Never Not

Never Not
Ch. 136 : Meninggal Dunia



Seto tersenyum dingin sambil berkata, "Apakah Ketua masih ingat kasus kecelakaan anggota senator Tomomi Fujimura? Bukankah penyelidikan kasus itu dilimpahkan padaku? Aku menemukan kejanggalan dalam kecelakaan yang dialaminya. Tapi, saat hendak melengkapi penyelidikanku, Black Shadow malah mengambil alih semuanya dan mendapat perhatian luar biasa dari publik. Kemudian, saat kasus penculikan wanita hostess, Ketua mengatakan akan mengusut sendiri kasus itu. Pada saat itu aku berpikir, kenapa Anda tidak limpahkan saja pada kami? Apakah karena kasus itu viral sehingga Anda ingin tampil di publik?"


Dugaan Seto beralasan kuat. Ya, memang tidak bisa dipungkiri para detektif lebih tertarik menyelesaikan masalah yang terus disorot media dan publik demi mendapat pujian dan penghargaan. Namun, ia tak tahu alasan Shohei mengambil alih kasus itu untuk mengembalikan kembali citra kepolisian, setelah publik lebih memercayakan setiap kasus diusut oleh Black Shadow.


"Setelah Ketua mengatakan akan mengambil alih kasus itu, aku langsung didatangi seseorang yang memintaku untuk mencegah Ketua."


Seto membuka ingatan lamanya saat dipanggil seorang yang tak lain adalah Eita Kaze, orang kepercayaan Kazuya Toda yang sekarang mendekam di penjara.


"Kau sekretaris kepala penyidik divisi satu, kan?"


"Iya, Pak."


"Kudengar, Yamazaki-san akan mengambil alih kasus penculikan nona hostess. Kurasa dia tidak bisa melakukannya. Kasus itu ada kaitannya dengan salah satu menteri, akan sangat memalukan pemerintahan rezim ini jika publik mengetahuinya. Sementara kepolisian tak punya alasan untuk menghentikan kasus yang sedang memanas di publik. Meminta Yamazaki-san menyudahinya hanya akan sia-sia. Pria itu terlalu profesional tanpa mengenal kompromi. Kau adalah orang terdekatnya, carilah cara agar pria itu menghentikan penyelidikan!"


"Saya seorang detektif biasa, jika sekelas Anda saja mungkin ketua tak akan mendengarkan, bagaimana dengan saya sendiri?"


"Tentu kau bisa melakukannya. Buatlah dia beristirahat sejenak sampai kasus itu tenggelam!"


Tadinya, Seto sempat menolak usul licik yang dikemukakan Eita Kaze. Namun, setelah dipikirkan lebih jauh, ia merasa ini kesempatan bagus. Dia telah mendapat petunjuk tentang dalang di balik kasus video itu, tapi belum menemukan motifnya. Dia bisa memanfaatkan kasus itu untuk melambungkan namanya. Maka dari itu, akal gelapnya memaksa dia melakukan itu pada Shohei. Bukan untuk menuruti keinginan Eita Kaze, melainkan agar bisa mengambil alih kasus itu dan mencuri penyelidikan yang telah Shohei lakukan.


"Aku menusuk di bagian tubuh yang tidak menimbulkan cedera parah, karena tujuanku bukan untuk membunuh Anda, Ketua. Tapi, aku tak menyangka Ketua akan melawan, sehingga membuatku melakukan gerakan refleks dengan menikam Ketua berkali-kali. Dan karena menyadari Ketua sedang menelepon seseorang, aku juga langsung menghancurkan ponsel Anda. Aku sempat menyesal dan merasa bersalah saat Anda dinyatakan koma," ucap Seto dengan suara yang terdengar lirih, "selama beberapa malam aku bekerja keras memecahkan kasus itu lewat petunjuk yang Ketua tulis dengan tinta darah. Tapi, lagi-lagi Black Shadow sialan itu lebih dulu tampil dan membongkar semuanya. Kenapa harus ada pahlawan keadilan di negara ini? Bukankah polisi, jaksa dan pengadilan saja sudah cukup?" lanjutnya dengan mata yang dipenuhi kebencian.


"Jadi ... kau melakukan semua itu hanya demi sebuah prestasi dan penghargaan ? Sungguh tindakan orang yang frustrasi!" cemooh Ai sambil menahan kesakitan.


