Never Not

Never Not
Ch. 29 : Perempuan di Kehidupan Mereka



Hari terus berlanjut, tetapi Shohei belum memiliki rencana untuk membuka kedok Hayase Kento. Sebab, pria yang menjabat sebagai menteri sosial itu tak memiliki celah untuk diketahui belangnya. Kejahatan yang ia lakukan terlalu rapi ditambah dengan kekuasaan yang dipegangnya.


Seperti yang pernah Mr. White katakan pada Black Shadow, target mereka ke depan semakin sulit dan membutuhkan taktik yang matang. Lagi pula, terlalu berbahaya jika Shohei melangkah terburu-buru untuk menguak kasus tersebut. Mungkin saja, salah satu dari orang kepolisian akan mencurigainya sebagai Black Shadow.


Sebaliknya, akhir-akhir ini Rai disibukkan dengan pencarian kondominium yang akan ditinggali Shohei bersama Seina. Ia telah mendapatkan satu unit kondominium di kawasan Ometesando. Ia memilihkan furnitur, dan merancang sendiri interior di salah satu interior ruangan. Shohei memercayakan semua itu padanya, bahkan sampai ke pembayaran hunian tersebut. Ia mendapatkan penawaran harga terbaik karena keahliannya yang pandai bernegosiasi.


"Ternyata selera Anda sangat berkelas, Tuan," puji desainer interior yang bertanggung jawab atas kondominium itu.


"Kapan kira-kira semuanya bisa rampung?"


"Karena Anda memilih furniture dan aksesoris yang diimpor dari Eropa, jadi mungkin memakan waktu sebulan."


"Dua Minggu! Aku minta dua Minggu semuanya harus selesai. Temanku akan bertunangan bulan depan. Jadi, dia perlu memastikan apakah kekasihnya menyukai desain interior pilihanku. Jika tak sesuai selera mereka, masih ada waktu untuk mengubah isinya, kan?" ucap Rai tegas dengan sudut bibir yang terangkat. Penampilannya kali ini bak seorang pengusaha muda. Ya, sudah cukup lama juga ia tak memakai setelan jas.


"Baik, Tuan. Akan kami usahakan."


Rai berjalan-jalan ke sekitar ruangan yang masih polos dan belum terisi apa pun. Tiba-tiba ruangan kosong itu seakan berubah menjadi rumah mewah yang pernah ia tinggali. Matanya berkeliling, menatap seisi perabotan-perabotan antik. Tak hanya itu, uang pecahan dollar berserakan di mana-mana. Kini, ia malah melihat wujud dirinya di masa lampau bersama adik, sahabat, dan kekasihnya.


Mereka berempat saling melempar uang dengan raut wajah bahagia yang terpancar di wajah masing-masing. Ia mengingat betul, adegan yang terekam di otaknya dan terlihat di matanya saat ini adalah waktu pertama kali mereka melakukan misi penipuan besar sehingga mampu membeli rumah mewah.


"Haru-chan, ayo kita menikah! Kurasa uang ini cukup untuk kita membangun keluarga selama sepuluh tahun mendatang," ajak Rai pada kekasihnya saat itu.


"Yo, kalau kau mengajak Haru menikah denganmu, lalu bagaimana denganku dan juga adikmu yang bodoh ini," protes sahabatnya yang bernama Yuta sambil merangkul Ryo.


"Kalian akan tetap tinggal bersama kami untuk mengurus keponakan kalian nanti," jawab Rai sambil tersenyum.


"Rai-kun, kau lupa, ya? Bukankah aku pernah bilang tidak mau menikah dengan siapapun?" Wanita yang bernama Haru itu meletakkan jari telunjuk di bibir Rai.


Rai mengambil lembut tangan Haru dari bibirnya. "Menikah tanpa memiliki anak juga tak masalah," tawarnya lagi seraya mendekatkan wajahnya ke arah kekasihnya yang berdarah Jepang-Inggris. Itu bukan kali pertama ia mengajak kekasihnya menikah, kemudian ditolak.


Haru menggeleng. "Jangan merusak prinsipku! Aku ingin hidup bebas dan tidak mau berkomitmen. Oleh karena itu, aku membebaskan kau bermain dengan wanita lain selagi kau tetap kembali padaku," ucapnya kembali sambil mengalungkan tangan di leher Rai.


Rai menutup ingatan masa lalunya. Hanya mengingat sekilas, sudah membuat hatinya perih. Bisa dikatakan, kehidupan yang dijalaninya hingga kini masih terbawa dengan prinsip masa lalunya. Pandangannya tentang sebuah hubungan yang tak membutuhkan komitmen juga dipengaruhi oleh Haru—satu-satunya wanita yang paling lama berada di sisinya. Itulah sebabnya, ia tak tahu arti sebuah hubungan yang serius.


Sebenarnya Rai tipe pria yang tak mudah berpindah perasaan. Meskipun bebas bergonta-ganti pasangan tidur dan digilai banyak wanita, ia tetap setia di sisi Haru dan menjadikan wanita itu satu-satunya yang mengisi hatinya. Bahkan, ia selalu memenuhi permintaan kekasihnya itu. Sayangnya, balasan yang ia dapatkan dari wanita itu adalah sebuah pengkhianatan dan juga jebakan yang membuatnya di penjara.


Rai memutuskan keluar dari kondominium yang akan ditinggali Shohei nanti. Ia menekan tombol kontak di ponselnya untuk menghubungi Shohei.


