
"Nada?"
Terkadang, nama kita dapat menjadi ketakutan terbesar ketika diucapkan oleh orang tertentu. Seperti saat ini. Nada membeku di tempatnya, tidak mau menoleh meski dia sadar siapa yang tengah memanggilnya.
Nada tengah menikmati Kamis malamnya dengan nonton bersama Frinta, hal yang beberapa minggu ini jarang mereka lakukan. Frinta sedang ke toilet sementara Nada menunggu di XXI lounge.
"Nada?" panggil suara itu lagi.
Nada menarik napas panjang sebelum akhirnya berbalik dan melihat Adrian berdiri di sana. Dia sedang membawa popcorn caramel di tangannya. Nada tahu bahwa Adrian tidak suka popcorn caramel tersebut. Dan dia tahu itu untuk siapa.
"Hai." Nada hanya sanggup mengucapkan kata tersebut dengan pelan. Sejujurnya, tiba-tiba dia merasa lututnya lemas dan mual.
Adrian tersenyum kikuk. Semburat rasa kaget tampak di wajahnya. Matanya memandang Nada dengan tatapan sendu yang membuat Nada benci. Untuk apa memandangnya seperti itu? Kasihan?
"Sama siapa, Nad?"
"Gue." Frinta menjawab dari belakang Adrian dan ketika pria itu berbalik, ia langsung disambut dengan pandangan sinis. "Ngapain lo?" Frinta benar-benar tidak ada basa-basi untuk memasang mode jutek. Bahkan kalau seandainya dia bisa langsung memberikan tamparan keras untuk orang di depannya ini, akan segera dia lakukan.
"Apa kabar... Ta... " Adrian langsung ragu untuk menyapa.
"Yang jelas jadi sepet sih karna ada lo. Minggir." Frinta langsung berjalan ke arah Nada dan duduk di depan gadis tersebut. "Duh, laper banget gue." Frinta sama sekali tidak mau menganggap bahwa sosok Adrian ada di sana dan langsung melahap nasi goreng XXI favoritnya. Dia juga mengajak Nada berbicara dengan topik yang random agar tidak meladeni Adrian.
Adrian yang melihat hal tersebut akhirnya sadar dan segera berlalu pergi. Dia tidak ada di lounge dan Nada sempat sebenarnya ingin melihat dia ke sini sama siapa.
"Nggak usah dipikirin lagi tuh orang gila. Dan per menit ini juga gue anggep kita nggak ketemu dia sama sekali."
Nada mengaduk minumannya dalam diam. Sebuah pesan muncul di layar ponselnya dan buru-buru ia balik. Dia punya firasat itu dari siapa namun dia juga tidak mau membukanya, dia tidak mau harus menangis di tempat umum seperti ini.
Gara-gara itu juga, Nada sama sekali tidak bisa fokus sepanjang film. Frinta sadar bahwa Nada mungkin menahan tangisnya. Namun, dia tidak mau mengungkit soal Adrian sama sekali. Kalau Nada pun akhirnya menangis di sini, dia siap menjadi tempat untuk mendengar dan menenangkan. Tapi, prinsip Frinta adalah jika orang tersebut sudah masuk kategori brengsek, maka Frinta akan benar-benar menghapus keberadaan orang tersebut. Termasuk dalam pembicaraan sekalipun.
Ketika film selesai, gantian Nada yang ingin ke toilet dulu. Frinta paham Nada mungkin ingin melepaskan rasa sakitnya sedikit, sehingga Frinta memilih menunggu saja di luar. Saat itu, karena mereka juga sedang menonton Midnight, maka tidak terlalu banyak orang yang mengantri di toilet. Saat masuk, yang Nada lakukan adalah menangis dan meluapkan semua emosinya. Ketika melihat wajahnya di cermin, terlihat sekali mata sembabnya. Nada mencuci mukanya dan berusaha tersenyum lebar.
"It's all just a past, Nada." Dia berusaha menguatkan dirinya. Nada membuang segumpal tisu yang sudah habis menghapus air mata dan maskaranya. Nada bersyukur ini sudah larut malam, jadi dia tidak usah malu-malu banget keluar dari mata sembab.