"Bukankah kita semua berbondong-bondong mencetak prestasi? Sekilas, kita adalah tim, padahal kita semua bersaing untuk jadi paling menonjol. Berapa banyak polisi yang melanggar aturan penyelidikan, saling berebut informasi, hingga membuat barang bukti palsu demi cepat menyelesaikan kasus? Bagi kalian yang memiliki latar belakang orangtua terpandang dan berpengaruh, sangat mudah naik jabatan. Tapi bagaimana dengan polisi biasa? Kami butuh kerja keras untuk naik pangkat dan jabatan. Kami harus memecahkan kasus besar agar nama kami terangkat dan dilirik atasan!" pekik Seto tak kalah sengit.


Shohei sedikit membenarkan apa yang dikatakan Seto. Tak bisa dipungkiri, praktik nepotisme masih berlangsung di birokrasi maupun kepolisian. Mereka yang memiliki relasi dengan pejabat berpengaruh, sangat mudah untuk dipromosikan naik jabatan meski tidak mencetak prestasi apa pun.


Masih syok dengan pengakuan Seto, Shohei pun berkata, "Jadi kau membenci Black Shadow? Itukah yang membuatmu bekerja sama dengan Kazuya Toda, menyamar sebagai Black Shadow tiruan dan membunuh menteri kehakiman lalu menjebak Black Shadow asli!"


"Aku tidak membunuh menteri kehakiman!" tampik Seto dengan suara bergemuruh.


"Akh!" Ai menjerit tiba-tiba.


Sontak, pandangan Shohei teralihkan pada Ai yang semakin memucat dan tak berdaya, Shohei pun menghampirinya dan melakukan tindakan menghentikan pendarahan. "Otaka-san, bertahanlah! Ambulans sedang menuju ke sini!"


Tak berselang lama kemudian, bunyi sirene pun terdengar. Dari ketinggian gedung, mereka bisa melihat ambulans dan mobil kepolisian Metropolitan berhenti di bawah sana. Hal itu membuat Seto terperanjat.


"Kalian menjebakku!" teriak Seto dengan penuh amarah.


"Tanaka-san, serahkan dirimu! Kau harus bertanggung jawab atas penembakan ini dan kematian mendiang Matsumoto. Jadilah saksi untuk kejahatan Kazuya Toda dan juga konspirasi yang kalian lakukan pada Black Shadow!" pinta Shohei memelas.


"Sudah kubilang bukan aku yang membunuh menteri kehakiman!" tegas Seto, "apa kalian pikir seorang polisi yang beralih menjadi narapidana itu sebuah lelucon?!"


"Bukankah itu pilihanmu sendiri? Sekarang pertanggungjawabkan pilihanmu!" tandas Shohei. Meski hati kecilnya juga tak menginginkan seperti ini. Tidak, ia masih menolak kenyataan bahwa seseorang yang dekat dengannya tega melakukan semua ini.


Seto menoleh ke bawah sana. Para polisi telah bergerak masuk ke dalam gedung. Ia tentu mengenal mereka semua. Ditangkap teman seprofesi, bukankah ini hal yang memalukan?


Seto melangkah mundur hingga di pembatas gedung. Kakinya menaiki pembatas rooftop setinggi dua puluh lima sentimeter.


Sambil menatap nanar pada Shohei dan Ai, Seto berkata berkata, "Ketua, terima kasih telah membimbingku selama ini. Terima kasih sering mengajakku makan siang bersama. Meskipun beberapa bulan ini kau sudah jarang mengajakku makan dan minum bersama. Maaf, aku telah mengecewakanmu."


"Apa yang sedang kau katakan, Tanaka-san!" Shohei lantas berdiri sambil melangkah penuh hati-hati ke arah Seto.


"Oi, jangan melakukan hal yang konyol, Baka!" teriak Ai di tengah ketidakberdayaannya.


"Tanaka! Tanaaakaaa!" teriak Shohei berlari kencang untuk menggapai tangan Seto. Sayangnya, ia tak sempat meraih tangan pria itu. Tubuh Seto lebih dulu melayang bagai kapas dan mendarat dengan cepat di bawah sana.


Polisi-polisi yang baru saja masuk di gedung plaza, lantas serentak menoleh ke belakang saat terdengar suara pukulan keras. Mereka terkejut melihat seseorang baru saja jatuh dengan tubuh yang terlentang menghadap langit. Darah segar langsung mengalir bak aliran sungai.


