Never Not

Never Not
Ch. 144 : Apa isi flashdisk?



..."Topeng juga merupakan alat berkendaraan politik yang sangat mujarab. Dengan memakai topeng, para politikus mampu sampai ke kursi jabatan yang ia inginkan. Mereka tahu pasti, masyarakat mudah dibodohi dengan aksi-aksi sosial yang terlihat nyata dan terus menggunakan itu untuk menipu rakyat."...


...~Black Shadow. Ch: Topeng~...


...----------------...


Tak terasa, langit mulai menghitam. Rai dan Kei telah kembali ke tempat persembunyian mereka. Yuriko dan Ryo menyambut dengan penuh rasa syukur karena keduanya tampak baik-baik saja.


"Maaf, aku tidak bisa menepati janjiku untuk pulang lebih cepat," ucap Rai dengan mata sendu.


Yuriko menggeleng. "Tidak apa-apa. Kalian kembali dalam keadaan baik-baik saja sudah lebih dari cukup."


"Lalu, bagaimana dengan Yuta? Apa dia bersembunyi di tempat yang Oniichan sarankan?" tanya Ryo dengan ekspresi ceria.


Rai tak menjawab. Ia malah menenggelamkan wajahnya dalam kesedihan yang tersemat jelas.


"Dia tidak selamat." Kei berkata dengan nada pelan.


Seketika, senyum yang membingkai di bibir Ryo raib. "Apa maksudmu Yuta-kun ... meninggal?"


Kei mengangguk kecil.


"Ti–tidak mungkin!" Kata-kata itu tak mampu Ryo lontarkan dengan jelas.


Masih bergeming, Rai malah menyeret pelan langkahnya seraya memeluk erat laptop yang ditinggalkan Yuta. Ia masuk ke kamar dan membanting tubuhnya ke atas ranjang dan berbaring dalam posisi miring. Laptop itu ia letakkan begitu saja di atas meja. Kesedihan bercampur traumatis masih mengakar dalam dirinya. Selama menjadi Black Shadow, ini kedua kalinya ia melihat kematian dengan mata telanjang.


Yuriko masuk ke kamar, menatap Rai yang terbaring lemah tak berdaya. Ia berjalan pelan ke sisi ranjang, kemudian menarik selimut untuk membungkus tubuh Rai. Tak ada suara yang keluar dari dari mulut perempuan itu karena ia cukup mengerti yang dibutuhkan Rai saat ini adalah menenangkan dirinya sendiri.


Suasana rumah itu mendadak hening dan senyap. Makan malam yang telah disiapkan Yuriko dan Ryo pun tak tersentuh. Masing-masing dari mereka hanya termenung tanpa pergerakan apa pun.


Di waktu yang sama, pasukan bentukan Kazuya Toda menghentikan mobil mereka tak jauh dari sebuah rumah kayu yang letaknya cukup terpencil dari keramaian. Mobil rampasan yang digunakan Rai dan Kei terparkir di rumah itu saat ini. Rupanya, mobil itu dilengkapi fitur GPS sehingga mereka dengan mudah melacak arah tujuan kedua pria itu.


Salah satu dari mereka lantas mengambil ponsel dan menelepon. "Kami sudah berada di depan markas mereka. Sepertinya mereka sedang berada di dalam," ucapnya seraya memantau keadaan rumah kayu yang di dalamnya terdapat cahaya lampu.


"Tangkap mereka dan jangan sampai ada yang lolos! Kalau perlu langsung tembak saja." Suara suram dengan nada memerintah itu terdengar.


"Baik."


Pasukan khusus itu pun mulai bergerak. Mereka menyusup masuk ke halaman rumah kayu dan berpencar di setiap sisi bangunan sehingga membuat rumah itu telah terkepung. Beberapa dari mereka telah siaga di pintu dan jendela dengan pistol yang ada di tangan masing-masing. Bahkan ada penembak jitu bersembunyi dan mencari celah untuk membidik mereka dari jauh. Rumah itu sangat sepi, seolah tak ada pergerakan manusia di dalam sana.


Merasa penyusupan aman dan tak terendus, mereka pun kompak masuk sambil mengarahkan pistol ke depan. Pasukan berseragam hitam itu malah terperangah ketika mendapati tak ada siapapun yang berada di sana. Mereka kemudian membongkar berkas-berkas yang tergeletak di atas meja, berharap bisa mencari setitik bukti. Sayangnya, isi berkas itu hanyalah sebuah dokumen lama yang menandakan rumah tersebut pernah dijadikan yayasan.


"Kita terkecoh! Mereka menipu kita!" pekik ketua pasukan dengan geram.


Ya, Rai dan Kei memang memakai mobil mereka untuk memasuki Tokyo. Namun, pada saat menuju lokasi bar, mereka memilih menggunakan transportasi umum dan meninggalkan mobil itu di perbatasan Tokyo, tepatnya di sebuah rumah tua yang pasukan itu datangi saat ini.



Masih duduk di meja kerjanya, mata Shohei melebar karena tak menyangka file rahasia itu kini terbuka. Isi dari file itu adalah sebuah video berdurasi kurang dari sepuluh menit dan juga rekaman audio. Dengan tangan yang gemetar, Shohei mulai menggerakkan kursor dan memilih untuk melihat video terlebih dahulu.


