pamit. Jarak antara kantornya dan apartemen Rai tidak terlalu jauh, dan masih berada dalam satu distrik sehingga membuatnya sering datang mendadak.


Rai berbalik sambil mencium aroma okonomiyaki langsung dari kotak pembungkusnya. "Hei, ayo sarapan!" ajaknya.


Yuriko malah masih membatu di depan pintu. Senyum tipis terurai di bibirnya dengan sepasang bola mata yang berbinar cerah. Tampaknya, ia semakin mengagumi sosok polisi berwajah teduh itu.



Di gedung Departemen Kepolisian Metropolitan, Shohei mendatangi ruangan kepala Kepolisian Metropolitan. Ini terkait dugaan pelanggaran jam kerja karyawan dan upah minimum di perusahaan Hayase Grup. Ia memohon agar bisa melakukan investigasi terhadap perusahaan milik Menteri Sosial di masa sekarang itu. Mungkin lewat itu juga, ia bisa menguak kasus korupsi yang dilakukan pemilik grup yang juga menjabat sebagai Menteri Sosial.


Kepala kepolisian Metro tampak berpikir sebelum akhirnya berkata, "Begini Yamazaki-san, kita tidak bisa melakukannya!"


Shohei terhenyak. "Kenapa?"


"Karena tidak ada laporan dan juga bukti kuat tentang hal itu. Mengambil kesaksian dari calon tersangka kasus pencurian sangat tak masuk akal. Kita tidak bisa memercayai apa yang dikatakan para pelaku itu, bisa saja mereka hanya beralasan."


Benar, tidak ada bukti! Dan tidak ada laporan.


"Bagaimana kalau kita mengambil bukti dari slip gaji mereka?" ucap Shohei cepat.


Kepala Kepolisian Metropolitan menggeleng pelan. "Kenapa kita harus repot-repot mengusut kasus itu? Lagi pula mereka bukan warga negara Jepang. Lebihnya lagi, melarikan diri dari perusahaan dan tempat pelatihan kerja yang menampung mereka hanya untuk membentuk kelompok penjahat."


"Mohon maaf, tanpa membenarkan apa yang mereka lakukan, tetapi kejahatan apa pun yang dibiarkan akan melahirkan kejahatan baru yang mungkin lebih bringas. Anda sudah bisa lihat sendiri, orang-orang imigran itu menjadi pencuri akibat perlakuan yang tidak layak dari tempat mereka bekerja. Andaikan jam kerja mereka normal dan diberi upah yang sesuai, untuk apa mereka melakukan kejahatan?" ucap Shohei dengan geram.


Shohei keluar dari ruangan Kepala Kepolisian Metropolitan. Ia berjalan lurus dengan tatapan tajam bak mata elang. Nama Hayase Kento begitu melekat di otaknya saat ini. Pantas saja total kekayaan pria yang menjabat sebagai Menteri Sosial itu meningkat tajam, ditambah lagi ia menduga adanya pencucian uang yang Hayase Kento lakukan di negara lain. Namun, untuk membuktikan itu semua tidaklah mudah dan butuh waktu.


Terus berjalan, Shohei keluar dari gedung Kepolisian Metropolitan yang megah. Ia menatap langit musim dingin yang enggan memunculkan mentari.


Aku tak bisa membiarkan ketidakadilan yang kuketahui. Selagi mataku dapat melihat, telingaku bisa mendengar, otakku mampu berpikir, dan nuraniku masih ada, aku akan melawan mereka. Meskipun melalui seseorang yang menjadi bayanganku ....


.


.


.


catatan kaki 🦶🦶🦶




Tequila: minuman yang terbuat dari tanaman agave, dari kota Tequila, memiliki kadar alkohol 40%. (me)




Okonomiyaki: makanan Jepang dengan bahan tepung terigu yang diencerkan dengan air atau dashi, ditambah kol, telur ayam, makanan laut dan digoreng di atas penggorengan datar yang disebut teppan. (Wikipedia)