Polisi-polisi itu berbondong-bondong keluar untuk melihat sosok yang baru saja terjatuh. Mereka terperanjat hebat begitu mengetahui itu adalah rekan mereka—Tanaka Seto. Karena harga diri yang tinggi, ia lebih memilih mengakhiri hidupnya dibanding harus mendekam di penjara.


Salah satu polisi berjongkok, kemudian memeriksa nadinya. Polisi itu memejamkan mata sejenak sambil menahan tangis. Sambil menatap jam tangan ia berkata dengan nada getir, "Pukul empat lebih lima belas menit, Tanaka Seto meninggal dunia."


Bertepatan dengan itu, tim medis darurat membawa Ai keluar gedung bersiap untuk masuk ke dalam ambulans.


"Seto-kun! Seto-kun!" panggil Ai lirih di sisa-sisa kesadarannya yang mulai menipis karena pendarahan yang dialaminya. Semua kenangan mereka saat masih berada di asrama kepolisian terkilas kembali dalam benaknya. Keduanya adalah siswa kepolisian terbaik di angkatan mereka. Hanya saja, Ai lebih mendapat sorotan karena anak seorang pejabat di kepolisian nasional.


"Enam atau tujuh tahun akan datang aku akan berada di kepolisian Metropolitan menjadi detektif berbakat seperti dia," ucap Seto sambil menatap Shohei yang waktu itu tengah melakukan seminar khusus di sekolah mereka.


"Aku juga!" imbuh Ai.


"Jangan ikut-ikutan! Aku akan kalah telak jika bersaing dengan anak pejabat kepolisian," ketus Seto.


Sesuai yang diinginkannya, lima tahun kemudian ia benar-benar ditugaskan di kepolisian Metropolitan dan satu tahun berikutnya ia bergabung di divisi elit yang diketuai Shohei.


"Ai-kun, aku dipindahtugaskan ke Metropolitan. Aku akan bertemu dengan Yamazaki-senpai!" seru Seto dengan penuh semangat saat menghubungi Ai.


"Selamat! Kau yang terbaik!" Ai turut senang.


"Kuharap kau jangan ikut-ikutan pindah ke sini!"


"Tenanglah! Tenanglah! Aku tidak sehebat dirimu," ucap Ai sambil melihat surat pemindahan tugas ke Metropolitan yang ditujukan padanya. Demi persahabatan mereka, Ai yang seharusnya juga telah masuk ke Metropolitan, meminta ayahnya untuk memindahkan ia di kepolisian Ikebukuro.


Shohei berlutut di ujung pembatas rooftop dengan tangan yang masih terulur hampa. Sorot matanya kosong dan tampak berkaca-kaca. Seina datang menghampiri pria berkacamata itu. Saat mendengar suara tembakan, Shohei memang meminta gadis itu untuk menetap di lantai sebelumnya.


"Shohei-kun, apa yang terjadi?" tanya Seina seraya melihat tangan Shohei yang berlumuran darah milik Ai.


Shohei bergeming. Air matanya jatuh terbawa angin. Lagi dan lagi, ia gagal menyelamatkan orang terdekatnya. Lagi dan lagi, ia kehilangan saksi kunci atas kejahatan Kazuya Toda. Seakan Dewa selalu memenangkan pria licik itu.


Masih berada di restoran sebelumnya, Kazuya duduk santai seraya menikmati tegukan kopi terakhirnya. Ia sedikit terhentak ketika ponselnya tiba-tiba berdering.


"Apa yang terjadi?" tanyanya setelah menerima panggilan dari salah satu anak buahnya.


Wajah pria itu menggelap seketika. Tampaknya, anak buahnya itu telah melaporkan kematian Seto Tanaka. Namun, sedetik kemudian ia malah mengulas senyum tipis.


"Yokatta. Dia memilih keputusan tepat, di saat penyamarannya sebagai Black Shadow diketahui mereka. Jadi kita tak perlu memikirkan cara untuk melenyapkannya."


"Kami juga telah berhasil menangkap hacker yang membobol sistem keamanan safe room." Anak buah Kazuya Toda kembali melaporkan.


Senyum Kazuya Toda mengembang sempurna "Bagus! Paksa dia mengaku. Pria itu pasti mengetahui sesuatu tentang Black Shadow," ucap pria itu dengan mata yang berkilat jahat.


.


.


.


jangan lupa like dan komen, oi. poinnya dikasih ke dosa aja.