"Aku sudah mendapatkan hunian yang cocok untukmu. Kau bisa datang melihatnya langsung. Nanti kukirim alamatnya."


"Tunggu, di mana kau sekarang?" tanya Shohei.


"Aku sedang menuju ke apartemenku."


"Ah, kebetulan aku baru pulang kantor. Baiklah, kita bertemu di apartemenmu saja."


Shohei menutup telepon lalu mengendarai mobilnya menuju tempat tinggal Rai. Ia mengulas segaris senyum tipis begitu menerima beberapa potret kondominium miliknya yang baru saja Rai kirim lewat aplikasi Line.


"Selain rumah, kira-kira apalagi yang dibutuhkan Seina?" gumamnya sambil berpikir.


Berbeda dari Rai, Shohei tak memiliki kehidupan yang pelik meskipun profesi yang ia jalani terkadang membawanya dalam bahaya. Kisah percintaannya yang bisa dikenang pun tidak ada. Ia hanya pernah berpacaran dengan adik dari salah satu seniornya di kepolisian. Sayangnya, hubungan itu tak menyentuh satu bulan. Kandas begitu saja. Namun, bukan berarti ia tak merasakan patah hati. Apalagi gadis yang menjadi kekasihnya kala itu, memutuskan dirinya untuk menjalin hubungan dengan pria lain. Mirisnya, pria itu adalah kakak kelas dan saingannya dalam kejuaraan Olimpiade Fisika.


Sekitar tiga puluh menit kemudian, Rai tiba di apartemennya. Baru saja keluar dari lift, pandangannya tertuju pada Yuriko yang sedang mengobrol dengan pria si pemilik kamar di sebelah kamarnya.


"Kudengar kau menjadi pemandu wisatawan asing. Pasti kau sangat jago bahasa Inggris, 'kan? Bisakah kau membantuku menerjemahkan bimbel ini? Aku tidak sanggup memakai jasa penerjemah. Menggunakan mesin terjemahan pun artinya berantakan dan semakin membuatku bingung," pinta Yuriko memelas seraya menyodorkan sebuah bimbel salah satu mata kuliahnya.


Pria yang sedang ia bicarakan itu menunjukkan wajah keberatan. "Gomennasai, aku sangat sibuk. Lagi pula, bahasa Inggris yang aku kuasai hanya tentang keseharian. Sementara punyamu ini bahasa Inggris akademik dan ilmiah. Aku harus pergi sekarang, permisi," ucap pria itu yang kemudian pamit meninggalkannya.


Yuriko mendengus kasar. Tiba-tiba ia terkejut saat seseorang merebut bimbel dari tangannya. Menoleh cepat ke sisi kanan, wajah Rai yang memunculkan senyum samping menyapa pandangannya. Pria itu sibuk membuka lembaran demi lembaran bimbel tersebut.


"Apa yang kau lakukan!" Yuriko berusaha merebut kembali bimbelnya. Sialnya, Rai justru mengangkat bimbel itu tinggi-tinggi.


"Biar aku!" ucap pria itu.


"Hah?" Yuriko mengernyit tak paham seraya melompat-lompat kecil berusaha mengambil kembali bimbelnya.


"Kau butuh orang yang bisa menerjemahkan ini, kan?"


"Memangnya kau bisa?" tanyanya melempar senyum remeh.


"Aku ini ahli bahasa. Aku menguasai beberapa bahasa, apalagi bahasa Inggris, itu makananku sehari-hari." Rai bersedekap seraya menaikkan dagu. Ia mulai menunjukkan kesombongannya.


"Maaf, aku tidak punya waktu untuk mendengar ocehanmu itu." Yuriko melengos.


"Jadi, kau tak percaya? Baik, kuterjemahkan sekarang." Rai membuka kembali bimbel tersebut karena ingin membuktikan ucapannya.


"Itu benar! Rai memiliki keahlian sebagai penerjemah beberapa bahasa. Dia sering membantuku."


Rai dan Yuriko kompak menoleh ke depan begitu mendengar seseorang menyambung percakapan mereka. Rupanya itu adalah Shohei yang baru saja tiba.


"Pak Polisi ...." Mata Yuriko sontak membesar melihat Shohei datang tiba-tiba.


Sementara, Rai bergegas merangkul Shohei sambil berkata. "Kau dengar sendiri apa katanya, 'kan?"


Berkat Shohei, Yuriko sedikit memercayai apa yang dikatakan Rai. Gadis itu langsung berkata, "Apakah kalian mau minum teh di kamarku?"


Tawaran Yuriko tentu saja langsung diterima Rai, sedangkan Shohei hanya bisa mengikuti. Begitu masuk di kamar gadis itu, mereka duduk bersila di meja sambil membicarakan kondominium yang telah dibeli. Sementara, Yuriko tampak sibuk membuat sajian teh.


"Kira-kira dua Minggu lagi kau bisa menempati apartemenmu," ucap Rai.


"Oh, iya, sepertinya aku membutuhkan pelayan yang bisa membersihkan apartemen itu setiap hari. Apa kau punya rekomendasi?" tanya Shohei.


Mendengar hal itu, Yuriko berjalan cepat ke arah mereka sambil berkata dengan penuh semangat, "Biar aku saja! Kebetulan aku butuh tambahan pekerjaan."


Sontak, mata Rai terbelalak seketika. Menjadi pelayan, artinya Yuriko dan Shohei akan sering bertemu bahkan bersama di apartemen itu. Apalagi, Shohei memutuskan tinggal lebih dulu sebelum calon tunangannya ikut tinggal di sana.


.


.


.