Begitu dia keluar dari pintu toilet wanita, Nada langsung berusaha menegarkan diri, menegakkan kepalanya, dan... menemukan Natya berdiri dan memandang lurus ke hadapannya. Tangan kanan cowok tersebut sedang memegang ponsel dan seperti sedang mengetik sebelum akhirnya terhenti karena kekagetannya melihat Nada.
Nada tahu bahwa mata Natya dapat langsung menangkap mata sembab serta maskara lunturnya. Nada sampai heran kenapa setiap dia bertemu Adrian, pasti akan ada momen bersama Natya.
"Sama siapa, Nad?" Tanya Natya hati-hati. Dia tidak mau membahas dulu tentang bagaimana wajah Nada yang terlihat sangat kusut.
"Emm... Frinta." Suara Nada terdengar serak yang meyakinkan Natya bahwa gadis itu baru saja habis menangis. "Lo sama siapa, Nat? Sendiri?"
"Nggak... Sama temen... "
"Dhito?"
Natya tidak menjawab. Nada juga tidak tertarik untuk bertanya lebih jauh karena yang mau dia lakukan saat ini cuma segera keluar dari tempat ini. "Gue duluan ya, Nat. Nggak enak Frinta kelamaan nunggu. Bye!"
Frinta yang melihat kondisi Nada langsung memeluk temannya tersebut. "Gue aja deh ya yang nyetir. Gue nginap ya di tempat lo." Nada mengangguk kecil dan berjalan pelan di samping Frinta.
Saat di dalam mobil lah Nada baru mau melihat layar ponselnya lagi. Ada dua pesan yang membuat Nada menjadi bingung dan kalut.
Adrian
Nad, can we meet sometimes?
Natya
Are you okay?
No, she's not okay and certainly she doesn't wanna meet him.
•••
"Kenapa lo diem aja dari tadi? " Dhito mencium aroma kebingungan di raut wajah Natya. Mereka sudah hampir tiga puluh menit di Osteria, salah satu restoran kesukaan Natya, tapi cowok tersebut malah diam saja dari tadi dan cenderung menimpali obrolan Dhito seadanya.
"Gue ketemu Nada kemarin."
"Oh ya? Terus? Kok jadi sedih lo, hepi lah harusnya."
"Dia baru keluar toilet bioskop terus matanya sembab banget."
"Abis nonton film sedih kali."
"Nggak lah. Cuma ada dua film yang ada dan ga ada sedih-sedihnya."
"Ga sestudio lo? Lo sama siapa betewe ke sana?" Dhito mencoba menerka namun kemudian matanya membuat syok. "Anjir jangan bilang sama Kay?"
"Enggak. Gue sama Darren kemarin. Lo kan gue ajak nonton nggak mau."
"Gue nggak suka ah, midnight. Apalagi kalo sama cowok. Mending tidur deh gue," jawab Dhito enteng. "Trus, gimana? Lo nanya nggak kenapa dia nangis?"
"Nggak sempet. Dia kabur juga. Gue cuma kirim pesan. Dijawab seadanya sama dia." Natya tampak merenung. "Kenapa ya, si Nada ini kok kalau ketemu gue pasti lagi sedih mulu."
"Fengshui lo ga bagus kali ke dia," ujar Dhito yang disambut umpatan oleh Natya. Dhito sendiri mendadak merasa punya tebakan kenapa Nada sedih, tapi dia tidak mau mengatakannya karena dia merasa toh belum tentu benar. Lagipula, sebelum membahas alasan sedihnya Nada terlalu jauh, Dhito lagi-lagi mau mengecek status temannya ini. "Lo serius banget nih mau ngejer si Nada?"
Natya menyesap kopinya sebelum menjawab tegas ke Dhito. "Intinya gue tertarik."
Dhito diam saja karena menurut dia jawaban "tertarik" bukan merupakan jawaban yang harus didalami terlalu jauh. Terlalu umum dan Dhito jadi curiga bahwa Natya sendiri masih bingung dengan perasaannya.
"Tertariknya semoga bikin lo gerak cepat ya, bro. Bukan tarik ulur nggak jelas."
Natya hanya mengedikkan bahu. Di pikirannya sekarang, setidaknya dia harus mengajak Nada jalan berdua minggu ini. Setidaknya, dia harus bisa membuat ekspresi sedih di Nada berubah. Entah bagaimana pun caranya.