Never Not

Never Not
Ch. 71 : Masih Tanda Tanya



Pukul sepuluh malam waktu Tokyo, Rio memutuskan pulang ke apartemennya setelah berpamitan dengan Rai. Ia berjalan tergesa-gesa untuk mengejar kereta terakhir. Sialnya, ia malah menabrak Yuriko yang tengah membawa setumpuk kardus di lantai dasar apartemen. Tak ayal, barang bawaan Yuriko jatuh ke lantai.


"Gomennasai." Ryo berkata sambil buru-buru mengambil bawaan Yuriko yang terjatuh.


"Oi, kau ini jalan pakai mata, tidak?!" gerutu Yuriko kesal.


"Jalan ya pakai kaki, masa pakai mata!" jawab Ryo menyerahkan kardus bawaan Yuriko tadi.


"Kau sama menyebalkan dengan kakakmu! Maksudku, selain gunakan kakimu untuk melangkah, gunakan juga matamu untuk melihat keadaan sekitar." Lagi-lagi Yuriko menggerutu.


"Aku kan sudah minta maaf. Aku terburu-buru mengejar kereta terakhir." Ryo membungkuk, kemudian memutuskan pergi. Baru saja berjalan beberapa langkah, ia kembali mengejar Yuriko yang telah memasuki lift. "Ano ... karena kau bersebelahan dengan kamar kakakku, apa aku boleh minta tolong padamu?" tanyanya sambil menahan pintu lift agar tak tertutup.


Sempat berwajah masam, Yuriko balik bertanya, "Apa itu?"


"Tolong jaga kakakku!"


"Apa ini? Kau pikir aku tempat penitipan anak? Lagi pula, dia bukan anak kecil lagi yang perlu dijaga," ujar Yuriko sambil melengos.


"Tetangga adalah keluarga yang paling terdekat. Jika kau memiliki teman wanita, tolong kenalkan dia pada kakakku!"


Pada saat itu juga, pupil mata Yuriko membesar. Sedikit terkejut dengan permintaan Ryo yang cukup konyol.


"Kenapa tidak menyuruhnya cari sendiri? Sekarang ini banyak aplikasi kencan buta yang bisa mempertemukan pria dan wanita. Kalau cocok, mereka bisa lanjut di dunia nyata dan menikah."


"Aplikasi semacam itu berisi kumpulan wanita-wanita yang melihat lelaki dari pekerjaan dan gaji mereka. Itu sangat tidak cocok dengan keadaan Oniichan sekarang."


"Tapi tidak semua wanita seperti itu, kan?"


Ryo membulatkan matanya sambil menciptakan senyum yang lebar. "Apakah kau bukan golongan wanita yang mengincar pria kaya?"


"Tentu saja tidak! Urusan gaji atau penghasilan pasanganku kelak, aku tidak memberi patokan yang tinggi."


"Woah, aku sangat salut padamu! Jarang ada wanita yang tidak memedulikan penghasilan tinggi seorang pria," ucap Ryo dengan mata berbinar-binar layaknya sedang jatuh cinta.


Ah, dia benar-benar cocok untuk Oniichan. Kalau seperti ini aku jadi semangat menjodohkan mereka!


Sambil tersenyum manis, Yuriko kembali berkata, "Ya, benar. Bagiku seorang pria hanya perlu memiliki penghasilan yang cukup. Cukup untuk beli rumah mewah, cukup untuk beli mobil, cukup untuk memberiku uang belanja dan perawatan wajah mingguan."


Detik itu juga, senyum yang menggantung di wajah Ryo raib seketika, berganti dengan ekspresi masam.


"Kau benar-benar membuang tiga menit berhargaku untuk mendengar ocehanmu!" ketus Ryo sambil berlalu pergi.


"Hati-hati di jalan, ya! Jangan lupa gunakan matamu biar tidak menabrak orang lagi!" sahut Yuriko sambil melongok dari pintu lift.


Begitu sampai di lantai tempat kamar huniannya, langkah Yuriko terhenti ketika mendengar ponselnya berdering. Ia terpaksa harus meletakkan barang-barang bawaannya di depan pintu untuk mengambil ponsel dalam saku. Saat melihat nama pemanggil, ia hanya bisa mendengus.


"Maaf, nomor telepon ini tidak dapat dihubungi," ucap Yuriko menirukan suara operator.


"Kalau begitu aku akan menemui orangnya langsung," balas si penelepon.


Sedetik kemudian, pintu di samping kamarnya terbuka. Rai menyandarkan punggungnya di tiang pintu seraya bersedekap.


"Kau kembali keluar hanya untuk berbelanja?" tanya Rai yang melihat barang bawaan Yuriko.


"Tidak. Ada penghuni lantai satu yang ingin pindah, jadi dia menjual murah beberapa peralatan masaknya padaku."


Rai membantu Yuriko membawa barang-barang tersebut. Ia juga mengecek isinya satu per satu.


"Kau seperti hendak berumah tangga saja."


"Cepat atau lambat aku memang akan berumah tangga, kan? Akan ada saatnya aku berperan sebagai ibu rumah tangga, memasak makanan istimewa sambil menunggunya pulang kerja. Ah ... bahagianya!" Yuriko menatap langit-langit ruangan dengan mata yang berbinar cerah. Wajah Shohei turut terlintas dalam angannya.


Rai terdiam seketika. Lontaran kata-kata yang Yuriko ucapkan persis dengan yang diucapkan seorang wanita di masa lalunya. Wanita yang pernah berharap dinikahi olehnya agar bisa memiliki sebuah keluarga.


