
Satu jam sebelumnya, pasukan rahasia yang dibentuk Kazuya Toda membawa Yuta setelah Rai memberitahu lokasi pertemuan mereka. Sesampainya di sana, salah seorang dari mereka menyerahkan pistol padanya sebelum melepaskannya.
"Kau tahu apa yang harus kau lakukan, kan?"
Yuta mengangguk tanpa bersuara. Mereka juga memasangkan rantai GPS di kakinya agar ia tak bisa melarikan diri.
"Kami akan mengawasimu!"
"Ba—bagaimana jika dia bukan Black Shadow yang kalian maksud? Te–temanku tidak sehebat itu, dia ... tidak pernah tertarik dengan politik dan juga tidak menguasai bela diri." Yuta berkata terbata-bata dengan suara gemetar yang terdengar jelas.
"Tetap lakukan sesuai perintah!" teriak pria yang berada di kursi pengemudi. Ya, mereka tak mau tahu apakah orang yang bekerja sama dengan Yuta adalah Black Shadow atau bukan. Bagi mereka, siapapun yang telah membobol safe room, pasti telah bekerja sama dengan Black Shadow atau menjadi kaki tangannya.
Yuta mengambil pistol itu dan menyimpannya di balik jaket setelah turun dari mobil. Selama tujuh tahun bergelung di dunia penipuan, dia telah menghadapi berbagai macam target. Mulai dari orang biasa, pengusaha gelap, Yakuza, hingga mafia dari berbagai negara Asia. Namun, mereka semua tak seberbahaya ini. Padahal tadinya ia berpikir menipu pejabat akan sangat mudah untuk meloloskan diri begitu memegang kartu AS-nya. Namun, ternyata ia benar-benar salah memilih target!
Kini, ia dan Rai saling berhadapan. Pria itu menatap kaku ke arahnya. Sementara dirinya balik melempar tatapan dingin seraya mengacungkan pistol dengan jari telunjuk yang berada tepat di pelatuk.
Bukannya kaget dengan apa yang Yuta lakukan, Rai malah mengantongi kedua tangannya dengan santai sambil tersenyum miring. Melihat wajah Yuta yang dipenuhi lebam, ia sudah bisa menduga apa yang terjadi padanya.
"Sudah kuduga! Kau pasti sangat putus asa sampai melakukan ini! Kalau tahu begini, seharusnya aku memakai baju anti peluru." Rai mendongak sebentar, lalu mengembuskan napas dalam-dalam. "Aku tidak meniduri kekasihmu. Kami hanya menghabiskan malam itu dengan bercerita. Tadinya, aku ingin memanfaatkannya untuk mencuri informasi safe room darimu. Tapi aku tidak bisa," ucapnya sambil membasahi bibirnya.
"Jadi ... kau benar-benar Black Shadow?" tanya Yuta tak menyangka, tetapi juga tidak kaget.
Rai kembali menghela napas seraya membuang pandangan. "Ne, Yuta! Sebaiknya kau turunkan pistol itu! Kau sangat tidak cocok memegangnya. Tanganmu sampai gemetaran seperti itu," cemoohnya.
"Berisik!" teriak Yuta dengan suara bergelombang, "akan kuhitung sampai tiga!"
Rai tertawa sinis. "Ne, Yuta-chan, aku mengenalmu lebih dari sepuluh tahun dan kita hidup bersama selama tujuh tahun. Kita adalah orang-orang yang terbuang. Kita memulai segalanya bersama, berjuang dan menikmati hasil bersama. Bahkan sebelum Ryo, Haru dan lainnya ikut bergabung. Kita hanya berpisah setahun terakhir ini. Selama itu pula, aku tidak pernah membencimu. Tidak sekalipun!"
"Berhentilah bicara!" teriak Yuta sambil menahan air mata. Ucapan Rai seakan memaksanya untuk mengenang kembali kebersamaan mereka. Kebersamaan yang juga ia rindukan.
Kedua orang itu mendadak terperangkap dalam keheningan. Hanya ada dua pasang mata yang saling memandang dalam lara.
Yuta memejamkan matanya dalam-dalam. "Larilah ...." Suara pria itu terdengar serak dan lemah.
Rai bergeming dan tak bergeser sedikit pun.
"Aku bilang larilah jika kau tidak ingin mati di tanganku!" teriaknya dengan penuh emosional sambil menurunkan pistol.
"Kenapa kita tak lari bersama? Bukankah itu lebih baik," ucap Rai pelan sambil mengulurkan tangannya ke depan.
Sayangnya, tak sampai semenit setelah Rai mengatakan itu, sebuah peluru dari jarak dua ratus meter melesat tepat ke jantung sahabatnya itu. Darah segar pun langsung tercetak di jaketnya. Semua itu sangat tiba-tiba. Yuta memegang dadanya yang menyembulkan darah, lalu jatuh terantuk seketika.
Melihat Yuta yang baru saja tertembak tepat di hadapannya, membuat sepasang mata Rai melebar diikuti wajah yang mengetat, kaku dan kaget di waktu bersamaan.
"Yuta!" teriak Rai sambil berlari ke arahnya.
"Rai, cepat lari dari sini!" teriak Yuta.