Pria berprofesi penyidik itu tak lepas memandang layar laptopnya. Matanya berkaca-kaca dan napasnya seakan tercekat mendengarkan apa yang disampaikan ayah Seina. Tampaknya, video itu direkam sendiri oleh mendiang Matsumoto di ruang kantornya. Sederet kalimat yang disampaikan menteri kehakiman lantas mengingatkannya pada ucapan Seto sebelum ia memutuskan melompat dari atas gedung.


"Aku tidak membunuh menteri kehakiman!"


"Sudah kubilang bukan aku yang membunuh menteri kehakiman!"


Shohei lalu terburu-buru mengambil ponselnya dan segera menghubungi Rai.


Rai dan lainnya kini berkumpul di meja makan untuk menikmati hidangan yang telah mendingin. Ia yang tak berselera makan, tiba-tiba tersentak menerima panggilan telepon dari Shohei.


"Ini Shohei," ucapnya pada Kei, Ryo, dan Yuriko. Ia menjawab telepon itu dan sengaja memakai pengeras suara agar mereka bisa mendengarnya juga.


Rai melihat ranselnya, kemudian memundurkan ingatannya sejenak. Ia tentu paham pisau yang dimaksud Shohei adalah pisau yang dilempar Black Shadow tiruan ke arahnya sebagai jebakan untuk menggiringnya menjadi pelaku pembunuhan menteri kehakiman.


"Ya, aku menyimpannya."


"Apa kau pernah menyentuh langsung pisau itu?"


"Hanya saat malam kejadian, itu pun aku memakai sarung tangan."


"Bagus! Kita akan melakukan pengecekan sidik jari untuk memastikan misteri kematian ayah Seina."


"Apa?! Tapi, bukankah pelaku seharusnya memakai sarung tangan juga?! Karena seingatku Black Shadow tiruan juga memakai sarung tangan."


"Setahuku kita tidak bisa mengidentifikasi sidik jari yang menempel di benda lewat dari enam jam." Kei ikut menyambung.


"Benar. Kita tidak akan mengidentifikasi. Kita hanya akan mengecek posisi sidik jari di gagang pisau tersebut. Benda-benda berbahan stainless steel akan menyimpan jejak sidik jari lebih lama," jelas Shohei sambil merapatkan tangkai kacamatanya.


"Lalu bagaimana cara mengeceknya?"


"Aku akan memandu kalian. Kita butuh lem super sianoakrilat. Panaskan lem itu lalu dekatkan pada pisau. Uap dari sianoakrilat akan bercampur dengan kelembapan dan memunculkan sidik jari yang tak kasatmata."


"Kurasa aku punya lem dengan kandungan itu." Kei langsung mengobok-obok alat perkakasnya lalu menemukan lem yang dimaksud.


Sementara Rai mengambil pisau yang ia simpan dalam ranselnya dan dibungkus dengan tisu tebal. Darah kering yang masih menempel pada pisau membuatnya teringat pada kejadian naas itu.


Mereka langsung melakukan apa yang diinstruksikan Shohei. Tak lama kemudian, pisau itu memunculkan jejak sidik jari yang mulai pudar.


"Kami mendapatkannya!" seru Rai.


"Bagaimana posisi sidik jari itu?" tanya Shohei cepat.


Rai mengernyit dan sedikit tak paham. Sementara Kei yang sudah terbiasa menulis kasus-kasus besar pembunuhan, langsung bisa membaca apa yang terjadi. Wajah pria itu menggelap.


"Ce—cengkaramannya terbalik!" ucap Kei terbata-bata, "sidik jari dengan cengkraman terbalik terlihat di pisau itu," ucapnya dengan mata berkaca-kaca.


"Artinya?" tanya Ryo.


"Paman ... bunuh diri!" jawab Kei lemah dengan mimik wajah tak percaya.


"Benar! Matsumoto-san sendiri yang memegang pisau itu lalu menancapkan ke dadanya." sambung Shohei dengan mata yang terpaku pada video unggahan Matsumoto dua hari sebelum kejadian penculikan itu terjadi.


.


.


.


catatan author ✍️✍️


Aku sudah pernah bilang ya, satu hari di novel ini butuh empat sampai enam chapter untuk dijabarkan. Jadi setiap hal-hal yang masih mengandung tanda tanya pasti akan terungkap, dan semua tokoh akan ada kejelasannya. yang penting sabar aja! baca novel misteri apalagi yang on going emang harus sabar, ya 🤣


oh, iya, aku selalu punya lagu yang menginspirasikan aku membuat adegan-adegan di novel. dan untuk novel ini, aku punya dua lagu yang sering aku putar sebelum menulis.


lagi pertama ada lagunya Lil Nas X judulnya industry baby. ini aku dengar kalau mau bikin adegan action, atau adegan mengungkapkan setiap kejahatan pelaku. kayaknya semua orang udah pasti pernah dengar nih lagu. gua selalu bayangin setiap adegan action di novel NN diiringi lagu ini. vibesnya cocok banget untuk kisah BS dan Mr. W yang penuh misteri dan ada kepahlawannya gitu. btw, jangan kaget liat video clipnya 🤣


terus untuk romantis-romantisnya, aku suka dengar lagu dari penyanyi lagend Jepang Utada Hikaru yang judulnya Kimi ni muchuu. ini easy listening banget, genre pop rnb sesuailah dengan kisah percintaan tokoh-tokoh di sini yang gak terlalu melow.


silakan dengar langsung di Yusup ya. kalau kalian sendiri punya rekomendasi lagu gak yang mewakili kisah ini? jangan lupa tetap daratkan like dan komeng. untuk gift kasih ke dosa aja.