"Tapi, semua itu tak bisa terwujud jika aku memiliki pasangan hidup yang miskin. Alih-alih bersantai di rumah sambil menunggunya pulang kerja, aku harus ikut banting tulang untuk membantu perekonomian rumah tangga. Untuk itu seorang wanita harus pandai-pandai mencari pasangan yang bisa mewujudkan angan-angannya, bukan?" ucap Yuriko menggebu-gebu.


"Berkhayal dinikahi pria kaya demi kesejahteraan hidup adalah sebuah bentuk keputusasaan seorang wanita yang tidak memiliki kelebihan apa pun," ucapnya bernada sarkastik.


"Apa kau bilang? Apa kau menyindirku?" Suara Yuriko mendadak terdengar suram.


"Jika kau menginginkan pria berspesifikasi tinggi, setidaknya kau juga perlu meningkatkan kualitas dirimu," pungkas Rai yang langsung keluar dari kamar Yuriko.


Yuriko menatap pintu yang baru saja tertutup sambil tersenyum miris sembari bergumam, "Kalau memilih pria yang biasa-biasa saja, hidupku akan begini terus. Ibuku tetap menjadi seorang nelayan, sementara ayahku akan menghabiskan sisa hidupnya di kursi roda. Lagi pula, aku benar-benar menyukai polisi itu ...."


Yuriko menatap buket bunga camelia yang pernah diberikan Shohei padanya di awal pertemuan mereka.


Bersandar di pintu kamar Yuriko, Rai menghela napasnya perlahan.


Kenapa aku malah marah padanya? Apa karena aku merasa terpojok? Atau ... karena aku bukan pria yang masuk dalam kategorinya?



Hari begitu cepat berganti. Tepat di jam istirahat kantor, Shohei menemui Kei di kafe biasa di mana pojok ruangannya menjadi tempat andalan mereka. Ya, pertemuan mereka kali ini tentu saja berkaitan dengan penolakan tuan Matsumoto yang diminta menjadi narasumber di program acara Kei.


"Bagaimana perkembangannya?" tanya Shohei seraya melihat deretan menu kafe.


"Sebelum acara makan malam itu, paman tiba-tiba menjadi tertutup dan enggan membicarakan politik padaku. Itulah kenapa aku sengaja memintanya memperkenalkan kau padaku di acara makan malam, setidaknya aku memiliki alasan mengundangnya di program siaranku."


"Tapi rencanamu digagalkan Seina yang tidak menyukai obrolan politik," imbuh Shohei dengan tenang.


Kei mendengus seraya membuang wajah. "Hah ... tahu begini seharusnya anak itu tak perlu ikut!"


"Dia kekasihku. Aku senang bisa bertemu dengannya di sela kesibukan. Tapi, dari pertemuan semalam setidaknya aku mendapat petunjuk walau hanya sedikit." Mata Shohei mengerjap tajam seketika.


"Apa itu?"


"Apa kau masih ingat saat pamanmu membenarkan ucapannya tentang personal branding yang dimiliki politikus? Dia mengatakan ada yang dicitrakan sebagai figur yang baik, sederhana, dan merakyat. Ada juga yang dicitrakan tegas, jujur, dan berani," ucap Shohei mengulang ucapan tuan Matsumoto semalam, "dari kalimat itu, dia seperti sedang menyinggung politikus yang terkenal dengan citra seperti itu di depan publik."


"Lalu siapa pejabat yang disinggung paman? Rasanya ada banyak pejabat dan politikus yang seperti itu," pikir Kei sambil menyesap kopi dengan perlahan.


"Itulah kenapa kita harus menggali informasi lebih dalam pada pamanmu!" sambung Shohei dengan raut serius yang membingkai wajahnya.


Kei melirik Shohei. "Lalu, kapan Black Shadow akan melakukan misi berikutnya? Kau memintaku mencari tahu target ke sepuluh, sementara ada delapan pejabat yang telah disergap Black Shadow. Artinya, sebelum mengusut target kesepuluh, kalian masih harus berhadapan dengan target kesembilan, 'kan?"


Shohei bergeming, hanya menunjukkan tarikan kecil di sudut bibirnya.


Kei tampak semakin antusias. "Bisakah kau berikan aku bocoran siapa pejabat yang akan menjadi targetnya?"


Shohei masih menunjukkan senyum kecilnya. Ia menopang dagu sambil berkata, "Kerja sama kita hanya untuk mengetahui target kesepuluh."


Kei bersandar seketika dengan kepala yang menengadah. "Kau benar-benar sangat berhati-hati!"


Shohei memicingkan matanya. Pikirannya saat ini seakan tertutupi kabut tebal.


Tuan Matsumoto menyebut dua sosok sekaligus. Pertama, sosok yang mencitrakan dirinya baik, sederhana dan merakyat, yang mana itu adalah karakter dari target kesembilan. Artinya ... target kesepuluh adalah sosok yang mencitrakan dirinya sebagai pejabat yang tegas, jujur, dan berani.


Bayangan beberapa sosok pria berjas yang memiliki jabatan besar seakan melingkupi pikirannya saat ini.


Lalu, siapakah pejabat dengan sosok seperti itu? Apakah deretan jenderal tertinggi di negara ini? Apakah perdana menteri? Atau ... mungkinkah dia membicarakan dirinya sendiri?


.


.


.


jempol nancep jangan lupa, Komeng juga biar semangat Bray