Penembak jitu menghantam kepala pria bermasker dengan senjata miliknya. Sayangnya, senjatanya malah terlempar dan setiap serangannya begitu mudah ditangkis pria bermasker. Malahan, pria itu balik menyerangnya dengan kuncian memutar kepala ke sisi bahunya. Teknik mematikan dari beladiri judo ini, membuat si penembak jitu itu tak bisa melawan hingga pingsan.
Pria bermasker itu ternyata adalah Kei yang sebenarnya datang bersama Rai. Ia menunggu di mobil, ketika Rai dan Yuta bertemu. Saat terdengar suara tembakan, matanya berpendar cepat ke seluruh gedung yang ada di sekitar situ. Benar saja, tak jauh dari tempatnya berpijak, ada penembak jitu yang bersembunyi dan tengah fokus dengan bidikan kedua. Ia pun segera ke sana dan melumpuhkan sang penembak jitu seperti yang terlihat saat ini.
Rai menghampiri Yuta yang telah bersimbah darah. "Apa kau bisa bertahan? Aku akan membawamu ke rumah sakit sekarang!" ucapnya panik seraya hendak menaikkan Yuta ke punggungnya. Namun, pria itu malah menahan tangannya.
"Rai, pergilah! Cepat lari ... sebelum ... mereka menghabisimu!"
Rai menggeleng. "Sudah kubilang aku akan mengajakmu lari bersama. Naiklah ke punggungku!"
Yuta mendesiskan kalimat dengan susah payah. "Aku tidak tahu ... apakah ini berguna bagimu. Aku ... menyimpan sebuah file yang berhasil kulacak saat bekerja sama dengan orang yang memintaku meretas siaran Black Shadow. Dari file itulah aku mengetahui harta pejabat yang tersimpan di safe room. File itu masih ada di laptopku. Kode password-nya masih sama seperti dulu. Datanglah ke bar dan bawa laptop itu."
"Ini bukan saatnya untuk memikirkan yang lain! Kita harus segera mengeluarkan pelurunya. Aku akan membawamu ...." Ucapan Rai tak berlanjut saat tangan Yuta yang tengah menahan pergelangan tangannya terlepas begitu saja diikuti tubuh yang terbujur kaku di lantai semen yang dingin.
"Yuta!" Bola mata Rai membulat tak percaya. "Yuta-kun! Yutaaaaaaaa," panggilnya serak dan terdengar lirih.
Raungan memilukan mengisi tempat itu. Rai mengguncang tubuh tak bernyawa itu seolah hendak menyadarkannya. Tiba-tiba, beberapa butir peluru keluar dari saku jaket yang dipakai Yuta. Rai bergeming sesaat sambil mengambil satu peluru yang baru saja jatuh. Ia bergegas mengambil pistol yang dibawa Yuta, lalu membuka magasinnya. Kosong. Artinya, pistol yang Yuta arahkan padanya beberapa saat lalu, tak berpeluru alias telah dikosongkan.
Ternyata, sebelum mengacungkan pistol itu ke arah Rai, ia telah lebih dulu mengeluarkan pelurunya. Meski pernah mengkhianati sahabatnya itu, nyatanya ia tak sampai hati untuk membunuhnya. Sayangnya, aksi diam-diam mengeluarkan peluru dari pistol tersebut, rupanya terlihat oleh anak buah Kazuya Toda yang memantau mereka dari jauh. Akibatnya, peluru panas lebih dulu dimuntahkan ke arahnya. Meski sebenarnya, ia pasti juga akan tetap dibunuh apabila telah membunuh Rai.
Rai langsung teringat gerakan tangan Yuta saat tengah mengarahkan pistol itu. Pria itu seolah hendak mengirim sinyal bahaya. Sebenarnya, saat menelepon Rai, Yuta benar-benar meminta tolong padanya agar mau menemuinya. Bukan untuk menjebaknya, melainkan agar Rai bisa membantunya melarikan diri dari orang-orang Kazuya Toda. Trik kabur seperti itu, pernah mereka lakukan saat menipu ketua geng Triad di Hongkong. Sayangnya, Rai terlambat menyadari itu.
"Yuta, bangun! Jangan menipuku dengan berpura-pura mati! Kita telah banyak kali dihadapkan dengan kematian. Tidak mungkin kau mati semudah ini," pekiknya dengan mata yang telah berenang dengan airmata.
Tak lama kemudian, sebuah mobil berhenti tak jauh darinya. Kaca pintu pengemudi terbuka, memperlihatkan Kei yang datang memanggil Rai.
"Rai, ayo cepat pergi! Mereka sedang menuju ke sini!" teriak Kei sedikit panik.
Rai tampak tak acuh dengan perintah Kei. Dia terus menggoyang-goyangkan tubuh sahabatnya itu, berusaha membuatnya terbangun kembali.
"Rai, ayo!"
Rai masih mengabaikannya. Kei memaklumi kesedihan pria itu dan hanya bisa menghela napas dalam diam. Namun sedetik kemudian, matanya melebar saat melihat mobil dari divisi khusus menuju ke arah mereka.
.
.
.
RIP Yuta pemeran yg sering kalian sumpahi 🤪